NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung Kawah Api & Amukan Iblis Magma

Celah raksasa di balik tebing basalt yang retak memancarkan pendar merah membara yang hampir membutakan mata. Di dalamnya, lorong bawah air runtuh membentuk jalan curam yang menembus hingga ke perut bumi yang paling dalam. Kapten Roderick menambatkan Bahari Purba di ceruk karang hitam yang stabil di luar kawah, sementara Hiraisin, Liora, dan Roderick melanjutkan perjalanan menyusuri lorong kawah dengan berjalan kaki di atas formasi kristal obsidian yang dibentuk oleh teknik Kilat Es Purba Hiraisin.

Suhu di dalam Jantung Kawah Api ini jauh melebihi lautan magma di luar. Udara yang terperangkap di dalam kubah udara alami kawah berdesing bagaikan badai api. Cairan di sekeliling mereka bukan lagi sekadar lava biasa, melainkan Magma Abadi—cairan lahar murni bertatahkan Runa api liar yang tidak hanya sanggup melelehkan logam terkeras, tetapi juga mampu membakar jiwa dan tenaga batin siapa pun yang menyentuhnya.

"Pertahankan fokusmu, Roderick," peringat Liora seraya melayangkan Mutiara Es Jiwa Samudera di atas kepala mereka.

Pendar perak kebiruan dari mutiara es itu memancar melingkupi mereka bertiga dalam sebuah kubah pelindung bersuhu nol mutlak. Asap belerang dan uap magma mendidih yang mencoba menerobos langsung meleleh dan menguap sebelum sempat menyentuh kulit mereka. Namun, raut wajah Liora tampak memucat; mengendalikan mutiara es di tengah lautan Magma Abadi menguras Qi Seroja Kehidupannya secara amat masif.

"Jangan memaksakan dirimu terlalu jauh, Liora," ucap Hiraisin pelan, merengkuh bahu Liora secara halus seraya mengalirkan seberkas Qi Petir penyucian untuk menjaga kestabilan aliran meridian gadis itu.

"Aku masih sanggup," jawab Liora mantap dengan senyum tipis di bibirnya. "Artefak itu sudah sangat dekat."

Di ujung lorong curam, ruang kawah melebar menjadi sebuah aula raksasa bawah tanah yang megah sekaligus mengerikan. Dinding-dinding basaltnya dipenuhi ukiran Runa Dewa Api Purba yang setengah hancur tersapu lelehan lahar. Di tengah gua, melayang sebuah altar batu meteorit merah yang dikelilingi oleh empat pilar lahar abadi yang menyembur deras hingga menyentuh langit-langit gua.

Di atas altar tersebut, terombang-ambing di dalam pusaran api dan kilat merah menyala, melayang pecahan ketiga yang mereka cari: Pecahan Bilah Api Purba.

Bilah kristal merah sepanjang dua jengkal itu memancarkan daya hancur yang amat dahsyat. Percikan kilat merah menyambar-nyambar ke dinding basalt, meretakkan batuan kuno dan mengisinya dengan energi termal yang membara.

Namun, jalan menuju altar itu telah terhalang.

Dari dalam danau Magma Abadi di bawah altar, sebuah pusaran lahar pekat bergejolak dahsyat. Dari balik pendar merah darah, sesosok monster raksasa merayap keluar. Komandan Pyroth tidak lagi berwujud ksatria zirah merah; ia telah menyatukan sisa jiwa dan raga kegelapan Abyss miliknya secara mutlak dengan Magma Abadi di jantung kawah!

Tubuh Pyroth kini berukuran sepuluh meter, berwujud iblis lahar bertanduk empat dengan tubuh bertatahkan kristal api membara dan delapan lengan lahar cair yang masing-masing memegang pedang magma.

"Kalian... tidak akan pernah... menyentuh warisan ini!" raung Pyroth dengan suara bertumpuk bagaikan gempa bumi. "Aku adalah lahar ini! Aku adalah kematian kalian!"

Pyroth mengibaskan delapan lengan magmanya secara serentak. Delapan tebasan lahar cair membelah ruang hampa gua, meluncur kencang menerjang kubah pelindung Liora dengan daya tembus yang amat mengerikan.

BOOM! BOOM! BOOM!

Kubah Mutiara Es bergetar hebat, meretak di beberapa bagian saat hawa panas Magma Abadi mencoba menerobos masuk.

"Roderick, lindungi Liora!" perintah Hiraisin cepat.

Kapten Roderick mengangguk tegas, menarik pedang besarnya yang kini dibalut pendar pelindung Runa. "Serahkan padaku! Hancurkan monster itu, Hiraisin!"

Dengan ayunan cepat, Roderick berdiri di depan Liora, menangkis reruntuhan batu membara dan percikan magma yang terlepas dari kubah es, membentengi tabib muda itu dengan keahlian bertahannya yang berpengalaman.

Sementara itu, Hiraisin melompat tinggi membelah lautan magma. Pedang Kilat Purba di punggungnya mendenting nyaring saat ditarik keluar. Kali ini, bilah pedang tersebut dipenuhi gabungan pendar ungu-keemasan dan kristal es biru—wujud dari Sinergi Kilat Es Purba yang disempurnakan.

"Jurus Sinergi Kilat Es: Bayangan Teratai Pembeku Jiwa!"

SZSSSH-FLASH!

Hiraisin membelah udara menjadi belasan bayangan kilat. Bayangan-bayangan itu meluncur lincah melintasi pilar-pilar lahar, menghancurkan lengan-lengan magma Pyroth satu per satu dengan tebasan es bersuhu nol mutlak. Kristal es menyebar cepat di atas kulit lahar Pyroth, mengkristalkan cairan magma monster itu menjadi kaca obsidian yang rapuh!

"Arghhh! Hawa dingin menyedihkan ini lagi?!" raung Pyroth murka. Iblis lahar itu mengumpulkan seluruh aliran Magma Abadi dari empat pilar kawah, membentuk sebuah bola api raksasa berdiameter puluhan meter di atas dadanya.

"Matilah bersama seluruh kawah ini!" jerit Pyroth seraya melemparkan bola api kehancuran tersebut lurus ke arah Hiraisin dan Altar Api Purba!

"Hiraisin! Gunakan daya tarik pecahan artefak itu!" teriak Liora dari balik kubah es, mengarahkan Mutiara Es untuk membentuk pijakan es melayang bagi Hiraisin di tengah udara membara.

Hiraisin tidak menghindar. Ia justru menjejakkan kakinya di atas pijakan es Liora, melesat lurus menerjang ke dalam pusat bola api raksasa tersebut!

CRACKLE-FROST!

Pedang Kilat Purba diputar dengan kecepatan ekstrem. Hiraisin membiarkan Qi Petir dan Qi Es di tubuhnya beresonansi secara mutlak dengan Pecahan Bilah Api Purba yang melayang di atas altar. Alih-alih menolak panas bola api Pyroth, Hiraisin membuka Inti Tenaga Batinnya, membiarkan daya tarik Pedang Purba menarik seluruh sihir api Pyroth masuk ke dalam bilah pedang!

"Apa?!" mata Pyroth membelalak penuh horor saat melihat bola api raksasa miliknya tersedot habis ke dalam sarung pedang Hiraisin bagaikan pusaran air!

Dengan kecepatan melampaui suara, Hiraisin menembus bola api yang meluruh, mendarat tepat di atas Altar Meteorit Merah di hadapan Pecahan Bilah Api Purba.

Hiraisin mengulurkan tangan kirinya, membiarkan jemarinya menggenggam pecahan kristal merah membara tersebut.

SZSSSH-FLASH-BOOOOOOM!

Letupan energi purba tak terbayangkan meledak keluar dari altar!

Pecahan kristal merah itu tidak membakar tangan Hiraisin. Sebaliknya, ia meleleh menjadi pusaran api keemasan murni yang merambat masuk melintasi pembuluh darah lengan Hiraisin, menyatu secara sempurna dengan Pedang Kilat Purba di tangan kanannya!

CRACKLE-FIRE-LIGHTNING!

Di atas bilah Pedang Kilat Purba, ukiran Runa ketiga menyala terang berbenderang. Pendar ungu-keemasan petir kini menyatu dengan pendar merah membara dari elemen Api Purba dan kilau dingin dari Es Purba. Tiga elemen purba—Angin/Petir, Air/Es, dan Api—kini menyatu harmonis di dalam pedang tersebut!

Sensasi kekuatan yang tak tertandingi bergejolak di dalam dada Hiraisin. Ia berbalik pelan, menatap Iblis Magma Pyroth yang berdiri gemetar kaku di dalam danau lahar.

"Ini... tidak mungkin..." bisik Pyroth dengan suara bergetar penuh ketakutan spiritual yang amat mendalam. "Kekuatan Api Purba... diserap oleh manusia?!"

Hiraisin mengangkat Pedang Kilat Purba yang kini dibalut kobaran api-petir emas membara.

"Api milikmu diciptakan oleh kebencian Abyss," ucap Hiraisin dengan nada dingin namun membakar. "Tetapi Api Purba ini diciptakan untuk memusnahkan kegelapan."

Hiraisin mengayunkan pedangnya lurus ke bawah.

"Jurus Purba Tiga Elemen: Tebasan Badai Api-Petir Purba!"

FLASH-BOOOOOOOOOOM!

Sebuah tebasan kilat merah keemasan setinggi seratus meter membelah seluruh aula kawah. Hantaman energi purba itu melahap wujud Iblis Magma Pyroth secara mutlak, memurnikan energi kegelapan Abyss di dalam tubuhnya hingga tak menyisakan sebutir abu pun!

Dengan hancurnya Pyroth dan menyatunya Pecahan Ketiga, gejolak Magma Abadi di dalam kawah mendadak tenang. Danau lahar yang tadinya mengamuk liar perlahan surut, berubah menjadi batuan kristal merah hangat yang aman dan tidak lagi beracun.

Hiraisin menyarungkan Pedang Kilat Purba-nya. CTAK!

Denting pedang bergema halus, dan seketika itu juga seluruh kawah dipenuhi oleh pendar keemasan yang hangat dan menenangkan.

Liora dan Kapten Roderick melangkah mendekati Hiraisin. Liora menghela napas lega, menurunkan Mutiara Es Jiwa Samudera yang kini meredup pelan setelah tugas beratnya selesai.

"Kau berhasil, Hiraisin," ujar Liora lembut, mengusap peluh di kening Hiraisin. "Tiga dari lima pecahan kini telah menyatu kembali."

Kapten Roderick tersenyum bangga seraya memukul bahu Hiraisin pelan. "Dua komandan pasukan Abyss tumbang di perairan selatan ini. Nama Pewaris Petir akan membuat seluruh benteng Abyss bergetar ketakutan!"

Hiraisin menatap bilah pedangnya yang kini memancarkan Runa tiga warna yang indah. Namun, tatapannya membentang jauh menembus kegelapan dinding kawah, merasakan denyut gelombang energi purba dari pecahan berikutnya yang memanggilnya dari daratan utama.

"Perjalanan kita di samudera telah usai," bisik Hiraisin tegas. "Sekarang, saatnya kita kembali ke daratan untuk mencari Pecahan Keempat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!