NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — Janji Setelah Kelulusan

Tiga hari setelah olimpiade, rumah Clara terasa jauh lebih sepi.

Piala emas nasional yang beberapa hari lalu dibawa pulang dengan susah payah sekarang sudah disimpan Nenek di dalam lemari kaca.

Benda itu terlihat mencolok di antara barang-barang lain.

Tapi nggak ada yang benar-benar membicarakannya.

Papa Faizan masih banyak diam sejak kejadian polisi malam itu.

Mama Vania hampir setiap hari berada di rumah sakit karena kondisi Thea yang masih naik turun dan beberapa kali harus kembali ke IGD.

Clara akhirnya lebih sering berada di rumah bersama Nenek.

Dan selama tiga hari itu, tubuhnya terasa semakin berat.

Kedua kakinya mulai membengkak.

Dari mata kaki sampai betis.

Kalau terlalu lama berdiri, rasanya berat dan nggak nyaman.

Nenek memperhatikannya setiap hari.

Tapi Nenek nggak banyak bertanya.

Nenek cuma memastikan Clara makan sesuai anjuran dokter dan minum sesuai batas cairan yang diberikan rumah sakit.

"Jangan dipaksa, ya."

Clara mengangguk.

"Iya, Nek."

Padahal mual masih sering datang.

Tapi Clara tetap berusaha tersenyum.

---

Sore itu HP Clara bergetar.

Pesan dari Seokjin.

«Ke taman yuk. Yang belakang. Gue tunggu.»

Clara menatap pesan itu beberapa detik.

Kemudian dia keluar kamar.

"Nek."

Nenek yang sedang melipat pakaian menoleh.

"Hm?"

"Gue mau keluar sebentar."

"Mau ke mana?"

Clara ragu.

"Ke warung."

Nenek memperhatikan wajahnya.

"Jangan lama-lama."

"Iya."

Clara mengambil sandal Nenek karena sepatu miliknya sudah terasa sempit akibat kakinya yang membengkak.

Dia berjalan perlahan menuju taman belakang sekolah.

Setiap beberapa langkah, dia harus berhenti sebentar.

Sampai akhirnya dia melihat seseorang duduk di bawah pohon yang sudah mereka kenal.

Seokjin.

Hari itu dia nggak memakai jaket hitam.

Nggak ada penampilan seperti ketua geng yang selama ini ditakuti anak-anak sekolah.

Cuma kaus sederhana dan celana jeans.

Kelihatan seperti anak SMA biasa.

Begitu melihat Clara, Seokjin langsung berdiri.

"Lo lama."

Clara menghela napas.

"Kaki gue bengkak, Jin. Jalannya pelan."

Tatapan Seokjin langsung turun ke kaki Clara.

Dia nggak bertanya macam-macam.

Dia cuma mengambil tas Clara.

"Sini."

"Gue bisa bawa sendiri."

"Udah."

Seokjin membawa tas itu dan menunjuk bangku.

"Duduk."

Clara menurut.

Mereka diam beberapa saat.

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

Aneh.

Di tengah semua masalah yang terjadi beberapa hari terakhir, taman kecil itu terasa seperti satu-satunya tempat yang masih tenang.

"Jin."

"Hm?"

"Lo udah daftar kuliah?"

Seokjin mengangguk.

"Udah."

"Di mana?"

"Bandung."

"Jurusan?"

"Teknik."

Clara tersenyum kecil.

"Kenapa Bandung?"

"Biar deket Mama."

Seokjin memainkan rumput di dekat kakinya.

"Gue nggak mau jauh-jauh dulu."

Clara mengangguk.

"Bagus."

"Lo?"

Clara menunduk.

"Gue belum daftar."

"Kenapa?"

Clara diam sebentar.

"Takut nggak keterima."

Seokjin menatapnya.

"Terus?"

Clara menghela napas.

"Atau..."

Dia berhenti.

"...nggak sempat."

Seokjin langsung menoleh.

"Nggak sempat apa?"

Clara buru-buru membuka tasnya.

"Udah, jangan bahas itu."

Dia mengeluarkan diary biru.

"Gue bikin sesuatu."

Seokjin mengangkat alis.

"Apa lagi?"

"List."

"List?"

"List setelah lulus."

Clara membuka halaman kosong.

"Kan kita pernah ngomongin rumah kecil."

Seokjin langsung duduk lebih tegak.

"Serius lo bikin?"

Clara tersenyum.

"Serius."

Dia mulai menulis.

"Nomor satu."

Clara membaca sambil menulis.

"Nonton konser. Yang beneran. Bukan dari YouTube."

Seokjin mengangguk.

"Lo yang traktir."

"Eh, kenapa gue?"

"Karena lo yang ngajak."

"Ya udah."

Clara tersenyum.

"Nomor dua. Belajar naik motor."

Seokjin langsung menggeleng.

"Nggak."

"Gue belum selesai."

"Tetap nggak."

Clara tertawa kecil.

"Gue di depan, lo di belakang. Kalau gue takut, gue pegangan."

"Justru itu masalahnya."

"Kenapa?"

"Lo bisa jatuh."

Clara menulis sambil terkekeh.

"Nomor tiga. Cari kos kecil."

Seokjin diam.

"Yang ada jendela gede," lanjut Clara. "Biar bisa lihat hujan."

Dia menulis lagi.

"Nomor empat. Pelihara kucing."

"Dua."

"Dua?"

"Iya. Dua."

Clara tersenyum.

"Kopi sama Susu."

Seokjin tertawa.

"Kopi galak."

"Susu manja."

"Lo udah bikin karakter kucingnya?"

"Udah."

Seokjin menggeleng sambil tersenyum.

Clara melanjutkan.

"Nomor lima. Ke pantai malam-malam."

Dia berhenti sebentar.

"Gue pengen lihat bulan di atas laut."

Seokjin menatapnya.

"Lanjut."

Clara menulis lebih pelan.

"Nomor enam. Masak buat lo."

Seokjin langsung tertawa.

"Lo bisa masak?"

"Nggak."

"Terus?"

"Ya belajar."

"Kalau gosong?"

"Lo harus bilang enak."

"Gue bohong?"

"Harus."

Seokjin tertawa.

Clara ikut tertawa.

Tapi beberapa detik kemudian, senyumnya perlahan menghilang.

Dia menulis nomor berikutnya.

"Nomor tujuh..."

Tangannya berhenti.

"Punya rumah yang kalau gue nangis, nggak ada yang nyuruh gue diem."

Seokjin nggak tertawa lagi.

Clara menelan ludah.

"Nomor delapan."

Tulisannya semakin kecil.

"Punya foto keluarga."

Dia berhenti.

"Lanjutannya?"

Clara menatap halaman.

"Tapi keluarga yang gue pilih sendiri."

Hening.

Seokjin tahu itu bukan sekadar daftar impian.

Itu luka Clara yang ditulis dalam bentuk rencana masa depan.

Pelan-pelan Seokjin mengambil tangan Clara.

Digenggamnya.

"Cla."

"Hm?"

"Gue nggak bisa janjiin rumah gede."

Clara menoleh.

"Gue juga nggak kaya. Motor gue aja second."

Clara tersenyum tipis.

"Tapi gue bisa janjiin satu hal."

"Apa?"

"Abis lulus, gue bakal tetap ada."

Clara diam.

"Lo mau kuliah, gue dukung."

Seokjin menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

"Lo sakit, gue temenin."

Clara menunduk.

"Kalau lo harus cuci darah, gue anter."

Mata Clara mulai berkaca-kaca.

"Kalau Papa lo nggak setuju sama gue..."

Seokjin mengangkat bahu.

"Ya gue hadapin."

Dia tersenyum kecil.

"Yang penting gue nggak ninggalin lo cuma karena hidup lo lagi susah."

Clara buru-buru mengusap matanya.

"Janji?"

"Janji."

"Serius?"

"Gue jarang janji."

Seokjin menatapnya.

"Sekali janji, gue usahain gue tepati."

Clara akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu Seokjin.

Beberapa menit mereka cuma diam.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Clara merasa pikirannya sedikit lebih tenang.

"Jin."

"Hm?"

"Kalau gue nggak bisa kuliah gimana?"

Seokjin menjawab santai.

"Ya udah."

Clara mengangkat kepala.

"Ya udah?"

"Iya."

"Kalau gue harus cuci darah terus?"

"Gue anter."

"Terus?"

"Gue tungguin."

"Ngapain?"

"Main HP."

Clara tertawa kecil.

"Terus?"

"Abis itu kita makan bakso."

Clara menatapnya.

"Sesimpel itu?"

Seokjin mengangguk.

"Harusnya sesimpel itu."

Dia tersenyum.

"Hidup udah ribet. Jangan kita tambahin ribet."

Clara kembali menyandarkan kepalanya.

Mereka duduk sampai matahari hampir tenggelam.

Nggak membicarakan Thea.

Nggak membicarakan polisi.

Nggak membicarakan rumah sakit.

Mereka cuma membicarakan kos kecil, hujan dari jendela besar, dan dua ekor kucing bernama Kopi dan Susu.

---

Sebelum pulang, Seokjin mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.

"Ini."

Clara menerimanya.

"Apa?"

"Buka nanti di rumah."

"Kenapa nggak sekarang?"

"Pokoknya di rumah."

Clara memasukkan kotak itu ke tas.

---

Malamnya, Clara membuka kotak tersebut di kamar.

Di dalamnya ada dua gantungan kunci.

Satu berbentuk rumah kecil dari kayu.

Satu lagi berbentuk kucing.

Clara membalik gantungan rumah itu.

Ada tulisan kecil di belakangnya.

RUMAH CLARA & SEOKJIN — LULUS 2025

Clara menatap tulisan itu lama.

Air matanya jatuh.

Pelan.

Nggak bersuara.

Dia mengambil diary birunya lalu menempelkan gantungan kunci itu di bagian sampingnya.

Beberapa menit kemudian, Nenek masuk membawa teh hangat.

"Clara."

Clara buru-buru mengusap matanya.

"Iya, Nek?"

"Kamu ngobrol sama Seokjin tadi?"

Clara mengangguk.

"Iya."

Nenek tersenyum.

"Nenek lihat kamu senyum."

Clara diam.

"Udah lama Nenek nggak lihat kamu senyum kayak tadi."

Clara langsung memeluk Nenek.

"Nek..."

"Hm?"

"Gue takut."

Nenek mengusap rambutnya.

"Takut apa?"

"Kelulusan tinggal dua hari."

Clara menarik napas.

"Gue pengen datang."

Nenek diam mendengarkan.

"Tapi badan gue rasanya berat banget. Kaki gue bengkak. Mual terus."

Nenek mengusap punggungnya.

"Nenek tahu."

"Kalau gue nggak bisa datang gimana?"

Nenek menatapnya.

"Kita lihat kondisi kamu."

Clara mengangguk.

"Tapi Nenek tahu kamu pengen menutup masa SMA kamu dengan baik."

Clara tersenyum tipis.

"Bukan cuma sebagai anak yang menang olimpiade."

Nenek menggenggam tangannya.

"Tapi sebagai Clara."

Clara mengangguk.

"Besok kita siapin kebaya."

"Kebaya biru?"

"Iya."

"Nenek yang setrika."

Clara tersenyum.

"Iya."

---

Jam sebelas malam.

Clara masih belum tidur.

Dia membuka diary sekali lagi.

Menambahkan beberapa tulisan di halaman yang sama.

Pengen bilang ke Mama kalau gue sayang Mama, walaupun Mama jarang peluk gue.

Dia berhenti.

Lalu menulis:

Pengen hidup lebih lama. Sama Seokjin. Di rumah kecil itu.

Tangannya mulai gemetar.

Clara menatap kalimat itu lama.

Kemudian menulis satu kalimat lagi.

Lebih kecil.

Lebih pelan.

Kalau gue nggak bisa sampai hari kelulusan, tolong bilang ke Mama kalau gue udah berusaha jadi anak baik.

Clara menutup diary.

Dia memasukkannya ke bawah bantal bersama gantungan kunci rumah kecil pemberian Seokjin.

Baru saja dia memejamkan mata, HP-nya bergetar.

Nama Dokter Risa muncul.

Clara langsung duduk.

Dia mengangkat telepon dengan suara pelan supaya Nenek nggak terbangun.

"Halo, Dok?"

"Clara?"

"Iya."

"Maaf telepon malam-malam."

"Nggak apa-apa."

Dokter Risa terdengar serius.

"Clara, kamu sekarang sama siapa?"

"Sama Nenek. Tapi Nenek udah tidur."

"Oke."

Ada jeda sebentar.

"Hasil pemeriksaan lanjutan kamu sudah keluar."

Clara langsung duduk lebih tegak.

"Kenapa, Dok?"

"Fungsi ginjal kamu kembali memburuk. Angka kreatinin kamu naik cukup tinggi."

Clara diam.

"Besok pagi kamu harus datang ke rumah sakit lebih awal."

"Jam berapa?"

"Jam enam."

Clara menatap jam dinding.

"Besok?"

"Iya."

"Tapi..."

Suaranya mengecil.

"Besok kelulusan gue."

"Saya tahu."

Dokter Risa menarik napas.

"Makanya saya telepon malam ini. Saya nggak mau kamu datang ke acara kelulusan tanpa diperiksa dulu."

Clara menggenggam selimut.

"Terus saya harus gimana?"

"Besok kita periksa kondisi kamu dulu. Kalau hasilnya menunjukkan kamu memang sudah membutuhkan hemodialisis segera, kita akan membahas dan memulainya sesuai kondisi kamu."

Clara menelan ludah.

"Berarti... gue belum tentu bisa datang?"

"Saya nggak bisa menjanjikan sebelum melihat kondisi kamu."

Clara menunduk.

"Dok..."

"Iya?"

"Gue pengen banget datang."

"Saya tahu."

"Saya cuma mau berdiri di panggung sekali."

Suara Clara mulai bergetar.

"Setelah itu saya mau pulang."

Dokter Risa diam beberapa detik.

"Kita usahakan yang terbaik, tapi kesehatan kamu tetap harus jadi prioritas."

Clara memejamkan mata.

"Iya, Dok."

"Janji datang jam enam?"

Clara mengangguk meski dokter nggak bisa melihat.

"Janji."

Telepon berakhir.

Clara duduk sendirian di kasur.

Di meja, kebaya biru muda sudah digantung Nenek.

Rapi.

Cantik.

Di bawah bantal, ada diary biru dan gantungan kunci rumah kecil.

Di layar HP-nya muncul pesan dari Seokjin.

«Besok gue jemput jam 7 ya. Jangan lupa pakai gantungan kunci rumahnya.»

Clara menatap pesan itu.

Lalu melihat jam.

11.30 malam.

Besok jam enam pagi dia harus sudah berada di rumah sakit.

Dan kalau kondisinya memungkinkan, jam delapan dia harus berada di acara kelulusan.

Untuk pertama kalinya, Clara sadar bahwa dia mungkin nggak bisa mengatur semuanya sesuai keinginannya.

Tapi dia tetap ingin mencoba.

---

Pintu rumah terbuka pelan.

Mama Vania pulang dari rumah sakit.

Clara masih terjaga.

Beberapa detik kemudian, wajah Mama muncul di celah pintu kamar.

"Clara?"

Clara menoleh.

"Belum tidur?"

"Belum, Ma."

Mama melihat jam.

"Besok kan kelulusan kamu. Jangan begadang."

Clara menunggu.

Mungkin Mama akan masuk.

Mungkin Mama akan bertanya soal piala.

Mungkin Mama akan bilang selamat.

Mungkin Mama akan memeluknya.

Tapi tidak ada.

Mama hanya mengangguk kecil.

"Selamat tidur."

Pintu kembali tertutup.

Clara menatap kebaya birunya.

Kemudian menatap diary.

Air matanya jatuh satu.

Dia mengusapnya.

Lalu membuka chat Seokjin.

Jarinya mengetik pelan.

«Jin, besok jemput jam 5.30 ya. Lebih pagi. Gue ada urusan dulu sebelum kelulusan. Penting.»

Pesan terkirim.

Beberapa detik kemudian muncul balasan.

«Oke. Gue jemput. Jangan sendirian.»

Clara tersenyum kecil.

Lalu meletakkan HP di samping bantal.

Malam itu, Clara tidur dengan satu harapan sederhana.

Besok dia masih ingin berdiri di panggung.

Bukan untuk mendapatkan piala.

Bukan untuk membuat Mama bangga.

Tapi untuk dirinya sendiri.

Untuk Clara yang sudah bertahan sampai sejauh ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!