Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
"Maaf pak, saya hanya ingin membantu Lisa, kami hanya mengobrol sebentar, jangan salahkan Lisa, saya yang mengajak bicara duluan"
Angga hanya berdehem masih dengan wajah marahnya sambil menatap Lisa. Lisa sama sekali tidak merasa bersalah, dia mengambil kembali talam berisi kopi yang di bawa Dion, dia berjalan melewati Angga begitu saja.
Lisa bahkan nyelonong begitu saja, tanpa mau menyapa atau meminta maaf pada Angga seperti yang Dion lakukan. Lisa tidak perduli, Di pecat, Lisa siap. Di cerai juga Lisa akan semakin senang.
Sampai di ruangan Angga, Bu Gina nampak sibuk menatap foto Angga, tidak ada wajah kesal di raut wajah Bu Gina. Wanita itu bahkan tidak terkesan sedang menunggu kopi yang dia buat. Di kirik saja tidak kopinya.
Gina hanya tersenyum kecil sambil sesekali mengelus foto Angga.
"Dasar sama gilanya, sepertinya mereka memang cocok" batin Lisa.
"ini kopinya Bu" ujar Lisa. Gina menoleh, dia mengagguk pelan tanpa mengatakan apapun. Perempuan itu kembali menatap foto Angga.
Lisa memutar matanya jengah, tadi kata Angga Bu Gina menunggu kopinya, tapi sepertinya tidak? Wanita itu justru terlihat asyik dan senang berada di ruangan itu.
Lisa tidak ingin di buat semakin kesal, jadi dia memutuskan untuk langsung keluar saja.
Namun ucapan Gina menghentikan langkahnya.
"Kamu lihat Pak Angga?" Tanya Gina. Lisa tentu heran kenapa Gina bertanya seperti itu, bukannya Gina yang meminta Angga untuk ke Pantry menanyakan kopi yang dia minta? Kalau bukan Bu Gina yang meminta Angga ke sana, lalu siapa? Apa Angga sendiri yang mencarinya? Ah masa bodoh dengan Angga.
"Pak Angga ada di depan Bu"
"ohh tadi dia bilang mau ke toilet, katanya di sini toiletnya sedang rusak, tapi kenapa dia tidak kembali?" ujar Gina menjelaskan.
"What? Toilet Pak Angga rusak? Mana mungkin! Lisa selalu mengecek ruangan itu, sama sekali tidak ada yang rusak, bahkan semua berfungsi dengan sangat normal, tapi kenapa Angga berbohong? "
"Kamu tolong panggilkan Angga, kami ada meeting penting hari ini"
"Baik Bu"
Saat akan keluar, Lisa berpapasan dengan Angga, jadi dia tidak perlu lagi memanggil lelaki ini, toh Gina juga sudah melihatnya.isa berjalan begitu saja tanpa menyapa.
Lisa bisa melihat Gina yang langsung berlari dan menggandeng lengan Angga dari pintu yang belum tertutup rapat. Ingin menggerutu, tapi di kantor dia hanya sekertaris, di rumah pun dia juga tidak bisa protes, karena Angga juga akan menjawab dengan nada dingin.
"hem, aku mengerti, baiklah, oke"
Selalu salah satu dari kata itu yang keluar dari mulut Angga. Jadi percuma juga dia protes. Itu hanya akan menguras tenaganya saja. Lisa bertekad ingin mengatakan keinginannya lagi. Dia tidak mau jadi penghalang hubungan antara Gina dan Angga.
"Mungkin nanti malam aku akan mencoba bicara lagi" gumam Lisa dalam hati.
Lisa berjalan ke meja kerjanya dengan wajah di tekuk, Tari melihat itu, dia sejak tadi juga melihat tingkah aneh boss nya dan Lisa. Pak Angga seperti kurang kerjaan saja sampai-sampai menyusul Lisa ke Pantry.
"Kayaknya Boss kita suka kamu deh Lis"
Ujar Tari yang memang tempat duduk tak jauh dari Lisa.
"apa! Suka? Mana ada, lu nggak lihat Bu Gina yang selalu nempel di lengannya"
Lisa makin kesal saja karena tari membahas nama lelaki yang namanya saja tidak ingin dia dengar.
"Kalau Bu Gina sih memang sudah suka Pak Angga sejak dulu, tapi Pak Angga tidak pernah tuh membalas perasaan Bu Gina, buktinya sampai sekarang mereka belum juga ke pelaminan"
"Mungkin pak Angga nya belum siap, bukan karena Pak Angga suka gue!" jawab Lisa.
"ya mana mungkin Angga menyukainya, dia saja cuek sekali dengan dirinya" lanjut Lisa dalam hati.
"Eh tapi serius Lis, tadi Pak Angga kelihatan marah banget waktu elu ngobrol sama Pak Dion, kelihatannya Pak Angga cemburu deh lihat kamu sama Pak Dion dekat"
"Hus kalau bicara jangan ngelantur, Pak Angga nggak mungkin suka sama gue! Lu nggak lihat cewek yang dekat dia aja spek bidadari, nah gue? Upik abu"
Tari tak lagi melanjutkan obrolan mereka saat melihat temannya tak suka di gosipkan dengan sang CEO.
"Padahal banyak sekali orang di kantor yang ingin dapat perhatian dari Pak Angga" batin Tari merasa heran saja melihat Sahabatnya tidak ada rasa suka sama sekali dengan Pak Boss.
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏