Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Raja Naga
Tujuh tahun adalah waktu yang sangat lama bagi sebuah penantian, namun terasa seperti keabadian bagi mereka yang ditinggalkan.
Distrik Zamrud telah banyak berubah, namun di paviliun keluarga Jian, waktu seolah membeku di dalam kamar yang selalu tertutup rapat.
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam berdarah di Lembah Terlarang.
Sosok bocah delapan tahun yang dulu mungil kini telah bertransformasi menjadi pemuda berusia lima belas tahun dengan garis wajah yang tegas, meskipun matanya tetap terpejam rapat.
Di luar paviliun, dunia terus berputar:
A-Lang (15 tahun): Didorong oleh rasa bersalah yang menghancurkan jiwa, ia meninggalkan kota tiga tahun lalu.
Ia berkelana sebagai bayangan, memburu sisa-sisa Keluarga Wei di seluruh pelosok kekaisaran. Kini, ia dikenal sebagai "Serigala Tanpa Nama" yang telah mencapai Ranah Grand Master.
Lu Feng (15 tahun): Ia tetap tinggal, namun keceriaannya telah menguap.
Ia sering terlihat duduk di atap paviliun Jian Yi, menatap botol arak di tangannya.
Di usianya yang remaja, ia akhirnya bisa meminum alkohol, namun rasanya hambar tanpa sahabatnya.
Ia juga telah menembus Ranah Grand Master, menjadi salah satu pendekar termuda yang paling ditakuti.
Adik-adik Jian Yi: Jian Xiao dan Jian Mei kini telah tumbuh menjadi remaja yang mulai belajar bela diri, selalu bertanya-tanya kapan kakak mereka akan bangun.
Su Lin masuk ke kamar dengan langkah berat. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap helai rambut hitam Jian Yi yang kini sudah panjang.
"Sampai kapan kau akan tidur, Jian Yi?" bisiknya parau. Suara ibunya bergetar, menahan tangis yang sudah ribuan kali tumpah. "Ibu merindukan kenakalanmu. Ibu rindu melihatmu pulang dengan baju kotor bersama Lu Feng. Bangunlah, Nak ... dunia ini merindukanmu."
Setelah mengecup dahi putranya, Su Lin melangkah keluar dengan bahu yang lunglai, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
...****************...
Di dalam kegelapan abadi, Jian Yi sedang berjalan. Baginya, waktu tidak ada. Ia merasa baru berjalan beberapa jam, padahal di dunia nyata, musim telah berganti dua puluh delapan kali.
"Sebenarnya aku di mana sih? Perasaan hanya ada kegelapan. Membosankan!" seru Jian Yi. Ia mulai kesal. "Siapa saja yang ada di sini, kau pasti bodoh! Kau tuli! Dasar anjing! Keluar kau!"
Suaranya bergema, namun alih-alih jawaban, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Tekanan udara seolah menghimpit paru-parunya.
GRAARRW!
Sesosok mata raksasa, vertikal dengan pupil emas menyala seukuran gunung, terbuka tepat di depannya. Jian Yi terjungkal ke belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
"Manusia yang menarik," suara itu menggetarkan seluruh eksistensi Jian Yi.
Makhluk itu terbang ke atas, menyapu kegelapan dengan sisik emasnya yang berkilau luar biasa. Jian Yi memicingkan mata, lalu mendengus kesal saat mengenali sosok tersebut.
"Hmm, ternyata itu kau. Kukira setan mana," ucap Jian Yi dengan wajah menyebalkan, kembali duduk bersila dengan santai.
Raja Naga menatap tajam. "Sungguh manusia tidak tahu terima kasih. Aku sudah menolong jiwamu agar dapat reinkarnasi, lalu menyelamatkanmu dari manusia rendahan di lembah itu."
"Ya, ya, terima kasih. Tapi kenapa kau sebesar ini di sini? Saat sebelum aku mati di kehidupan sebelumnya, Ukuranmu tidak sebesar ini," tanya Jian Yi sambil tiduran, seolah tidak sedang berhadapan dengan penguasa purba.
"Itu hanya bagian kecil dari jiwaku yang terpecah. Sepertinya muridmu, Dugu Xiao, masih membawa sebagian jiwaku dari artefak bola kristal hitam itu," jawab Sang Raja Naga.
Jian Yi langsung bangkit berdiri. "Di mana mereka? Di mana Dugu Xiao dan Ling'er?"
"Entahlah. Aku hanya merasakan jiwaku. Aku tidak tahu posisi mereka di dunia yang luas ini."
Raja Naga mulai menjelaskan rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
"Dulu, aku bertemu dengan dua pendekar yang sudah mencapai Ranah Legenda Sejati. Mereka memperlakukan planet-planet seperti mainan; menciptakan kehidupan hanya untuk dihancurkan kembali demi kepuasan mereka. Sebagai penjaga keseimbangan, aku mencoba menghentikan mereka."
"Lalu apa yang terjadi? Kau kalah?" tanya Jian Yi sambil mengupil pelan.
"Aku kalah telak. Namun mereka tidak membunuhku. Mereka menghancurkan tubuh fisikku dan memecah jiwaku menjadi 10 bagian yang kemudian dijadikan artefak dan disebar ke berbagai penjuru. Mereka ingin melihat makhluk fana saling bunuh demi mendapatkan fragmen jiwaku."
Jian Yi terdiam, otaknya yang jenius mulai bekerja. "Banyak sekali hal membingungkan. Pendekar sekuat itu memandang dunia fana seperti sampah ... mereka pasti punya niat tersembunyi di balik penyebaran artefak ini."
"Kau benar," naga emas itu perlahan-lahan mulai berubah menjadi partikel cahaya emas yang meluap. "Kumpulkan kembali jiwaku, Jian Yi. Satukan aku agar aku bisa kembali lahir dan membantu tugasmu. Sekarang ... terimalah kekuatanku sebagai modal awal perjalananmu."
Cahaya emas itu meledak, menghantam kesadaran Jian Yi dan menariknya kembali ke permukaan dengan kecepatan cahaya.
HAAAH!
Jian Yi tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, memancarkan kilatan emas sesaat sebelum kembali normal. Ia menghirup udara dengan rakus seolah-olah baru saja tenggelam.
Pintu kamar terbanting terbuka. Su Lin, yang belum jauh melangkah, kembali berlari masuk.
Di belakangnya, Jian Hong dan Lu Feng yang kebetulan sedang berada di dekat sana langsung menerobos masuk.
"Jian ... Yi?" Su Lin menutup mulutnya dengan tangan, air mata langsung membanjiri pipinya.
"Ibu ..." suara Jian Yi serak, namun hangat.
"KAU BAJINGAN! KAU BANGUN JUGA!" Lu Feng berteriak sambil menangis sesenggukan, membuang botol araknya dan langsung memeluk Jian Yi dengan sangat kencang hingga tulang Jian Yi berderit.
Jian Hong berdiri di ambang pintu, pundaknya yang perkasa bergetar hebat saat ia berusaha menahan isak tangis kebahagiaan.
Adik-adik Jian Yi, Xiao dan Meimei, ikut masuk dan menangis sambil memeluk kaki kakak mereka yang sudah lama hilang dari pandangan.
Meskipun Jian Yi menyadari bahwa ia melewatkan tujuh tahun dan kini tertinggal di Ranah ke-2, ia merasakan energi Naga yang mengalir di nadinya. Ia tersenyum tipis.
"Maaf membuat kalian menunggu lama. Sepertinya ... ada banyak hal yang harus aku bereskan."
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗔𝗟𝗔𝗨 𝗕𝗜𝗦𝗔 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗨 𝗞𝗔𝗦𝗜𝗛 𝗕𝗜𝗡𝗧𝗔𝗡𝗚 🌟𝟱 𝗬𝗔 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁