NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Us

---

Malam itu, Jisoo terbangun pukul 02.30.

Bukan karena mimpi buruk, bukan karena suara berisik dari luar. Ia terbangun karena kebiasaan. Refleks seorang ibu yang sudah terlatih untuk selalu siaga, meski anaknya sudah tidak lagi menyusu di tengah malam.

Ia menoleh ke samping. Tempat tidur di sebelahnya kosong, dingin, seperti dua tahun terakhir ini. Dulu, di sisi itu selalu ada Dika—suaminya—dengan dengkur kecilnya yang kadang mengganggu tapi justru membuatnya merasa aman. Sekarang, hanya ada bantal yang sudah kehilangan bentuk dan aroma.

Jisoo duduk perlahan, menarik napas panjang. Ia sudah tidak menangis setiap kali mengingat Dika. Luka itu sudah mengering, meski bekasnya masih terasa setiap kali ia melihat Amora melakukan hal-hal yang mengingatkannya pada almarhum.

Seperti sore tadi, saat Amora tertawa. Tawa itu persis seperti tawa Dika. Atau saat Amora mengernyitkan dahi ketika berpikir—kerutan di keningnya, persis ayahnya.

Jisoo turun dari ranjang, berjalan ke kamar Amora. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Ia mengintip ke dalam.

Amora tidur dengan posisi meringkuk, boneka beruang pemberian Dika saat ulang tahun pertamanya dipeluk erat. Cahaya lampu tidur yang berbentuk bintang bulan menerangi wajah mungilnya. Jisoo tersenyum. Di saat-saat seperti ini, semua lelahnya terbayar.

Ia masuk, membetulkan selimut Amora yang hampir terlepas, lalu mengecup kening putrinya pelan.

"Mama sayang Amora," bisiknya. "Selalu."

---

Pukul 05.30, Jisoo sudah bangun lagi. Kali ini untuk memulai hari.

Rutinitas paginya selalu sama: mandi, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal untuk Amora (meski Amora belum sekolah, ia tetap membuat bekal kecil untuk "sekolah-sekolahan" di rumah), lalu membangunkan Amora dengan lagu favoritnya.

Tapi pagi ini berbeda. Saat ia sibuk di dapur, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.

"Selamat pagi, Bu Jisoo. Saya dari SD Harapan Bangsa. Kami ingin mengingatkan bahwa pendaftaran murid baru akan ditutup minggu depan. Mohon segera melengkapi berkas jika putri Ibu, Amora, akan mendaftar di sini."

Jisoo membaca pesan itu berulang-ulang. Amora akan masuk SD tahun ini. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menggendong bayi mungil itu, sekarang sudah mau sekolah.

Tapi di balik kebahagiaan itu, ada kecemasan. Biaya sekolah. Perlengkapan. Seragam. Buku. Semua butuh uang. Dan sebagai ibu tunggal, Jisoo harus memutar otak lebih keras.

"Bu, kenapa?" Suara Amora membuatnya tersentak. Putri kecil itu sudah berdiri di ambang pintu dapur, matanya masih setengah tertutup.

"Amora, kok bangun sendiri?" Jisoo segera mendekat, menggendong Amora. "Mama belum bangunin."

"Aku dengar Mama masak. Aku mau bantu."

Jisoo tersenyum, mengecup pipi Amora. "Amora baik banget. Mau bantu Mama?"

"Iya! Amora mau bantu!"

Jisoo menurunkan Amora, memberinya tugas sederhana: menyusun sendok dan garpu di meja makan. Amora melakukannya dengan serius, lidahnya sedikit menjulur seperti orang konsentrasi.

Jisoo memperhatikan dari dapur, hatinya meleleh. Di tengah segala keterbatasan dan kesedihan yang ia alami, Amora adalah cahaya yang tidak pernah padam.

---

Setelah sarapan, Jisoo membereskan dapur sementara Amora "sekolah" di ruang tamu dengan buku-buku bergambarnya. Dari jendela, ia melihat Jane keluar rumah dengan perlahan, mengelus perutnya yang semakin membesar.

Jisoo membuka jendela. "Jane! Sini bentar!"

Jane mendekat. "Ada apa, Jis?"

Jisoo membuka pintu, mempersilakan Jane masuk. "Duduk dulu. Mau minum?"

"Nggak usah repot-repot, Jis. Ada apa?"

Jisoo duduk di samping Jane, menatap adiknya dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. "Jane, Amora mau masuk SD."

Jane mengerjapkan mata, lalu tersenyum lebar. "Jis, itu kan kabar gembira! Kenapa malah mau nangis?"

"Aku... aku nggak tahu, Jan. Aku takut. Takut nggak bisa bayar, takut nggak cukup, takut..." Jisoo berhenti, menelan ludah. "Aku takut nggak bisa jadi orang tua yang baik buat dia sendirian."

Jane meraih tangan kakaknya, menggenggamnya erat. "Jis, denger aku. Kamu itu orang tua terbaik buat Amora. Kamu udah buktiin selama dua tahun ini. Amora tumbuh jadi anak yang ceria, pintar, dan penuh kasih. Itu semua karena kamu."

"Tapi biaya sekolah..."

"Kita hadapi bareng-bareng." Jane tersenyum. "Aku dan Mario pasti bantu. Irene dan Elgi juga. Soo Young, Endy, Chaeyoung, Leon—semua pasti akan bantu."

"Aku nggak enak, Jan. Kalian sudah banyak bantu."

"Jis, kita ini saudara. Bukan cuma karena darah, tapi karena pilihan. Kamu nggak sendiri."

Jisoo menangis. Tangis yang sudah lama ia tahan, akhirnya keluar juga. Jane memeluknya erat, membiarkan kakaknya menumpahkan semua beban yang selama ini dipendam.

Dari ruang tamu, Amora berlari mendekat. "Mama kenapa nangis? Sakit?"

Jisoo mengusap air matanya, tersenyum. "Mama nggak sakit, Sayang. Mama cuma... bahagia."

"Bahagia kok nangis?"

"Kadang orang nangis karena terlalu bahagia." Jane mengelus kepala Amora. "Amora sayang Mama, kan?"

"Iya, Amora sayang Mama!"

"Nah, itu yang bikin Mama nangis bahagia."

Amora mengangguk-angguk, lalu naik ke pangkuan Jisoo dan memeluknya erat. "Amora sayang Mama. Jangan nangis."

Jisoo memeluk putrinya, air matanya semakin deras. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Ini air mata syukur. Syukur karena punya anak seperti Amora. Syukur karena punya adik seperti Jane. Syukur karena punya keluarga pilihan yang selalu ada.

---

Siang harinya, Jane menyebarkan kabar ke yang lain. Tanpa sepengetahuan Jisoo, mereka mengadakan pertemuan darurat di rumah Irene.

"Jadi gini," Jane memulai. "Jisoo butuh bantuan untuk biaya sekolah Amora. Aku tahu dia nggak akan mau kalau kita tawarin langsung. Jadi kita harus cari cara."

"Aku bisa bantu diam-diam," kata Elgi. "Misalnya bayarin seragam atau buku."

"Aku juga," tambah Mario. "Jane dan aku sudah nabung untuk bayi, tapi kami bisa sisihkan."

"Aku punya tabungan kecil," ucap Soo Young. "Bisa buat bantu."

"Aku bisa minta Leon kirim duit dari Australia," Chaeyoung bersemangat. "Dia pasti mau bantu."

Irene mengangkat tangan. "Tunggu, tunggu. Jangan asal kasih. Nanti Jisoo malah nggak enak. Kita harus bantu dengan cara yang... elegan."

"Elegan gimana?" tanya Jane.

Irene tersenyum licik. "Kita bikin acara amal. Tapi acara amal yang nggak keliatan kayak acara amal."

Mereka berdiskusi panjang, merencanakan sesuatu yang akan mengubah hidup Jisoo dan Amora. Tanpa sepengetahuan Jisoo, di rumah Irene, sebuah gerakan kecil sedang digerakkan.

---

Sore harinya, seperti biasa, mereka berkumpul di taman. Jisoo datang dengan Amora yang langsung berlari bermain dengan Rafa. Wajah Jisoo masih sedikit sembab, tapi senyumnya kembali merekah.

"Jis, sini!" panggil Irene. "Kita mau ngomong."

Jisoo mendekat, duduk di bangku taman di antara mereka berlima: Irene, Jane, Soo Young, Chaeyoung, dan dirinya.

"Kita punya ide," kata Irene. "Tapi kamu harus denger dulu, jangan nolak."

Jisoo mengerutkan dahi curiga. "Ide apa?"

"Kita mau bikin arisan."

"Arisan?"

"Iya. Arisan bulanan. Tapi arisan khusus untuk biaya pendidikan anak-anak." Irene menjelaskan dengan lancar, seolah sudah dipersiapkan matang. "Kita semua setor setiap bulan. Nanti yang dapat giliran pertama... ya Amora. Buat masuk SD."

Jisoo membelalak. "Irene... ini... ini..."

"Jangan ditolak, Jis." Soo Young meraih tangannya. "Ini bukan sedekah. Ini arisan. Nanti giliran kita yang lain. Rafa, bayi Jane, nanti kalau Chaeyoung dan Leon punya anak. Semua kebagian."

"Aku tahu kamu orang yang mandiri," tambah Jane. "Tapi kadang, mandiri bukan berarti nggak boleh terima bantuan. Ini juga cara kita belajar saling peduli."

Jisoo menatap mereka satu per satu. Irene, Jane, Soo Young, Chaeyoung. Wanita-wanita yang selama ini menjadi saudara baginya. Yang selalu ada di saat suka dan duka. Yang tanpa diminta, menawarkan bahu untuk bersandar.

Air mata Jisoo jatuh lagi. Tapi ia tersenyum.

"Kalian... kalian ini..."

"Jangan nangis lagi," goda Chaeyoung. "Nanti Amora lari-lari ke sini, tanya kenapa Mama nangis lagi."

Jisoo tertawa lewat isak tangisnya. "Iya, iya. Makasih. Makasih banget."

"Iya, sama-sama. Tapi inget, ini arisan. Nanti kalau udah kebagian giliran yang lain, kamu juga harus bayar ya." Irene menyeringai.

"Iya, siap bos!"

Mereka tertawa bersama. Di taman itu, di sore yang hangat, ikatan mereka semakin kuat. Bukan sekadar tetangga, bukan sekadar teman. Tapi keluarga. Keluarga pilihan yang saling menguatkan.

---

Malam harinya, Jisoo menidurkan Amora dengan lagu kesukaannya. Setelah putrinya terlelap, ia duduk di ruang tamu, menatap foto pernikahannya dengan Dika yang terpajang di dinding.

"Dik," bisiknya pada foto itu. "Amora mau masuk SD. Cepat banget, ya."

Ia menunduk, air mata menetes di pangkuannya.

"Aku kadang takut, Dik. Takut nggak bisa jadi ibu yang baik buat dia. Tapi hari ini, aku inget lagi, aku nggak sendiri. Ada Jane, Irene, Soo Young, Chaeyoung. Ada Mario, Elgi, Endy, Leon. Mereka semua keluarga kita sekarang."

Ia mengusap air matanya, tersenyum.

"Amora baik-baik saja, Dik. Aku juga. Kamu tenang di sana, ya. Doain kita."

Angin malam bertiup pelan, menerpa jendela yang sedikit terbuka. Bagi Jisoo, itu seperti jawaban. Seperti bisikan dari Dika bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam itu, Jisoo tidur lebih nyenyak dari biasanya. Beban di pundaknya terasa lebih ringan, karena ia tahu, ada banyak tangan yang siap membantu jika ia jatuh.

---

Pagi harinya, Amora membangunkan Jisoo dengan cara yang tidak biasa. Ia melompat ke atas ranjang, duduk di perut Jisoo, dan berteriak, "MAMA! MAMA! AMORA MAU SEKOLAH!"

Jisoo terbangun dengan kaget, lalu tertawa. "Ya Allah, Amora, kaget Mama."

"Aku mau sekolah, Ma! Aku mau punya teman baru!"

Jisoo memeluk putrinya erat. "Iya, Sayang. Nanti Mama daftarin. Amora sekolah, dapat teman baru, belajar banyak hal."

"Terus kalau Amora sekolah, Mama kerja?"

"Iya, Mama kerja. Tapi nanti Mama jemput Amora, terus kita main bareng."

"Janji?"

"Janji."

Amora tersenyum lebar, lalu berlari keluar kamar sambil bernyanyi. Jisoo mengikutinya dengan pandangan, hatinya penuh rasa syukur.

Di luar, matahari bersinar cerah. Hari baru telah dimulai. Dan Jisoo siap menjalaninya—bukan sendiri, tapi bersama keluarga pilihannya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!