"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Abu yang Tersisa
Suasana di "Ruang Temu" pagi itu terasa begitu tenang. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela besar yang sengaja tidak ditutup gorden, memantul di atas meja-meja kayu buatan Raka yang masih menyisakan aroma vernis segar. Hana sedang sibuk menata beberapa pot sukulen di rak dekat pintu masuk, sesekali ia bersenandung kecil mengikuti irama lagu jazz instrumen yang mengalun lembut dari pengeras suara di sudut ruangan.
Ini adalah minggu kedua sejak pembukaan, dan tempat ini mulai menemukan ritmenya. Beberapa mahasiswa sering datang untuk mengerjakan tugas, dan para pekerja kantoran di sekitar ruko mulai menjadikan kopi buatan Hana sebagai asupan wajib mereka sebelum mulai bekerja.
"Pagi, Na," suara berat yang familiar itu terdengar dari arah pintu.
Hana menoleh dan tersenyum lebar. Raka berdiri di sana, membawa sebuah papan kayu kecil yang diukir dengan tulisan 'Open'. "Aku lupa memberikan ini kemarin. Sepertinya lebih bagus kalau digantung di pintu depan."
"Bagus sekali, Ka. Terima kasih ya," jawab Hana sambil menerima papan itu. Jemarinya sempat bersentuhan dengan jemari Raka, dan ada sengatan listrik kecil yang membuat Hana merasa pipinya sedikit memanas.
Raka tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, memperhatikan Hana yang dengan telaten menggantung papan itu. "Kamu tampak jauh lebih bahagia, Na. Maksudku, ada binar di matamu yang tidak kulihat sepuluh tahun lalu."
Hana terdiam sejenak, menatap papan kayu di tangannya. "Mungkin karena sekarang aku tidak perlu takut salah bicara atau salah bertindak, Ka. Di sini, aku adalah bosnya. Aku yang memutuskan kopi apa yang dijual, lagu apa yang diputar, dan siapa yang boleh masuk."
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah mobil sedan tua dengan cat yang sudah kusam berhenti mendadak di depan ruko. Suara remnya yang mencicit kasar merusak suasana pagi yang damai. Hana dan Raka saling pandang, merasakan firasat yang kurang enak.
Pintu mobil terbuka, dan sosok yang sangat mereka kenal keluar dari sana. Aris.
Penampilannya benar-benar berantakan. Ia mengenakan kemeja yang tidak disetrika, rambutnya acak-acakkan, dan matanya merah seperti orang yang tidak tidur selama beberapa malam. Ia melangkah masuk ke dalam kafe dengan langkah gontai, mengabaikan tatapan heran dari beberapa pelanggan yang sedang duduk di pojok ruangan.
"Jadi ini?" Aris tertawa sinis, suaranya parau dan bergetar. "Jadi ini alasan kamu meninggalkanku? Demi tempat sampah kecil ini dan... pria tukang kayu ini?"
Raka melangkah maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Hana. "Aris, ini tempat umum. Tolong jaga bicaramu."
"Jangan ikut campur, tukang kayu!" bentak Aris. Ia menatap Hana dengan tatapan penuh kebencian sekaligus keputusasaan. "Hana, lihat aku! Gara-gara kamu, aku kehilangan rumah. Mama sekarang harus tinggal di rumah kontrakan sempit di pinggiran kota. Reputasiku hancur! Tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerimaku!"
Hana menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Ia tidak ingin ada keributan di tempat usahanya. "Mas, aku sudah bilang berkali-kali. Kehancuranmu adalah hasil dari perbuatanmu sendiri. Berhentilah menyalahkan orang lain atas lubang yang kamu gali sendiri."
"Kamu egois, Hana! Kamu bersenang-senang di sini, membangun bisnis baru, sementara istrimu—eh, maksudku suamimu yang dulu—sedang menderita!" Aris mulai melantur. Ia mendekati meja barista dan menggebraknya dengan keras. Beberapa cangkir keramik bergetar, dan seorang pelanggan di pojok ruangan tampak ketakutan.
"Keluar, Aris," suara Hana terdengar dingin dan tajam. "Sekarang juga."
"Aku tidak akan keluar sebelum kamu memberikan apa yang menjadi hakku!" Aris berteriak. "Aku tahu kamu dapat uang banyak dari kontrak pribadimu itu. Aku butuh uang itu untuk membayar utang-utang Mama dan untuk modal usahaku kembali. Berikan padaku, atau aku akan menghancurkan tempat ini!"
Raka kehilangan kesabarannya. Ia memegang bahu Aris dengan kuat. "Cukup, Aris. Kamu sudah melampaui batas. Pergi sekarang atau aku panggil polisi."
Aris mencoba menyentak tangan Raka, namun tenaganya tidak sebanding dengan Raka yang terbiasa bekerja kasar di bengkel kayu. Aris terhuyung ke belakang, menabrak salah satu kursi jati buatan Raka.
"Oh, jadi kamu lebih memilih dia?" Aris menunjuk Raka dengan jari yang gemetar. "Pria miskin ini? Kamu lebih memilih hidup susah dengannya daripada kembali padaku?"
Hana melangkah maju, keluar dari balik meja barista. Ia berdiri tepat di depan Aris, menatapnya dengan rasa kasihan yang mendalam. "Mas, dengar baik-baik. Aku tidak memilih 'hidup susah'. Aku memilih hidup jujur. Dan pria yang kamu sebut 'miskin' ini memiliki lebih banyak harga diri di satu jarinya daripada yang kamu miliki di seluruh tubuhmu. Uang bisa dicari, tapi karakter tidak bisa dibeli."
Aris tampak seperti ingin meledak, namun tiba-tiba bahunya merosot. Ia terduduk di kursi yang tadi ia tabrak, lalu ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan mulai terisak. Isakannya terdengar sangat menyedihkan, sebuah tangisan dari seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya karena egonya sendiri.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Na..." rintih Aris di sela tangisnya. "Citra pergi membawa semua uang sisa tabunganku. Teman-temanku tidak ada yang mau mengangkat teleponku. Mama setiap hari hanya bisa menyalahkanku. Aku sendirian..."
Hana menatap Aris. Sepuluh tahun yang lalu, ia mungkin akan langsung memeluk pria ini dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia mungkin akan menyerahkan seluruh uangnya untuk menyelamatkan Aris. Namun sekarang, ia hanya merasakan kekosongan.
"Kesepian itu adalah cermin, Mas," ujar Hana pelan. "Itu menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya tanpa embel-embel jabatan atau kekayaan. Gunakan waktu ini untuk merenung. Perbaikilah hubunganmu dengan ibumu, carilah pekerjaan apa saja, dan mulailah hidup yang baru dengan jujur."
Aris mendongak, matanya yang basah menatap Hana dengan penuh harap. "Kamu... kamu mau membantuku?"
"Aku membantumu dengan membiarkanmu belajar dari kesalahanmu sendiri," jawab Hana tegas. "Aku tidak akan memberimu uang sepeser pun, karena itu hanya akan membuatmu kembali menjadi pria yang manja dan manipulatif. Mulailah dari bawah, seperti yang sedang aku lakukan sekarang."
Aris terdiam. Ia melihat ketegasan di mata Hana yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia menyadari bahwa wanita lembut yang dulu bisa ia kendalikan telah benar-benar hilang. Yang ada di depannya sekarang adalah seorang wanita mandiri yang sudah menemukan jalannya sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Aris berdiri dengan gontai. Ia berjalan menuju pintu, kepalanya tertunduk. Ia tidak menoleh lagi saat ia masuk ke mobilnya dan perlahan pergi meninggalkan area ruko.
Suasana kafe kembali sunyi. Raka mendekati Hana dan menyentuh bahunya dengan lembut. "Kamu baik-baik saja?"
Hana mengangguk, lalu ia bersandar di bahu Raka sejenak. "Aku merasa sedih melihatnya seperti itu, tapi aku tidak menyesali keputusanku. Aku tahu, jika aku membantunya sekarang, dia tidak akan pernah berubah."
"Kamu melakukan hal yang benar, Na. Memberi bantuan kepada orang yang belum sadar akan kesalahannya hanyalah menunda kehancurannya yang lebih besar," ujar Raka bijak.
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam dan menyisakan warna jingga di langit, Hana dan Raka duduk di teras depan kafe. Mereka menikmati kopi sisa hari itu sambil melihat kendaraan yang berlalu-lalang.
"Jadi," Raka memulai pembicaraan, suaranya sedikit ragu. "Setelah badai ini benar-benar lewat... apa rencana selanjutnya untuk 'Ruang Temu'?"
Hana menoleh ke arah Raka dan tersenyum. "Aku ingin mengadakan kelas menulis kecil-kecilan di lantai atas. Tempat bagi orang-orang untuk menuangkan perasaannya tanpa rasa takut. Dan aku juga ingin menambah beberapa furnitur baru... mungkin sofa yang nyaman di pojok ruangan?"
Raka tertawa. "Sofa, ya? Aku punya beberapa desain yang mungkin kamu suka. Dan aku juga ingin bertanya hal lain..."
Raka menjeda kalimatnya, ia menatap Hana dengan intens. "Sepuluh tahun yang lalu, kita terpisah karena kebohongan orang lain. Sekarang, kita sudah sama-sama tahu kebenarannya. Apakah... apakah menurutmu ada ruang bagiku di masa depanmu, Na? Bukan hanya sebagai tukang kayu yang membantumu mengecat dinding?"
Hana merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Ia menatap tangan Raka yang kasar namun selalu memberikan perlindungan. Ia teringat bagaimana Raka selalu ada di sisinya selama beberapa minggu terakhir, tanpa menuntut apa-apa, hanya memberikan dukungan yang tulus.
Hana meletakkan tangannya di atas tangan Raka. "Ruang itu selalu ada, Ka. Hanya saja, selama ini pintunya tertutup oleh debu dan luka. Sekarang pintu itu sudah terbuka, dan aku senang kamulah yang berdiri di sana."
Raka menggenggam tangan Hana dengan erat. Di bawah langit senja yang indah, dua orang yang pernah dipisahkan oleh pengkhianatan itu akhirnya menemukan kembali jalan pulang mereka.
Kehidupan Hana mungkin tidak lagi semewah dulu. Tidak ada lagi pelayan yang menyiapkan sarapan, tidak ada lagi tas-tas bermerek di lemari. Namun, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: kedamaian batin, pekerjaan yang ia cintai, dan seseorang yang mencintainya apa adanya.