"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PERMAINAN API DI BALIK LAYAR
Pagi itu, suasana kantor pusat Adiguna Group terasa sangat mencekam. Kabar skandal di acara amal semalam telah menyebar seperti api yang membakar hutan. Para staf berbisik-bisik di koridor, sementara para pemegang saham mulai berkumpul di ruang rapat dengan wajah tegang.
Gwen Adiguna turun dari mobil mewah hitamnya. Dia tidak lagi mengenakan gaun merah maroon yang dramatis, melainkan setelan jas kerja berwarna putih gading yang pas di tubuhnya, memberikan kesan bersih namun mematikan. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai lurus, dan kacamata hitam menutupi matanya yang kini sudah benar-benar pulih.
Di belakangnya, Elang berjalan dengan langkah yang tak bersuara, namun auranya cukup untuk membuat satpam di depan pintu membungkuk dalam tanpa berani menatap mata sang pengawal.
"Nona, paman Anda sudah ada di dalam. Reno juga ada di sana bersama pengacaranya," bisik Elang sambil membukakan pintu lift khusus direksi.
Gwen mengangguk pelan. "Biarkan mereka merasa menang di atas kertas, Elang. Aku ingin melihat seberapa jauh mereka berani menjilat ludah sendiri."
Saat pintu lift terbuka di lantai teratas, Gwen disambut oleh pemandangan yang memuakkan. Di ujung lorong, Reno sedang berdiri bersama Pratama Adiguna—paman Gwen yang selalu memasang wajah malaikat pelindung.
"Gwen, Sayang!" Pratama melangkah maju dengan wajah penuh kekhawatiran palsu. "Kenapa kamu melakukan itu semalam? Kamu mempermalukan nama keluarga di depan media! Reno sudah menjelaskan semuanya, itu hanya kesalahpahaman soal kalung tersebut."
Gwen melepas kacamata hitamnya, menatap langsung ke mata pamannya. "Kesalahpahaman, Paman? Jadi video Reno yang menghina Ayah dan merencanakan pembuanganku ke jalanan itu juga editan?"
Reno maju dengan wajah memerah, mencoba mengintimidasi Gwen. "Gwen, dengar! Video itu bisa saja dipalsukan oleh pengawalmu ini. Siapa dia sebenarnya? Kamu lebih percaya orang asing daripada suamimu sendiri?"
"Aku lebih percaya pada anjing jalanan daripada pada ular yang kupelihara di ranjangku, Reno," jawab Gwen dingin.
Mereka memasuki ruang rapat. Di sana, sepuluh pemegang saham utama sudah menunggu. Agenda hari ini adalah mosi tidak percaya untuk mencopot Reno dari jabatan Direktur Utama.
Reno duduk dengan angkuh, meletakkan sebuah dokumen di atas meja. "Sebelum kalian memulainya, aku punya pengumuman. Sesuai dengan perjanjian tambahan yang ditandatangani oleh almarhum Pak Adiguna sebelum meninggal, jika Gwen dalam kondisi tidak sehat secara fisik atau mental, maka kendali penuh perusahaan jatuh ke tanganku selama 5 tahun. Dan kebutaan Gwen... adalah alasan hukum yang sah."
Pratama mengangguk setuju. "Gwen, Paman hanya ingin melindungimu. Kamu masih butuh banyak istirahat. Biarkan Reno yang mengurus beban berat perusahaan ini."
Para pemegang saham mulai berbisik ragu. Posisi hukum Reno memang kuat jika dokumen itu asli.
Gwen melirik ke arah Elang yang berdiri di pojok ruangan. Elang memberikan anggukan kecil—sinyal bahwa "umpan" sudah dimakan.
Gwen tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Reno merasa ada yang salah. "Paman, Reno... Dokumen itu memang sah jika aku masih buta. Tapi seperti yang kalian lihat semalam, mataku sudah sembuh total."
"Itu butuh pembuktian medis, Gwen! Bukan sekadar akting di pesta!" bentak Reno.
"Aku sudah menyiapkannya," Gwen mengeluarkan sebuah tablet dan memutar sebuah video. Di sana terlihat dokter spesialis mata terbaik di negeri ini memberikan pernyataan bahwa Gwen sudah pulih sepenuhnya sejak tiga hari yang lalu.
"Tapi itu tidak cukup," lanjut Gwen. "Masalah utamanya bukan hanya soal mataku. Tapi soal ini..."
Gwen menekan tombol di tabletnya, dan layar besar di ruang rapat menunjukkan aliran dana dari rekening perusahaan ke sebuah perusahaan cangkang bernama 'Eagle Wing Corp'.
"Selama enam bulan terakhir, Reno telah menggelapkan dana sebesar 500 miliar rupiah dari proyek pembangunan apartemen Adiguna. Dan tebak siapa pemilik asli dari perusahaan cangkang itu?" Gwen menatap Pratama. "Perusahaan itu terdaftar atas nama istri simpanan Paman di Singapura."
Hening. Ruangan itu seketika menjadi seperti kuburan yang dingin.
Pratama membelalakkan mata, wajahnya yang tadinya tenang kini memucat pasi. Reno menoleh ke arah Pratama dengan tatapan tak percaya. Dia tidak tahu bahwa Pratama menggunakannya untuk mencuri uang perusahaan dengan cara yang begitu licin.
"Ini... ini fitnah! Kamu mendapatkan data ini dari mana?!" teriak Pratama panik.
Gwen melirik Elang. "Pengawalku bukan hanya ahli dalam berkelahi, dia juga sangat ahli dalam melacak bau sampah, Paman."
Sebenarnya, Elang-lah yang membobol server rahasia Pratama malam sebelumnya.
Para pemegang saham mulai meledak. Mereka tidak lagi peduli pada drama rumah tangga Gwen; mereka peduli pada uang mereka yang dicuri. Dalam hitungan menit, mosi tidak percaya disahkan. Reno dicopot secara tidak hormat, dan Pratama diminta untuk segera memberikan penjelasan atau kasus ini akan dilaporkan ke pihak berwajib.
Setelah rapat selesai dan ruangan dikosongkan, hanya tersisa Gwen dan Elang. Gwen terduduk di kursi pimpinan, merasa seluruh tenaganya terkuras. Dia baru saja menyatakan perang terbuka pada keluarga satu-satunya yang tersisa.
Elang berjalan mendekat, meletakkan tangannya di sandaran kursi Gwen. "Langkah yang berani, Nona. Tapi Anda baru saja memicu sarang lebah. Pratama tidak akan diam saja setelah hartanya di Singapura terancam."
Gwen menoleh ke atas, menatap wajah Elang yang hanya berjarak beberapa senti darinya. "Aku tahu. Tapi aku punya kamu, bukan?"
Elang menatap mata Gwen yang kini berkilau oleh cahaya matahari dari jendela. Keberanian wanita ini benar-benar di luar dugaannya. Ada dorongan aneh di dalam dada Elang untuk melindungi wanita ini—bukan karena kontrak, tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Jangan terlalu bergantung padaku, Gwen," bisik Elang. "Ingat, aku masih pria yang ingin menghancurkan nama Adiguna."
Gwen tiba-tiba meraih kerah baju Elang, menariknya hingga wajah mereka sangat dekat. "Kalau begitu, hancurkan aku sekarang, Elang. Atau... buat aku menjadi satu-satunya Adiguna yang tersisa agar kamu bisa membalaskan dendammu dengan cara yang berbeda."
Atmosfer di ruangan itu mendadak menjadi sangat panas. Elang bisa merasakan aroma parfum vanila Gwen yang memabukkan. Tatapan Gwen yang menantang seolah-olah menguji seberapa besar kebencian Elang padanya.
Elang menjulurkan tangannya, menyentuh leher Gwen yang halus dengan ujung jarinya, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. "Anda sedang bermain api, Nona. Dan api ini bisa membakar kita berdua."
"Biarkan saja terbakar," sahut Gwen tanpa melepaskan pandangannya. "Aku sudah mati sejak kecelakaan itu, Elang. Sekarang, aku hanya ingin merasakan hidup—walaupun itu artinya aku harus berdansa dengan iblis sepertimu."
Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru menundukkan kepalanya, memberikan ciuman sekilas yang sangat kasar namun penuh gairah di sudut bibir Gwen, sebuah tindakan yang menegaskan bahwa hubungan mereka sudah jauh melampaui batas majikan dan pengawal.
"Tugas pertama untuk 'kehidupan baru' Anda," bisik Elang di telinga Gwen yang memerah. "Malam ini kita tidak pulang ke mansion. Reno sudah mengirim orang untuk menyergap Anda di sana. Kita pergi ke tempat rahasiaku."
Gwen mengangguk, napasnya masih terengah karena kejutan tadi. Di luar, badai mungkin sedang mendekat, tapi di dalam ruangan ini, Gwen merasa untuk pertama kalinya dia memegang kendali atas nasibnya sendiri.
Namun, di bayang-bayang pintu yang sedikit terbuka, sebuah kamera kecil milik Reno sempat menangkap momen intim mereka. Reno, yang bersembunyi di tangga darurat, meremas ponselnya dengan amarah yang meledak.
"Gwen... kamu pikir kamu sudah menang? Aku akan membuatmu memohon untuk mati di tanganku sendiri," gumam Reno dengan mata yang berkilat gila.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia