NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Bubur Ayam dan Tatapan Pertama

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, menciptakan siluet gedung-gedung pencakar langit yang tampak kontras dengan hiruk-pikuk di bawahnya. Damian Nicholas baru saja menyelesaikan rapat panjang yang menguras energi. Alih-alih pulang ke rumah mewahnya yang sepi, ia memutuskan untuk memarkirkan mobil sport-nya agak jauh dan berjalan kaki menikmati udara sore.

Damian bukan pria kaya biasa yang hanya tahu restoran berbintang lima. Baginya, kebahagiaan terkadang ada pada kesederhanaan yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit unlimited-nya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah kedai bubur ayam pinggir jalan yang cukup ramai. Aroma kaldu gurih dan kerupuk yang baru digoreng menggelitik indra penciumannya. Tanpa ragu, pria dengan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi itu duduk di salah satu kursi plastik yang tersedia.

"Satu porsi, Pak. Enggak pakai kacang," ucap Damian ramah kepada penjualnya.

Sambil menunggu, pandangan Damian menyapu sekeliling. Saat itulah, dunianya seolah berhenti berputar sejenak.

Di sudut kedai, seorang gadis sedang sibuk membantu sang penjual mencuci mangkuk kotor. Gadis itu mengenakan kaos oblong pudar dan celana kain sederhana. Rambut hitam panjangnya diikat asal-asalan, meninggalkan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang tanpa riasan.

Meski penampilannya sangat sederhana—bahkan cenderung terlihat kekurangan—ada sesuatu pada gadis itu yang memaku mata Damian. Cara gadis itu tersenyum pada pelanggan, ketulusan di matanya, dan keanggunan yang tetap terpancar meski ia sedang bekerja kasar.

"Ini mas, buburnya," suara penjual membuyarkan lamunan Damian.

Damian berdeham, mencoba bersikap normal, namun matanya tetap melirik ke arah gadis itu. "Pak, gadis yang di sana itu... siapa ya? Saudaranya?" tanya Damian pelan.

"Oh, itu Selene, Mas. Kasihan dia, anak rantau yang rajin sekali. Kadang bantu-bantu di sini buat cari tambahan makan. Orangnya baik sekali, Mas," jawab si bapak penjual sambil tersenyum bangga.

Selene. Nama yang indah, pikir Damian.

Damian yang biasanya dikelilingi wanita-wanita sosialita bergaun mewah dan tas bermerek, merasa jantungnya berdegup berbeda kali ini. Ia merasa telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada koleksi jam tangan mewahnya di rumah.

Damian menyesap sendok demi sendok bubur panas di hadapannya, namun indra perasanya seolah mati rasa. Fokusnya tercurah sepenuhnya pada satu titik: Selene.

Gadis itu baru saja mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu melempar senyum lebar kepada seorang anak kecil yang lewat di depan kedai. Di bawah siraman cahaya langit jingga yang mulai meredup, senyum Selene tampak berkilau—seperti emas yang ditemukan di tengah tumpukan jerami.

"Seumur hidupku, aku membayar jutaan hanya untuk melihat senyum artifisial di pesta-pesta mewah. Tapi ini? Senyum ini gratis, tapi rasanya jauh lebih mahal," batin Damian.

Cahaya matahari terbenam itu seolah menjadi spotlight alami yang menyapu wajah Selene, mempertegas garis wajahnya yang klasik dan anggun meski dibalut kesederhanaan. Damian menyesap buburnya lebih lambat dari biasanya, sengaja mengulur waktu agar bisa tetap berada di kursi plastik keras itu lebih lama.

Damian tertegun. Ia merasa seperti baru saja dipukul telak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan yang mematikan. Gadis itu—Selene—benar-benar menyerang hatinya tanpa ampun hanya dengan sebuah tawa kecil saat ia mengikat kembali rambut hitamnya yang berantakan.

Sejujurnya, Damian sering bertemu wanita yang jauh lebih "sempurna" secara visual. Wanita yang menghabiskan ribuan dolar untuk perawatan kulit dan gaun rancangan desainer ternama. Namun, tak satu pun dari mereka yang mampu membuat jantung Damian berdegup kencang hingga terasa sesak di dada seperti ini.

Selene adalah anomali. Dia adalah kekacauan indah di tengah hidup Damian yang terlalu teratur.

"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Damian dalam hati, matanya masih terpaku pada sosok yang kini sedang mengelap meja kayu di ujung kedai.

Damian merasa konyol. Bagaimana mungkin seorang CEO yang dikenal bertangan besi bisa mendadak tak berkutik hanya karena melihat seorang gadis "miskin" mencuci mangkuk di bawah langit senja? Tapi itulah kenyataannya.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!