Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Tama menghela napas panjang. Udara di kamar itu terasa pengap, menekan dada. Matanya menatap lantai, lalu naik perlahan ke wajah Dita yang masih terduduk, pipinya merah, matanya basah.
“Dit…” suaranya berat. “Kemas barang-barangmu.”
Kalimat itu menghantamnya sangat keras.
Dita terdiam beberapa detik, seolah otaknya menolak menerima maknanya. Lalu ia mengangguk pelan. Tidak membantah. Tidak memohon. Ia hanya bangkit dengan gerakan kaku, mengambil tas kain dari bawah ranjang.
“Iya, Tuan,” jawabnya lirih.
Setiap kata terasa pahit di lidahnya. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus dibela. Gelang itu nyata ada di kamarnya. Bukti yang menampar. Apa pun pembelaannya terdengar seperti kebohongan.
Tama berbalik lebih dulu. Ia tidak sanggup melihat Dita mengemasi barang. Selina menyusulnya keluar kamar, langkahnya ringan. Saat melewati ambang pintu, bibirnya melengkung, tipis, puas.
Di kamar, Dita mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Tangannya gemetar. Kaos sederhana, jilbab lusuh, buku catatan kecil, semua terasa asing kini. Dadanya sesak, tapi air matanya tak lagi deras. Mungkin sudah habis untuk menangis.
Kursi roda berdecit pelan.
Bu Diana masuk perlahan, menekan tombol sampai kursi rodanya bergerak otomatis ke arah Dita.
“Dita…” panggilnya lembut.
Dita menoleh. Seketika air matanya jatuh lagi. Ia buru-buru menyeka pipinya, berusaha tersenyum. “Bu Diana...”
Bu Diana mendekat. “Aku ingin dengar dari kamu sendiri.” Suaranya bergetar. “Kamu… mengambil gelang itu?”
Dita berhenti mengemas. Ia berlutut di depan kursi roda, menundukkan kepala. “Tidak, Bu. Demi apa pun… saya tidak mengambilnya.”
Bu Diana menggenggam jemari Dita. Hangat. Ragu.
“Saya bahkan tidak pernah terpikir soal gelang itu,” Dita terisak. “Yang saya pikirkan cuma… Ibu harus sembuh. Bisa jalan lagi. Setiap hari saya cuma ingin Ibu lebih sehat, bisa terapi terus, dan berjalan seperti dulu.”
Bu Diana menahan napas. Dadanya terasa nyeri.
“Saya tidak akan memaksa Ibu percaya,” lanjut Dita pelan. “Kenyataan nya gelang itu memang ada di kamar ini. Tapi, saya hanya... Ingin terima kasih. Karena Ibu mau menerima saya. Karena Ibu mau cerita, mau marah, mau ketawa sama saya. Saya bahagia bisa ada di sini.”
Ia menunduk lebih dalam. “Maaf kalau saya sering salah. Kalau saya kurang sigap. Kurang sesuai ekspektasi Ibu.”
Air mata Bu Diana jatuh. “Dita…”
Dita tersenyum, senyum yang rapuh, dipaksakan. “Ibu jangan berhenti terapi, ya. Jangan dengarkan siapa pun yang bilang Ibu tidak bisa. Saya yakin… Ibu pasti bisa jalan lagi.”
Bu Diana menutup mulutnya, tangisnya pecah tanpa suara.
Ia lalu membantu Dita memasukkan sisa pakaian ke dalam tas. Tangannya gemetar, tapi ia tetap melipat dengan rapi, seolah menunda perpisahan selama mungkin.
Setelah semuanya selesai, Dita mengangkat tasnya sendiri. Lalu, seperti biasa, ia mendorong kursi roda Bu Diana keluar kamar.
Di lorong, Sari muncul dari arah dapur. Wajahnya langsung berubah melihat mata Dita yang sembab dan tas besar di tangannya.
“Lho… Dit? Ini kenapa?” bisiknya panik.
Dita hanya menggeleng. “Saya pamit, Mbak Sari.”
Sari menatap Bu Diana, ingin bertanya, tapi hanya bisa menunduk prihatin.
Di ruang tamu, suara Selina masih mendominasi.
“Perawat sekarang banyak yang nggak tahu diri,” katanya lantang. “Sudah dikasih kerja, masih berani nyolong. Masih untung kita nggak langsung lapor polisi.”
Tama duduk diam, siku bertumpu di lutut, menatap lantai. Rahangnya mengeras, tapi tak satu pun kata keluar.
Saat Dita dan Bu Diana masuk, Selina menoleh cepat. Senyumnya kembali muncul, dingin.
“Sudah selesai?” tanyanya. “Bagus. Dita, kamu bisa langsung keluar. Bersyukur lah karena kami nggak bawa ini ke ranah hukum.”
Dita berhenti. Ia menunduk sopan. “Terima kasih sudah memberi saya tempat tinggal dan pekerjaan,” katanya lirih.
Tama tetap diam.
Dita melangkah mundur, hendak pergi.
“Sebentar.”
Bu Diana mengangkat tangan. Semua mata tertuju padanya.
“Tama,” katanya pelan tapi tegas. “Kamu dulu pernah pasang CCTV di rumah ini, bukan?”
Tama terangkat, menatap ibunya. “Iya…”
“Periksa dulu,” pinta Bu Diana. “Sebelum Dita pergi.”
Selina menegang.
“A-apa?” suaranya mendadak lebih tinggi. "C- Cctv?"
Wajahnya perlahan memucat.