NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 6 MEJA MAKAN YANG TIDAK MENERIMA

Meja makan itu panjang.

Terlalu panjang untuk sekadar makan malam.

Lebih mirip meja sidang—tempat orang dihakimi tanpa pembela.

Lampu kristal menggantung rendah, cahayanya memantul di piring porselen putih berpinggir emas. Sendok dan garpu disusun sejajar, rapi, dingin. Pelayan berdiri berbaris di dinding, kepala menunduk, langkah mereka nyaris tak bersuara.

Gadis itu duduk di ujung meja.

Bukan karena kebetulan.

Tapi karena memang di situlah tempatnya.

Ia menatap piring di depannya. Terlalu banyak alat makan.

Sendok kecil.

Garpu besar.

Pisau panjang.

Pisau kecil.

Tangannya bergerak ragu.

“Berhenti.”

Suara itu datang dari seberang meja. Dingin. Jelas.

Ibu pemuda itu menatapnya tanpa berkedip.

“Siapa yang mengajarimu menyentuh alat makan sebelum semua orang duduk?”

Gadis itu langsung menarik tangannya.

“Maaf, Bu.”

“Maaf?” wanita itu tersenyum tipis.

“Di meja ini, maaf tidak menghapus kesan pertama.”

Ia meletakkan serbet di pangkuannya dengan gerakan elegan.

“Kamu tahu kenapa makan malam keluarga selalu penting?”

Gadis itu menggeleng pelan.

“Karena di sinilah terlihat kelas seseorang.”

Kalimat itu diucapkan pelan, tapi panjangnya terasa.

“Kamu mungkin sekarang duduk di kursi ini,” lanjutnya, “tapi kebiasaanmu tidak bisa bohong.”

Ia melirik tangan gadis itu.

“Kaku. Canggung. Terlalu hati-hati.”

Wanita muda—iparnya—tersenyum sambil memutar gelas anggur.

“Ya wajar. Makan di rumahnya mungkin cuma pakai piring plastik.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Gadis itu menunduk.

“Tidak perlu malu,” lanjut wanita muda itu panjang.

“Bukan salahmu lahir di tempat yang salah.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada manis palsu,

“Cuma ya… jangan sampai kelihatan terlalu jelas.”

Pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka. Sup bening dengan aroma rempah halus.

Gadis itu menatap mangkuknya, ragu harus mulai dari mana.

Ia mengambil sendok yang paling dekat.

“Bukan itu.”

Kali ini suara nenek terdengar.

Pelan.

Tapi membuat semua diam.

“Sendok kedua dari luar,” katanya.

“Kalau yang itu, untuk hidangan penutup.”

Gadis itu buru-buru mengganti sendok.

“Iya, Nek.”

Nenek itu menghela napas.

“Lihat,” katanya ke yang lain. “Hal kecil saja tidak paham.”

Ia menatap gadis itu lama.

“Kamu jangan tersinggung. Ini bukan hinaan.”

Ia mengetukkan ujung sendoknya ke piring.

“Ini fakta.”

Wanita paruh baya itu menyambung, omelannya mengalir tanpa jeda.

“Perempuan yang masuk keluarga seperti kita itu seharusnya cepat belajar.”

“Bukan cuma belajar berdandan,” katanya sambil melirik gaun gadis itu,

“tapi belajar menempatkan diri.” Ia mencondongkan tubuh ke depan.

“Kamu tahu apa yang paling memalukan?”

Gadis itu tidak menjawab.

“Bukan salah pegang sendok,” lanjutnya.

“Tapi merasa pantas duduk sejajar.”

Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.

Wanita muda itu tertawa kecil.

“Tenang saja, Tante. Dia kelihatannya juga tidak merasa sejajar.”

Ia menatap gadis itu.

“Benar, kan?”

Gadis itu mengangguk kecil.

“Iya.”

Jawaban itu justru membuat tawa makin panjang.

“Lihat,” kata salah satu paman.

“Setidaknya dia sadar diri.”

Nenek itu mengangguk puas.

“Sadar diri itu penting. Lebih penting dari cantik.”

Sup mulai dimakan.

Sendok demi sendok.

Gadis itu mencoba meniru gerakan orang lain. Pelan. Kaku.

Tangannya sedikit gemetar.

Setetes sup hampir jatuh ke taplak.

“Astaga,” desah wanita muda itu lebay.

“Hati-hati. Ini bukan warung.”

Ia menepuk dadanya sendiri.

“Taplak ini saja harganya mungkin setara gaji sebulan keluargamu.”

Gadis itu buru-buru mengelap mulutnya.

“Maaf.”

“Kenapa kamu hobi sekali minta maaf?” ibu pemuda itu menyela panjang.

“Setiap kali kamu bicara, isinya maaf.”

Ia menggeleng pelan.

“Kalau terus begitu, lama-lama orang muak.”

Ia menatap lurus.

“Diam itu kadang lebih pantas.”

Gadis itu menutup mulutnya rapat.

Hidangan utama datang. Daging dipotong rapi, saus mengilap.

Gadis itu mengangkat pisau dan garpu, mencoba memotong perlahan.

Potongannya tidak rapi.

“Nggak begitu,” wanita muda itu kembali bersuara.

“Kamu potongnya seperti mau melawan.”

Ia tertawa sendiri.

“Pelan. Halus. Jangan kelihatan lapar.”

Ia menyipitkan mata.

“Atau memang di rumahmu jarang makan begini?”

Salah satu sepupu ikut nimbrung.

“Ya wajar. Kesempatan makan enak kan jarang.”

Tawa lagi.

Nenek itu tidak ikut tertawa.

Ia hanya menatap gadis itu.

“Kamu makan terlalu cepat.”

Gadis itu langsung berhenti.

“Takut direbut?” tanya nenek itu datar.

Gadis itu menggeleng.

“Dengar,” lanjut nenek itu panjang, suaranya pelan tapi kejam.

“Di rumah ini, makanan tidak pernah habis.”

Ia berhenti sejenak.

“Yang sering habis itu… kesabaran.”

Wanita paruh baya itu mengangguk.

“Kamu harus belajar banyak. Cara duduk. Cara bicara. Cara menunduk.” Ia menyilangkan tangan.

“Kalau kamu pikir menikah dengan cucuku membuat hidupmu naik kelas—”

Ia tersenyum tipis.

“—kamu salah besar.”

Wanita muda itu menyambung tanpa ampun.

“Naik sedikit saja tidak. Kamu cuma… dipindahkan tempat.”

Ia menunjuk meja.

“Dari meja kecil ke meja besar.”

Ia menatap wajah gadis itu.

“Tapi kamu tetap kamu.”

Gadis itu menunduk lebih dalam.

Pelayan menyajikan minuman. Gelas kristal diisi setengah.

Gadis itu mengangkat gelas dengan dua tangan.

“Hentikan.”

Ibu pemuda itu langsung menegur.

“Pegang gelas seperti itu membuatmu terlihat… tidak pantas.”

Ia mencontohkan.

“Satu tangan. Santai. Jangan seperti orang takut pecah.”

Gadis itu meniru.

“Lebih buruk,” kata wanita muda itu sambil tertawa.

“Kaku sekali. Seperti sedang ujian.”

Ia bersandar ke kursinya.

“Kasihan juga, ya. Masuk ke dunia yang bukan duniamu.”

Ia menghela napas panjang, pura-pura iba.

“Tapi ya… bukan berarti dunia ini harus menyesuaikanmu.”

Kalimat itu dibiarkan menggantung lama.

Di ujung meja, pemuda itu duduk diam.

Wajahnya datar.

Tangannya menggenggam garpu terlalu erat.

Nenek itu melirik ke arahnya.

“Kamu tidak menegur istrimu?”

Pemuda itu mengangkat kepala.

“Apa yang harus ditegur?”

Nenek itu mengangkat alis.

“Caranya makan.”

Pemuda itu melirik sekilas ke arah gadis itu.

Ia melihat bahunya tegang. Jari-jarinya memutih.

“Dia sedang belajar,” katanya singkat.

Keheningan jatuh.

Wanita paruh baya tersenyum.

“Belajar cepat itu penting. Tapi jangan sampai merepotkan.”

Ia menatap gadis itu lagi, omelannya kembali mengalir panjang.

“Kamu jangan berharap akan dimaklumi terus. Di rumah ini, yang lemah akan tertinggal.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan yang tertinggal… biasanya dibuang pelan-pelan.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu.

Wanita muda menepuk tangan pelan.

“Indah sekali, Tante.” Ia menoleh ke gadis itu.

“Dengar baik-baik. Ini bukan ancaman.”

Ia tersenyum.

“Ini pengingat.”

Makan malam berlanjut dalam sunyi yang menyakitkan.

Setiap gerakan gadis itu diawasi.

Setiap kesalahan kecil dicatat.

Setiap diamnya dijadikan bukti bahwa ia memang tidak pantas bicara.

Saat hidangan penutup datang, gadis itu hampir tidak menyentuhnya.

“Tidak makan?” tanya nenek.

“Takut salah lagi?” sambung wanita muda.

Gadis itu menjawab pelan,

“Sudah kenyang.”

Wanita paruh baya tersenyum tipis.

“Bagus. Perempuan tidak perlu banyak makan.”

Ia berdiri.

“Makan malam selesai.”

Satu per satu orang bangkit, meninggalkan meja tanpa menoleh lagi.

Gadis itu tetap duduk sejenak.

Tangannya gemetar.

Pemuda itu berdiri terakhir.

Ia menoleh ke arah gadis itu.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada kata.

Ia hanya berkata pelan,

“Ke kamar.”

Di lorong, langkah mereka berdampingan tapi berjarak.

Saat sampai di depan kamar tamu, pemuda itu berhenti.

Tangannya mengepal.

“Kamu—”

Ia berhenti.

Gadis itu menoleh.

“Iya?”

Pemuda itu menghela napas.

“Besok… jangan makan malam sendirian.”

Gadis itu terdiam.

Lalu mengangguk kecil.

“Iya.”

Pintu tertutup.

Di balik pintu, gadis itu akhirnya duduk di lantai.

Punggungnya bersandar.

Napasnya terengah.

Air mata jatuh satu.

Lalu dua.

Tanpa suara.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!