NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata leon bisa ngomong

Suasana Markas Thunder mendadak hening. Selena masih berdiri kaku di depan Zeus, tangannya mengepal kuat menahan dongkol. Di pojok ruangan, Axel asyik melempar koin, Damon fokus pada samsaknya, dan Nathan kembali menyesap kopinya seolah Selena hanya butiran debu.

"Kenapa masih berdiri? Sapunya di belakang pintu. Mulai dari meja biliar," perintah Zeus datar, suaranya dingin tak terbantah.

"Gue bukan pembantu, Zeus! Gue ini siswi SMA 1A, bukan cleaning service markas preman!" balas Selena, suaranya melengking tinggi. Ego bar-barnya mulai naik ke permukaan.

Zeus menghentikan gerakannya yang hendak mengambil ponsel. Dia berdiri, badannya yang tinggi tegap mengintimidasi Selena. "Lo mau membantah lagi? Perlu gue ingetin soal kontrak kita atau perlu gue seret lo ke lapangan basket depan anak-anak Thunder biar mereka tahu siapa babu baru gue?"

Selena menggertakkan gigi. "Lo bener-bener nggak punya hati! Lo pikir karena lo ketua gang, lo bisa seenaknya—"

"DIAM."

Bukan Zeus yang bicara.

Suara itu berat, rendah, dan sangat berwibawa. Berasal dari arah pojok tempat mesin motor dipreteli. Selena menoleh patah-patah. Di sana, Leon, si wakil ketua yang dijuluki "tembok semen" oleh Rora, berdiri sambil mengelap tangannya yang berlumuran oli dengan kain hitam.

Leon berjalan mendekat. Langkah kakinya terdengar mantap di lantai beton markas. Matanya yang tajam menatap Selena tanpa ekspresi, lalu beralih ke Zeus.

"Berisik," ucap Leon pendek.

Selena melongo. Oh, dia bisa bicara? pikirnya polos.

Tapi keterkejutan Selena belum berakhir. Leon menaruh kain olinya di bahu, lalu menatap Selena tepat di matanya. "Lo. Kalau disuruh, lakuin. Jangan banyak tanya kalau nggak mau urusan sama gue."

Selena membeku. Suara Leon tidak meledak-ledak seperti Zeus, tapi ada tekanan aneh yang membuat nyali Selena menciut seketika.

"Tuh, denger?" Zeus menyeringai puas, merasa mendapat dukungan dari tangan kanannya. "Bahkan Leon yang jarang ngomong aja keganggu sama suara cempreng lo. Sekarang, ambil sapunya sebelum Leon sendiri yang 'bersihin' lo dari sini."

Selena bener-bener bengong. Dia menatap Leon, lalu menatap Zeus. Selama ini dia pikir Leon itu cuma pajangan ganteng yang bisu, tapi sekali bicara, kata-katanya kayak es batu yang dijatuhin ke punggung: dingin dan bikin merinding.

"Gue... gue..." Selena gagap, sesuatu yang jarang terjadi pada gadis seberani dia.

"Pergi. Ke belakang," Leon memberikan perintah terakhir sebelum berbalik badan kembali ke motornya.

Dengan wajah merah padam karena malu sekaligus takut (dan sedikit terpesona, jujur saja), Selena akhirnya berbalik dan menyambar sapu di balik pintu. Dia mulai menyapu lantai markas dengan gerakan kasar, menyalurkan emosinya ke debu-debu di lantai.

Sialan! batin Selena. Ternyata si Tembok Semen itu lebih nyeremin daripada si Kulkas Berjalan! Rora bener, mereka itu paket lengkap... paket lengkap buat bikin hidup gue menderita!

Dari kejauhan, Zeus memperhatikan Selena yang sedang menyapu dengan bibir yang terus menggerutu tanpa suara. Sebuah senyum tipis—sangat tipis sampai hampir tak terlihat—muncul di sudut bibir sang ketua Thunder itu.

Tapi, ada bunyi "GKEYBORD" (gebrakan keras) sebagai reaksi dari Zeus saat melihat kelakuan Axel. Oke, ini dia revisinya supaya makin seru!

Selena masih sibuk menggerutu sambil mengayunkan sapu di pojok markas. Pandangannya sesekali melirik ke arah Leon yang kembali membisu dan Zeus yang asyik mengobrol dengan Nathan. Dia merasa benar-benar seperti tawanan di markas Thunder ini.

Namun, perhatiannya teralih ketika dia melihat Axel—si raja gombal yang tangannya nggak bisa diam—sedang duduk santai di atas meja biliar sambil menimang-nimang tas ransel hitam milik Selena.

"Wuih, tas lo simpel banget ya, Sel? Item polos, estetik ala-ala cewek misterius gitu," celetuk Axel sambil memutar-mutar ritsleting tas itu dengan jari telunjuknya.

"Heh! Balikin! Jangan sentuh barang pribadi gue!" teriak Selena, mencoba merebut tasnya sambil masih memegang sapu.

Tapi Axel lebih cepat. Dengan seringai nakal, dia menarik ritsleting tas itu lebar-lebar. "Gue penasaran, isinya apa sih? Alat make-up? Atau surat cinta buat Zeus?"

"AXEL, JANGAN BUKA!"

SREEEEET!

Axel membalikkan tas itu hingga isinya tumpah ke atas meja kayu besar di tengah markas. Seketika, suasana yang tadinya bising langsung hening total.

Di atas meja itu, berserakan barang-barang yang sangat kontras dengan penampilan Selena yang "bar-bar". Ada kotak pensil bermotif Robot Mecha, gantungan kunci berbentuk Gundam mini yang detail banget, bahkan sebuah buku catatan yang sampulnya gambar Robot Transformer futuristik. Semuanya... serba robot!

"BWAHAHAHA! Serius ini punya lo, Sel?" Axel tertawa kencang sambil mengangkat gantungan kunci robot itu tinggi-tinggi. "Ternyata di balik sifat galak lo, lo itu 'bocah robot' ya? Selera lo unik juga, kayak cowok!"

Selena berdiri mematung. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. Rahasianya terbongkar di depan seluruh inti Thunder!

"Balikin... Gue bilang balikin!" suara Selena bergetar, antara marah dan malu luar biasa.

Zeus berjalan mendekat, menatap tumpukan barang motif robot itu dengan dahi berkerut. Dia melihat wajah Selena yang sudah hampir menangis karena dipermalukan.

BRAAAKKK!!

Suara GKEYBORD alias gebrakan meja yang sangat keras dari tangan Zeus membuat Axel melonjak kaget sampai hampir jatuh. Seluruh markas langsung senyap.

"Axel." Suara Zeus rendah tapi penuh ancaman. "Gue bilang jangan ganggu dia kalau dia lagi kerja. Sekarang lo malah bongkar tasnya? Lo pikir itu lucu?"

Axel langsung pucat. "Anu, zeus... gue cuma bercanda..."

"Balikin semuanya. Sekarang. Terus lo push-up 50 kali di depan pintu markas," perintah Zeus dingin, matanya menatap Axel tajam seolah ingin memakan cowok itu hidup-hidup.

Selena bengong. Dia nggak nyangka Zeus bakal semarah itu cuma gara-gara Axel buka tasnya. Selena buru-buru masukin barang-barangnya ke tas dengan tangan gemetar.

Tiba-tiba, suara berat nan rendah terdengar dari arah Leon yang tadi cuma diam.

"Itu RX-78-2 Anniversary Edition."

Semua orang menoleh ke Leon. Leon menatap Selena datar, tapi ada sedikit kilat pengakuan di matanya. "Hobi lo... nggak buruk. Itu barang langka. Gue juga punya satu di rumah."

Selena makin melongo. Ternyata si "Tembok Semen" alias Leon juga kolektor robot?!

"Denger kan?" Zeus menyambar tas Selena dan memberikannya kasar ke tangan gadis itu. "Bahkan Leon bilang itu keren. Lo, Axel, cepetan keluar sebelum gue tambah jadi 100 kali!"

Selena hanya bisa terdiam, menatap Zeus yang ternyata membelanya, dan Leon yang ternyata punya hobi yang sama. Ternyata masuk ke dunia Thunder nggak seburuk yang dia bayangkan.

Bagi Zeus ternyata tipe yang "Hanya gue yang boleh jailin Selena, orang lain jangan harap".

Perut Selena tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah keheningan setelah drama Axel kena hukuman push-up. Rasa malu karena rahasia robotnya terbongkar berganti menjadi rasa lapar yang luar biasa. Dia ingat tadi pagi cuma makan selembar roti karena bangun kesiangan.

Selena berkacak pinggang, menatap Zeus dengan berani. "Woy, Kulkas! Gue laper. Masa markas segede dan sekeren ini nggak ada dapurnya? Jangan bilang kalian cuma makan angin sama oli motor doang di sini!"

Zeus mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian Selena yang mendadak.

"Dapur?" Zeus menunjuk ke arah pintu kecil di sebelah meja biliar dengan dagunya. "Ada di sana. Tapi jangan harap ada makanan mewah. Paling cuma ada mi instan atau telur."

"Gak masalah! Daripada gue mati kelaparan jadi babu lo!" ketus Selena. Dia langsung melangkah lebar menuju dapur, meninggalkan para inti Thunder yang bengong melihat kelakuannya.

Begitu masuk, Selena mendengus. "Buset, ini dapur atau gudang panci? Berantakan banget!"

Tanpa banyak bicara, Selena mulai beraksi. Dia menemukan beberapa bungkus mi instan, sosis, telur, dan sedikit sawi di dalam kulkas mini. Dengan gerakan cekatan—yang biasa dia lakukan di rumah kalau Mamahnya lagi kerja—Selena mulai menyalakan kompor.

BRAAAKKK!

Suara GKEYBORD terdengar lagi, kali ini karena Selena menutup pintu lemari dapur dengan kakinya sambil membawa panci. Suara bising itu membuat Axel yang baru selesai push-up mengintip ke dapur.

"Eh, si Neng Geulis mau masak?" Axel nyengir, mencoba kembali akrab.

"Diem lo! Jauh-jauh, nanti rambut lo kena api!" usir Selena tanpa menoleh.

"Mana ada kan api rambut lo kali yg kena" sahut axel.

Sepuluh menit kemudian, aroma harum bawang goreng dan bumbu mi instan yang dipadukan dengan telur orak-arik dan sosis merayap keluar dari dapur, memenuhi seluruh ruangan markas.

Nathan yang tadinya sibuk baca buku langsung mendongak. Damon berhenti latihan tinju, hidungnya kembang kempis mencium bau enak. Bahkan Leon yang lagi sibuk sama mesin motor sempat terhenti sejenak.

Selena keluar membawa nampan berisi tiga piring mi instan kreasinya yang kelihatan sangat menggoda. Dia duduk di meja kayu dan mulai makan dengan lahap, nggak peduli sama tatapan lapar cowok-cowok di sekitarnya.

"Nggak usah liatin gue. Masak sendiri sana!" ucap Selena sambil mengunyah sosis.

Zeus berjalan mendekat, menarik kursi di depan Selena dan tanpa izin langsung mengambil garpu dari tangan Selena, lalu mencicipi mi-nya sesendok.

"Heh! Itu punya gue!" protes Selena.

Zeus terdiam sebentar, mengecap rasa masakan Selena yang ternyata jauh lebih enak daripada mi buatan mereka biasanya.

"Lumayan," ucap Zeus datar, tapi dia nggak berhenti makan. Dia malah menarik piring itu lebih dekat ke arahnya. "Karena lo masih status babu, ini pajak karena udah pakai kompor markas."

"Dih! Licik banget!" teriak Selena frustrasi.

"Sel, buat gue ada nggak? Gue laper banget abis push-up..." rengek Axel dari kejauhan.

Selena hanya menjulurkan lidahnya. Di tengah markas yang sangar itu, Selena yang sedang asyik berebut piring dengan Zeus justru membuat suasana markas Geng Thunder jadi terasa lebih hangat—dan berisik.

Bersambung...

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!