Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Nisa menggeleng perlahan, matanya penuh dengan pengertian yang tidak bisa disembunyikan. "Kamu tidak perlu menyembunyikannya dari aku, Rain. Kita sudah bersama sejak kecil, kan? Aku bisa merasakan kalau ada sesuatu yang membuatmu gelisah." Nisa menatap foto yang baru saja Rain letakkan, ia tersenyum kecil melihat dirinya dan Rain di foto itu.
" Waktu begitu cepat berlalu,rasanya baru saja kita mengambil foto ini ." Ujar Nisa masih menatap foto itu,rasanya ia ingin mengulang masa-masa itu ,dimana dia dan Rain begitu bahagia dan begitu dekat tanpa ada sekat .
Rain terdiam sejenak, matanya kembali menatap bunga merah muda di pot itu. Setelah beberapa saat, ia menghela napas panjang. " Iya...waktu itu kamu b gitu sangat manja dan cengeng." Rain terkekeh mengingat masa-masa kecil mereka yang begitu menggemaskan." Tak ada yang bisa menyamai persahabatan kita." Lanjutnya lagi membuat senyum di bibir Nisa perlahan memudar mendengar kata persahabatan.
"Aku tahu, Rain. Dan itu sudah cukup bagiku," jawab Nisa dengan suara yang sedikit bergetar tapi tetap tegas. "Cukup kalau kamu bahagia saja. Cukup kalau aku bisa tetap ada di sekitarmu."
Rain menghampiri Nisa dan memberikan pelukan hangat. "Terima kasih sudah menjadi orang yang begitu peduli padaku, Nis. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki."
Sementara itu, di luar restoran, Aisyah masih berdiri di trotoar dengan tangan yang masih memegang foto bersama David. Firdaus dan Mama Retno sudah berdiri di belakangnya, memberikan dukungan tanpa berkata apa-apa. Lagu yang dimainkan musisi jalanan semakin jelas terdengar, membawa kenangan manis dan pahit yang tak terlupakan.
"Aisyah, ayo kita pulang saja ya," ujar Mama Retno dengan lembut menyentuh bahunya.
Aisyah mengangguk perlahan, tapi matanya masih terpaku pada arah taman kota. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah melintas lewat di depannya. Di dalamnya, Rain yang sedang menuju ke arah taman kota karena merasa ingin melihat lagi tempat di mana ia pertama kali melihat gadis itu, secara tidak sengaja melihat Aisyah yang sedang menangis di trotoar.
Hatinya tiba-tiba berdebar kencang. Ada sesuatu yang membuatnya merasa terhubung dengan gadis itu meskipun hanya melihatnya dari kejauhan. Ia segera memberitahu sopirnya untuk berhenti sebentar. "Tolong berhenti saja sebentar, Pak."
Sopir menghentikan mobil di pinggir jalan. Rain berdiri keluar, matanya tetap mengikuti sosok Aisyah yang kini mulai berjalan bersama dua orang lain menuju arah taman kota. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk mengikutinya dari kejauhan.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti aku harus melihatnya lebih dekat," gumam Rain sambil mengikuti langkah Aisyah dengan hati-hati, tanpa menyadari bahwa bunga merah muda yang dikenakan di rambut Aisyah adalah jenis yang sama persis dengan yang ia kenal dari gadis di foto kecilnya.
Di taman kota, Aisyah berhenti tepat di tempat di mana dulu ia dan David sering melukis bersama. Bunga-bunga merah muda yang mekar subur di sekelilingnya seolah menyambut kedatangannya. Ia duduk di atas bangku kayu yang sama, meletakkan foto di pangkuannya sambil terus menangis diam-diam.
Rain yang berada di balik pepohonan melihat semuanya. Ia merasa ingin mendekatinya dan menenangkannya, tapi takut akan mengganggunya. Saat ia hendak bergerak, foto kecil yang ada di kantongnya tiba-tiba terjatuh ke tanah. Ia cepat-cepat meraih nya, tapi saat itu juga Aisyah mengangkat pandangannya dan melihatnya dari kejauhan.
Mata mereka saling bertemu. Waktu seolah berhenti untuk sesaat. Aisyah merasa ada sesuatu yang akrab dari sosok pria yang sedang memegang foto kecil itu. Rain juga merasakan hal yang sama, hatinya berdebar semakin cepat saat pandangan mereka tidak terpisahkan.
Kedua pasang mata itu saling terkunci dalam pandangan yang penuh dengan rasa tak kenal namun begitu akrab. Aisyah perlahan mengusap air matanya, matanya tetap terpaku pada Rain yang kini berdiri diam di tempatnya.
Tanpa sadar, Rain mulai melangkah mendekati Aisyah. Setiap langkahnya terasa berat namun juga penuh harapan. Saat ia sudah cukup dekat, matanya menyadari bahwa foto kecil yang ia pegang ternyata menunjukkan lokasi yang sama persis dengan tempat mereka berada sekarang , dan bunga merah muda di rambut Aisyah adalah yang sama dengan yang ada di foto itu.
"Aku... maaf jika mengganggu," ujar Rain dengan suara pelan, tangannya masih erat memegang foto itu. " Malam-malam begini di taman?"
Aisyah hanya terdiam seolah kehadiran Rain tak terlihat , ia tak bisa berkata apa-apa. Ada energi yang kuat yang mengalir antara mereka berdua, membuatnya merasa seperti sudah mengenal pria tampan di depannya ini sejak lama.
Merasa di acuhkan , Rain jadi salah tingkah baru kali ini ia di acuhkan oleh seorang wanita . Namun saat akan memutar tubuhnya meninggalkan Aisyah,matanya tanpa sengaja melihat sebuah foto kecil yang ada di tangan Aisyah ,dimana gadis yang berada di foto itu sama persis dengan foto yang ada di tangannya.
Rain merasa seperti dunia berhenti berputar saat menyadari gadis yang sedang duduk di depannya itu adalah gadis yang sama yang berada di foto itu,ia tersenyum kecil mengingat semua masa lalunya,di taman ini dengan orang yang sama,jika dulu dia hanya bisa menatap nya dari jauh dan mengambil fotonya secara diam-diam tapi malam ini mereka saling berhadapan dan begitu dekat tapi juga begitu asing . Aisyah sama sekali tak mengenalnya dan mengingatnya karena memang Aisyah tak punya kenangan dengan Rain dengan sengaja.
Sementara itu, Firdaus dan Mama Retno yang sedang mengamati dari kejauhan saling berpandangan. Mama Retno menghela napas lega, melihat putrinya mulai menunjukkan ekspresi lain selain kesedihan.
Bunga merah muda di taman itu seolah semakin mekar indah di bawah sinar bulan, menyaksikan awal dari sebuah cerita baru yang mungkin sudah ditakdirkan jauh sebelum mereka bertemu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...