Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kepemilikan yang Egois
Layar ponsel itu sudah padam, tapi bayangan pesan dari Adrian masih tercetak jelas di ingatan Rey. 'Kalau rumah itu terlalu sesak... kabari aku.'
Rahang Rey mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Ia mengepalkan tangan, menahan dorongan kuat untuk membanting benda pipih di atas meja dapur itu. Bagaimana bisa pria lain menawarkan perlindungan pada istrinya di saat dia sendiri berada di rumah ini?
Rey berjalan menuju pintu kamar tamu. Ia tidak mengetuk, melainkan menggedornya dengan tidak sabaran.
"Tania! Buka pintunya!" teriak Rey. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan amarah yang meledak-ledak.
Di dalam kamar, Tania yang baru saja menyeka air matanya tersentak. Ia berdiri dan menghampiri pintu, tapi tidak membukanya. "Aku mau istirahat, Rey. Pergi."
"Aku bilang buka, Tania! Atau aku dobrak?" ancam Rey.
Tania menghela napas lelah. Ia memutar kunci dan membuka pintu sedikit. "Mau apa lagi? Belum puas menghina aku?"
Rey langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar dan melangkah masuk ke dalam ruang pribadi Tania. Ia berdiri menjulang di depan istrinya, menatap Tania dengan mata yang merah.
"Adrian. Sejak kapan dia berani kirim pesan kayak gitu ke kamu?" tanya Rey, suaranya rendah tapi penuh ancaman.
Tania mengerutkan kening. Ia melirik ke arah dapur, lalu kembali menatap Rey dengan tatapan tidak percaya. "Kamu lancang, Rey. Kamu buka ponselku?"
"Jawab aku, Tania! Apa maksudnya dia bilang rumah ini sesak? Kamu sering mengadu sama dia? Kamu ceritain masalah rumah tangga kita ke laki-laki itu?" Rey mencengkeram kedua bahu Tania, memaksa istrinya untuk menatapnya.
Tania meringis kesakitan, tapi ia tidak memohon agar dilepaskan. Ia justru menatap balik mata suaminya dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. "Kenapa kalau iya? Kamu takut rahasia kamu terbongkar? Takut orang tahu kalau kamu cuma jadiin aku tameng buat nutupin hubungan kamu sama Bianca?"
"Tania, jaga bicara kamu! Aku nggak pernah jadikan kamu tameng!"
"Terus apa, Rey? Aku ini apa buat kamu?" suara Tania mulai meninggi, bergetar karena emosi yang meluap. "Kamu marah karena Adrian peduli? Kamu cemburu? Kamu nggak punya hak buat cemburu, Rey! Kamu sendiri yang biarin aku kedinginan di rumah ini, dan sekarang kamu marah saat ada orang lain yang kasih aku kehangatan?"
"Aku suamimu!" potong Rey cepat. "Aku punya hak penuh atas kamu! Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama dia. Berhenti temui Adrian, atau aku akan pastikan dia nggak bakal bisa dekat sama kamu lagi!"
Tania tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Hak penuh? Kamu bicara soal hak, sementara kamu sendiri mengabaikan kewajiban kamu buat jaga perasaanku? Kamu lucu, Rey. Sangat lucu."
Tania melepaskan cengkeraman tangan Rey dari bahunya dengan kasar. Ia mundur selangkah, menatap suaminya seolah pria itu adalah orang asing yang paling menjijikkan.
"Dengerin aku baik-baik, Rey. Kamu bisa kontrol siapa yang aku temui, tapi kamu nggak akan pernah bisa kontrol siapa yang aku pikirkan. Selama ini, ragaku ada di sini, tapi hatiku perlahan-lahan mati karena kamu. Dan sekarang, saat aku mulai mencoba untuk bernapas lagi, kamu mau cekik aku?"
Rey terdiam. Kata-kata Tania terasa seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada pukulan fisik manapun. Ia menatap Tania yang kini berdiri dengan tegap, tidak ada lagi sorot mata memohon atau cinta yang dulu selalu ia abaikan.
"Tania... aku cuma nggak mau kamu salah jalan," ucap Rey, suaranya sedikit melunak, meski egonya masih mencoba bertahan.
"Salah jalan?" Tania tersenyum getir. "Jalan paling salah yang pernah aku ambil adalah tetap tinggal di sini dan berharap kamu bakal lihat aku sebagai istri, bukan cuma sebagai pajangan di rumahmu."
Tania berjalan melewati Rey, menuju tempat tidur. Ia merebahkan dirinya dan menarik selimut, memunggungi suaminya sepenuhnya. "Keluar, Rey. Matikan lampunya. Aku capek."
Rey berdiri mematung di tengah kamar. Ia menatap punggung istrinya yang bergetar kecil, tahu bahwa Tania sedang menangis dalam diam. Untuk pertama kalinya, Rey merasa rumah mewah ini benar-benar terasa sesak—persis seperti yang dikatakan Adrian dalam pesannya.
Ia melangkah keluar dari kamar tamu dengan bahu yang merosot. Saat ia menutup pintu, ia teringat satu hal: dia bahkan belum sempat minta maaf soal Bianca.
Baru saja ia sampai di ruang tengah, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan dari Mama Ratna.
Mama: "Rey, besok malam Mama mau datang makan malam di rumah kalian. Mama mau bahas soal program kehamilan yang kemarin Mama bilang. Pastikan Tania masak yang enak, ya."
Rey memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Bagaimana mungkin dia bisa membahas soal anak, sementara istrinya saja sekarang enggan untuk menatap matanya?
Di sisi lain, Rey kembali menatap ponsel Tania yang masih tertinggal di meja. Sebuah notifikasi baru muncul di layar yang terkunci.
Adrian: "Aku di depan komplekmu, Tan. Kalau kamu butuh keluar sebentar untuk cari udara segar, aku tunggu."
Darah Rey kembali mendidih. Kali ini, ia tidak akan tinggal diam. Ia menyambar kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu depan dengan langkah seribu. Ia tidak akan membiarkan Adrian mengambil satu inci pun wilayahnya.