NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Rumah yang Sama, Jarak yang Semu”

Rumah itu tidak pernah terasa seramai ini.

Benny berdiri di dapur, menatap meja makan yang kini penuh. Ada piring, gelas, tisu, dan—untuk pertama kalinya—aroma masakan rumahan. Ia menghela napas pelan. Bukan karena terganggu, tapi karena perasaan asing yang sulit ia jelaskan.

Cessa muncul dari arah koridor. Rambutnya diikat asal. Kaos longgar dan celana rumah menggantikan gaun rapi siang tadi. Wajahnya polos. Santai. Seolah rumah itu memang miliknya sejak awal.

“Om—eh, Ben,” ralat Cessa cepat. “Sarapan.”

Benny menoleh sekilas. “Aku biasanya nggak sarapan.”

“Mulai sekarang, iya,” balas Cessa ringan. “Biar sehat.”

Benny hendak membantah, tapi kalimatnya menguap. Ia duduk. Cessa tersenyum kecil—sebuah kemenangan sederhana.

Mereka makan dalam diam. Sunyi yang aneh. Bukan canggung, tapi belum nyaman. Sesekali Cessa mencuri pandang. Benny pura-pura tidak sadar.

“Jadwal kamu hari ini?” tanya Cessa.

“Meeting,” jawab Benny singkat.

“Pulang jam berapa?”

Benny berhenti mengunyah. Pertanyaan itu… terlalu domestik. “Kenapa?”

“Biar aku nggak nunggu.”

Jawaban itu membuat dada Benny berdesir kecil. Ia mengangguk. “Jangan nunggu.”

Cessa tertawa pelan. “Iya, Pak.”

Siang harinya, kantor Benny ramai. Bukan karena proyek besar—melainkan karena gosip. CEO dingin itu kini tinggal serumah dengan calon istrinya yang muda dan cantik. Karyawan berbisik. Tatapan mengikuti setiap langkah Benny.

Dan hari ini, Cessa datang.

Bukan untuk mengganggu.

Katanya.

Ia berdiri di lobby, berbincang dengan seorang pria muda—tinggi, rapi, senyumnya terlalu lebar. Benny melihatnya dari lantai atas. Dadanya menegang tanpa aba-aba.

“Siapa itu?” tanyanya dingin pada sekretaris.

“Teman kuliah Nona Cessa, Pak. Katanya mau antar berkas.”

Benny menuruni tangga dengan langkah cepat. Terlalu cepat untuk sekadar urusan kantor.

“Cessa.”

Nada itu membuat Cessa menoleh. Wajahnya cerah. “Ben.”

Pria di sampingnya tersenyum sopan. “Saya Raka.”

Benny mengangguk singkat. “Berkasnya serahkan ke resepsionis.”

Raka tampak kikuk. “Oh—baik, Pak.”

Cessa mengerutkan dahi. “Ben, dia—”

“Masuk,” potong Benny. Tangannya sudah terulur, menggenggam pergelangan Cessa. Tidak kasar. Tapi tegas.

Di lift, Cessa menatapnya. “Kenapa kamu dingin?”

“Kenapa kamu ngobrol lama-lama?” balas Benny.

“Dia temanku.”

“Di jam kantor.”

“Terus kenapa?” Cessa menantang.

Pintu lift terbuka. Benny melepas genggaman itu. “Ke ruanganku.”

Cessa mengikutinya. Pintu tertutup.

“Kamu cemburu?” tanya Cessa tanpa basa-basi.

Benny membeku sesaat. “Jangan berlebihan.”

Cessa tersenyum miring. “Tadi kamu genggam aku.”

“Itu supaya cepat.”

“Alasan.”

Benny menghela napas. “Kita punya kesepakatan.”

“Iya,” Cessa mengangguk. “Tanpa cinta.”

“Dan tanpa drama.”

“Berarti aku nggak boleh punya teman?”

“Boleh. Jaga jarak.”

Cessa terdiam. Lalu berkata pelan, “Kamu boleh posesif, tapi jangan menutupku.”

Kata-kata itu menohok. Benny memalingkan wajah. “Keluar. Aku kerja.”

Cessa melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. “Aku nurut. Tapi jangan bikin aku merasa sendirian.”

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, Benny merasa… bersalah.

Malam datang.

Benny pulang lebih awal dari biasanya. Rumah terang. Ada suara dari dapur. Cessa sedang memasak, bersenandung pelan. Pemandangan sederhana itu menahan langkah Benny.

“Kamu pulang,” kata Cessa tanpa menoleh.

“Kenapa tahu?”

“Langkah kamu beda.”

Benny terdiam. Ia duduk di kursi. “Tadi aku keterlaluan.”

Cessa berhenti. Menoleh. “Yang mana?”

“Di kantor.”

Hening. Cessa kembali mengaduk masakan. “Aku nggak marah.”

“Bohong.”

Cessa tersenyum kecil. “Aku cuma capek.”

Benny menelan ludah. “Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya tidak.

“Karena…” Benny terhenti. “…kita satu rumah.”

Cessa mengangguk, menerima setengah kebenaran itu. “Makan.”

Mereka makan lagi dalam diam. Kali ini lebih berat.

Setelahnya, Cessa berdiri. “Aku mau mandi.”

Benny mengangguk.

Namun saat Cessa berjalan menjauh, ponsel Benny bergetar. Pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.

Raka:

Pak, maaf. Saya temannya Cessa. Tadi saya lihat Bapak marah.

Tolong jaga dia baik-baik.

Benny menatap layar lama. Dadanya panas.

Ia berdiri dan berjalan cepat menyusuri koridor. Berhenti di depan kamar mandi. Pintu tertutup. Suara air mengalir.

“Cessa,” panggilnya.

“Apa?” jawab Cessa dari dalam.

“Buka.”

Beberapa detik. Pintu terbuka sedikit. Uap hangat menyembur. Cessa berdiri dengan handuk menutupi tubuhnya, rambut basah, wajah polos.

Benny menelan ludah.

“Ada apa?” tanya Cessa.

Benny memalingkan wajah cepat. “Pakai… yang sopan.”

Cessa tersenyum kecil. “Aku di rumah sendiri.”

“Kita serumah,” bantah Benny.

“Berarti kamu lihat aku?” goda Cessa.

“Tidak,” jawab Benny terlalu cepat.

Cessa mendekat setapak. “Ben.”

“Jangan dekat.”

“Kenapa?”

“Karena—”

Benny berhenti. Nafasnya berat.

“Karena aku bukan batu,” ucapnya pelan.

Cessa terdiam. Tatapannya melembut. “Aku tahu.”

Keheningan menggantung. Jarak mereka tinggal satu langkah.

Benny mundur. “Masuk kamar.”

Cessa menurut. Tapi sebelum menutup pintu, ia berkata lirih, “Aku bakal jaga jarak… kalau kamu jujur sama perasaanmu sendiri.”

Pintu tertutup.

Benny berdiri lama di koridor. Jantungnya berdetak keras. Terlalu keras.

Ia menyadari satu hal yang membuatnya gentar:

Jarak yang ia buat justru semakin tipis.

Benny mengira kecemburuan hanyalah reaksi sesaat.

Ia tidak tahu—perasaan itu baru saja menemukan jalannya.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!