✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Atas Lumpur
Wilayah Vargos - Kastil Raja Iblis - Aula Takhta
[ PERINGATAN SISTEM ]
[ Energi Terdeteksi: 'Kebijaksanaan Seorang Raja' ]
[Pengampunan Pada Seorang Penyusup]
[Quest Tidak Dapat di Ulang]
[Hadiah : Aura Kedaulatan Mutlak]
[Anda telah Memiliki Satu Jenderal Rasi Leo Dari Raja Terdahulu]
[ Sisa Ritual Pemanggilan 'The Pride of Leo' Tersedia: 1/4]
[ Apakah Anda ingin memanggil Jenderal Iblis Rasi Leo lainnya?]
"Kenapa tidak bisa 4 sekaligus?"
"yasudahlah, setidaknya sekarang aku bisa menambah satu Jenderal lagi."
Ren berdiri tegak di depan gerbang kastil. Ia mengangkat tangannya ke langit, membiarkan aura violet dan hitamnya meledak keluar. "Atas nama Rasi Leo, aku memanggilmu! Munculah Jenderal Iblis Penyihir Terkuat, Valeria!"
Lingkaran sihir raksasa berwarna emas muncul di atas tanah. Dari tengah ledakan cahaya tersebut, muncul sesosok wanita dengan rambut pirang panjang yang dikuncir kuda tinggi. Ia mengenakan pakaian penyihir ketat berwarna putih dengan lambang palet garis hitam, ada sedikit merah marun, dan aksesoris berelief singa emas, ia juga tampak memegang tongkat sihir yang tampak sangat berbahaya dari kristal yang tertanam di tongkatnya.
Wanita itu membuka matanya yang tajam, mata berwarna biru es yang menatap Ren dengan intensitas luar biasa. Ia berlutut di depan Ren, namun wajahnya tampak merona merah, antara malu dan keras kepala.
"Jadi... kau adalah tuanku yang baru? Si penggerutu dari dunia lain itu?" ucapnya dengan nada dingin yang dibuat-buat. "Namaku Valeria Lockhart. Aku akan menjadi tongkat sihirmu tapi jangan harap aku akan memujimu jika kau melakukan kesalahan bodoh, mengerti?!"
Ren berkedip berkali-kali, menatap jenderal barunya yang tampak sangat cantik namun memiliki lidah yang tajam.
'apakah ini yang disebut stundere?' batin Ren sambil tersenyum tanggung berbalut kebingungan bagaimana cara menanggapinya.
Dapur Utama Istana
Kehadiran Valeria Lockhart di kastil Vargos tidak hanya menambah kekuatan tempur yang signifikan, tetapi juga meningkatkan intensitas kebisingan di dalam aula yang biasanya sunyi senyap.
Belum genap satu jam sejak penyihir rasi Leo itu dipanggil, ia sudah terlibat adu mulut yang sengit dengan Shallan di dapur utama istana.
Perdebatan mereka bukan tentang strategi perang atau pertahanan wilayah, melainkan sesuatu yang bagi Valeria jauh lebih krusial: apakah Tuan Leon lebih suka teh dengan dua sendok gula atau tanpa gula sama sekali.
"Sudah kubilang berkali-kali, lidah si penggerutu itu menyukai sesuatu yang manis untuk menyeimbangkan hidup mereka yang pahit dan penuh tekanan!" ketus Valeria sambil mengacungkan tongkat kristalnya dengan gemas. Percikan es kecil berjatuhan dari ujung tongkatnya saat ia bicara.
"Dan kau, Sucubbus gila, kau hampir meracuninya dengan teh hitam yang terlalu kental hingga pahitnya bisa melumpuhkan saraf!"
Shallan hanya menyilangkan tangannya, menatap Valeria dengan tatapan bosan yang provokatif. "Dia seorang Raja sekarang.., dia butuh kafein yang kuat untuk memacu otaknya berpikir, bukan sirup bunga manis yang biasanya diberikan pada anak kecil agar berhenti menangis. Dan berhentilah memanggilnya 'si penggerutu'. Itu sangat tidak sopan bagi bawahan."
"A-aku akan memanggilnya sesukaku! Itu adalah istilah sayang... Ma-maksudku, itu hakku!" Valeria membuang muka, pipinya mendadak memerah.
"Aku melakukan ini hanya agar dia tidak pingsan saat aku sedang memberikan dukungan sihir padanya nanti! Jangan kau berani-berani salah paham!"
Ren, yang berdiri diam di ambang pintu kayu yang besar, hanya bisa memijat pelipisnya perlahan. Mahkota Raja Iblis Leon yang kini tak terlihat di kepalanya mendadak terasa sedikit berdenyut, seolah-olah sistem di otaknya pun ikut mengalami overload melihat dinamika kedua jenderalnya yang eksentrik.
Namun, di balik rasa pening itu, Ren merasakan sesuatu yang asing namun hangat di dadanya. Kastil yang tadinya terasa seperti penjara batu yang sunyi dan mati, kini mulai terasa seperti sebuah "rumah". Meskipun penghuninya adalah sekumpulan monster, samurai hantu, dan penyihir yang mudah marah.
"Cukup," suara Ren memotong perdebatan itu. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat kedua wanita itu langsung berdiri tegak secara insting.
"Kita punya misi nyata. Silas, tunjukkan jalannya."
Semuanya berpindah ke ruang strategi.
Silas membentangkan sebuah peta kulit kuno yang tepiannya sudah mulai rapuh di atas meja batu.
"Tuan, tujuan kita adalah Rawa Keruh." Silas memulai dengan suara baritonnya yang tenang.
"Ini adalah wilayah kedaulatan kaum Lizardman di sisi barat Vargos. Mereka adalah ras yang sangat tertutup, tangguh, dan sayangnya memiliki dendam sejarah yang sangat dalam dengan Raja Leon ke-6 dulu.
Raja Leon ke-6 pernah melakukan pembantaian massal di sana, hanya untuk mengambil sisik-sisik mereka yang langka sebagai bahan baku zirah antipeluru sihir."
Ren terdiam sejenak, menatap titik di peta yang ditunjuk Silas. Ia menyadari bahwa menjadi pewaris takhta ini bukan hanya tentang mendapatkan kekuatan sistem yang luar biasa, tapi juga tentang menanggung beban dosa-dosa masa lalu yang tidak ia lakukan.
"Kita tidak akan datang ke sana untuk meminta maaf dengan kata-kata kosong belaka," ucap Ren dingin. "Kita akan datang untuk membuktikan bahwa Vargos telah lahir kembali dengan jantung yang baru."
_____________________________________________
Perjalanan menuju Rawa Keruh memakan waktu beberapa jam melewati Hutan Ratapan yang suram. Ren memutuskan untuk berkuda, menggunakan kuda hitam legam yang memiliki mata semerah api. Ia diapit oleh Shallan di sisi kiri yang terus waspada dengan tangan di gagang cambuknya, dan Valeria di sisi kanan yang tak henti-hentinya mengeluh tentang kelembapan udara.
"Udara di sini menjijikkan. Ini akan merusak tatanan rambutku dan membuat jubah putihku menjadi kuning!" gerutu Valeria. Namun, di balik keluhannya, mata biru esnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling dengan tajam. Setiap ada semak yang bergerak mencurigakan, ujung tongkatnya akan bersinar redup, siap melepaskan badai salju.
"Tuan..," bisik Valeria tiba-tiba, suaranya melunak dan kehilangan nada tajamnya yang biasa. "Kenapa kau repot-repot melakukan diplomasi semacam ini? Dengan kekuatan kami berdua saja, kau bisa meratakan rawa itu dalam semalam dan memaksa mereka semua berlutut. Bukankah itu cara yang lebih efisien... cara yang lebih seperti 'Raja Iblis'?"
Ren tetap menatap lurus ke jalan setapak yang berlumpur di depannya. Pikirannya melayang pada masa-masa ia menjadi karyawan, di mana ia melihat bagaimana bos-bos besar menindas bawahan mereka hanya karena mereka memiliki kuasa.
"Valeria, dengarkan aku," ucap Ren tenang.
"Sebuah kerajaan yang dibangun di atas tumpukan mayat hanya akan menghasilkan bau busuk dan pemberontakan yang tak ada habisnya. Tapi kerajaan yang dibangun di atas rasa percaya dan rasa hormat akan menghasilkan kejayaan yang abadi. Aku tidak ingin memerintah sekumpulan budak yang menunggu waktu untuk menusukku dari belakang. Aku ingin memimpin kawan yang akan berdiri di sampingku saat badai datang."
Valeria tertegun mendengar jawaban itu. Ia membuang muka ke arah lain, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang terukir di bibirnya yang tipis. "Dasar penggerutu idealis. Kau akan kesulitan jika terus berpikir selembut itu di dunia yang haus darah ini."
Saat mereka memasuki area rawa, suasana mendadak berubah mencekam. Kabut hijau tipis yang berbau belerang dan lumut busuk mulai menyelimuti pandangan, membatasi jarak pandang hanya hingga lima meter. Suara kecipak air yang sangat halus terdengar dari segala arah, menciptakan simfoni ancaman yang tak terlihat. Tiba-tiba, suara Mika bergema di dalam pikiran Ren.
"Tuan, jangan berhenti. Kita sudah terkepung sepenuhnya. Ada setidaknya lima puluh Lizardman bersembunyi di balik akar-akar tanaman bakau itu. Mereka sangat sabar."
Ren menarik tali kekang kudanya tepat di depan sebuah pohon raksasa yang tumbang melintasi jalur mereka. Ia turun dari kuda dengan gerakan mantap. Kakinya langsung tenggelam ke dalam lumpur hitam pekat hingga mata kaki. Zirah merah marunnya yang indah kini ternoda oleh kotoran rawa, namun ia tidak menunjukkan tanda-tanda jijik sedikit pun.
"Gorn!" teriak Ren, suaranya yang dalam bergema menembus kabut tebal, memecah kesunyian rawa. "Aku tahu kau ada di sana, mengawasiku melalui celah-celah akar itu. Aku tidak datang dengan tentara untuk menyerangmu. Aku datang sebagai penguasa Vargos yang membawa tawaran hidup!"
Keheningan sesaat yang menyesakkan pecah ketika permukaan air rawa di depan Ren mulai bergejolak. Sesosok makhluk raksasa muncul perlahan dari dalam air yang keruh. Tingginya hampir tiga meter, dengan sisik hijau gelap yang tampak sekeras baja purba. Di lengannya terdapat pentungan dari tulang dan tombak dari tulang tajam terpasang di lengan satunya.
"Beraninya kau menginjakkan kaki di tanah suci yang sudah kau nodai ini keturunan Leon!" Gorn mendesis, suaranya terdengar seperti gesekan ampelas pada kayu. Mata kuningnya yang vertikal memancarkan kebencian murni. "Kau ingin menawarkan apa? Racun baru untuk air kami? Atau kau datang karena ingin mengambil lenganku yang tersisa sebagai hiasan dinding di kastil busukmu?"
Seketika, puluhan Lizardman lainnya muncul dari balik air dan pohon, tombak-tombak tulang mereka yang runcing terarah tepat ke arah Ren. Shallan sudah bersiap menarik cambuknya dengan seringai tajam, dan Valeria sudah menggenggam tongkat kristalnya dengan jari-jari yang mulai memancarkan cahaya es yang membekukan udara di sekitarnya.
"Jangan bergerak," perintah Ren pada kedua jenderalnya tanpa menoleh. "Tetap di posisi kalian."
Ren melangkah maju satu tahap lagi, melampaui batas aman, hingga ujung bilah tulang Gorn hampir menyentuh lehernya. Ia menatap langsung ke dalam mata reptil yang haus darah itu.
"Aku tahu semalam sindikat perdagangan dari Oakhaven melakukan penggerebekan di sini," Ren memulai, suaranya tenang tanpa getaran ketakutan. "Aku tahu mereka menculik sepuluh pemuda terbaikmu, Aku tahu mereka membawa ke kamp berbenteng di pinggiran hutan untuk dijual sebagai komoditas di pasar gelap Arthemis."
Gorn tertegun. Bilah tulangnya sedikit turun secara tidak sadar. "Bagaimana mungkin... bagaimana kau bisa tahu rahasia yang bahkan belum sempat aku laporkan pada sukuku sendiri?"
"Vargos mungkin telah lama tertidur, tapi ia memiliki telinga dan mata di setiap helai angin," jawab Ren. "Tapi yang lebih penting, Gorn, aku tahu kau tidak bisa menyerang kamp itu sendirian. Mereka memiliki penyihir pelindung yang bisa menguapkan rawa ini jika kau berani mendekat. Kau terjepit antara kehormatan dan keselamatan rakyatmu. Aku di sini untuk memberikan jalan keluar."
"Apa maumu, Iblis?" Gorn mendesis dengan nada yang kini lebih terdengar seperti keputusasaan yang tertahan daripada kemarahan.
Ren tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan tekad besi. "Aku akan menyerang kamp itu sekarang juga. Aku akan menghancurkan mereka dan membawa kembali rakyatmu tanpa mereka harus kehilangan satu sisik pun. Sebagai imbalannya, setelah mereka selamat, kau harus datang ke kastil Vargos bukan sebagai musuh, tapi sebagai sekutu. Kita akan bicara tentang masa depan di mana monster tidak lagi menjadi mangsa bagi manusia."
Gorn tertawa parau, suara yang menyakitkan untuk didengar.
"Kau mempertaruhkan nyawamu untuk ras yang ingin menguliti kepalamu? Kau benar-benar aneh, Raja baru. Apa kau sedang mencari cara baru untuk menjajah kami?"
Ren menatap Gorn dengan ekspresi yang sangat serius. "Gorn, kekuatan sejati seorang pemimpin bukan diukur dari berapa banyak orang yang ia bantai di medan perang, melainkan dari berapa banyak nyawa yang ia selamatkan saat ia memiliki kekuatan penuh untuk mengabaikan mereka."
Kalimat itu seolah-olah menggetarkan atmosfer rawa yang berat. Bahkan Valeria dan Shallan terdiam di belakang, merasakan beban berat dari filosofi yang diucapkan Ren. Gorn menatap Ren lama sekali, mencari tanda-tanda kebohongan atau kelicikan di matanya, namun ia hanya menemukan kejujuran yang tajam dan menyakitkan.
"Baiklah," desis Gorn akhirnya sambil menarik bilah tulangnya.
"Kamp mereka bersembunyi di balik bukit berbatu di utara. Jika kau gagal dan tewas, aku sendiri yang akan memastikan mayatmu menjadi pupuk paling subur bagi rawa ini. Tapi jika kau berhasil... aku akan mendengarkan setiap katamu."
Ren berbalik menuju kedua jenderalnya. Aura violet berlapis hitam mulai keluar dari tubuhnya secara perlahan, menandakan bahwa mode tempur sang Raja telah aktif sepenuhnya. Tekanan udaranya membuat lumpur di bawah kakinya sedikit bergetar.
"Kalian dengar itu?" tanya Ren pada Shallan dan Valeria.
"Dengan senang hati, Tuan," Shallan menyeringai jahat, cambuk petirnya mulai memercikkan api merah yang menari-nari penuh nafsu membunuh. "Sudah lama aku tidak mencabik-cabik daging manusia yang sombong."
"Hmph, karena kau sudah memberikan janji konyol pada kadal raksasa itu, aku terpaksa harus memastikan kau tidak mempermalukan namaku sebagai jenderal Leo pertamamu." gerutu Valeria, namun tongkat kristalnya sudah memancarkan aura dingin yang membekukan air rawa di sekitarnya menjadi lantai kristal yang kokoh.
Bersambung.