NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Keesokan Harinya – Jam Istirahat Pertama**

Suara bel istirahat menggema di seluruh sekolah. Koridor ramai dipenuhi langkah kaki siswa-siswi yang berbondong-bondong menuju kantin, beberapa bercanda, ada juga yang mengobrol santai di bawah pohon rindang halaman sekolah. Udara siang yang bercampur aroma jajanan kantin menambah semarak suasana.

Di lapangan basket, suara sepatu yang berdecit di lantai dan bola yang memantul keras memecah riuh suasana istirahat. Beberapa siswa berdiri di pinggir lapangan, bersorak memberi semangat kepada tim yang sedang bermain.

Di sisi lain lapangan, Alice berdiri diam, Matanya terpaku pada sosok Danzel yang sedang bermain basket.

Setiap kali Danzel melesakkan bola ke ring, sorakan terdengar semakin kencang—terutama dari para siswi yang berkerumun, meneriakkan namanya. Senyum Danzel yang ceria, tawanya saat bercanda dengan timnya, semua terekam jelas di benak Alice.

Dalam diam, Alice mengagumi setiap sisi Danzel—ketulusan matanya, sikapnya yang baik, dan pesona yang membuat hati banyak orang terpikat.

Namun suara teriakan para gadis yang memanggil nama Danzel menyadarkan Alice dari lamunannya. Ia menunduk pelan. Meski hatinya penuh harapan, ia sadar dirinya hanya bisa menyimpan perasaan itu rapat-rapat.

---

Di Lapangan

“Hey, lihat itu…” Mike berbisik pada Rey sambil memantulkan bola. Pandangannya mengarah ke Alice yang berdiri tak jauh dari garis lapangan.

Rey melirik, lalu tersenyum sinis. “Aku tahu persis apa yang kau pikirkan.”

“Lemparkan bolanya kemari,” ujar Rey.

Mike mengoper bola, dan tanpa ragu Rey sengaja melemparkannya ke arah pinggir lapangan.

Bola menghantam kepala Alice sebelum ia sempat bereaksi.

Alice terkejut. Pandangannya berkunang-kunang, rasa nyeri menyebar dari pelipisnya.

Danzel yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri.

“Alice! Kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Aku….aku tidak apa-apa,” jawab Alice lirih, meski rasa sakitnya masih jelas terasa.

Danzel menatap tajam ke arah Mike dan Rey. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa melempar bola ke arah Alice?”

Mike dan Rey yang awalnya tertawa kecil mulai menahan diri.

“Maaf,  Kita hanya bercanda, tidak bermaksud melukainya,” ucap Mike berpura-pura menyesal.

Danzel menghela napas panjang, lalu kembali fokus pada Alice. “Ayo duduk di sana sebentar.”

Rey dan Mike saling bertukar pandang, menyembunyikan senyum puas.

---

Di Pinggir Lapangan

“Ini, minum dulu…” Danzel menyodorkan botol minumnya kepada Alice.

Alice menerimanya, meneguk sedikit.

“Sudah mendingan?” tanya Danzel lembut.

Alice mengangguk pelan, meski tangannya masih memegangi kepala.

Tanpa sadar, Danzel mengulurkan tangan, menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Alice. Ia menunduk sedikit, meniup pelan bagian kepala yang terkena bola.

Pandangan mereka bertemu. Jantung Alice berdetak cepat, rasa nyeri di kepalanya seolah menghilang—berganti dengan detak yang tak terkendali.

Alice buru-buru mengalihkan tatapan. “E-em… terima kasih Danzel, Kepalaku sudah tidak sakit.”

“Benarkah? Kalau masih pusing, aku bisa antarkan ke UKS,” tawar Danzel.

“Tidak, sungguh. Aku sudah mendingan,” Alice tersenyum kecil. “Maaf sudah merepotkanmu.”

Danzel menggeleng. “Tidak masalah, Al. Aku akan selalu ada untukmu.”

Kata kata itu membuat Alice terdiam sejenak. *Akan selalu ada untukku?* hatinya berdesir, namun ia cepat menepis pikirannya.

Langkah anggun terdengar mendekat. Rachel, dengan rambut panjang tergerai rapi, menghampiri mereka. Senyum manisnya mengembang.

Rachel adalah gadis cantik populer di sekolah itu, dan dari kabar yang beredar Rachel adalah gadis yang bisa memikat perhatian dari seorang Danzel.

“Danzel,” sapanya lembut sambil menyodorkan handuk kecil dan minuman dingin. “Ini untukmu. Pasti lelah setelah main basket.”

Danzel tersenyum lebar, menerima pemberiannya. “Terima kasih, Rachel.”

Alice yang duduk di sampingnya hanya bisa terdiam, melihat tatapan penuh semangat Danzel kepada Rachel. Ia tahu, di mata Danzel, Rachel adalah gadis yang istimewa. Dan ia juga tahu bahwa selama ini Danzel tertarik dengan Rachel.

Setelah Rachel pergi, Alice mencoba memecah hening. “Rachel kelihatannya memang baik, ya?”

Danzel tersenyum. “Iya. dan dia sangat cantik, aku beruntung bisa mengenalnya.”

Alice menatap Danzel sesaat, lalu menunduk agar ekspresinya tak terlihat. “Kamu… menyukainya, ya?” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.

Danzel terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

Alice mencoba mencari alasan, “Entahlah… mungkin karena cara kamu menatapnya. Kamu kelihatan… berbeda.”

Danzel terkekeh singkat. “Berbeda bagaimana?”

Alice menahan napas sesaat sebelum menjawab, “Tatapanmu…seperti menyimpan sesuatu."

Danzel terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Kamu memang selalu jeli, Al.” Ia menatap Alice, lalu menunduk sedikit, suaranya merendah. “Iya, aku memang menyukai Rachel. Sudah lama, sebenarnya.”

Deg! Alice merasakan dadanya sesak, tetapi ia tersenyum samar, berusaha menahan gejolak perasaannya. “Sudah lama…? Sejak kapan?”

"Sejak pertama kali memasuki sekolah ini, saat itu dia sudah menarik perhatian ku."

“Meskipun kita di kelas yang berbeda,” lanjut Danzel, “tapi karena satu kegiatan , kita cukup sering berinteraksi." ucap Danzel tersenyum, seolah mengingat kenangan yang menyenangkan.

Alice mengangguk pelan, meski hatinya terasa semakin remuk.

Danzel tidak menyadari perubahan ekspresi Alice dan melanjutkan,

“Aku sempat ragu untuk mendekatinya hingga sampai saat ini, ntah apa alasannya aku juga tidak tahu dengan hatiku."

"Tetapi untuk saat ini, mungkin dalam beberapa hari kedepan aku akan meyakinkan diriku untuk mengungkapkan perasaan ku."lanjut Danzel 

Alice mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Danzel dengan senyuman penuh luka.

“Kalau begitu, lakukanlah. Ungkapkan perasaanmu. Siapa tahu… dia juga merasakan hal yang sama.”

Danzel menatap Alice dan tersenyum tulus. “Terima kasih, Alice. Kamu memang selalu jadi pendengar yang baik.”

"ayo kita kembali ke kelas. pelajaran berikutnya akan segera di mulai." Kata Danzel sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Alice bangun.

Alice berusaha tersenyum dan menerima uluran tangan Danzel untuk berdiri, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan hari.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!