" Aku telah kehilangkan kedua orang tuaku dari karna ulah keluargamu, maka bersiap lah menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Ucap seorang pria dengan mata penuh dendam.
” Aku menerima semua kemarahan mu tuan, atas apa yang telah di perbuat oleh orang tuaku untuk menebus semua kesalahan itu. Tapi jika aku lelah aku pamit pergi tuan." Balas seorang wanita dengan wajah sendiri penuh kepasrahan apa yang akan ia terima dengan ikhlas untuk menebus semua kesalahannya pada pria yang membenci dirinya itu.
Bagaimana kelanjutannya ikuti terus cerita ini sampai selesai ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda sri ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keenam
Wajah letih pakaian yang sudah berantakan tidak mengurangi aura ketampanan dari seorang Ahmad Shaka wibowo yang tampak baru keluar dari sebuah perusahaan besar di ibu kota dengan mengenakan jas di tubuh tegap nya.
Walaupun usianya masih terlampau muda namun kalo soal pekerjaan dirinya di bilang sudah bisa walau masih duduk di bangku SMA tingkat akhir.
Karna semasa kedua orang tuanya masih ada dulu Shaka memang sudah di ajarin untuk memegang sebuah perusahaan agar setelah lulus kuliah shaka bisa langsung terjun ke dunia bisnis.
Sampai di lobby perusahaan Shaka pun berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sana.
Satpam yang berjaga di pintu keluar masuk perusahaan tersebut pun menunduk serta menyapa shaka yang lewat.
" Semalam malam mas Shaka." Sapa satpam itu dengan ramah.
Namun Shaka hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dengan wajah datar tanpa menjawab ucapan dari satpam tersebut, dan langsung masuk ke dalam mobilnya meninggalkan perusahaan itu yang sudah sepi hanya ada satpam yang berjaga di depan pintu masuk.
"Mas shaka sekarang sudah berubah semejak kedua orang tuanya meninggal menjadi dingin tidak seperti dulu." Ucap satpam tersebut pada temennya yang baru saja datar.
" Iya pak, Apa lagi sekarang semua karyawan merasakan perubahan yang besar saat mas shaka memegang kendali perusahaan semenjak orang tuanya meninggal dunia.
Memang selama setahun ini kedua orang tua Shaka meninggal karena kecelakaan tersebut sakala yang mengambil alih perusahaan yang sebelumnya selama kurang lebih 3 sampai 4 bulan karena saat itu Shaka tidak ingin mengurusi hal itu. namun karna permintaan dari sang kakek yang saat ini sedang berada di luar negri mau tak mau shaka terpaksa turun tangan atas perintah dari sang kakek.
Perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya mobil yang di kendarai oleh shaka sampai di rumah besar milik mending orang tuanya.
Lalu shaka pun turun dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam rumah dengan berjalan tegap lurus kedepan dengan wajah datar tanpa senyuman.
Shaka masuk ke dalam rumah yang tampak begitu sepi tidak ada para asisten rumah tangga yang berada di dalam rumah mewah itu.
Namun Shaka tidak memperdulikan hal tersebut apalagi dirinya sudah sangat lelah setelah pulang sekolah langsung pergi bekerja dan badannya juga sudah gerak ingin membersihkan tubuhnya di kamarnya yang berada di lantai 2.
Sampai di dalam kamarnya Saka pun langsung membuka baju kemeja yang ia pakai beserta dasi yang masih melingkar di lehernya yang terasa mencekik.
Lantas setelah membuka bajunya Saka pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena seharian bekerja.
Di bawah guyuran shower dengan air yang mengalir Shaka memijat kepalanya dengan pelan agar rilex dan rasa lelah di tubuhnya mulai menghilang terkena dinginnya air tersebut.
Sekitar 10 menit kurang lebih Shaka membersihkan tubuhnya kini ia keluar dari dalam kamar hanya mengenakan handuk putih yang menutupi bagian bawahnya, sedangkan bagian atas dibiarkan terbuka begitu saja dengan memperlihatkan dada bidang yang tampak sudah terbentuk sempurna padahal usianya masih dibilang sangat muda namun terlihat seperti orang dewasa dengan sisa air yang menetes dari helai rambutnya.
Saka membuka pintu lemari miliknya dan mengambil kaos oblong serta celana training beserta dalamannya dan memakainya hingga terpasang di tubuhnya dengan sempurna.
Sampai Handphone yang Shaka letakkan di atas ranjang big sale miliknya tiba-tiba saja berdering menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Shaka yang lagi mengeringkan rambutnya pun lantas menoleh kearah ponselnya. namun sebelum itu Saka meletakkan handuk yang tadi dia gunakan untuk mengirimkan rambutnya di atas meja lalu mengambil handphonenya dan melihat Siapa yang menghubungi dirinya malam-malam seperti ini.
" Kakek ..." Gumam shaka dengan pelan saat melihat nama seseorang yang menghubungi nya ternyata adalah kakek dari almarhum ayahnya yang berada di luat negri.
Saka lalu menerima telepon dari kakeknya tersebut dengan lo speaker dan meletakkannya kembali ponselnya di atas ranjang sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
" Saka kenapa kamu lama sekali mengangkat telepon dari kakek hah. Kamu mau jadi cucu durhaka ya." Omel seorang pria tua yang tak lain adalah kakek dari shaka.
" Ada apa kakek tiba-tiba Nelpon Shaka malam-malam gini?" Tanya Shaka dengan to the point pada kakeknya tersebut dengan suara datar.
" Kamu ini bukannya tanya kabar kakek kamu ini gimana masih hidup atau tidak Ini malah nanya kenapa nelpon malam malam begini apa kamu gak suka hah!" Bentak kakek tersebut pada cucunya karna sang kakek berpikir cucu satu satunya itu tidak suka ia telepon.
" kakek Shaka Bukannya nggak tapi shaka habis sampai rumah jadi shaka mau istirahat karna capek." Ujar shaka menjelaskan pada kakek nya itu agar tidak salah paham.
" Wih cucu kakek memang rajin, ternyata darah Ayah kamu yang begitu bekerja keras turun ke kamu membuat kakek bangga sama cucu kakek yang ganteng ini" gelak tawa terdengar dari seberang sana yang terlihat bangga pada cucunya itu sudah bisa mengemban amanah yang begitu besar bagi semua orang.
" Kakek langsung aja ya karena Shaka lagi capek dan ingin istirahat jadi kakek langsung ngomong aja apa yang sebenarnya ingin kayak sampaikan kepada Shaka sampai malam-malam begini pun kakek menelpon."
"Kamu ini memang titisan ayah kamu yang tidak bisa sabaran ya. Kakek cuma mau bilang kalo kakek sudah mendaftarkan kamu untuk berkuliah di sini setelah kamu lulus sekolah di sana." Ujar sang kakek pada cucunya itu maksud sang kakek menelpon malam malam begini.
"Kakek kan waktu itu Shaka udah pernah bilang kalau Shaka nggak mau kuliah di sana. Shaka mau kuliah tapi cukup di sini aja nggak harus sampai jauh-jauh ke luar negeri. Bukannya tempat kuliah itu sama aja ya untuk menimba ilmu." Tolak Shaka permintaan kakeknya untuk kuliah di luar negeri Karena kalau Dirinya sampai kuliah di luar Negeri yang ada ia tidak akan bisa membalas dendam atas kematian orang tuanya kepada gadis tersebut. Karena Shaka belum puas sama sekali atas apa yang selama ini dirinya lakukan kepada Gadis itu yang menyebabkan dirinya menjadi anak yatim piatu walaupun itu kesalahan orang tuanya bukan menjadi diri sendiri tetap saja tidak bisa menerima kenyataan itu sampai kapanpun.
" Kenapa kamu menolak permintaan kakek untuk kuliah di sini? apa karena kamu masih dendam atas kematian orang tuamu dan kamu menyalahkan Gadis itu hah! Kakek sudah pernah bilang kalo orang tua kamu meninggal itu sudah takdirnya, bukan karna kesalahan orang tua Gadis itu kamu saja yang belum bisa menerima kenyataannya Shaka. pokoknya kakek tidak menerima penolakan apa pun. selesai kamu sekolah di sana kakek bakal menjemput kamu ke Indonesia dan membawa kamu untuk kuliah di sini atau Jangan harap harta yang ditinggalkan oleh Ayah kamu bakal jatuh ke tangan kamu kalau sampai kamu nggak nurut sama omongan kakek, Kalau kamu tidak bisa nurut siap-siap saja kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun dan Jangan Anggap Kakek ini sebagai kakak kamu lagi!"
Setelah mengatakan hal tersebut panjang lebar sang kakek pun langsung memutuskan sambungan teleponnya terhadap Shaka yang terlihat marah sambil menarik selimut yang sudah rapi di atas ranjang gini jadi berserakan dan terjatuh di lantai.
" Aarrgghh....!"