Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kabur Diam-Diam ke Pasar
Song An menatap pintu paviliunnya lama sekali, bukan karena pintunya menarik tapi karena ia ingin keluar. “Mei,” katanya pelan.
Mei yang sedang melipat kain langsung menoleh. “Iya, Selir?”
“Kalau aku keluar sebentar… ketahuan tidak?” tanya Song An
Mei berhenti melipat.“…keluar ke mana, Selir?”
Song An mendekat dan berbisik, “Keluar istana.”
Mei hampir menjatuhkan kain. “Selir?!”
“Tenang. Jangan teriak.” ujar Song An
“Tidak boleh, Selir! Itu melanggar—” ujar Mei terputus
“Aku tahu.” jawab Song An
“Kalau ketahuan—”
“Aku juga tahu.”
Mei menatapnya cemas. “Lalu kenapa Selir mau?”
Song An berpikir sebentar. “Karena aku mau lihat pasar.”
“Pasar?”
“Iya. Aku mau jalan. Mau dengar orang teriak jualan. Mau lihat makanan pinggir jalan.”
Mei menggigit bibir. “Itu… berbahaya.”
“Untuk siapa?”
“Untuk Selir.”
Song An tersenyum kecil. “Aku tidak mau hidup tapi tidak pernah keluar.”
Mei terdiam.
“Mei,” lanjut Song An, “aku tidak akan lama. Aku pakai baju sederhana. Aku balik sebelum sore.”
Mei ragu. “Kalau Yang Mulia tahu—”
“Beliau tidak tahu.”
“Selir Li?”
“Tidak tahu.”
“Selir Zhang?”
"Tidak mei" ujar Song An kesal
Mei menghela napas. “Baiklah…”
Song An menatapnya berbinar. “Serius?”
“Tapi Selir harus menyamar.”
“Sudah tau.”
“Tau dari mana?”
“Kehidupan lama.”
—
Tak lama kemudian, Song An berdiri di depan cermin dengan pakaian sederhana: baju polos, rambut diikat rendah, tanpa perhiasan.
Mei menatapnya takjub. “Selir… kelihatan seperti gadis biasa.”
“Itu tujuan hidupku.”
Mei mengantar Song An sampai pintu kecil belakang paviliun—jalur yang jarang dilewati.
“Kalau ada apa-apa—”
“Aku lari.”
“Kalau tersesat—”
“Aku tanya orang.”
“Kalau ditangkap—”
“Aku bilang aku nyasar.”
Mei menutup wajahnya. “Aku deg-degan.”
Song An menepuk bahunya. “Tenang. Aku balik dengan utuh.”
Ia melangkah keluar.
Begitu melewati gerbang kecil dan menginjak jalan luar istana, Song An berhenti.
Udara terasa berbeda.
Lebih ramai. Lebih hidup.
Ia tersenyum lebar.
“Ini dia.”
—
Pasar ramai.
Teriakan pedagang. Suara orang menawar. Bau makanan.
Song An berjalan perlahan, matanya bergerak ke mana-mana.
“Ini enak kelihatannya.”
“Ini juga.”
Ia berhenti di penjual kue.
“Ini apa?” tanyanya.
“Kue wijen,” jawab pedagang.
“Manis?”
“Manis.”
“Ambil satu.”
Ia menggigit dan matanya membesar. “Enak.”
Saat itulah seseorang berdiri di sampingnya.
“Selir Song?”
Song An hampir tersedak.
Ia menoleh perlahan.
“…Selir Li?”
Selir Li berdiri dengan pakaian sederhana, wajah terkejut.
“Kau…” Selir Li menatap sekeliling cepat. “Kenapa kau di sini?”
Song An menelan. “Jalan.”
“Keluar istana?”
“Iya.”
Selir Li terdiam dua detik, lalu tertawa kecil. “Aku juga.”
“Hah?”
“Aku keluar diam-diam.”
Song An menatapnya. “Serius?”
“Iya.”
Mereka saling pandang.
Lalu tertawa pelan.
“Kalau begitu,” kata Song An, “kita sama-sama bersalah.”
Selir Li mengangguk. “Betul.”
Seseorang menyela dari belakang.
“Jadi aku tidak salah lihat.”
Mereka berdua menoleh.
Selir Zhang berdiri di sana, membawa kantong kecil, wajah kaget tapi senang.
“Kalian juga?” tanya Selir Zhang.
Song An menunjuk dirinya. “Kabur.”
Selir Li mengangguk. “Kabur.”
Selir Zhang tersenyum lebar. “Aku juga.”
Hening sebentar.
Lalu Selir Zhang berkata, “Kalau sudah sama-sama di sini…”
Song An menyambung, “Sekalian saja?”
Selir Li tertawa. “Setuju.”
—
Mereka berjalan bertiga di pasar, tanpa jarak, tanpa status.
“Ini pertama kalinya aku ke pasar,” kata Selir Zhang.
“Serius?” tanya Song An.
“Iya. Biasanya hanya dengar cerita.”
Selir Li mengangguk. “Aku juga jarang.”
Song An menunjuk penjual sate. “Itu harus dicoba.”
Selir Zhang ragu. “Aman?”
“Kalau tidak aman, kita mati bareng.”
Selir Li tertawa. “Itu bukan jaminan.”
Mereka membeli sate dan berdiri di pinggir jalan.
“Panas,” kata Selir Zhang.
“Tiup,” jawab Song An.
“Kau seperti orang biasa,” kata Selir Li sambil tersenyum.
“Aku memang ingin jadi orang biasa.”
Mereka makan sambil berdiri.
Tidak anggun. Tidak rapi.
Dan mereka tertawa.
“Aku tidak ingat kapan terakhir kali tertawa begini,” kata Selir Zhang.
“Aku juga,” ujar Selir Li.
Song An mengunyah. “Berarti ini keputusan bagus.”
—
Mereka berhenti di penjual aksesoris.
“Lucu,” kata Selir Zhang sambil memegang jepit rambut.
“Ambil,” kata Song An.
“Boleh?”
“Ini uangmu.”
Selir Zhang tersenyum senang.
Selir Li menatap Song An. “Kau tidak takut?”
“Takut.”
“Kenapa tetap keluar?”
“Karena kalau tidak, aku akan lupa rasanya hidup.”
Selir Li terdiam sebentar. “Kau benar.”
—
Mereka duduk di kedai kecil, minum teh.
“Kalau ketahuan?” tanya Selir Zhang.
“Kita dihukum,” jawab Song An.
“Kenapa kau santai sekali?”
“Karena sekarang aku bahagia.”
Selir Li tertawa kecil. “Kau aneh.”
“Sudah sering dengar.”
—
Saat matahari mulai turun, Song An berdiri.
“Kita harus balik.”
Selir Zhang menghela napas. “Cepat sekali.”
“Tapi cukup,” kata Song An. “Lebih dari cukup.”
Mereka berjalan kembali bersama sampai persimpangan.
“Kita pura-pura tidak tahu,” kata Selir Li.
“Setuju,” kata Selir Zhang.
Song An mengangguk. “Ini rahasia kita.”
—
Song An kembali ke paviliun sebelum gelap.
Mei langsung menghampiri. “Selir!”
“Aku utuh.”
“Selir ke mana saja?”
“Ke pasar.”
Mei menutup mulut. “Selir!”
Song An tersenyum lebar. “Aku bahagia.”
Mei terdiam… lalu tersenyum kecil.
Di kejauhan, Selir Li dan Selir Zhang kembali ke paviliun masing-masing dengan wajah ringan.
Untuk pertama kalinya sejak masuk istana, mereka merasa bebas.
Dan entah kenapa, nama Song An kini bukan lagi sekadar selir bayangan—
melainkan orang yang mengingatkan mereka bahwa hidup tidak selalu harus dikurung oleh dinding istana.
Bersambung