Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. HENING
Keyla melangkah dengan sangat hati-hati, kepalanya terus menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang melakukan misi rahasia yang sangat berbahaya. Setelah memastikan teman-temannya sudah menjauh ke arah area parkir motor dan halte, ia segera berlari kecil menuju mobil sedan hitam mewah yang terparkir di bawah pohon rindang, agak menjauh dari gerbang utama fakultas.
Begitu pintu mobil tertutup, aroma maskulin yang tajam langsung menyergap indra penciumannya. Dipta duduk di balik kemudi, tangannya mencengkeram setir dengan kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke depan, dingin dan tak terbaca.
Keyla menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia mengenakan sabuk pengaman dengan tangan gemetar. "Terima kasih sudah menjemput," bisik Keyla pelan.
Tidak ada jawaban. Dipta hanya menginjak pedal gas, membuat mobil itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu menekan, jauh lebih mengerikan daripada bentakan Dipta biasanya. Keyla tahu, di balik wajah tenang itu, ada badai yang sedang bergemuruh hebat. Dipta baru saja mendengar istrinya mendaftar beasiswa dan program pertukaran pelajar—sebuah rencana yang sama sekali tidak melibatkan dirinya di masa depan Keyla.
Sepuluh menit berlalu tanpa satu kata pun. Hanya ada suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal. Keyla terus melirik ke arah Dipta. Pria itu tampak sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dalam kepala Dipta, harga dirinya sedang tercabik-cabik. Beasiswa? Dia adalah salah satu pria terkaya di negeri ini, dan istrinya mendaftar beasiswa seolah-olah dia tidak mampu membiayai pendidikannya. Namun, ada rasa takut yang lebih dalam dari sekadar harga diri: Ketakutan akan kehilangan. Pertukaran pelajar berarti Keyla akan pergi ke luar negeri. Berarti Keyla akan berada di luar jangkauannya, di luar kontrolnya, dan mungkin menemukan pria lain yang lebih baik di sana.
Keyla tidak tahan lagi. Ketakutan akan ledakan kemarahan Dipta membuatnya merasa sesak. Ia harus mencairkan suasana sebelum mereka sampai ke apartemen, tempat di mana tidak ada orang lain yang bisa menolongnya jika Dipta murka.
"Dipta..." suara Keyla pecah dalam kesunyian.
Dipta tetap diam, hanya sedikit melirik melalui spion tengah.
"Aku... aku lapar. Bisakah kita mampir ke restoran dulu? Aku belum sempat makan siang karena kelas Pak Anwar tadi telat selesai," ucap Keyla dengan nada yang dibuat semanis mungkin, mencoba memancing reaksi manusiawi dari suaminya.
Dipta tidak langsung menjawab. Ia memutar setir dengan gerakan elegan menuju sebuah jalan protokol yang dipenuhi restoran kelas atas. "Terserah," jawabnya singkat. Suaranya rendah, parau, dan sangat dingin.
Mereka sampai di sebuah restoran Perancis yang sangat privat. Pelayan segera menyambut mereka dan mengarahkan ke meja paling pojok yang tersembunyi di balik partisi kayu jati yang indah.
Begitu duduk, Keyla segera membuka buku menu tanpa berani menatap Dipta. Ia memesan Lobster Thermidor dan segelas teh lemon hangat. Ia merasa butuh makanan berat untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saya samakan saja dengan pesanan dia," ujar Dipta pada pelayan, tanpa ekspresi.
Setelah pelayan pergi, keheningan kembali menghantam. Keyla memainkan serbet di pangkuannya, sementara Dipta menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah bisa menembus tulang tengkoraknya.
"Jadi..." Dipta memulai, suaranya terdengar seperti denting belati di atas porselen. "Pertukaran pelajar? Sejak kapan kau merencanakan pelarianmu, Keyla?"
Keyla tersentak, tangannya mendadak dingin. "Itu... itu bukan pelarian, Dipta. Itu prestasi akademik. Semua mahasiswa HI bermimpi bisa masuk program itu. Aku hanya ingin membuktikan kemampuanku."
"Membuktikan kemampuanmu pada siapa? Pada dunia? Atau kau ingin membuktikan bahwa kau bisa hidup tanpaku di negara yang tidak bisa kujangkau dalam hitungan menit?" Dipta mencondongkan tubuhnya ke meja, auranya sangat mengintimidasi.
"Bukan begitu... beasiswa itu kebanggaan, Dipta. Sesuatu yang aku raih dengan otakku sendiri, bukan dengan uangmu," sahut Keyla, suaranya sedikit mengeras karena harga dirinya mulai terusik.
Dipta tertawa dingin, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Keyla berdiri. "Otakmu? Kau pikir universitas itu akan memberimu beasiswa jika mereka tidak tahu siapa donatur terbesar mereka? Kau pikir rektor tadi tidak sedang mencoba menjilatku dengan memamerkan prestasimu?"
Keyla terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. "Jadi kau pikir semua usahaku, semua malam-malamku belajar sampai pagi, itu tidak ada artinya? Kau pikir itu hanya karena namamu?"
"Yang penting adalah kenyataannya, Keyla," Dipta memotong tajam. "Kenyataannya adalah kau tidak akan pergi ke mana pun. Kau bisa kuliah, kau bisa menjadi mahasiswa terbaik, tapi kau akan melakukannya di sini. Di bawah pengawasanku. Di bawah namaku."
Makanan datang, namun suasana tetap terasa mencekam. Keyla mulai menyuapkan makanannya dengan gerakan kaku, air matanya hampir jatuh namun ia tahan sekuat tenaga.
Dipta memandangi Keyla. Di satu sisi, ia merasa sangat bangga. Istrinya adalah mahasiswi paling cerdas, paling berprestasi, dan tadi rektor memujinya di depan semua orang. Namun di sisi lain, kecerdasan Keyla adalah ancaman baginya. Semakin pintar Keyla, semakin besar keinginannya untuk terbang bebas. Dan Dipta tidak akan pernah membiarkan burung indahnya terbang meninggalkan sangkarnya.
"Makan yang banyak," ujar Dipta tiba-tiba, suaranya sedikit melunak namun tetap otoriter. "Kau butuh energi. Karena beasiswa itu... aku akan memastikan pihak universitas memberikannya pada orang lain yang lebih 'membutuhkan' secara finansial."
Keyla menjatuhkan garpunya. "Kau tidak bisa melakukan itu, Dipta! Itu hakku!"
"Aku bisa melakukan apa pun, Keyla. Aku suamimu. Aku pemilik hidupmu," Dipta menatap Keyla dengan tatapan posesif yang tak tergoyahkan. "Jangan pernah mencoba mencari pintu keluar dariku lewat pendidikan. Karena setiap pintu yang kau coba buka, aku akan ada di sana untuk menguncinya kembali."
Keyla menunduk, bahunya bergetar. Ia merasa setiap langkah yang ia ambil untuk maju, Dipta selalu selangkah lebih maju untuk menariknya kembali ke kegelapan. Ia menyadari satu hal yang pahit: kecerdasannya bukan tiket menuju kebebasan, melainkan alasan bagi Dipta untuk mengikatnya lebih kencang lagi.
Dipta terus memperhatikan Keyla yang sedang menangis tanpa suara. Ia merasa menang, namun ada bagian kecil dari hatinya yang merasa teriris melihat kehancuran di wajah gadis itu. Namun, rasa takut akan kehilangan jauh lebih besar daripada rasa kasihannya. Bagi Dipta, lebih baik memiliki Keyla yang membencinya daripada kehilangan Keyla yang dicintainya.
***
Mobil meluncur meninggalkan restoran dalam keheningan yang jauh lebih pekat. Keyla hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak seperti jeruji besi raksasa yang mengurung hidupnya. Dipta tetap dengan sikapnya yang dingin dan dominan, seolah-olah percakapan tentang beasiswa tadi hanyalah gangguan kecil yang sudah ia selesaikan.
Tujuan mereka selanjutnya adalah sebuah butik mewah di kawasan elit. Di sana, seorang desainer ternama sudah menunggu dengan beberapa pilihan gaun yang dipesan khusus oleh Dipta.
"Silakan, Nyonya Mahendra. Gaun-gaun ini baru saja selesai dikerjakan," sambut sang desainer dengan nada yang sangat menjilat.
Keyla berdiri seperti manekin hidup. Ia membiarkan tangan-tangan asisten butik menyentuh tubuhnya, memakaikan kain-kain mahal, dan menyesuaikan lekukan gaun di pinggangnya. Matanya kosong. Ia tidak lagi peduli apakah ia terlihat cantik atau tidak. Ia hanya ingin semua sandiwara ini cepat berakhir.
"Yang merah ini terlalu terbuka di bagian punggung," komentar Dipta sambil menyesap kopi hitamnya. Ia menatap Keyla dari pantulan cermin besar. "Ganti dengan yang berwarna biru dongker. Potongannya harus elegan, tapi tetap menunjukkan bahwa dia miliki Mahendra."
Keyla hanya menghela napas pasrah. Ia mengikuti instruksi Dipta seolah jiwanya sudah tertinggal di gerbang kampus tadi siang. Setelah beberapa jam yang melelahkan, pilihan akhirnya jatuh pada sebuah gaun berbahan silk premium berwarna biru tua dengan aksen berlian kecil di bagian kerah. Gaun itu membuat Keyla tampak sangat berkelas, namun sekaligus tampak sangat rapuh.
**
Setelah gaun itu dibungkus rapi, Dipta tidak membawa Keyla pulang. Ia menginstruksikan sopir untuk menuju ke sebuah salon kecantikan eksklusif yang sudah dipesan secara privat. Tidak boleh ada pelanggan lain di sana. Hanya mereka berdua.
"Rias dia dengan sempurna," perintah Dipta kepada kepala stylist di sana. "Buat dia menjadi wanita paling bersinar di ruangan malam ini. Tapi ingat, jangan berlebihan. Aku ingin kecantikan alaminya tetap terlihat menonjol."
"Baik, Tuan Mahendra," jawab sang stylist sigap.
Keyla didudukkan di kursi besar. Wajahnya mulai dibersihkan, dipijat, dan dirias dengan sangat telaten. Sementara itu, di ruangan terpisah, Dipta juga menjalani sesi grooming. Seorang stylish pria menyiapkan setelan tuksedo hitam dengan potongan slim fit yang akan membuat wibawa Dipta semakin mematikan.
Di bawah sapuan kuas make-up, Keyla menatap pantulan dirinya di cermin. Ia nyaris tidak mengenali gadis yang ada di sana. Wajahnya tampak sempurna tanpa celah, bibirnya dipulas warna merah berani yang memberikan kesan dewasa. Namun, di balik riasan tebal itu, ia bisa melihat gurat kesedihan di matanya sendiri.
"Nyonya sangat cantik," puji penata rambut sambil menyanggul rambut Keyla dengan gaya modern yang menyisakan beberapa helai jatuh di samping wajahnya. "Tuan Dipta pasti tidak akan bisa melepaskan pandangannya dari Nyonya malam ini."
Keyla hanya tersenyum pahit. Memang itu tujuannya, batinnya. Menjadi pajangan paling indah di lengan sang diktator.
*
Dua jam kemudian, Dipta keluar dari ruangannya. Ia sudah mengenakan tuksedo lengkap. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mempertegas wajahnya yang tampan namun dingin. Ia berjalan menghampiri kursi Keyla dan berdiri di belakangnya.
Mata mereka bertemu di cermin.
Dipta terpaku sejenak. Ia harus mengakui bahwa Keyla malam ini benar-benar luar biasa. Ia terlihat sangat anggun, mahal, dan menggoda secara bersamaan. Ada rasa bangga yang meluap di dada Dipta, namun juga rasa posesif yang semakin tajam. Ia tidak sabar menunjukkan pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya—sebuah trofi yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapa pun.
"Sempurna," bisik Dipta sambil meletakkan tangannya di bahu Keyla yang terbuka. Ia meremasnya lembut, namun tekanannya seolah memberi peringatan. "Malam ini adalah panggungmu, Keyla. Bersikaplah seperti istri yang mencintai suaminya. Jangan ada kesalahan, jangan ada wajah murung, dan terutama... jangan sebutkan apa pun tentang kampus atau beasiswa konyol itu."
Keyla menelan ludah. "Berapa banyak orang yang akan ada di sana?"
"Semua orang penting di negeri ini. Rekan bisnis, politisi, dan tentu saja... saingan-sainganku," Dipta tersenyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Mereka semua harus tahu bahwa Mahendra Group tidak hanya memiliki aset keuangan yang tak terbatas, tapi juga memiliki permaisuri yang tak tertandingi."
Dipta mengulurkan tangannya pada Keyla. "Ayo. Mobil sudah siap. Saatnya dunia mengenal siapa Nyonya Mahendra yang sebenarnya."
Keyla menatap tangan besar itu. Ia tahu, begitu ia menyambut tangan Dipta, pintu kebebasannya benar-benar terkunci. Identitasnya sebagai mahasiswi berprestasi akan tertimbun oleh statusnya sebagai istri sang taipan. Dengan napas yang tertahan, Keyla meletakkan tangannya di atas telapak tangan Dipta.
"Aku akan melakukannya," ujar Keyla dengan suara yang tenang namun dingin. "Tapi ingat, Dipta... apa yang mereka lihat malam ini hanyalah riasan. Di balik gaun ini, aku tetaplah wanita yang kau paksa untuk tinggal."
Dipta hanya terkekeh rendah, tidak peduli dengan protes kecil istrinya. Baginya, penampakan luar adalah segalanya bagi dunia bisnis. Ia menarik Keyla keluar dari salon menuju mobil yang sudah menunggu untuk membawa mereka ke acara gala yang akan mengubah hidup Keyla selamanya.
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu