"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah mobil Mama Ratna menghilang di tikungan komplek, Bagas dan Dira masih terkapar di lantai ruang tamu seperti dua lembar jemuran yang jatuh tertiup angin.
Bau durian dari bantal pemberian Mama Ratna masih menyengat, bersaing sengit dengan bau jengkol lapis emas yang tadi mereka makan.
"Pir," suara Dira terdengar parau. "Keluarin itu makhluk dari kamar. Gue udah nggak kuat denger suara cakarannya yang kayak suara garpu di atas piring kaca."
Bagas bangkit dengan sisa-sisa tenaga, lalu merangkak menuju kamar. Tak lama kemudian, Bagas muncul kembali sambil menggendong sesosok kucing oranye dengan kaki yang diperban asal-asalan menggunakan sisa perban kotak P3K mereka.
"Ndoro, kenalin secara resmi. Ini yang tadi bikin lo terpaksa nge-meong di depan nyokap gue," ujar Bagas sambil memamerkan kucing itu ke depan wajah Dira.
"Gue kasih nama dia Supra."
"Supra? Nama kucing macam apa itu? Kenapa nggak sekalian lo namain Revo atau Jupiter?" sindir Dira. "Dan lo tahu kan, Mama Ratna nggak suka bulu? Kalau dia tau ada Supra di sini, kita berdua bakal disemprot pake disinfektan!"
Bagas memasang wajah memelas. "Ndoro, dengerin dulu. Supra ini bukan kucing biasa. Dia punya potensi. Gue udah interview dia sepanjang jalan pas gue mau pulang ke rumah. Dan dia setuju buat kerja di sini sebagai kompensasi tempat tinggal."
"Soalnya dia tangguh, Ndoro. Pas gue nemu di selokan deket kantor, dia lagi berantem sama tikus got yang gedenya seukuran kelinci. Dia menang, tapi kakinya pincang," jelas Bagas sambil mengelus kepala Supra.
"Sebelumnya kan dia kucing ilegal yang gue bawa masuk ke rumah ini, nah sekarang gue mau ajuin petisi supaya dia jadi penghuni tetap."
Dira mengernyitkan dahi. "Kerja? Kucing kerja apaan, Tapir?"
Tiba-tiba Dira menyilangkan tangannya di dada. "Nggak bisa. Satu rumah isinya lo aja udah bikin gue butuh asupan parasetamol tiap hari, apalagi nambah kucing oranye yang katanya sel otaknya cuma sisa satu."
"Dia bakal jadi 'Junior Security & Pest Control Specialist'. Tugasnya adalah mengusir kecoak yang suka ngeledek gue di kamar mandi, dan dia juga bakal jadi alarm cadangan kalau lo telat bangun pagi. Gimana? Ini namanya resource management yang efisien, kan?"
Bagas langsung memasang wajah serius—wajah yang biasanya dia pakai kalau lagi presentasi iklan ke klien kakap. "Dengerin gue, Ndoro. Supra ini bukan beban. Dia adalah Solusi. Gue udah bikin analisis SWOT singkat di kepala gue."
"Analisis SWOT apaan?" Dira mulai tertarik (dan merasa bodoh karena menanggapi ini).
"Strength: Dia punya insting predator. Weakness: Kakinya pincang (tapi ini malah bagus, dia nggak bakal lari jauh). Opportunity: Kita bisa jadiin dia konten TikTok buat kerjaan lo sebagai Social Media Specialist. Judulnya: Kisah Supra, Kucing yang Gagal Parkour. Pasti FYP!"
Dira terdiam. Sebagai orang yang hidup dari metrik dan engagement, kata "FYP" adalah kelemahannya.
"Terus Threat-nya apa?" tanya Dira.
"Threat-nya cuma satu: Mama Ratna dateng lagi dan nemu bulu Supra di dalem rendang jengkolnya," jawab Bagas jujur.
Dira menghela napas, menatap Supra yang tiba-tiba menguap lebar tepat di depan wajahnya.
"Oke," ujar Dira tegas. "Supra boleh tinggal di sini. Tapi dengan tiga syarat!"
Bagas langsung berdiri tegak, hormat grak.
"Sebutkan, Ndoro!"
"Pertama, Supra nggak boleh tidur di atas kasur gue. Dia punya jabatan, jadi dia harus tidur di kantornya, alias di pojok ruang tamu deket patung Jago."
"Siap!"
"Kedua, gaji dia berupa dry food cuma dikasih kalau dia berhasil nangkep minimal satu laler per hari. Gue nggak mau punya karyawan makan gaji buta."
"Siap! Nanti gue bikinin tabel KPI-nya di pintu kulkas!"
"Ketiga..." Dira menunjuk Bagas dengan telunjuknya yang masih bau jengkol.
"Semua urusan kotoran Supra, itu tanggung jawab lo. Kalau gue nemu satu butir 'ranjau' di atas ubin, Supra tetep tinggal, tapi LO yang gue usir keluar!"
Bagas menelan ludah, tapi kemudian Bagas tersenyum lebar. "Deal! Supra, dengerin itu? Kita punya bos baru yang galaknya ngalahin mandor bangunan, jadi lo harus kerja keras ya!"
"Gue udah siapin kontrak kerjanya. Supra juga bakal jadi 'Head of Domestic Security'. Tugasnya nangkep kecoak yang sering ngeledek gue di kamar mandi dan nungguin pintu kalau lo lagi mandi biar nggak ada hantu yang masuk."
"Gila lo, Pir. Mana ada hantu takut sama kucing pincang," gumam Dira.
"Pokoknya Syarat dari gue tetep: urusan pup dan pipis adalah tanggung jawab lo. Kalau gue liat ada sisa pasir di deket dispenser, lo berdua gue suruh tidur di balkon bareng jemuran daster gue."
"Siap, Ndoro! Supra, denger itu? Sekarang lo udah resmi jadi karyawan. Ayo, salam dulu sama Bos Besar!" Bagas memegang kaki depan Supra yang tidak pincang dan mengarahkannya ke tangan Dira.
Dira menyambut kaki mungil itu dengan ujung telunjuknya. "Selamat bergabung di sirkus ini, Pra. Semoga lo betah punya majikan yang otaknya lebih pincang dari kaki lo."
Bagas kemudian mengambil ponselnya dan memotret Supra yang sedang bersandar di kaki patung ayam jago.
"Ndoro, liat nih. Estetik banget kan? Judul fotonya: Pertemuan Dua Legenda: Jago sang Penguasa Semen dan Supra sang Pangeran Selotip."
Dira hanya bisa geleng-geleng kepala
Malam itu, mereka merayakan anggota keluarga baru dengan sisa rendang jengkol. Supra diberikan potongan kecil ayam goreng tanpa tulang sebagai "gaji pertama". Sementara Bagas mulai sibuk membuatkan Supra kartu nama dari potongan kardus bekas yang dia tempel di leher Supra.
"Liat, Ndoro! Sekarang Supra udah punya ID Card!" pamer Bagas.
Dira melihat tulisan di kartu itu: SUPRA - MANAGER KEAMANAN (SPESIALIS KECOAK).
"Bagas, lo bener-bener butuh hobi yang normal," ujar Dira sambil mematikan lampu ruang tamu.
"Normal itu membosankan, Ndoro. Mending kita absurd tapi kenyang," sahut Bagas sambil merebahkan diri di sofa, diikuti Supra yang langsung nangkring di atas perutnya.
Dengan resminya Supra menjadi bagian dari rumah tangga mereka, Dira merasa hidupnya kini lengkap: satu suami yang sering "geser" dan satu kucing oranye yang punya jabatan manajerial.
Tapi, kebahagiaan itu terusik saat Dira teringat sesuatu... besok adalah hari di mana Manda, sahabatnya yang penuh teori konspirasi, mau mampir ke rumah.
"Pir, besok Manda mau ke sini. Lo sembunyiin ID Card Supra. Kalau Manda liat, dia pasti mikir kita lagi bikin sekte pemuja kucing oranye," pesan Dira.
"Telat, Ndoro. Gue udah posting foto Supra pake ID Card di status WhatsApp!"
"BAGAAASSSS!"
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍