NovelToon NovelToon
RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat / Action / Pusaka Ajaib / Mengubah Takdir
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra

Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.

“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”

Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Dan dimulai dari sekarang....

"Brigade Merah? Apa kelemahan mereka? Bagaimana mereka bertindak?"

Raze mengerutkan kening, pikirannya berputar cepat mencari ingatan lengkap tentang kelompok itu. Di kehidupan lamanya, tak ada satupun guild atau pasukan resmi yang memakai nama seperti itu. Mungkin guild lokal kecil, atau pasukan keamanan kota di daerah ini.

Hanya segelintir ingatan kecil tentang mereka. Sisanya... Kosong!

"Jika mereka tahu aku baru saja membangkitkan Ilmu Hitam.... Aku bisa langsung dilaporkan ke dewan penyihir. Dan di levelku sekarang, aku belum cukup kuat untuk kabur dari mereka," racau Raze semakin panik.

Gedoran di pintu semakin keras, disertai teriakan peringatan lagi.

Tapi sebelum ia sempat bicara, pintu atas meledak begitu saja...

Duar!!

Kayu tua itu terbelah dengan bunyi keras, engselnya patah, dan pintu jatuh miring ke dalam rumah. Debu beterbangan di udara pagi yang mulai terang.

Lima pria berbaju merah tua menerobos masuk, langkah mereka berat dan terlatih. Mereka langsung menyebar, membentuk setengah lingkaran di ruangan kecil itu, senjata sudah setengah terhunus.

Raze menahan napas, tangannya tetap terangkat. 'Mudah-mudahan mereka anggap aku korban selamat. Satu-satunya yang hidup di tengah pembantaian.... Bisa jadi mencurigakan, tapi lebih baik daripada langsung menyerang.' batinnya.

Tapi saat ia melihat mereka lebih jelas, ada yang salah. Sangat salah...!

Baju mereka bukan jubah penyihir yang ringan dan mengalir. Itu baju besi merah tua dari logam tipis tapi kuat, dilapisi kain tebal di bagian sendi. Tubuh mereka kekar, otot menonjol di lengan dan bahu, seperti prajurit yang terlatih bertahun-tahun. Beberapa membawa pedang panjang di pinggang, yang lain kapak kecil atau tombak pendek. Tak ada tongkat sihir, tak ada kristal mana yang terlihat.

'Brigade Merah ini.... Bukan guild penyihir? Serikat prajurit biasa? Atau.... serikat senjata ajaib?' batin Raze bingung.

Jantung Raze berdetak lebih cepat. 'Kalau mereka prajurit tanpa sihir, ini lebih mudah. Tapi kalau mereka pakai senjata enchanted, bisa jadi merepotkan.'

Para pria itu langsung membeku saat melihat pemandangan di bawah. Mata mereka melebar, napas tertahan. Bau darah dan kematian yang pekat langsung menyambut mereka.

"Apa yang terjadi di sini...." gumam salah satu yang paling depan, suaranya rendah dan serak. Ia pria berjanggut pendek, tampaknya pemimpin kelompok. Matanya menyapu mayat-mayat keluarga dan pembunuh berpakaian hitam.

"Pembunuhan massal? Siapa yang berani incar keluarga tanpa nama seperti ini?"

Raze mendengar bisikan mereka, tapi satu kata membuatnya bingung. Tanpa nama?

Aku punya nama. 'Tubuh ini bernama Raze.... Tunggu. Kenapa aku hanya ingat nama depan saja? Tidak ada nama keluarga yang muncul di kenangan baru ini. Apakah.... keluarga ini benar-benar tak punya marga? Di dunia ini, semua orang punya nama keluarga, kan? Atau.... ini dunia yang berbeda?'

Pikirannya berputar lagi. Kenangan asing tentang kuil di gunung, orang-orang bertarung dengan tinju.... Semakin sering muncul belakangan ini.

Tapi sebelum ia sempat memproses lebih dalam, seorang anggota termuda di kelompok itu melangkah masuk. Ia mungkin seusia tubuh Raze sekarang, rambut pendek cokelat dan wajah masih polos. Saat melihat mayat-mayat berdarah, ia langsung menutup mulut dengan tangan, mata melebar ketakutan.

Lalu pandangannya jatuh pada Raze yang berdiri sendirian di tengah ruangan.

"Zergi!"

Seruan itu keluar keras' dari mulut pemuda itu, suaranya campur antara kaget dan sedih. Ia langsung berlari mendekat, tapi dihentikan tangan keras oleh pemimpin kelompok.

Raze diam saja. 'Nama panggilan? Atau.... nama tubuh ini?'

Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga "tanpa nama" ini? Dan kenapa Brigade Merah ini terlihat seperti prajurit biasa, bukan penyihir?

Situasi ini semakin rumit. Tapi bagi Raze, rumit berarti peluang. Ia hanya perlu bertahan hidup beberapa menit lagi, lalu mencari tahu segalanya nanti.

"Apa yang terjadi padamu.... rambutmu?"

Suara Sonny terdengar bingung, hampir khawatir. Raze langsung menyentuh kepalanya secara refleks. Rambutnya terasa lebih panjang dari yang ia ingat di tubuh lama, agak kusut dan basah oleh keringat dingin malam tadi. Mungkin warnanya juga berbeda, atau potongannya yang biasa bagi anak ini. Setidaknya orang ini mengenal tubuhku. Itu bisa dimanfaatkan.

Bersikap tenang saja tidak akan membantu di sini. Lebih baik mainkan peran korban.

Raze langsung jatuh berlutut di lantai yang masih lengket oleh darah kering. Kedua tangannya ia letakkan di atas kepala, pandangan tertunduk ke tanah. Tubuhnya ia buat gemetar sedikit, napas dibuat tersendat.

"Keluargaku.... mereka semua.... mereka semua mati!"

Suaranya ia tersendat di akhir, cukup meyakinkan untuk seorang remaja yang baru saja kehilangan segalanya.

"Raze...." Panggil Sonny.

Pria berjanggut yang jadi pemimpin kelompok itu bicara pelan, suaranya berat tapi ada nada iba di dalamnya. Ia menoleh ke pemuda termuda.

"Sonny!"

Pemuda bernama Sonny itu langsung berdiri tegak, meski wajahnya masih pucat.

"Ya, Tuan!"

"Bawa anak itu keluar dari sini. Pastikan dia dirawat dengan baik. Kita cari tahu apa yang terjadi di tempat ini. Untuk sekarang, biarkan dia istirahat dulu."

"Ya, Tuan!"

Sonny bergegas mendekat, tangannya terulur hendak menyangga bahu Raze. Tapi sebelum sentuhan itu sampai, Raze sudah berdiri sendiri. Kedua kakinya kokoh di lantai, meski ia biarkan bahu sedikit membungkuk untuk terlihat lemah.

"Tidak apa-apa.... Aku bisa berjalan sendiri," katanya pelan, sambil mengangkat tangan memberi isyarat bahwa ia tak butuh bantuan.

Ia mengikuti Sonny menaiki tangga kayu yang berderit. Udara pagi yang segar langsung menyambutnya begitu pintu terbuka lebar. Cahaya matahari pagi menusuk mata, membuatnya menyipit beberapa saat hingga penglihatannya menyesuaikan.

Lalu ia melihat sekeliling.

Dan dunia seolah berhenti berputar.

Tanah kering dan berdebu membentang luas di depannya. Rumah-rumah kecil dari kayu dan batu bata kasar berjejer tak beraturan, atapnya dari jerami atau genteng sederhana. Jalan setapak hanya tanah biasa, berlubang di sana-sini. Tak ada aspal, tak ada trotoar beton. Tak ada gedung tinggi, tak ada lampu neon, tak ada suara mobil atau kereta listrik.

Di kejauhan, deretan gunung menjulang hijau dan biru, puncaknya tertutup kabut pagi. Langit biru cerah tanpa asap polusi.

Orang-orang di sekitar berpakaian sederhana. Kain wol tebal, celana kulit, sepatu bot usang. Banyak yang membawa pedang, kapak, atau busur di punggung. Beberapa menunggang kuda, kereta kayu ditarik keledai lewat perlahan. Tak ada satu pun yang memancarkan aura mana. Tak ada kristal tertanam di senjata. Tak ada mantra terlihat di udara.

Raze berdiri membeku di ambang pintu, napasnya tertahan.

'Tunggu.... Ini bukan dunianya...!'

Tak ada sihir yang terlihat di mana pun. Tak ada penyihir berjubah. Tak ada artefak mengambang. Tak ada gedung pencakar langit seperti DarsMagusl.

Ini.... dunia lain.

Mantra penggantian tubuh dari buku tua itu.... bukan memindahkan jiwanya ke tubuh baru di dunia yang sama. Tapi membawanya ke dunia yang benar-benar berbeda.

Raze menelan ludah pelan, tapi sudut bibirnya perlahan naik. Jantungnya berdetak lebih cepat, "Bagus..." bisiknya pelan.

Dunia baru. Aturan baru. Tanpa Grand Magus yang mengenal wajahnya. Tanpa catatan buronan atas nama Magus Kegelapan.

Hanya dia, inti gelap murni, dan pengetahuan yang tak ternilai dari kehidupan sebelumnya.

Sonny menyentuh lengannya pelan, suaranya lembut.

"Ayo, Raze. Kita ke markas dulu. Kamu perlu makan dan istirahat."

Raze mengangguk pelan, mengikuti langkah pemuda itu. Matanya terus menyapu sekeliling, mencatat setiap detail yang ia lihat.

Dunia ini mungkin tak punya sihir seperti yang ia kenal.

Tapi ia akan mengubahnya.

Dan dimulai dari sekarang....

****

1
Kholi Nudin
lanjutt gas!
Wisma Rizqi
mantap thorr.. gas lanjut!
Wisma Rizqi
wih mantap😄
Wisma Rizqi
buku baru . CIAYOOO THOR💪
vian16
yang ini jangan gantung Kaya buku pertama ya🤭
Wisma Rizqi: udah update tuh barusan
total 1 replies
Kholi Nudin
Sehari jangan cuma 3 bab tor. pelit amat
vian16
Wah baru lagi thor💪 gas upload
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!