Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—06
Bumantara Bwoel, saat itu sedang duduk di kantin belakang sekolah. Tempat para anak sekolah yang ingin merokok dan juga yang membolos. Bumantara menghembuskan asap rokok ke atas, sedangkan orang-orang di sekitar nya, terdiam, menunggu sosok gadis yang berdiri di depan meja Bumantara.
"Bumantara, aku mau bilang ... aku ... suka sama kamu! Kamu ... mau enggak jadi pacar aku?"
Hening. Hanya suara napas yang terdengar berebutan untuk mengisi ruangan yang hening dan sedikit remang-remang itu. Dan, Bumantara menengadah kearah gadis itu, sambil mengeluarkan asap rokok dari mulut dan hidung nya.
"Bos, lo enggak mau jawab isi hati perempuan itu?!" seru Axel, teman Bumantara yang saat ini sedang menonton drama gratis di depannya.
"Terus, lo mau bos ngejawab apa Xel? Lo pasti udah tau jawaban nya kali, Xel," sahut Kenzo, terkekeh.
Sedangkan gadis yang tadi menyatakan perasaan nya menunduk, karena malu, dia hampir dilihat oleh semua orang yang ada di kantin, dia bahkan merasa tidak nyaman dengan tatapan datar dari manik abu-abu itu.
Bumantara melemparkan sepotong rokok, sambil menginjak potongan yang masih menyala itu, lalu bangun dari duduk nya, berbalik keluar meninggal gadis itu tanpa jawaban. Bearti tolakan.
Axel dan Kenzo yang melihat Bumantara keluar dari kantin hanya bisa saling pandang, lalu menatap kearah gadis tadi yang mata nya berkaca-kaca. "Kasian," gumam Axel dan Kenzo secara bersamaan. Gadis itu bukan satu-satu nya yang menyatakan perasaannya lalu ditinggal begitu saja, bahkan jika Bumantara menjawab maka hanya kepahitan, yaitu tolak kan.
Bumantara saat ini sedang menyusuri lorong ruangan lantai satu, melangkah dengan santai, dengan kedua tangan yang masuk ke kantung celana hitam nya. BRAKKK! "Aduhhh ... Maaf. Maaf," ujar suara seorang perempuan, yang bahkan terdengar meringis.
Dan, satu tabrakan dipunggung dan suara gedebuk di belakang nya, membuat Bumantara menghentikan langkah kakinya, dia perlahan menengok. Seorang perempuan rambut panjang, mengenakan blouse putih yang di masukan kedalam rok sebatas lutut.
Bumantara berbalik menatap perempuan itu yang sedang mengambil barangnya yang berceceran dan memasukkan nya kedalam tas. "Maaf, saya tadi enggak sengaja, terlalu terburu-buru sampai saya enggak sempat ngerem," kata perempuan itu, yang bangun dari jongkok nya, menengadah menatap Bumantara yang bergeming.
"Halo ... Apa kamu baik-baik aja?" perempuan itu, alias Arumi, menelengkan kepalanya menatap manik abu-abu itu yang tidak berpaling dari menatapnya.
Bumantara terpana. "Hei ... Apa punggung mu sakit?" tanya Arumi, sambil menepuk pundak Bumantara dengan pelan.
"Hm, saya baik-baik saja," sahut Bumantara dengan nada parau, tenggorokan nya sempat kering, karena kelamaan tidak bicara.
"Ahhh... Syukurlah." Arumi mendesah lega. Lalu menatap Bumantara dari atas sampai bawah. "Apa kamu murid di sekolah ini?" tanya Arumi, tersenyum.
"Iya." Bumantara mengangguk, dan kembali berbalik melanjutkan langkah kaki nya yang ingin kelantai tiga — ke kelas nya.
"Eh ... Bisa tolong saya! Saya mau ke kantor kepala sekolah, tapi saya enggak tau arah mana," seru Arumi, berlari mengejar Bumantara, dan berjalan di samping Bumantara.
Bumantara menghentikan langkah kakinya, menatap kearah perempuan itu yang masih tersenyum. "Disana." Bumantara menunjukkan arah gedung kantor kepala sekolah di ujung.
"Oh, terima kasih. Bumantara," kata Arumi, setelah menatap dada bidang itu yang name tag. Bumantara Bwoel.
Dan Bumantara masih menatap kepergian perempuan itu yang menjauh. Namun, yang membuat dia masih berdiri di tempat, adalah suara lembut dan sorot tatapan nya yang teduh, itu yang membuat Bumantara terpesona. Kesan pertama saat melihat perempuan itu. Cantik. Pendek. Dan seksi.
Bumantara berdeham, menyadarkan lamunannya, sambil terkekeh kecil. "Sial ... Seperti arus listrik yang membuat tegang."
*****
Bumantara bertemu lagi dengan perempuan kecil itu. Dan ... Ternyata seorang guru. Bumantara terkekeh tanpa suara, ketika mengingat pikiran nya yang mengira jika perempuan itu adalah murid baru, dan nanti nya akan menyatakan perasaan kepadanya, seperti kebanyakan perempuan yang sudah-sudah ia temui.
"Hallo semuanya ... Bisakah saya memperkenalkan nama saya?" tanya Arumi, tersenyum.
"Iyaaa ...." sahut para murid dengan teriakan semangat, bahkan para laki-laki ada yang bersiul.
"Oh, semangat sekali. Oke, perkenalkan saya Arumi Dessfira, guru baru yang mengajar mata pelajaran matematika," kata Arumi. "Ada yang suka sama pelajaran matematika, atau bahkan ada juga yang tidak suka?" tanya Arumi dengan nada lembut nya.
"Ada yang suka, ada yang enggak bu. Dan yang enggak suka biasa bilang, matematika bikin pusing ...." jawab Umay. Yang membuat semua murid di ruangan itu tertawa, dan Arumi juga mengikuti nya sambil geleng-geleng.
Sedang Bumantara, dia tidak tertawa, tapi tatapan nya selalu mengarah kearah Arumi, perempuan itu, yang entah kenapa mencuri perhatiannya.
"Bu guru, bisa enggak kita enggak belajar hari ini. Maksud aku kita kenalan aja gitu. Kan, Bu Arumi, guru baru, jadi alangkah baiknya, Bu Arumi perlu kenal-kenal sama kami. Biar lebih akrab gitu loh, Bu," ujar Indra, yang satu tim sama Umay tadi.
Arumi mengangguk-angguk kecil. "Seperti cara menghindari pelajaran matematika," kata Arumi, tersenyum, sambil mengangkat sebelah alisnya.
Bumantara tersenyum tipis, melihat cara perempuan itu menyingkapi candaan teman-teman sekelasnya.
"Cantik banget bos. Gue dari tadi enggak bisa berpaling," bisik Axel, yang duduk disebelah Bumantara.
"Andai dia murid sama seperti kita, Xel, mungkin sudah gue kejar," sahut Kenzo, tidak kalah berbisik, dia sedari tadi selalu berdecak kagum akan ciptaan Tuhan yang paling cantik itu.
Bumantara yang mendengar itu, entah kenapa telinganya menjadi panas, hati nya tidak nyaman. "Jaga sikap lo Kenzo. Dan ... Jangan sekali-kali membayangi nya," tegur Bumantara tajam.
Kenzo dan Axel terkejut saat mendengar nada tajam Bumantara saat bicara — biasanya Bumantara tidak pernah seperti itu, dia akan menanggapi dengan santai bahkan tidak pernah nimbrung saat mereka menggoda perempuan lainnya.
Tapi, ini berbeda mereka berdua bisa merasakan perbedaan itu. Kenzo dan Axel saling tatap, lalu mengangguk kecil, mereka sudah menemukan jawaban nya, teman mereka Bumantara sedang jatuh cinta pada padangan pertama.
"Oke, lalu di ujung sana. Bisakah berdiri sebentar, lalu memperkenalkan namanya, biar ibu bisa kenal dan mungkin juga bisa meminta tolong saat berpapasan di jalan," ujar Arumi, terkekeh kecil, sambil menunjukan arah Bumantara yang tidak terlihat, karena tertutup kepala Kenzo.
Semua orang menatap Bumantara dengan tegang, mereka takut pria itu berbuat ulah, dia masuk dalam pelajaran saja, itu sudah menegangkan.
Bumantara bangun dari duduknya, sembari merapikan baju nya. Sehingga tatapan Bumantara dan Arumi bersetorobok, dan Arumi tersenyum saat mengingat laki-laki itu.
"Saya Bumantara." Hening sejenak. "Apakah, Bu Arumi melupakan saya? Dan ternyata sebelum kenal pun, Bu Arumi tetap meminta bantuan saya," kata Bumantara dengan nada parau nya, menatap Arumi dengan dalam.
Bersambung....