Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kedatangan Pandji
"Elok... Aku masih belum bisa percaya kalau kamu mampu melakukan ini padaku..."
Pandji kembali menatap nanar pintu rumah Elok yang masih terbuka lebar sebelum ia benar-benar meninggalkan kediaman wanita itu, wanita yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati.
Mata Pandji sudah memanas, namun sekuat tenaga menahan bening airmata yang memaksa keluar.
"Selamat tinggal Elok, mungkin ini takdir yang terbaik untuk kita..."
Pandji berusaha berbesar hati, memasang helm full face-nya, menggeber motor dan berlalu pergi membawa perasaan lukanya yang terlampau sakit.
Walau berusaha melupakan, tapi bayangan Elok malah terus menari-nari dalam benaknya, membawanya pada kenangan dimana dirinya dulu sampai memutuskan menjalin hubungan karena kepribadian Elok yang baik, sikapnya yang santun juga patuh pada orang tua, tutur katanya yang lemah lembut, dan sangat suka menolong sesama.
"Mas Pandji, aku nggak jadi kuliah di kedokteran...." adu Elok kala itu, ketika Pandji datang menemuinya setelah menunaikan tugas paspampres-nya, sengaja merahasiakan pekerjaannya karena institusi memintanya, dan mengaku hanya seorang prajurit biasa.
Walau hanya diberi waktu tiga jam, demi sang pujaan hati Pandji menggunakan waktu itu sebaik mungkin.
"Kenapa?" Pandji bertanya. Merasa heran, karena Elok yang baru berstatus sebagai pacarnya saat itu telah lulus test tertulis dan interview.
"Biayanya besar amat, Mas, Bapak tidak punya dana cukup. Elok dilarang kuliah, di suruh kerja di pabrik saja ikut Bapak," sahutnya tersenyum hambar.
"Berapa estimasinya, Dek?" Tanya Pandji hati-hati.
"Uang Kuliah Tunggal (UKT) nya aja udah mencapai lima belas juta per semester, dan Uang Pangkal (UP) nya enam puluh empat juta, bisa dicicil empat kali, karena Elok pilih yang mandiri," jelasnya dengan perasaan mustahil.
"Mas Pandji tahu sendiri," Elok mendesah pelan. "Gaji Bapak sebagai wakar di pabrik sangat jauh dari nilai itu. Jadi, sebaiknya Elok ikuti saran Bapak aja, ikut kerja di pabrik dari pada nggak kuliah, Mas."
Pandji terdiam sejenak mendengarnya, tengah berfikir.
"Kalau kamu nggak keberatan, izinkan Mas yang menanggungnya, Dek," ucap Pandji akhirnya ketika itu.
Elok menoleh cepat karena kaget, "Nilainya besar itu, Mas," dengan mulut setengah terbuka. Pasalnya, saat dirinya membicarakan hal itu pada ayahnya, ayahnya langsung angkat tangan dan menyuruhnya mencari pekerjaan supaya tahu bagaimana rasa sulitnya mencari uang.
"Iya, Mas tahu. Tapi masih bisa dicicil ya kan?" Pandji tersenyum memberi harapan baru.
Elok cepat mengangguk, hatinya begitu bahagia. Terbayang dalam khayalannya, cita-citanya sejak kelas enam SD menjadi dokter anak akan bisa terwujud.
"Kalau begitu, kalian harus buru-buru bertunangan, supaya ada ikatan kuat," Gustam mendadak ikut berbicara, dari dalam rumah ia menghampiri Pandji dan Elok di teras, dirinya memang menguping pembicaraan mereka dari dalam.
"Supaya tidak ada yang berani ganggu," tambah Gustam. "Pacaran jarak jauh yang kalian lakoni sangat rentan ada orang ketiga." imbuhnya.
Pandji yang memang serius akan hubungan mereka langsung setuju mengiyakan ketika itu.
Pandji menepikan motornya di depan pagar, turun sebentar untuk mendorong pagar besi rumahnya. Rumahnya dengan rumah Elok hanya beda RT saja, jadi ia bisa dengan cepat kembali ke rumah.
"Kamu sudah pulang, Nak?" bu Harun tersenyum, menyambut kedatangan putranya.
Belum sempat menjawab, suara omelan Soraya mengagetkan keduanya, karena rumah mereka dan Harry hanya dibatasi oleh pagar saja.
"Adikmu itu memang selalu nyusahin kita, Mas. Sekarang siapa yang mau nikahin dia? Makanya jadi perempuan itu nggak usah kegatelan! Giliran hamil kita yang pusing!"
"Cukup, Ma... jangan bahas masalah itu lagi di meja makan seperti ini, tak pantas... Ada Melitha, juga anak-anak kita yang masih kecil."
"Nah, itu! Mas selalu saja begitu, melarangku membahas apapun tentang Melitha. Tapi apapun keperluan Melitha, Mas tetap memintaku membagi gaji Mas yang sedikit itu untuknya. Anak kita perlu makan daging Mas, supaya pintar! Bukannya tahu, tempe, ikan asin, dan telur saja setiap hari!"
Pandji dan ibunya saling pandang, lalu menatap pintu rumah Harry yang tertutup rapat. Suara kakak sepupunya tak terlalu jelas terdengar, tapi suara Soraya begitu nyaring bak menggunakan toa.
Beberapa tetangga nampak keluar rumah karena ingin menguping adu debat itu.
"Ya, bela saja terus adikmu itu, Mas! Manjain terus! Lihat hasilnya sekarang? Kita yang sudah hidup pas-pasan karena membiayainya, malah turut menanggung malu karena kebuntingannya!"
"Astaga, Soraya nggak kira-kira... Orang-orang pada dengar," Panik bu Harun.
"Cepat datangi mas Har-mu, kasian dia dan Melitha," perintahnya pada putranya.
"Iya, Bu," Pandji buru-buru keluar dari pagar rumahnya dan masuk ke pagar rumah kakak sepupunya.
"....Dia itu memang selalu merepotkan! Lalu apa sumbangsihnya untuk kita, Mas? Apa?!"
"Banyak!" terdengar suara Harry yang cukup lantang menyahut.
"Melitha yang membantu Mama mengasuh Adri dan Naomi sejak mereka bayi! Melitha yang beberes rumah dan memasak di dapur bila Mama lelah, sakit, atau keluar bersama teman-teman arisan Mama! Dan itu semua gratis!"
"Heuh!" kembali terdengar suara arogan Soraya.
Pandji meringis melihat para tetangga semakin banyak yang keluar dari rumah sambil berbisik-bisik menatap ke arahnya dan rumah Harry.
"Wajar, Mas! Melitha hidup di rumah ini juga numpang. Makan gratis, dan nggak bayar sepeserpun uang sewa rumah!"
"Stop! Cukup, Raya!"
"Benarkan? Itu sebabnya Mas menghentikanku. Adikmu itu memang sumber kesusahan kita, dia itu beban, Mas! Apa lagi sekarang hamil dan tidak ada laki-laki yang mau menikahinya!"
Pandji semakin merasa kasihan pada Harry dan Melitha, cepat-cepat mengetuk pintu rumah Harry supaya tidak banyak dialog yang bisa didengar lagi oleh para tetangga.
Tok! Tok! Tok!
Tidak meunggu lama Pandji mendengar anak kunci di putar dari dalam.
Klek-klek.
"Pandji?" Kakak sepupunya itu terlihat kaget melihat kedatangannya.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.