NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Jenny dan Maria

"Luciano, apa yang kamu lihat dari ku, hah? Aku hanya gadis biasa dan hanya seorang perawat di rumah sakit swasta. Kamu bahkan bisa mendapatkan gadis yang lebih dari ku," keluh Alana, saat mereka sedang berada di meja makan.

Luciano menghentikan aktivitas makannya, ia menatap sejenak wajah Alana, kemudian tersenyum lembut pada gadis itu.

"Apa yang kamu tanyakan, kamu adalah jawaban dari pertanyaan kamu sendiri, Alana. Aku ada meeting, jadi tolong tinggal di rumah dan tunggu aku kembali. Setelah aku kembali, kau bebas mau pergi kemana saja, aku akan mengantarkan kamu," jawab Luciano lagi. Ia pun menyudahi sarapannya, menarik jas yang tadinya ia sangkutkan di kursi sebelahnya dan memakainya.

Alana tidak menjawab, ia hanya menunduk pasrah saat itu, namun bukan berarti diam.

"Bahkan Olli jauh lebih baik dari pada dia." Alana bergumam pelan, namun tetap saja Luciano dapat mendengar gumaman Alana. Karena jarak mereka yang tidak jauh.

"Kamu akan menyesal dengan ucapan kamu sendiri, Alana. Jangan merusak pagi ku dengan menyebut nama bajingan itu," tukas Luciano, kali ini wajahnya sudah mulai tidak bersahabat. Rona yang tadinya hangat kini justru terasa panas.

"Apa kau pikir aku akan takut dan menurut begitu saja, Luciano? Bahkan kau jauh lebih buruk dari Oliver. Asal kau tahu Luciano, Oliver bahkan tidak pernah menyakiti keluarga ku," pungkas Alana pula.

"Keluarga? Mereka itu kamu sebut keluarga? Keluarga macam apa yang menjual kamu, hah? Merampas semua aset milik orang tua mu, bahkan gadis yang kau panggil sebagai kakak itu, justru menjadi jalang nya Oliver."

Napas Luciano memburu, padahal saat itu ia sedang terburu-buru untuk ke kantor, namun terpaksa tertunda karena harus berdebat dulu dengan Alana.

"Olli dan Jenny tidak seperti itu," sangkal Alana. Ia masih membela Jenny dan membenarkan asumsinya terhadap Oliver.

"Oh ya?" Luciano mendekat, ia memegang kedua sisi pipi Alana, lalu mencengkram rahang Alana.

Alana meringis menahan sakit, bahkan jika ia bisa, maka dia akan langsung berteriak saat itu juga. Namun sebisa mungkin Alana menahan diri.

"Aku jauh lebih mengenal Oliver dari pada kamu, Alana. Urusan kita belum selesai, kau selamat pagi ini, tapi tidak dengan nanti sore."

"Aku harap aku akan tiada hari ini juga, Luciano." Alana memekik frustasi, namun sayangnya Luciano tidak menggubris teriakan tersebut.

Luciano sudah sampai di pintu utama, di depan teras seorang supir sudah menunggu dan membuka pintu mobil untuk Luciano masuk.

"Langsung ke kantor, tuan?" tanyanya. Dan Luciano hanya mengangguk saja.

Di dalam mobil yang ber AC, namun suhu tubuh Luciano terasa begitu panas saat itu, ia membuka kancing kemejanya, melonggarkan bagian lehernya.

Dari spion, supir itu terus memperhatikan majikannya. Khawatir jika Luciano mengalami demam atau sebagainya.

"Apa tuan baik-baik saja? Apa kita perlu ke dokter?" tanya supir itu.

"Langsung ke kantor," jawabnya dengan datar. Dan supir itu pun mengangguk paham.

***

Sementara itu, di kediaman Luciano. Alana tengah duduk menyendiri di kamar, air matanya jatuh begitu saja, meratapi nasip yang begitu tidak berpihak padanya.

"Apa ini sebenarnya, Tuhan? Apa ini yang dinamakan dengan hidup? Aku ingin menyerah saja, hidup dengan Luciano itu sama saja seperti membunuh diriku sendiri dengan perlahan."

Tidak ada ponsel, karena Luciano sudah menyitanya saat mereka menikah hari itu. Alana bingung harus menghubungi siapa untuk meminta tolong.

"Rumah ini begitu besar, tapi sayangnya terasa bagai sebuah makam."

Tok tok tok!

Alana menyeka air matanya saat mendengar pintu kamar di ketuk dari luar.

"Nyonya, ada yang ingin bertemu," ucap pelayan dari luar kamar.

"Siapa?"

"Katanya, mereka adalah keluarga nyonya!"

"Keluarga? Bibi, kak Jenny! Mereka pasti datang untuk menyelamatkan hidupku!"

Alana segera bangkit dari tempat duduknya, ia tersenyum haru sambil berlari keluar kamar.

Tidak sabar untuk bertemu dengan Maria dan Jenny.

"Bibi!" panggil Alana saat dirinya sudah berada di tangga. Alana berlari menuruni anak tangga dan hampir saja dia tersungkur karena terburu-buru.

"Aku rasa, Luciano jauh lebih kaya dari Oliver, Mama! Bukan begitu, Alana?" Jenny, dengan tidak tahu malunya dia berjalan mendekati Alana dengan gayanya yang bongkah.

"Kakak, aku tidak pernah memperdulikan kekayaan mereka," jawab Alana dengan tenang.

"Sudahlah Alana, berapa uang bulanan yang Luciano berikan untukmu?" tanya Maria pula, ia melipat kedua tangannya di dada, lalu berjalan menyusuri dinding rumah itu.

"Bibi, apa maksud bibi?" Bohong jika Alana mengatakan bahwa dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan tersebut. Namun tetap saja Alana berpura-pura bodoh dan polos.

"Ayo lah Alana, berikan setengah uang bulanan kamu itu kepada kami," jawab Jenny pula dengan tidak tahu malunya dia.

"Kak, aku baru satu hari menjadi istri orang, dan itu karena di culik. Bukannya kalian datang untuk menolongku, tapi justru-"

"Hidup itu realistis aja, Alana. 50 50, kamu dapat keuntungan dan kamu berdua juga dapat!" Jenny menatap Alana dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan sinis bercampur iri.

"Astaga, tidak cukup harta ku yang jumlahnya tidak sedikit itu kalian ambil, sampai kalian datang ke rumah ini menemui aku dan berlagak menjadi seorang pengemis?"

Perkataan Alana justru membuat kedua wanita itu tersulut emosi, terlebih lagi Maria. Ia berjalan mendekat pada Alana dan kemudian menamparnya dengan keras.

"Apa kata mu? Pengemis? Dasar jalang sialan, kalo aku tahu, aku sudah menjual mu sejak lama, Alana!"

"Lalu, kenapa tidak Bibi lakukan? Takut jika harta ku tidak kalian dapatkan?" Alana tidak gentar sedikitpun, ia menjawab dengan tanpa rasa empati atau sejenisnya.

Jika saja Luciano tidak menyadarkan Alana tadi pagi dengan kata-katanya yang tajam itu, mungkin saja Alana akan terus bersikap lemah seperti biasanya.

"Kurang hajar, kau Alana!" Jenny ikut bicara, ia pun membubuhi pipi Alana dengan tamparannya yang tidak kalah kerasnya dari Maria.

Pipi Alana memerah dan terasa panas, ia memegang pipinya itu lalu berjalan mendekat pada Jenny untuk membalas tamparan tersebut.

Plak!

Plak!

Dua tamparan Alana layangkan bertubi-tubi pada Jenny, bahkan tamparan Alana lebih keras dari pada tamparan Jenny untuknya.

"Beraninya kau menampar putri ku, Alana?" Maria tersulut emosi, ia menarik rambut Alana dengan kencang sehingga membuat Alana mendongak ke atas.

"Bahkan tamparan saja tidak cukup untuk mendidik mulut putrimu, Bibi! yang pantas Jenny dapatkan adalah kematian, atau yang lebih sederhana saja, tidak sadarkan di rumah sakit!" Alana menjawab dengan suara tertahan karena menahan rasa sakit di kepalanya akibat jambakan Maria.

"Kurang ajar, kau Alana!"

"Itu adalah hasil didikan mu, Bibi. Aku peringatkan kepada kalian berdua, jangan pernah sekalipun kalian datang kembali ke rumah ini, atau aku akan buat kalian berakhir di rumah sakit," ancam Alana dengan tatapan yang begitu menusuk.

"Baru satu hari kau menjadi istri seorang mafia, kau sudah berani berlagak menjadi seorang psikopat?" Maria mendecih. Namun langsung di jawab oleh Alana dengan tegas.

"Tentu saja, karena aku sangat ingin membuat kalian berdua hancur, bahkan kalian akan memohon di kakiku untuk mendapatkan pengampunan dari seorang gadis yatim piatu yang sudah kalian hancurkan hidupnya!"

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!