NovelToon NovelToon
Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
​Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
​Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
​"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Menjadi Istri dalam Semalam

"Ayahmu tidak berada di penjara, tapi dia adalah alasan kenapa kamu harus terikat dalam perjanjian hitam ini sampai mati."

Kalimat itu terngiang seperti kutukan yang menghantam telinga Lana hingga ia merasa dunianya menjadi benar-benar gelap gulita. Gadis itu terhuyung di tempat duduk helikopter dengan wajah yang pucat pasi melebihi warna awan di luar sana. Adrian tidak bergeming sedikit pun dan justru mengalihkan pandangannya ke arah hamparan gedung bertingkat di bawah mereka.

Lana meremas kalung perak itu kuat hingga telapak tangannya terasa perih terkena gesekan rantai yang tajam. Ia ingin sekali berteriak dan menuntut penjelasan lebih banyak namun kerongkongannya terasa seperti tersumbat oleh ribuan duri. Isak tangis pelan mulai terdengar membelah suara bising mesin helikopter yang sedang melaju kencang menuju kediaman Al Fahri.

"Jangan menangis, air mata tidak akan mengubah fakta bahwa namamu sudah tertulis di dokumen keluarga saya," ucap Adrian tanpa sedikit pun menoleh.

Adrian memberikan aba-aba kepada pilot agar segera mendarat di atas landasan beton yang terletak di atap mansion pribadinya. Begitu helikopter menyentuh landasan, Adrian langsung melompat turun tanpa menunggu tangga pembantu dipasang sempurna. Ia menarik tangan Lana dengan paksa agar gadis itu ikut keluar dari dalam pesawat terbang tersebut.

"Tolong jelaskan, apa maksud Tuan mengenai pengkhianat negara?" tanya Lana dengan sisa keberanian yang ia miliki.

Adrian berhenti melangkah tepat di depan pintu lift pribadi yang akan membawa mereka turun menuju lantai utama rumah. Ia menatap Lana dengan pandangan yang sangat menusuk hingga gadis itu merasa seluruh tubuhnya gemetar hebat. Cengkeraman tangan Adrian pada lengan Lana terasa semakin menguat seolah ia sedang menahan emosi yang sangat besar.

"Satu pertanyaan lagi, dan saya tidak akan ragu untuk mengurungmu di ruang bawah tanah selamanya," ancam Adrian dengan suara rendah yang mencekam.

Lana terbungkam seribu bahasa saat melihat kemarahan yang berkilat di dalam manik mata hitam milik suaminya tersebut. Ia merasa seperti seorang tawanan yang baru saja dijatuhi hukuman mati tanpa sempat melakukan pembelaan diri. Lift bergerak turun dengan cepat menuju lantai kamar utama yang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua.

Begitu sampai di depan kamar, Adrian mendorong Lana masuk dengan gerakan yang tidak terlalu kasar namun sangat menunjukkan dominasi. Ia kemudian membanting pintu kayu itu hingga menimbulkan suara dentuman yang sangat keras menggema di koridor. Lana terlonjak kaget dan segera mundur ke pojok ruangan sambil memeluk tas sekolahnya dengan sangat erat.

"Mulai malam ini, tidak akan ada lagi pengawalan longgar untukmu," ujar Adrian sambil melepas baret merahnya dan melemparnya ke meja.

Lana melihat suaminya itu mulai melepas seragam militer satu per satu hingga menyisakan kaos dalaman berwarna hitam yang ketat. Otot lengan Adrian yang besar dan penuh dengan luka bekas jahitan terlihat sangat nyata di bawah sinar lampu kristal. Ketakutan Lana kini bercampur dengan rasa asing saat menyadari bahwa ia benar-benar harus hidup bersama pria mengerikan ini.

"Kenapa Tuan sangat membenci saya? Saya tidak tahu apa-apa tentang dosa ayah saya," bisik Lana dengan air mata yang kembali menetes.

Adrian berjalan mendekati Lana dengan langkah yang sangat berirama seolah ia sedang mengepung mangsa yang sudah terpojok. Ia berhenti tepat di depan Lana dan membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya terpaut jarak beberapa sentimeter saja. Aroma maskulin yang sangat kuat dari tubuh Adrian seketika memenuhi indra penciuman Lana yang sedang gelisah.

"Saya tidak membencimu, saya hanya sedang menjalankan tanggung jawab untuk mengawasi bibit pengkhianat," sahut Adrian dengan senyum miring yang sinis.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan fisik bagi Lana yang selama ini selalu membanggakan sosok ayahnya. Ia ingin sekali memukul dada bidang Adrian namun ia sadar bahwa kekuatannya tidak akan mampu menggoyahkan pria itu sedikit pun. Adrian kemudian meraih dagu Lana dan memaksa gadis itu untuk menatap ke arah cermin besar yang ada di samping mereka.

"Lihat dirimu di cermin itu, Lana, kamu adalah istri seorang Kolonel, bukan lagi siswi SMA biasa yang bisa bermain-main," perintah Adrian.

Lana melihat pantulan dirinya yang tampak sangat berantakan dengan seragam sekolah yang kusut dan mata yang merah karena menangis. Di sampingnya berdiri seorang pria perkasa yang tampak sangat berkuasa dan mampu menghancurkan hidup siapa pun dalam sekejap. Perbedaan usia dan kasta di antara mereka terlihat sangat nyata seperti jurang yang sangat dalam dan gelap.

Adrian kemudian mengambil sebuah kotak perhiasan dari dalam laci dan membukanya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian yang sangat indah dan harganya pasti bisa membeli seluruh sekolah tempat Lana belajar. Ia mengambil kalung itu dan memakaikannya di leher Lana dengan jemari yang terasa sangat kaku namun sangat dominan.

"Pakai ini, dan lupakan kalung sampah dari ayahmu itu jika kamu ingin selamat di rumah ini," titah Adrian dengan nada mutlak.

Lana ingin melepas kalung berlian yang terasa sangat berat itu namun Adrian segera menggenggam kedua tangan Lana dengan sangat kuat. Ia menatap Lana dengan pandangan yang memberikan peringatan bahwa tidak ada ruang bagi pembangkangan di dalam kamarnya. Lana akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan berlian itu melingkar di lehernya sebagai simbol perbudakan yang indah.

Malam itu, Lana dipaksa duduk di meja makan yang sangat panjang bersama Adrian yang tetap sibuk dengan laporan militer di tangannya. Suasana makan malam itu terasa sangat sunyi hingga suara dentingan garpu dan piring terdengar sangat nyaring. Tidak ada percakapan hangat layaknya sepasang suami istri yang baru saja melangsungkan pernikahan pada umumnya.

"Besok pagi, tim guru privat akan datang ke rumah ini untuk menggantikan sekolahmu," ujar Adrian secara tiba-tiba tanpa melihat ke arah Lana.

Lana terkesiap dan menjatuhkan sendok yang ia pegang hingga sisa sup ayamnya menciprat ke arah taplak meja yang putih bersih. Ia merasa dunianya kembali dirampas karena sekolah adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa merasakan sedikit kebebasan. Keputusan Adrian yang sangat sepihak ini membuat rasa benci di hati Lana mulai tumbuh dengan sangat subur.

"Tuan berjanji saya tetap boleh sekolah di sana! Kenapa Tuan menarik ucapan sendiri?" tanya Lana dengan nada suara yang meninggi karena marah.

Adrian meletakkan laporan militernya dan menatap Lana dengan pandangan yang sangat dingin hingga membuat gadis itu merinding. Ia mengusap bibirnya dengan serbet kain dengan sangat pelan seolah ia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar. Ketegangan di ruang makan itu meningkat drastis hingga para pelayan di sudut ruangan hanya berani menunduk dalam-dalam.

"Kejadian hari ini membuktikan bahwa sekolah itu tidak aman untuk aset berharga keluarga Al Fahri," jawab Adrian dengan suara yang sangat tenang namun berbahaya.

Lana merasa ingin menangis sekencang-kencangnya karena ia tahu bahwa Adrian tidak akan pernah bisa didebat oleh siapa pun. Ia bangkit dari kursinya dan berlari menuju kamar dengan perasaan yang sangat hancur dan penuh dengan amarah yang membara. Adrian hanya memperhatikan kepergian Lana dengan tatapan mata yang sulit sekali untuk dibaca oleh siapa pun.

Di dalam kamar, Lana mengunci pintu dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur yang sangat luas namun terasa sangat sepi. Ia memeluk kalung perak ayahnya yang ia sembunyikan di balik bantal dengan penuh rasa rindu yang sangat mendalam. Di tengah kegelapan malam, ia bersumpah akan menemukan cara untuk keluar dari penjara mewah milik sang Kolonel.

Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan kunci cadangan dari arah luar yang membuat Lana segera duduk dengan waspada. Adrian masuk ke dalam kamar dengan hanya mengenakan jubah mandi sutra yang menutupi tubuh atletisnya. Ia berjalan menuju tempat tidur dan menatap Lana dengan pandangan yang penuh dengan hasrat yang sangat tertahan.

Lana merangkak mundur hingga kepalanya menabrak sandaran tempat tidur sementara Adrian terus mendekat tanpa suara sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!