Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.Empat Fraksi dan Satu Kebohongan
Rumor di Imperion tidak pernah berlari.
Ia merayap.
Dan pagi itu, Selvina merasakannya bahkan sebelum membuka pintu kamar asrama.
Bisik-bisik di lorong terlalu cepat berhenti. Tatapan terlalu lama menempel di punggungnya. Seseorang tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena tahu sesuatu.
“Katanya dia sering ke sayap barat.”
“Sendirian?”
“Iya. Tengah malam pula.”
Selvina melangkah tanpa menoleh. Setiap langkahnya terasa seperti melewati lumpur yang dituang perlahan ke namanya.
Raisa tidak ada di kamar saat ia kembali. Namun ranjang itu masih rapi—terlalu rapi untuk seseorang yang biasanya ceroboh. Itu lebih menyakitkan daripada konfrontasi semalam.
Di papan pengumuman asrama, secarik kertas baru tertempel.
> PERINGATAN JAM MALAM
Pelanggaran akan ditindak tegas tanpa pengecualian
Selvina menatap tulisan itu lama.
Tanpa pengecualian, pikirnya pahit.
Kecuali jika kau punya kuasa.
Kelas XI-A terasa berbeda hari itu.
Bangku paling depan kosong—hingga pintu kelas terbuka dan seorang gadis masuk bersama wali kelas. Rambutnya hitam panjang, wajahnya tenang namun jelas menyimpan kewaspadaan seseorang yang tahu ia sedang dinilai.
“Perkenalkan,” kata wali kelas, “ini murid pindahan. Namanya Nadira Aksara.”
Beberapa siswa bertepuk tangan malas. Yang lain hanya menatap.
Nadira mengangguk singkat, lalu duduk di bangku kosong—tepat di antara barisan Selvina dan Varrendra.
Selvina tidak menoleh.
Varrendra juga tidak.
Namun kehadiran orang ketiga itu mengubah udara di ruangan.
Saat istirahat, Nadira menyadari sesuatu yang janggal.
Tidak ada yang duduk sembarangan.
Tidak ada kelompok yang bercampur.
Ia menepuk bahu siswi di sebelahnya. “Maaf… kenapa semua orang duduk terpisah?”
Siswi itu—anggota fraksi netral yang wajahnya selalu cemas—menarik Nadira mendekat.
“Karena di Imperion,” katanya pelan, “kami tidak cuma belajar. Kami berpihak.”
“Berpihak ke apa?”
“Ke fraksi.”
Nadira mengerutkan dahi. “Fraksi?”
Siswi itu menghela napas. “Ada empat.”
Ia menunjuk pelan satu per satu.
“Fraksi Laki-laki,” katanya, matanya melirik ke arah Varrendra.
“Dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. Mereka pegang struktur, jabatan, dan banyak akses.”
Nadira mengikuti arah pandangan itu. Aura Varrendra memang berbeda—bukan karena ia bicara, tapi karena semua orang menyesuaikan diri dengannya.
“Kedua,” lanjut siswi itu, “Fraksi Perempuan. Dipimpin oleh Selvina Kirana.”
Nada suaranya berubah. Campuran kagum dan takut.
“Mereka melawan sistem. Paling vokal. Paling diawasi.”
Nadira melirik ke arah Selvina—punggung lurus, wajah tenang, namun ada sesuatu yang terisolasi di sekelilingnya.
“Ketiga,” bisik siswi itu, “Fraksi Elite.”
“Elite?” ulang Nadira.
“Mereka anak-anak donatur besar. Nilai mereka biasa saja, tapi pengaruhnya kuat. Pemimpinnya Arkan Wijaya. Mereka tidak memihak… sampai ada untungnya.”
“Dan yang keempat?”
Siswi itu ragu sejenak. “Fraksi Bayangan.”
Nadira terdiam. “Kedengarannya tidak resmi.”
“Karena memang tidak,” jawabnya. “Mereka tidak punya seragam, tidak punya struktur jelas. Isinya siswa-siswa yang pernah ‘jatuh’ dari sistem. Pemimpinnya jarang terlihat.”
“Namanya?”
“Kayra. Tidak ada yang tahu nama lengkapnya.”
Nadira menelan ludah. “Dan mereka… akur?”
Siswi itu hampir tertawa. “Tidak satu pun.”
Saat bel masuk berbunyi, Nadira kembali ke bangkunya.
Ia memperhatikan bagaimana Varrendra berbicara—semua mendengarkan.
Bagaimana Selvina menyela—dan sebagian menantang, sebagian takut.
Dan bagaimana bisik-bisik selalu mengarah ke satu nama.
“Katanya Selvina dekat sama Varrendra.”
“Katanya dia main dua kaki.”
“Makanya fraksi pria sekarang diam.”
Nadira menoleh pelan ke arah Selvina.
Ia tidak melihat gadis manipulatif seperti yang dibicarakan orang-orang. Yang ia lihat adalah seseorang yang sedang berdiri sendirian di tengah medan perang—dan mulai ditembak dari belakang.
Saat kelas usai, Nadira mengejar Selvina di koridor.
“Kak Selvina?” panggilnya hati-hati.
Selvina berhenti, menoleh. “Iya?”
Nadira tersenyum tipis. “Aku murid baru. Nadira.”
Selvina mengangguk singkat. “Selamat datang di Imperion.”
Nadira ragu sejenak, lalu berkata, “Sepertinya… sekolah ini tidak ramah.”
Sudut bibir Selvina terangkat samar. “Itu versi halusnya.”
“Orang-orang bilang banyak hal tentang kakak,” lanjut Nadira jujur. “Aku tidak tahu mana yang benar.”
Selvina menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Di sini, kebenaran tidak penting. Yang penting… siapa yang mengatakannya.”
Ia melangkah pergi.
Dari ujung koridor, Varrendra memperhatikan pemandangan itu—tatapan murid baru, langkah Selvina yang tetap tegak meski mulai dijatuhkan rumor.
Empat fraksi.
Satu kebohongan yang tumbuh.
Dan satu orang baru yang belum memilih sisi.
Imperion Academy kembali bergolak.
Dan kali ini, bukan karena perang terbuka—
melainkan karena nama yang mulai dikoyak dari dalam.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍