NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tertindas

Pembalasan Istri Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:109.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Si Manajer Benalu

Ruangan kaca itu seharusnya menjadi simbol otoritas, tempat keputusan-keputusan strategis dilahirkan. Namun, bagi siapa pun yang memiliki indra penciuman normal, ruangan Rudi Hartono lebih mirip tempat pembuangan akhir ambisi yang membusuk.

Begitu Nadinta mendorong pintu kaca berat itu dan melangkah masuk, aroma ruangan itu langsung menyergapnya. Campuran bau asap rokok yang menempel di sofa kain—padahal ini gedung bebas rokok—dan aroma pengharum ruangan lemon sintetik yang disemprotkan berlebihan untuk menutupi bau apek karpet yang jarang dibersihkan. Di sudut ruangan, satu set stik golf berdiri angkuh, berdebu, simbol dari hobi yang lebih sering ditekuni Rudi daripada pekerjaannya sendiri.

Rudi duduk di balik meja kerjanya yang besar, sebuah benteng kayu mahoni yang melindunginya dari kompetensi bawahannya. Di hadapannya, layar komputer menyala menampilkan spreadsheet kosong, sementara tangannya sibuk memijat pelipis yang basah oleh keringat dingin.

"Tutup pintunya!" perintah Rudi tanpa menoleh, suaranya parau dan penuh tekanan. "Dan kunci. Saya nggak mau ada gangguan."

Nadinta menurut. Ia memutar kunci pintu dengan bunyi klik pelan, lalu berbalik menghadap pria paruh baya itu dengan sikap tenang yang tak wajar. Ia berdiri tegak, kedua tangannya tertaut sopan di depan tubuh, menunggu titah sang raja kecil.

"Kamu tahu kenapa saya panggil kamu?" tanya Rudi, akhirnya mendongak. Matanya merah dan kantung matanya tebal, tanda-tanda pria yang menghabiskan malam minggu dengan alkohol murah alih-alih mempersiapkan pekerjaan.

"Mengenai presentasi Lumina Green untuk rapat direksi minggu depan, Pak?" jawab Nadinta, suaranya datar dan profesional.

Rudi menggebrak meja. Bukan gebrakkan marah, melainkan gebrakkan frustrasi.

"Bukan cuma presentasi, Nadinta! Ini soal hidup mati divisi kita!" seru Rudi dramatis. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di belakang mejanya dengan gelisah. Kemejanya yang ketat di bagian perut tampak sesak napas setiap kali ia bergerak.

"Kamu dengar kan gosipnya? Direktur Operasional yang baru, Pak Mahendra itu... dia gila," cerocos Rudi sambil mengibas-ngibaskan tangan gemuknya. "Dia baru seminggu menjabat, tapi sudah memecat dua manajer cabang karena laporan mereka tidak akurat. Dia itu predator, Nadinta. Dan besok giliran saya yang akan dia mangsa kalau saya tidak bawa daging segar."

Nadinta menatap pria itu tanpa berkedip. Daging segar, batinnya sinis. Kau yang akan jadi daging cincang, Pak.

"Lalu, apa arahan Bapak untuk materinya?" tanya Nadinta, memancing. "Saya yakin Bapak sudah punya konsep brilian seperti biasanya."

Rudi berhenti mondar-mandir. Ia menatap Nadinta, lalu batuk kecil, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh.

"Tentu saja saya punya konsep. Banyak. Kepala saya penuh ide," dusta Rudi tanpa rasa malu. "Masalahnya, saya terlalu sibuk mengurus lobi tingkat atas. Saya harus menjaga hubungan dengan investor, main golf dengan klien... hal-hal strategis yang otak kalian tidak akan paham."

Rudi kembali duduk, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Karena itu, saya butuh kamu, Nadinta. Kamu kan staff andalan saya. Paling rajin, paling teliti, paling... penurut."

Kata terakhir itu diucapkan dengan nada menjijikkan yang membuat kulit Nadinta meremang.

"Saya mau kamu buatkan deck presentasi lengkap. Dari nol," perintah Rudi sambil menunjuk Nadinta dengan jari telunjuknya yang pendek. "Analisis pasar, proyeksi keuangan lima tahun, strategi branding, semuanya. Saya mau visualnya modern, bahasanya high-level, tapi mudah dimengerti."

"Baik, Pak. Datanya?"

"Cari sendiri! Kan kamu punya akses ke server!" sentak Rudi. "Jangan manja. Saya gaji kamu untuk cari solusi, bukan tanya-tanya."

Nadinta mengangguk pelan. "Baik, Pak. Saya akan kerjakan. Deadline-nya?"

"Intinya, h-1 kamu sudah taruh di meja Arga, supaya cepat di-ACC. Saya mau mempelajarinya dulu... karena saya mau ada meeting di luar," ujar Rudi, padahal Nadinta tahu meeting luar itu adalah kode untuk pulang cepat atau pijat refleksi.

"Ada lagi, Pak?"

Rudi menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang kuning karena nikotin. "Satu lagi. Dan ini yang paling penting. Di halaman pertama slide, nama penyusunnya..."

Rudi menggantung kalimatnya, menatap Nadinta dengan tatapan mengintimidasi.

"Hanya nama Bapak, tentu saja," sambar Nadinta cepat dengan senyum manis yang merekah sempurna. "Kan ini ide dan konsep Bapak. Saya hanya mengetik dan merapikan visualnya. Tidak pantas nama saya ada di sana."

Nadinta melempar kalimat sarkas yang telak.

Wajah Rudi langsung cerah. Ia tampak sangat puas, seolah baru saja memenangkan lotre. Egonya yang rapuh telah dielus dengan sangat tepat sasaran.

"Nah! Itu baru bawahan yang tahu diri," puji Rudi sambil menyandarkan punggungnya ke kursi empuknya. "Kamu memang pintar, Nadinta. Nggak salah saya pertahankan kamu di sini, meskipun tahun lalu HRD minta pengurangan karyawan."

Ancaman halus. Rudi selalu menggunakan taktik ini: membuat bawahannya merasa berhutang budi karena tidak dipecat, padahal dialah yang butuh mereka untuk menutupi ketidakbecusannya.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak," ucap Nadinta, nadanya merendah. "Saya sadar diri kok, Pak. Tanpa bimbingan Bapak, saya cuma butiran debu di perusahaan ini."

"Bagus. Bagus," Rudi mengangguk-angguk, matanya sudah beralih ke layar ponsel yang bergetar di meja. Nama 'Joko Golf' muncul di layarnya. "Sekarang keluar. Kerjakan yang benar. Jangan sampai ada typo satu huruf pun. Kalau besok Pak Mahendra nanya, saya harus bisa jawab dengan lancar."

Nadinta berbalik badan hendak pergi, tapi ia berhenti di depan pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan 'khawatir' yang dibuat-buat.

"Maaf, Pak. Boleh saya beri saran sedikit?"

"Apa?" tanya Rudi tidak sabar, tangannya sudah gatal ingin mengangkat telepon teman golfnya.

"Mengingat Pak Mahendra itu orangnya sangat detail dan suka angka... bagaimana kalau saya buatkan analisisnya sedikit lebih... agresif?" tawar Nadinta dengan nada polos. "Kita naikkan proyeksi keuntungannya dua kali lipat? Biar Bapak terlihat visioner dan berani mengambil risiko. Direksi baru biasanya suka manajer yang punya nyali besar, kan?"

Mata Rudi berbinar tamak. Kata 'keuntungan' dan 'pujian' selalu berhasil mematikan logika di otak reptilnya.

"Ide bagus!" seru Rudi antusias. "Kamu benar. Jangan bikin angka yang aman-aman aja. Bikin yang wow! Biar mereka tahu siapa Rudi Hartono."

"Tapi risikonya, kalau ditanya detail perhitungannya..."

"Ah, itu urusan belakangan!" potong Rudi cepat, mengibaskan tangan. "Yang penting first impression dulu. Lagipula, mereka direksi, mana sempat ngecek rumus Excel satu-satu. Udah, bikin yang bombastis pokoknya!"

"Baik, Pak. Sesuai arahan Bapak. Angka bombastis, visi agresif, dan nama Bapak di halaman depan," ulang Nadinta, mengunci kalimat itu sebagai bukti lisan yang tak terdengar.

"Ya, ya. Sana keluar."

Nadinta membuka kunci pintu dan melangkah keluar. Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, memisahkan udara apek ruangan Rudi dengan udara dingin kantor, senyum manis di wajah Nadinta lenyap seketika.

Wajahnya berubah menjadi topeng pualam yang dingin dan keras.

Ia berjalan kembali menuju kubikelnya, melewati deretan karyawan yang menunduk lesu. Di dalam kepalanya, roda gigi balas dendam mulai berputar dengan presisi yang mematikan.

Rudi baru saja menggali kuburannya sendiri, dan Nadinta dengan senang hati akan menyediakan sekopnya.

Pria tua itu meminta angka yang agresif? Nadinta akan memberinya angka yang sangat agresif. Angka yang begitu indah di atas kertas, namun begitu rapuh secara logika hingga satu pertanyaan sederhana dari Mahendra akan meruntuhkan seluruh presentasi itu seperti istana kartu.

Rudi meminta namanya ditaruh di halaman depan sendirian? Dengan senang hati. Itu artinya, saat guillotine jatuh besok pagi di ruang rapat, hanya leher Rudi yang akan terpenggal, tanpa menyeret siapa pun bersamanya.

Nadinta sampai di mejanya. Karina menatapnya dengan cemas dari balik partisi.

"Gimana, Mbak? Dimarahin?" bisik Karina.

Nadinta duduk di kursi kerjanya, menarik napas panjang, lalu menatap Karina dengan binar mata yang berbahaya.

"Nggak, Rin. Dia justru sangat kooperatif," jawab Nadinta sambil membuka file baru di komputernya.

Ia mengetik judul presentasi dengan huruf kapital yang besar dan tebal: STRATEGI EKSPANSI LUMINA GREEN 2024.

Nadinta melakukan peregangan, sebelum. kemudian jari-jemarinya mulai menari lincah di atas keyboard, menyusun baris demi baris data yang akan menjadi lonceng kematian karir Rudi Hartono. Pria itu tanpa sadar telah meminta bom bunuh diri dan Nadinta-lah yang memegang pemantiknya.

1
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Rasakan tamparan Nadinta pasti membekas dan sakit banget
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Nadinta hati hati memilih calon suami ya supaya ngga kayak ayahmu
You And Me Cinta Abadi
Ibunya Arga berani menampar Nadinta padahal itu apartement milik Nadinta
You And Me Cinta Abadi
Nadinta ibumu sangat menderita saat hidup
You And Me Cinta Abadi
Wah Arga memuji Nadinta pasti supaya ibumu kagum ke dia
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Ibunya Nadinta kasihan sakit hati dan sakit fisik
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Nadinta Arga memangil kamu untuk berhenti berjalan keluar apartement
Risa Istri Yayang
Keren Nadinta ikutan membalas menampar ibunya Arga
Risa Istri Yayang
Ibunya Nadinta kasihan meninggalkan dunia ngga di temani suaminya
Risa Istri Yayang
Ibunya Arga ribet banget makanan bisa beli jadi jangan menyuruh Nadinta memasak
Yayang Lop3♡ Risa
Arga wajar Nadinta menampar ibumu karena ibumu menampar Nadinta duluan
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Nadinta kenapa ngga minta cerai ke suaminya
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Arga kejam menyuruh Nadinta memasak
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta kamu keluar dari apartement mencari udara segar
Aku kamu tak terpisahkan
Kasihan ibumu Nadinta karena saat di selingkuhi ayahmu dia cuma menangis
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta Arga pasti marah sama kamu
@Me and You Married
Arga kamu ngga bakal boleh menikah dengan Nadinta
@Me and You Married
Tabahkan hatimu ya Nadinta ikhlasin ibumu sudah meninggal dunia
@Me and You Married
Wah Nadinta kamu di puji Arga pintar memasak di depan ibunya Arga
@Yayang Risa Couple Happy
Arga ibumu tega melakukan kekerasan fisik ke Nadinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!