NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Ngidam Perut Kotak-Kotak

Jam tiga dini hari. Waktu di mana seharusnya digunakan untuk beristirahat sebelum kembali memulai aktifitas di esok hari. Namun tidak dengan Alissa.

Entah sudah berapa lama perempuan itu berguling ke kanan dan kiri karena merasa....entahlah. Tiba-tiba saja dia ingin menyentuh perut kotak-kotak. Apa sebutannya? Six-pack?

"Ck, sebenarnya aku kenapa sih?!" dumel Alissa bangun dari tidurnya.

Ia acak rambut panjangnya dengan perasaan kesal. Gatal. Gatal sekali tangannya ingin menyentuh perut kotak-kotak.

"Kenapa aku jadi me-sum seperti ini." keluh perempuan itu merasa merinding dengan dirinya sendiri.

Huh. Alissa menghela nafas panjang. Sepertinya dia tidak akan bisa tidur. Perempuan itu memutuskan untuk keluar kamar. Mencari dapur dan membuat susu putih hangat.

Siapa tahu minuman itu dapat mensucikan kembali pikirannya yang tiba-tiba me-sum ini.

"Ini di mana dapurnya?" bingung Alissa melihat betapa luasnya rumah milik sang antagonis novel.

"Aduh...lagian ini rumah atau stadion sih. Luasnya kok nyaingin istana negara." celetuknya asal. Padahal Alissa juga belum pernah berkunjung ataupun diundang ke istana negara.

Masih belum menemukan dapur, Alissa malah tidak sengaja menemukan dua orang laki-laki berpakaian serba hitam masuk ke ruangan utama. Badan mereka tegap pun dengan badannya yang jakung.

"Mereka siapa? Oh astaga, betapa bagusnya tubuh mereka." gumam istri Sean itu yang mulai melantur

Keinginan Alissa untuk menyentuh perut kotak-kotak semakin membumbung tinggi setelah melihat dua orang laki-laki berbadan tegap itu.

Siapapun mereka, pasti mereka adalah bawahan Hades. Untuk sekarang dirinya masih berstatus sebagai istri Hades. Jadi mereka juga bawahannya bukan.

Tiba-tiba, Alissa menemukan ide. Terlebih saat dia melihat segelas alkohol sisa. Ia jamin, keinginannya untuk menyentuh perut kotak-kotak akan segera terwujud.

Alissa acak rambutnya dan melepaskan kedua kancing atas piamanya. Untuk mendukung aksinya ia cipratkan wine yang berada di meja kecil dekat dirinya berdiri. Entah milik siapa, tapi itu cukup membantu aksinya.

Mulai menjalankan rencananya, Alissa berpura-pura berjalan sempoyongan. Mendatangi kedua orang laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang utama seakan tengah menunggu kedatangan seseorang.

"Tu-tunggu. Tunggu aku." ujar Alissa agar mendapat perhatian dari dua laki-laki itu.

"Nyonya Alissa?" yes! Berhasil. girang Alissa di dalam hatinya.

Namun karena masih berpura-pura, Alissa tidak menggubris panggilan itu. Ia tetap berjalan dengan sempoyongan. Dengan mata yang meredup.

"Romeo, jangan tinggalkan aku!"

"Sepertinya Nyonya Alissa mengigau." ujar salah satu laki-laki itu.

"Lalu kita harus apa? Lagipula, bagaimana bisa Nyonya mengigau dan berjalan sampai sejauh ini. Kamarnya berada di lantai dua." balas yang lainnya meragu. Dia sudah hafal sekali tabiat istri tuannya yang suka mencari perhatian suaminya.

"Heh, awas saja ya! Aku akan mencubit perut kotak-kotakmu sampai membiru! Bisa-bisanya kau meragukanku!" seru Alissa walau hanya di dalam hati.

Tidak mungkin dia mengatakannya secara langsung. Bisa gagal rencananya menyentuh perut kotak-kotak.

"Hei bodoh! Di sini tidak ada Tuan Sean. Untuk apa Nyonya Alissa berpura-pura!"

"Ya, benar yang dia katakan."

"Lalu kita harus--

"Romeo, kau di mana?" Alissa berjalan lurus. Menuju pada sofa tempat mereka duduk.

Kedua laki-laki itu tiba-tiba panik saat Alissa akan menubruk tubuh mereka. Sontak saja keduanya berdiri dan memegangi Alissa agar tidak tersandung sofa.

"Nyonya. Nyonya Alissa!"

"Romeo?" Alissa sedikit membuka wajahnya. Dia tersenyum kecil dan menyentuh wajah laki-laki yang tengah memeganginya.

"Kau Romeo? Tolong jangan tinggalkan aku." gumam Alissa namun masih terdengar oleh kedua laki-laki itu.

"Nyo--Nyonya, saya bukan Romeo." gagap laki-laki itu salah tingkah wajahnya di belai oleh Alissa.

"Kau Romeo! Kau Romeoku!" seru Alissa dan langsung memeluk laki-laki itu erat. Membuat sang lelaki mati kutu dengan wajah yang semakin memerah.

"Sepertinya Nyonya sedang tidak mengigau. Tapi dia ma-buk!" seru lelaki yang satunya mencium aroma wine dari tubuh Alissa.

"Jika Tuan Sean tahu, aku bisa dipe-nggal." cicit temannya itu merasa takut.

Ia menoleh pada temannya meminta bantuan. Tapi seakan tidak peduli, ia panglingkan wajahnya ke lain arah. Berpura-pura tidak melihat apa-apa.

"Romeo? Mana perutmu? Aku ingin melihatnya."

"Ah, Nyonya! Apa yang kau lakukan!" laki-laki itu panik saat tangan Alissa menuju ke perutnya.

Bagaimanapun, dia lelaki normal.

"Nyonya, jangan!"

"Romeo, aku ingin melihat perutmu!"

Brumm.

Suara mobil terdengar. Sontak kedua laki-laki itu menegang. Sepertinya sang penguasa sebenarnya telah datang.

Jika Sean datang dan melihat apa yang terjadi, bisa-bisa nyawa mereka taruhannya.

"Tiba-tiba aku ingin buang air." ujar salah satu lelaki yang terbebas dari Alissa.

"Jangan pergi sia-lan! Bantu aku melepaskan ini!" ujar lainnya panik saat temannya ingin meninggalkannya.

Sedangkan Alissa? Perempuan itu masa bodoh. Dia tetap menggerayangi perut lelaki yang berada di bawah kendalinya. Bagaimanapun caranya dia harus bisa memegang perut kotak-kotak.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki semakin terdengar jelas. Dan dengan cepat laki-laki yang bebas dari Alissa melenggang pergi. Meninggalkan temannya yang kakinya sudah selemas jeli.

Jika pun tuannya tidak menyukai istrinya, dia tahu betul jika tuannya itu tidak suka jika miliknya di usik orang lain.

"Tuhan, bahkan aku belum menikah." rintih laki-laki yang Alissa tidak tahu namanya itu di dalam hatinya.

"Romeo, tunjukkan perutmu!"

"Nyonya saya bukan Romeo. Saya Rion. Bukan Romeo." sekali lagi dia berbicara. Berharap Alissa melepaskannya sebelum tuannya itu datang.

"Romeo, aku--

"Sedang apa kalian!"

"Mati aku!"

"Apa yang kau lakukan bersama bawahanku Alissa!" Sean--dia menunjukan wajah tidak bersahabatnya.

Berjalan mendekat, ia tarik Alissa dengan kasar hingga perempuan itu menubruk tubuhnya.

 "Ck, dasar pengacau!"

"Tu--Tuan, saya bisa jelaskan. Ini...i--ini tidak seperti yang anda pikirkan." Rion sudah ketakutan melihat aura membunuh dari Sean.

"Kau pergilah. Akan ku urus kau nanti." titah Sean dingin. Takut, buru-buru bawahan Sean bernama Rion itu meninggalkan Alissa hanya berdua dengan Sean.

"Romeo, jangan tinggalkan aku!" Alissa juga ingin pergi. Namun dengan sigap Sean menahannya.

Mencengkram pinggang Alissa dengan desisan tajam dari bibirnya.

"Setelah Shawn Mendes, sekarang kau berselingkuh dengan bawahanku? Murahan sekali kau!"

"Siapa kau?" baiklah sebaiknya Alissa melanjutkan sandiwaranya ini.

"Kenapa kau menyuruh Romeo ku pergi! Jahat sekali, padahal aku belum menyentuh perut kotak-kotaknya..." keluh Alissa yang benar-benar merasa kecewa.

"Apa kau bilang?!" tatapan Sean bertambah tajam.

"Diamlah! Dasar pria tuli!"

"Hentikan sandiwaramu Alissa. Aku tahu kau tidak ma-buk." tekan Sean dengan lebih menarik Alissa agar lebih dekat dengannya.

"Aku ingin perut kotak-kotak!" rengek Alissa kesal. Hanya ingin mengelusnya saja. Tidak lebih. Kenapa sesusah itu.

Dia juga tidak tahu kenapa sangat ingin menyentuhnya. Hatinya tidak tenang. Perasaannya gelisah jika belum menyentuh apa yang dia inginkan itu.

"Perut kotak-kotak, Sean. Aku mau perut kotak-kotak! Tunjukkan punyamu!"

Sepertinya Alissa sudah gila.

"Aku akan menunjukkannya tapi tidak di sini." dan Sean lebih gila.

Laki-laki itu mengangkat Alissa dan menggendong perempuan itu seperti koala. Membawanya ke atas menuju kamarnya.

"Malam ini, jadilah pela-cur yang baik."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!