Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Melia mengikuti langkah Dimas yang melamban di depan nya, ia belum ada mengucapkan sepatah kata pun dengan laki-laki di depan nya itu.
Dasar cowok ngeselin, nggak peka, jahat, omong doang, ingkar janji, cinta palsu, nyenyenye.
Melia terus mendumel di dalam hati nya dengan wajah yang terlihat cemberut di tambah tangan yang bersilang di depan dada.
Bruk
"Aduh Kak kalau rem tu aba-aba dong" omel Melia yang menabrak punggung belakang Dimas membuat kening nya yang terasa perih seperti terhantam ke tembok.
"Keras banget punggung Kakak, kayak batu bata" ejek Melia lagi tak membuat Dimas berbalik, ia hanya menoleh ke samping lalu kembali berjalan masuk ke dalam toko emas yang ia mau.
Melia pun kembali mengikuti Dimas dengan kesal, ia makin di acuhkan. Lalu guna nya dia ikut apa? Kalau di diamkan.
Dimas menoleh ke belakang menatap Melia yang masih bermuka masam. "Coba kamu bantu pilihin cincin mana yang cocok?" pinta Dimas.
Melia menghela napas pelan dan menunjuk cincin sembarang yang ada di etalase di depan nya.
"Are you sure?" tanya Dimas meyakinkan Melia agar tak salah pilih. Melia mengangguk malas.
"Lagian bukan buat ku juga, ngapain pilih yang sempurna" gumam nya, ia mengira suara nya kecil, nyatanya tidak karena Dimas tetap bisa mendengar gumaman itu.
Rasanya Dimas ingin tertawa dan memeluk gadis kecil yang ada di samping nya itu dan mengatakan kalau cincin itu untuk di pasang di jari nya.
"Oke. Mba, pesan cincin yang ini buat pasangan ya" ucap Dimas. Pramuniaga nya pun mengambilkan cincin yang tadi di tunjuk oleh Melia.
"Oh ya Mas, toko kami menawarkan jasa pembuatan nama di aksesoris yang bermotif polos seperti ini, apakah Mas nya berminat?" Pramuniaga itu menawarkan dengan ramah.
"Bisa costum nama? Boleh" sahut Dimas di tanggapi senyuman oleh Pramuniaga yang segera mengambil kertas dan pulpen.
"Mas bisa tulis nama yang ingin di tulis di kertas ini, kami akan langsung membuat nya dan hanya butuh waktu satu jam untuk menunggu siap" ucap Pramuniaga itu disertai senyuman.
Usai Dimas menulis dengan diam-diam agar Melia tak melihat nama siapa yang ia tulis, ia pun menatap ke arah Melia yang masih masam.
"Kamu jualan jeruk nipis?" bisik Dimas membuat Melia tersentak dan melirik ke arah nya dengan kesal.
"Iya, satu kilo satu juta" jawab Melia dengan ketus, bahkan tanpa pikir panjang. Dimas terkekeh mendengar jawaban asal Melia.
"Pantes jual harga segitu, pasti masam banget" bisik Dimas lagi membuat Melia berdecak dan bergeser satu langkah menjauh dari Dimas.
Dimas menegakkan tubuh nya dan melunturkan senyum nya saat bersitatap dengan Pramuniaga yang berjaga.
"Siniin tangan mu" ucap Dimas kembali menatap ke arah Melia. Melia menggeleng lalu memasukkan tangan nya ke dalam kantong hoodie yang ia pakai.
Saking tidak minat nya di ajak kemana-mana, ia hanya memakai hoodie di lapisi kaos polos dan celana kulot, menambah kesan malas nya.
Dimas berdecak lalu menarik tangan Melia yang bersikeras untuk bertahan di dalam kantong hoodie.
"Buat apasih, awas aja tangan ku kalau sampai copot" tanya Melia dengan nada malas.
Tuk
Dimas menyentil kening Melia dengan lembut. "Omongan nya di jaga" tegur Dimas dengan perlakuan yang manis.
Melia kembali mengerucutkan dan membiarkan tangan nya di pegang oleh Dimas.
Udah mau nikah sama cewek lain, tapi berani pegang-pegang aku, nanti di kira perebut suami orang gimana? Mau taruh dimana muka ku yang cantik ini.
Tak sadar Melia dengan pergelangan tangan nya yang awalnya polos tanpa perhiasan kini ada sebuah gelang emas dengan buah berbentuk hati.
"Cantik" puji Dimas terus menatap lekat pergelangan tangan Melia lalu menatap wajah Melia yang nampak tersipu.
"Gelang nya emang cantik. Mau beliin buat ku kah?" sahut Melia dengan ngelantur, ia tak benar-benar ingin dibelikan, di tambah ia tak terlalu suka aksesoris yang terlalu mencolok di tangan nya.
"Iya, di pakai terus aja" Dimas tak main-main dalam bertindak, ia segera mengatakan pada Pramuniaga.
Melia melongo menatap Dimas. "Becanda doang tadi Kak, ini balikin aja" ucap Melia hendak melepas gelang itu.
"Jangan di lepas, atau ku belikan yang lain lagi" ancam Dimas membuat Melia terdiam lalu menatap ke arah gelang yang terpasang di tangan nya.
"Jangan terlalu baik sama aku Kak, aku nggak mau culik kamu di acara pernikahan mu nanti" lirih Melia tak dapat di dengar oleh Dimas karena Dimas sedang mengobrol dengan Pramuniaga perihal pembayaran.
"Habis ini makan ya Kak, lapar" ujar Melia sebelum melangkah keluar dari toko emas, ia sudah bosan.
Karena Melia yang menjauh, Dimas pun sejenak menatap ke arah etalase yang banyak pernak-pernik berbahan emas.
"Cincin yang ini juga ya tambah ke pembelian" cetus Dimas menunjuk ke arah cincin pasangan yang ada liontin di atas nya.
Ia harus siaga, siapa tau setelah Melia mengetahui kalau ia yang menjadi calon istri nya Melia malah protes dan Dimas harus siaga lebih dulu.
...****************...
"Kenapa nggak makan di restoran nya aja?" tanya Dimas melirik ke arah Melia yang memeluk paperbag makanan dari restoran favorit nya.
"Males, mau makan di kamar" jawab Melia dengan senyum sumringah.
Dimas terkekeh kecil. "Matcha selalu jadi minuman yang wajib di beli ya?" tanya Dimas, ia ingat Melia tadi memesan dua botol matcha untuk di bawa pulang.
Melia mengangguk di sertai senyuman. "Biar matcha ku depan cerah" jawab Melia masih tersenyum lebar.
"Tapi kan matcha pahit, rasa rumput" sahut Dimas membuat senyuman Melia luntur dan menatap nya sebal.
"Nggak usah berkomentar, nggak nerima kritik! Kakak suka americano juga bukan urusan ku, kenapa sewot" oceh Melia yang tak suka jika minuman kesukaan nya di ejek.
Dimas menaikkan alis nya sebelah. "Tau darimana Kakak suka americano?" tanya Dimas sesekali melirik Melia yang nampak berpikir.
Alamak! Jawab apa ini, kalau aku jujur sering ngeliat dia minum di teras sendirian pasti dia kegeeran, kalau aku bohong.. Gimana jelasin nya
"Lia! Jangan melamun hey" tegur Dimas yang sejak tadi terus memanggil nama nya Melia.
Melia tersentak dan menatap ke arah Dimas sekilas, kemudian menatap ke arah jalanan.
"Nggak, aku nggak melamun" ucap nya agar Dimas tak memperhatikan nya lagi. Dimas menghela napas pelan.
"Lain kali, ajakin Kakak makan di restoran itu, dan ajarin buat bersahabat sama matcha" cetus Dimas saat di lampu merah.
Melia mengangguk dan berusaha untuk tidak menatap mata Dimas yang sedang menatap nya lekat.
"Kamu.. Nggak mau tau siapa calon istri Kakak?" tanya Dimas dengan suara berbisik.
Melia melirik sekilas ke arah Dimas, ia bingung. Penasaran tapi rasa nya tak kuat bila sudah mengetahui nama atau orang yang bersanding dengan Dimas, orang yang akan menemani Dimas di masa depan.
Tiiiin
"Eh Kak udah lampu hijau" ujar Melia tersadar karena ada yang membunyikan klakson di belakang dengan tak sabaran.
Dimas menghela napas kesal lalu melajukan mobil nya agar pengemudi yang di belakang tidak membuat masalah.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭