Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tatapan Jake Giordino
Mata Shasha mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya hangat namun asing di indra penglihatannya. Ia merasakan pening yang luar biasa menghujam kepalanya. Dengan gerakan lemah, ia bangkit dan duduk di atas ranjang yang terasa begitu empuk, kontras dengan kasur lantai tipis di kamar kosnya yang sederhana.
Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai jelas, menyapu sekeliling kamar yang luas dan didominasi furnitur mewah.
Ingatan pahit mulai berputar di benaknya seperti potongan film rusak. Mulai dari janji bertemu dengan Bima di depan kafe, aroma menyengat dari kain hitam, dan kegelapan yang menjemputnya. Seketika, rasa takut pun merayapi dadanya.
“Di mana aku?” bisiknya dengan suara serak.
Sadar dirinya sedang berada dalam bahaya, Shasha langsung melompat turun dari ranjang. Kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin saat ia berlari menuju pintu besar di ujung ruangan. Dengan tangan gemetar, ia memutar gagang pintu, namun benda itu tidak bergeming.
“Tolong! Siapapun di luar sana, tolong aku!” teriaknya histeris sambil memukul-mukul permukaan pintu yang kokoh itu berulang kali, “Buka pintunya! Siapa kalian?! Lepaskan aku!”
Di tengah kepanikan itu, suara langkah kaki yang tenang terdengar dari balik pintu, perlahan namun semakin mendekat.
Shasha mundur beberapa langkah dengan napas yang memburu kala mendengar suara kunci pintu diputar dari luar. Kelegaan kecil sempat terlintas karena ia memiliki kesempatan untuk keluar, namun rasa waspada yang jauh lebih besar segera mendominasi pikirannya. Dengan panik, ia kembali menyapu pandangan ke seluruh sudut kamar mewah itu untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk perlindungan diri.
Matanya akhirnya tertuju pada sebuah vas bunga keramik yang bertengger di atas meja. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke sana, mengeluarkan bunga-bunga imitasi di dalamnya, dan menggenggam vas itu kuat-kuat. Ia kemudian bersembunyi di balik pintu yang terbuka ke arah dalam, menjadikan daun pintu sebagai tameng sementara. Rencananya sederhana, yaitu begitu orang itu masuk, ia akan menghantamkan vas tersebut, lalu lari secepat mungkin dari tempat ini.
Ceklek
Pintu terbuka perlahan, membawa hembusan udara dingin dari lorong luar yang luas. Shasha menelan ludah dengan susah payah, cengkeramannya pada vas keramik itu juga semakin mengerat.
Dari celah tempatnya berdiri, ia bisa melihat bayangan seorang pria tinggi berbadan atletis yang mengenakan kemeja hitam pekat melangkah masuk. Pria itu kini membelakanginya, menatap ke arah ranjang yang sudah kosong. Shasha bisa melihat kepalan tangan pria itu mengeras, seolah menunjukkan rasa tidak suka karena tangkapan miliknya tidak berada di tempat yang seharusnya.
Sambil terus berdoa dalam hati, Shasha memelankan langkahnya, mengangkat vas itu tinggi-tinggi, dan bersiap memukul bagian belakang kepala pria asing itu.
“Rasakan ini!” teriak Shasha sekuat tenaga sambil memejamkan mata rapat-rapat.
PRANG!
Suara pecahan keramik yang hancur bergema di seluruh ruangan. Potongan-potongan tajam berjatuhan ke lantai marmer, beberapa di antaranya bahkan mengenai kaki telanjang Shasha hingga menimbulkan luka gores kecil.
Dengan perasaan takut yang luar biasa, Shasha perlahan membuka matanya. Pandangan pertamanya jatuh pada serpihan vas yang hancur berkeping-keping di lantai, tepat di samping sepasang sepatu pantofel hitam mengkilat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa pria itu masih berdiri tegak di hadapannya tanpa goyah sedikit pun.
Shasha sontak mundur selangkah. Pandangannya perlahan naik, menyusuri kaki jenjang pria itu hingga akhirnya bertemu dengan sepasang bola mata berwarna kecokelatan yang menatapnya sangat tajam, seolah sedang menguliti jiwanya.
Gadis itu refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang hampir lolos. Pria itu sama sekali tidak terluka di bagian kepala. Rupanya, dengan refleks yang sangat cepat, ia telah menahan hantaman vas itu menggunakan punggung tangannya. Kini, cairan merah kental mulai merembes dari sela-sela jari pria itu, menetes perlahan ke lantai marmer yang putih bersih.
Pria itu, Jake Giordino, hanya diam, menatap darah di tangannya tanpa ekspresi, lalu kembali mengalihkan pandangan dinginnya ke arah Shasha yang menggigil ketakutan.
“Gadis bodoh,” desis Jake dengan suara tajam yang menggema di antara keheningan kamar.
Entah kenapa, bulu kuduk Shasha langsung menegak. Aura yang dipancarkan pria itu benar-benar menakutkan, seolah-olah Shasha sedang berdiri di depan seekor predator yang siap menerkam. Shasha menurunkan tangannya yang gemetar, menatap pria itu dengan ngeri.
“S-siapa k-kau?” tanyanya dengan suara gagap.
Jake menggerak-gerakkan tangan kirinya yang bersimbah darah secara santai, seolah luka sobek akibat vas tadi hanyalah luka ringan yang tidak berarti. Shasha yang memperhatikan darah itu menetes ke lantai justru merasa nyeri sendiri, namun ketakutannya jauh lebih besar daripada rasa empati.
Jake kembali menatap Shasha, lalu mulai melangkah maju mendekatinya. Shasha yang panik refleks ikut mundur, hingga punggungnya membentur dinding dingin di belakangnya. Jake berhenti tepat di depan gadis itu, menyisakan jarak hanya sejengkal. Ia mengamati setiap lekuk wajah Shasha dengan tatapan intens yang sulit diartikan.
“K-kau mau apa?” suara Shasha mencicit.
Jake menyeringai tipis, “Menurutmu?”
Merasa terhimpit, Shasha nekat mengangkat tangannya untuk menampar wajah tampan Jake, tapi dengan gerakan cekatan yang luar biasa, Jake menahan pergelangan tangan gadis itu di udara.
“Lepaskan aku!” Shasha memberontak sekuat tenaga, “Sebenarnya kau siapa?! Aku sama sekali tidak mengenalmu! Kenapa kau menculikku?!”
“Tidak ada alasan khusus,” jawab Jake singkat. Ia kemudian membenturkan tangan Shasha ke dinding dengan cukup keras hingga gadis itu merintih kesakitan. Ia menatap tajam ke dalam mata Shasha, “Anggap saja ini semua sebagai sebuah permainan.”
“Kau menculik orang hanya untuk permainan? Dasar bajingan!” umpat Shasha tepat di depan wajah Jake, amarahnya sesaat mengalahkan rasa takutnya.
Bukannya marah karena dihina, Jake justru menyeringai lebih lebar, “Menarik.”
Tanpa aba-aba, ia melepaskan tangan Shasha, lalu dengan cepat menyambar pinggang gadis itu dan menggendongnya seperti membawa karung beras. Shasha kembali memberontak, memukuli punggung Jake yang keras seperti batu.
“Lepaskan aku, bajingan! Lepaskan!”
Jake menghempaskan tubuh Shasha ke atas ranjang mewah yang empuk, “Semakin kau memberontak, semakin banyak juga penderitaan yang akan kau hadapi di sini.”
“Apa maksudmu?!” Shasha berusaha bangkit, namun Jake segera menundukkan tubuhnya, mengurung Shasha di antara kedua lengannya yang kokoh.
“Lebih baik kau tidak bertanya,” ancam Jake dengan nada rendah yang dingin, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa, ia melangkah keluar kamar dan mengunci pintunya dari luar.
Shasha segera turun dari ranjang, memukul pintu itu lagi sambil berteriak histeris, namun Jake sama sekali tidak menggubris.
Setelah suaranya habis, Shasha mencoba menenangkan diri dan mengamati kamar itu sekali lagi. Ia harus mencari jalan keluar lain. Pandangannya kemudian tertuju pada jendela yang tertutup tirai. Ia berlari ke arah sana, mengabaikan goresan kecil di kakinya yang mulai terasa perih. Saat tirai dibuka, ia mendapati jendela kaca itu tertutup rapat dan sangat tebal.
Di luar sana, ia hanya bisa melihat halaman luas yang hijau, dipenuhi pohon-pohon besar yang rimbun. Tempat itu tampak seperti di puncak bukit yang terisolasi.
“Sebenarnya tempat apa ini?” lirih Shasha. Tempat ini terasa begitu asing, sangat jauh dari keramaian kota yang biasanya ia tempati.
“Tasku,” ucapnya baru sadar. Ia harus menemukan ponselnya untuk meminta pertolongan. Shasha mengitari seluruh kamar, memeriksa kolong ranjang, nakas, hingga di bawah karpet, namun hasilnya nihil.
“Pasti pria itu yang menyembunyikannya,” ucapnya dengan nada kecewa yang mendalam. Ia pun terduduk lemas di tepi ranjang, “Aku harus bagaimana?”
Pikiran bahwa ia akan terus terperangkap di tempat asing ini membuat dunianya seolah runtuh. Seharusnya saat ini ia berada di kelas mengikuti perkuliahan, lalu pergi bekerja paruh waktu di kafe bersama Tomi. Kenapa ia harus mengalami kesialan ini? Bertemu dengan pria asing berwatak iblis yang menyekapnya tanpa alasan yang jelas.
Pandangannya akhirnya mulai kabur karena air mata yang tidak terbendung, dadanya terasa sesak oleh isakan yang tertahan. Kenapa hidupnya selalu dipenuhi cobaan yang begitu berat?