NovelToon NovelToon
Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Ketos / CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Ra za

Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 Kabar Buruk

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Pagi ini, Nayla telah bersiap untuk pulang ke rumahnya. Sudah pasti bersama Leon.

Sebelum mereka berangkat, Gaby menghampiri Nayla dan tersenyum hangat.

“Nayla, sampaikan salamku untuk ayahmu, ya. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan,” ucap Gaby tulus.

Nayla membalas dengan senyuman, “Terima kasih, Nyonya. Akan saya sampaikan.”

Leon sudah duduk di kursi rodanya. Nayla pun mulai mendorong kursi itu menuju mobil yang sudah menunggu di depan.

belum sempat mereka sampai ke mobil, suara dering ponsel dari dalam tas Nayla terdengar. Ia segera mengambilnya dan melihat layar ponsel. Nama bibinya tertera di sana.

“Siapa?” tanya Leon sambil menoleh ke arah Nayla.

“Bibi, Tuan,” jawab Nayla singkat. Ia sempat berpikir kenapa pagi-pagi sekali sang bibi sudah menelepon. Namun belum sempat ia menyimpulkan sesuatu, jantungnya tiba-tiba berdebar lebih kencang, seperti memberi isyarat bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Dengan ragu, Nayla mengangkat panggilan itu. “Hallo, Bi?”

Suara di seberang terdengar panik. Nayla diam, tubuhnya perlahan melemas. Tanpa sadar, tangannya yang memegang ponsel menurun pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, lalu air mata jatuh membasahi pipinya.

“...Ayah…” gumamnya nyaris tak terdengar.

Leon yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Nayla langsung panik. “Nay, ada apa? Katakan padaku…”

Dengan suara bergetar, Nayla menjawab, “Ayah… Tuan, ayah masuk rumah sakit…”

Leon langsung tersentak. “Apa? Rumah sakit? Ayo, kita harus ke sana sekarang juga!”

Dari depan pintu, Gaby yang masih berdiri menyaksikan semuanya langsung menghampiri mereka. “Kenapa? Ada apa dengan Nayla?”

Leon yang menjawab, “Ayah Nayla masuk rumah sakit ma.”

Gaby sontak panik. “Tunggu apa lagi? Cepat, kita berangkat sekarang!”

Mereka bertiga langsung masuk ke mobil yang sudah menunggu. Supir Leon segera melajukan kendaraan dengan kecepatan maksimal. Di sepanjang perjalanan, Nayla duduk dalam diam. Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia menatap lurus ke depan, berharap kabar buruk itu tidak menjadi akhir yang menakutkan.

Leon sesekali menoleh, tapi tak ingin memaksanya bicara. Ia tahu, Nayla sedang berperang dengan ketakutan dalam pikirannya.

Gaby yang duduk di samping Nayla menggenggam tangannya. “Nayla, tenangkan dirimu, sayang. Ayahmu pasti kuat. Jangan berpikiran macam-macam, ya…”

Nayla hanya mengangguk pelan, tak mampu berkata apa pun.

Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang ICU. Di depan ruangan itu, terlihat sosok yang sangat dikenali Nayla. Wajah perempuan itu tampak lesu, matanya sembab.

"Bibi!" seru Nayla, langsung menghampiri.

Mereka berpelukan erat. Tangis Nayla pecah dalam pelukan bibinya.

"Bibi, bagaimana keadaan ayah?" tanya Nayla dengan suara serak.

Sebelum sempat dijawab, seorang dokter keluar dari ruang ICU dan menghampiri mereka.

"Nayla..." sapa dokter itu pelan, jelas sudah mengenalnya.

"Dok, bagaimana keadaan Ayah saya?" tanya Nayla tanpa basa-basi, suaranya bergetar.

Dokter menarik napas panjang.

"Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi... kondisi beliau semakin memburuk. Penyakit gagal ginjalnya memasuki tahap kritis dan kini mengalami komplikasi. Meskipun selama ini sudah rutin menjalani pengobatan, tubuh beliau tidak merespon sebaik yang kami harapkan."

Nayla seperti kehilangan tenaga di kakinya, tubuhnya limbung. Ia berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan.

"K-kritis? Dok... ayah saya akan selamat, kan?"

Dokter menatapnya dalam, tidak memberi harapan palsu.

"Kami sedang melakukan semua yang kami bisa, Nayla. Tapi... kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Gaby dengan sigap memeluk Nayla dari samping, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

"Kamu tidak sendiri, Nay. Kami semua ada di sini untukmu," bisiknya lembut, penuh ketulusan.

Leon yang tak bisa bergerak dari kursinya, hanya bisa mengepalkan tangan dan menatap dokter.

"Dok, lakukan apapun yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Ayah Nayla… tolong lakukan. Saya akan bantu semua biayanya."

Dokter mengangguk,

"Baik, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."

Setelah itu dokter kembali masuk ke ruang ICU, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyesakkan.

Nayla masih menangis dalam pelukan Gaby, sementara Leon menatap ke arah pintu ICU dengan sorot mata penuh tekad. Ia tahu betul, ini bukan hanya tentang kesehatan Ayah Nayla, ini juga tentang perjuangan Nayla, wanita yang kini sangat berarti dalam hidupnya.

Nayla masih setia duduk di bangku tunggu, tak bergeming sejak siang tadi. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ia tetap bertahan. Ia tak ingin jauh dari ayahnya, seolah kehadirannya di sini bisa menjaga harapan tetap menyala.

Leon duduk tak jauh darinya. Pria itu menemaninya tanpa banyak bicara, hanya sesekali menatap Nayla dengan tatapan penuh perhatian. Padahal Nayla sudah beberapa kali memintanya untuk pulang dan beristirahat.

“Tuan… ini sudah malam. Pulanglah, nanti Tuan kelelahan,” ucap Nayla lirih, suaranya lemah tapi tetap sopan.

Leon menoleh pelan, senyumnya tipis namun tulus. “Tidak apa-apa, Nayla. Aku akan tetap di sini menemanimu.”

Nayla tak membalas. Ia hanya mengangguk kecil. Baginya, keberadaan Leon memang sangat berarti. Meski diam, pria itu seakan menjadi sandaran di tengah badai yang sedang ia hadapi.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rafa muncul sambil membawa paperbag berisi makanan dan pakaian. Ia menghampiri Leon dan Nayla dengan langkah tenang.

“leon, ini makanan dan pakaian yang kau minta,” ujar Rafa, menyerahkan bungkusan itu.

Leon menerima dengan anggukan singkat. “Terima kasih, Rafa.”

“Sama-sama.” Rafa melirik ke arah Nayla yang tampak lelah. “Apa aku boleh tetap di sini,? Kalau kalian butuh sesuatu, aku bisa bantu.”

Leon menggeleng pelan. “Tidak perlu, Rafa. Pulang saja. Besok pagi kau harus ke kantor.”

Rafa mengangguk. “Kalau begitu, baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, segera hubungi aku!.”

Sebelum pergi, Rafa menghampiri Nayla dan menepuk bahunya dengan lembut. “Kuat ya, Nayla. Kami semua mendoakan Ayahmu.”

“Terima kasih, kak Rafa…” ucap Nayla pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Setelah Rafa pergi, ruang itu kembali sepi. Hanya suara detak jam dan dengung AC yang terdengar.

Leon membuka bungkus makanan yang dibawa Rafa. Ia menata makanan di meja kecil, lalu mendekatkan ke arah Nayla.

“Nayla, ayo makan. Dari pagi kau belum makan apa-apa.”

Nayla menggeleng lemah. “Saya tidak lapar, Tuan.”

Leon menarik napas sabar. “Kamu harus makan, Nayla. Walaupun sedikit. Kalau kamu sampai sakit, bagaimana ayahmu? Siapa yang akan menjaganya?”

Kata-kata Leon menampar kesadaran Nayla. Ia menunduk, menggenggam jemarinya sendiri yang dingin.

“Benar yang Tuan katakan… aku tidak boleh lemah seperti ini.” batinnya lirih.

“Baiklah…” jawab Nayla akhirnya.

Leon tersenyum dan mulai menyuapi Nayla perlahan. Mereka makan dalam diam, tapi suasana tak lagi seberat sebelumnya. Ada sedikit kehangatan di tengah dinginnya malam.

Tak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk bersama seorang pria berpenampilan sederhana tapi rapi. Itu adalah Bibi Nayla dan suaminya, yang baru datang dari luar kota.

“Nayla, kamu sudah makan, Nak?” tanya sang Bibi lembut sambil mendekat dan menyentuh bahu Nayla.

“Sudah, Bi. Baru saja selesai,” jawab Nayla dengan suara yang mulai pulih sedikit demi sedikit.

Sementara itu, Leon menjabat tangan suami bibi Nayla.

“Saya Leon,” ucapnya sopan.

“Saya Romi, pamannya Nayla. Terima kasih sudah menemani keponakan saya.” Ucapan itu tulus, dan diiringi tatapan hormat.

“Tidak masalah, Paman. Saya senang bisa berada di sini untuk Nayla,” balas Leon.

“Nak Leon, kamu tidak pulang?” tanya sang Bibi.

Leon menggeleng. “Tidak, Bi. Saya akan tetap di sini menemani Nayla.”

Bibi Nayla hanya mengangguk kecil dan tersenyum, tampak terharu melihat perhatian pria itu.

Beberapa menit kemudian, dokter masuk ke ruangan. Semua mata langsung tertuju padanya.

“Maaf, kami hanya ingin melakukan pemeriksaan rutin. Kondisi ayah mu masih belum menunjukkan perubahan signifikan. Namun, kami terus memantau ketat dan melakukan penanganan terbaik.” kata dokter sambil menatap Nayla

Nayla menggenggam tangan Leon erat saat mendengar kabar itu. Ia merasa tubuhnya lemas, tapi tak ingin terlihat rapuh.

Setelah prosedur kebersihan dan sterilisasi selesai, Nayla diizinkan masuk ke ruang ICU dengan mengenakan alat pelindung. Ia berjalan perlahan menuju ranjang tempat ayahnya terbaring lemah, wajahnya pucat, dipenuhi selang dan alat medis.

“...Ayah…” panggilnya pelan.

Ia duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang dingin.

“Ayah harus sembuh… aku tidak mau kehilangan Ayah…”

Tak banyak kata yang bisa ia ucapkan. Hanya air mata yang terus mengalir, membasahi wajahnya. Dadanya sesak, seolah ada beban besar yang menekan dari segala arah. Tapi ia tetap menggenggam tangan ayahnya erat, seakan dari sentuhan itu ia bisa mentransfer semua harapannya.

Dari balik kaca, Leon memperhatikan semua itu. Hatinya ikut terhimpit, melihat gadis yang begitu kuat itu menangis. Ia berjanji dalam hati, akan melakukan apapun untuk mendukung Nayla melewati semua ini.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
oramg yg pernah jatuh cinta atau memiliki perasaan pd lawan jenis ebtah suka, kagum atau cinta..dan ketika seseorng pernah jatuh cinta pasti akan tau gimana rasanya bukan malah memberikan pernyataan dengan pertanyaaan yg mengherankan diri sendiri seolah" gak pernah jatuh cinta😌
Nur Syamsi
Yuni jgn jadi ulat bulu PDA keluarga orang, baik Tia maupun Nayla mrk ini adalah wanita tulus yg dinikahi oleh pria yg mapan ., makanya jgn macam macam Yuni mas dah" an kamu jga dpat pria yg tulus mencintaimu ..
Nur Syamsi
Siapa ya apcobu tiri Tia kali ya
Nur Syamsi
Betul Tia memaafkan seseorang itu mudah tp melupakannya yg sulit 🙏🙏🙏
Nur Syamsi
Wah kabar baik ni Tianya Rafa, mungkar n Hamidun dianya
Nur Syamsi
Woi wanita ambisius yg Tdk mau dengar nasehat kamu akan tunai apa yg kamu tabur
Erna setiani
cieee Rafa
hary as syifa
Bener2 sampai akhir ceritaku diplagiat ya kak. Novel aslinya ada di apk sebelah judulnya Pesona Perawat Tuan Abraham.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎
Zani: maaf kak, kak bilang plagiat sampai akhir. apakah semuanya sama?apakah cerita dengan topik yang sama itu plagiat. Saya baca beberapa cerita novel juga banyak kesamaan. tapi bukan berarti itu plagiat.🙏
total 1 replies
Imelda Mell Lele
karya yg bagus author..aq suka..teruskan berkarya seperti ini ya..
Nur Syamsi
Bagus Tia, itu hanya wanita ular yg taunya hanya ingin ganggu kesenangan orang....
Nur Syamsi
Jgn gila Rafa dihalalin sja tu Tianya
Munawaroh Ag
ini Certa plagiat kah kok sama cerita nya sama di apk faizo
Sastri Dalila
👍👍👍
Nur Syamsi
Cepat Rafa kasian Tianya
Erna setiani
cieee cieeee Pengantin baru
Erna setiani
kamu yang mempermalukan diri sendiri Clarisa, dasar gak punya malu
Nur Syamsi
Bawa ke apartemenku Rafa nanti disana baru tunggu penjelasan setelah Redah tangisnya, kasian Tia Rafa menanggung beban...berat dr ibu dan saudara tirinya
Nur Syamsi
Dasar Davin pria serakah
Nur Syamsi
Syang Ada yg maha kuasa yg melihat kelakuan hambahnya Tdk ada kejahatan yg pernah menang tp biasanya akan berbalik PD yg oran merencanakan kejahatan itu .
Nur Syamsi
Dasar pebonor,,,,pengganggu ulatvjantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!