NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Ingkar Janji?

Siang itu, jam menunjukkan pukul 13.23 saat Harsa selaku Jaksa Penuntut Umum bersama Panietra, Jurusita, Penasihat hukum serta Para masyarakat umum yang siap menyaksikan sidang tengah berdiri memberi penghormatan kala Hakim Ketua Majelis dan jajarannya memasuki ruangan.

“Hadirin dipersilahkan duduk kembali!” Suara itu mengintruksi, membuat semua orang kembali duduk.

Ruangan sidang seketika senyap. Seakan berubah tegang kala persidangan akan berlangsung, apalagi ketika bunyi 'bip' saat mikrofon Hakim Ketua dinyalakan, tanda proses sidang akan segera dimulai.

“Sidang perkara pidana Nomor 304/Pid.B/2025/PN Jkt.Utr. Atas nama Terdakwa, Arsal Ibrahim, dilanjutkan kembali.” Hakim Ketua yang seorang wanita berjilbab usia sekitar 50-an itu mengetuk palu sebanyak tiga kali, tanda bahwa sidang telah resmi dibuka dan berlangsung.

“Dengan agenda hari ini adalah pembacaan surat tuntutan pidana oleh Jaksa Penuntut Umum. Tolong, hadirkan Terdakwa ke ruang sidang!” perintahnya yang mana setelahnya dua orang petugas masuk membawa laki-laki duduk kursu dengan keterangan ’Terdakwa'.

"Jaksa Penuntut Umum, apakah saudara sudah siap dengan surat tuntutan saudara?" tanya Hakim ketua dengan menoleh menatap Harsa yang sudah siap dengan berkas dan laptop yang menyala di depannya.

Harsa lantas berdiri, ia menundukkan kepala memberi hormat sebelum akhirnya menjawab. "Majelis Hakim yang terhormat, Penasihat Hukum, dan Saudara Terdakwa. Kami telah siap dengan surat tuntutan kami. Mohon izin untuk membacakannya,” ujar Harsa dengan tatapan menatap secara bergantian tiap yang disebut.

"Silakan dibacakan." Hakim Ketua Majelis mempersilahkan, tak lupa dengan gerak tangan mengisyaratkan.

Harsa pun mulai membacakan bagian akhir atau petitum surat tuntutan yang ia pegang.

"Berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan, alat bukti yang sah, serta analisis yuridis yang telah kami uraikan dalam surat tuntutan ini. Saya, selaku Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini berpendapat bahwa perbuatan Terdakwa, Arsal Ibrahim. Telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'Pencurian dengan Pemberatan' sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat 1 ke-3 KUHP juncto. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, sesuai dengan surat dakwaan kami."

Tiap kalimat yang Harsa ucapkan sangat jelas pelafalan dan intonasinya, bahkan setiap jeda napas dan sela tatapan ketika ia menatap Hakim Ketua dan Terdakwa secara bergantian membuat ia terlihat sangat tenang dan berwibawa.

"Oleh karena itu, kami menuntut Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang memeriksa dan mengadili perkara ini, untuk memutuskan:"

“Menyatakan terdakwa Arsal Ibrahim bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan.”

“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Arsal Ibrahim dengan pidana penjara selama tiga tahun dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan sementara, dengan perintah Terdakwa tetap ditahan.”

“Ada pun barang bukti berupa satu unit sepeda motor Yamaha Aerox, warna abu metalic, dikembalikan kepada saksi korban, Heru Pratama.”

“Serta satu buah kunci T, dirampas untuk dimusnahkan. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp15.000,00.”

"Demikianlah surat tuntutan pidana ini saya bacakan dan serahkan dalam sidang yang mulia ini. Atas perkenan Majelis Hakim, saya ucapkan terima kasih." Harsa kembali menunduk setelah selesai membacakan tuntutan lalu kembali duduk di kursinya.

"Jaksa Penuntut Umum telah selesai membacakan surat tuntutan pidananya. Selanjutnya, kami berikan kesempatan kepada Terdakwa atau Penasihat Hukumnya untuk mengajukan pledoi atau nota pembelaan.”

“ Apakah Saudara akan mengajukan pembelaan secara lisan atau tertulis?" Hakim melayangkan tanya, kemudian persidangan pun terus berlanjut hingga selesai dengan putusan hakim yang akan dilanjutkannya sidang kembali minggu depan.

Dan setelah sidang selesai, Harsa juga terlihat ke luar gedung pengadilan menuju mobilnya di parkiran. Berhubung karena ia sama sekali belum makan siang pria itu berniat untuk mengisi perut terlebih dahulu baru setelahnya ia akan kembali ke gedung Kejaksaan di mana kantornya berada. Ada banyak dokumen yang perlu diselesaikan pasca-sidang seperti berita acara, laporan hasil sidang, juga tugas administratif dan persiapan kasus lainnya yang menunggu untuk diselesaikan.

Namun, saat baru hendak membuka mobil, Harsa dicegah oleh seseorang.

“Pak Jaksa, tunggu sebentar!" ujar orang itu dengan setengah berlari ke arahnya.

Harsa menyerngit melihat laki-laki dengan stelan jas beserta airpods di telinganya, ia tampak familiar tapi Harsa lupa pernah bertemu di mana.

“Bisa bicara sebentar?”

Dan ya, kini ia ingat pernah bertemu di mana dengan pria ini–tepatnya kemarin sore, sehari sebelum sidang pemeriksaan berkas kasus pidana pembunuhan yang sepertinya adalah kasus kejahatan yang ia indikasikan ada kasus lain di dalamnya dan semua itu saling berkaitan.

Hal yang membuat ia pagi tadi tiba-tiba sekali melarang Anin untuk bepergian sendiri karena memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada istri dan anaknya–sebab ia telah menolak misi besar yang kemungkinan bisa saja membahayakan dirinya bahkan keluarga kecilnya, sebagaimana yang terjadi sudah-sudah. Orang yang berusaha menegakkan keadilan dan tetap berada di jalan yang benar kerap menjadi incaran bahaya demi melindungi dan menutupi sebuah kejahatan yang sudah seharusnya diungkap dan diadili.

“Jika pak Harsa bisa bekerja sama untuk mempersingkat kasus ini sebagaimana berkas tuntutan yang sudah kami persiapkan di sini ... Kami akan memberikan imbalan yang besar untuk anda.” Demikian tawaran mengintimidasi yang dilakukan laki-laki ini kemarin dan dua lainnya yang sangat jelas memperingatkan sekaligus membujuknya agar mau berada di satu kubu.

Membuatnya hanya bisa terkekeh sekaligus geleng-geleng kepala. Demikianlah praktik kolusi kotor yang kerap kali terjadi di negeri tercinta ini, tak heran banyak keadilan di luar sana yang bisa dibeli dan dimanipulasi. Menempatkan hal paling menguntungkan pada mereka yang ber-uang. Namun, ia jelas bukan tipe seperti itu. Sepanjang karir menjadi Jaksa, ia sudah banyak menyelam pahit-asamnya dunia kotor dalam hukum. Meski tak selamanya menang, karena jelas ada bagian lagi yang kerap terlibat memanipulasi, tapi setidaknya ia telah berusaha dan tetap berada di jalan yang benar. Ya, meski kerap dibuat lumpuh tak berdaya, tapi ia senang karena masih berada di jalan yang benar.

“Sampai kapanpun saya tidak akan mau melakukan hal kotor seperti ini. Walau mungkin harus bertaruh nyawa untuk itu!” Dengan tegas ia menyerukan penolakan, meski bisa saja ia dilenyapkan mereka saat itu juga tapi Harsa tetap tidak gentar.

Kalimat memprovokasinya jelas membuat kedua orang yang kaki tangan ini geram dengan kepongahnya.

“Dia menolak, Pak!” Lapor salah satu di antara mereka melalui airpods yang ada di telinga.

“Baik! Kalau itu keputusan anda, terserah.”

“Setidaknya kami sudah menawarkan kerjasama yang menguntungkan. Toh, hasilnya akan tetap sesuai keinginan kami.” Begitu para pria itu berkata sebelum akhirnya pergi.

Harsa tersenyum getir, ia sudah lama lalang melintang di dunia yang mana hukum kadang dimanipulasi sesuai kebutuhan. Seandainya ia mau dan berjiwa koruptor, mungkin sudah sejak lama Harsa jadi sultan karena ketiban uang sogokan. Namun, ia masih memiliki hati nurani yang membuatnya tetap berada di jalan yang benar meski tak bisa berbuat banyak, karena nyalinya tak sebesar itu menghadapi kejahatan besar.

Dan sekarang, ia kembali di datangi. Sebegitu berpengaruhnya kah ia sehingga mereka sangat ketakutan? Harsa curiga, pembunuhan ini jelas hanya sebuah kasus kecil yang digunakan untuk menutupi kasus lain yang mungkin lebih besar. Ah, sepertinya menarik.

“Seberapa banyak yang anda tau?”

“Tuntutan yang anda lampirkan jelas adalah bukti yang tidak ada seorang pun yang tau.” Kedua orang ini tampak panik, ditambah mungkin mereka sudah diomeli oleh utusan tertingginya.

Hal itu membuat ingatan Harsa tertuju pada kejadian malam tadi, saat ia dengan rekannya pergi ke TKP demi untuk mencari sesuatu. Namun, apa yang mereka lihat sungguh membuat tercengang–ada orang lain yang di coba untuk dilenyapkan dan ternyata dia adalah orang yang akan menjadi saksi dalam kasus yang ia tangani. Siapa pun pelakunya, mereka jelas mengharapkan saksi lenyap agar jejaknya bersih sempurna. Karena pada kenyataannya taka da kejahatan yang benar-benar sempurna.

“Apa pun yang anda tahu, kami harap itu tak mempersulit jalan kami agar jalan anda pun tak kami persulit!”

Itu jelas sebuah ancaman.

.

.

.

Harsa: Kalian di mana? Ajak gue kumpul dong.

Begitu isi chat yang Harsa kirim pada grup chat berisi empat orang terdekatnya yang dua diantaranya sudah berkeluarga–termasuk ia sendiri, sementara dua lainnya masih sibuk menjelajah dunia dengan bebas–katanya enggan terikat pada hubungan yang mengekang. Ribet katanya.

Dan seketika grup chat yang sudah cukup lama hiatus semenjak kedua bapak-bapak alias si suami-suami takut istri itu enggan bermasalah karena takut istri murka–selain itu, mereka juga takut Tuhan murka sih sebenarnya.

  The Conquerors:

Gilang: Lah, kesambet apa lu, Sa?

Antoni: Sini Sa, mumpung gue lagi di Klub, banyak yang seger-seger nih.

Brama: Seriusan, tiba-tiba banget? Seorang Harsa?

Brama: Ada masalah?

Harsa: Otw

Dan beberapa waktu setelah grup chat itu dibuat ramai oleh Harsa, kini di sinilah mereka semua sekarang. Berkumpul di Klub–duduk di depan meja bar dengan semua mata tertuju pada Harsa penuh selidik, memusatkan perhatian pada sosok yang membuat mereka berkumpul, termasuk Brama yang terpaksa pergi meski tanpa izin istrinya.

“Lu ada masalah?” tebak Brama yang paling peka. Sebagai seorang yang sudah berkeluarga, ia jelas paham betul dan bisa menebak apa yang terjadi pada sohibnya ini.

“Udah lama banget gak kumpul, sekalinya kumpul muka lu kusut banget kek pakaian lepek. ” Kali ini Gilang yang berceletuk. Pria dengan selera humor paling tinggi di antara mereka semua itu jelas jadi yang paling bisa mencairkan suasana.

“Mau gue pesenin cewek, gak? Atau mau bungkus, tinggal pilih aja!” Sementara yang satu ini, si Antoni. Ia adalah anomali di antara mereka semua. Paling brengsek, si penjelajah kelamin yang berburu wanita di setiap kesempatan.

Ya, persahabatan mereka terasa sangat lengkap dengan berbagai karakter berbeda. Ada Harsa yang paling pendiam, tenang tapi mudah tersulut emosi. Ada Brama yang dewasa, bersahaja dan paling bijak–bisa dibilang ia adalah sosok mentor sekaligus leader diantara mereka. Sementara Gilang, dia yang paling konyol, meski demikian ia adalah sosok yang jenius. Mereka semua telah berteman bertahun-tahun, walau tak langsung utuh seperti sekarang, dan yang membawa Harsa bertemu Brama dan Antoni adalah Gilang.

“Gak usah ngadi-ngadi lu, Ton. Lu mau Harsa perang dunia lagi sama bininya?” sela Gilang yang sebisa mungkin cari aman. Tak ingin Harsa kena masalah seperti sebelumnya saat mereka kumpul dan Harsa malah mabuk karena ada masalah.

Membuat Antoni memutar mata malas, jengah dengan alasan demikian. Hal ribet yang enggan membuatnya terikat pada suatu hubungan–ia tak suka dikekang dan dilarang.

“Ya, terus kalau gak mau, ngapain ke sini, kocak?”

“Di sini ya tempat hiburan.”

“Atau lu mau minum?”

.

.

.

Malam semakin larut dan Anin kian di landa carut marut. Ia telah uring-uringan tak jelas sejak sore setelah ia dan Zura sudah siap menanti kepulangan Harsa yang katanya akan menemani belanja bulanan, dan katanya ia jelas tak akan lupa. Namun, apa namanya ini? Laki-laki itu ingkar janji.

Anin memberenggut kesal. Kini jam sudah menunjukkan pukul 12.21, Zura pun sudah tidur. Namun, suaminya tak kunjung pulang. Ia sudah mencoba menghubungi tapi ponsel Harsa tak lagi aktif sejak malam menjelang.

Suami Siapa Ini?: Tunggu bentar ya, ini udah otw pulang.

Begitu pesan yang Harsa kirim tepat pukul 17.20 tadi. Otw dari mana ke mana yang Harsa maksud hingga memakan waktu selama itu? Sampai sekarang tak juga sampai.

Anin kesal. Ini bukan pertama kali ia kecewa lantaran Harsa ingkar setelah menjanjikan suatu hal. Namun, masalahnya bukan hanya itu. Suaminya yang tak bisa dihubungi membuat Anin khawatir setengah mati. Rasa kesal yang tadi menjerat seketika berubah jadi kekhawatiran tak terbendung.

Kamu di mana sih, Mas?

Memikirkan Harsa di mana, Ia sedang apa? Dan apakah ia baik-baik saja atau justru terjerat musalah?

Sungguh Anin tak kuasa memikirkan semua. Ia masih mondar-mandir di kamar sambil memastikan agar Zura tetap terlelap, sebab ia selalu merasa was-was, takut jika anaknya kembali rewel sementara Harsa tak kunjung pulang. Ia seperti trauma menghadapi situasi saat harus menghadapi Zura dalam tantrum dan jeritan tangis.

“Harusnya kamu ngabarin, biar aku gak nungguin. Biar kita yang di rumah gak perlu kuatir, tau!” omel Anin kesal. Ia meluapkan marah seakan-akan Harsa berada di depannya.

Dan tepat saat air matanya menetes, suara klakson dari bawah membuat Anin segera berlari. Ia ke luar kamar, menuruni tangga dan menyusuri lantai bawah dengan sangat tergesa-gesa.

Ting dong, ting dong...

Tok Tok tok...

Suara bell dan ketukan bersahutan secara bergantian. Hingga membuatnya mempercepat langkah untuk segera membuka pintu.

Namun, betapa terkejutnya ia melihat sosok suaminya pulang dengan kondisi demikian.

“Mas?” lirih Anin bersamaan dengan air mata yang menetes.

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!