NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 : Interogasi pertama

Suara ketikan jari memburu, tombol-tombol keyboard ditekan tanpa jeda. Di hadapan mereka, layar besar menampilkan puluhan rekaman dari berbagai sudut rumah sakit. Sorot kamera berganti cepat, membuat suasana ruangan terasa tegang. Alexander berdiri tegak di belakang staf pengawas CCTV, kedua asistennya berada di sisi kanan dan kiri, sama-sama menahan napas saat waktu rekaman diputar mundur ke malam kematian dokter Mily.

Jarum jam di layar menunjuk pukul 00:20. Dalam rekaman itu, terlihat dokter Mily melangkah keluar dari ruangan dengan papan nama Konsultasi Psikologis. Pandangan salah seorang asisten langsung beralih pada Alexander, raut wajahnya penuh kebingungan.

“Tuan Reed…” bisiknya lirih, cukup untuk memancing perhatian.

Alexander menoleh, namun sang asisten tidak bicara lagi. Ia hanya memberi isyarat dengan mata, menunjuk ke salah satu kotak rekaman di layar.

Tak lama, rekaman lain memperlihatkan dokter Mily menuju lantai tujuh, tepat di area IGD. Kamera menangkapnya sedang berbicara dengan seorang petugas cleaning service yang mendorong troli. Gerakan bibirnya cepat, tatapan matanya keras—terlihat seperti ancaman.

“Apakah mereka bertengkar?” suara salah satu asisten terdengar tegang, nyaris berbisik.

Staf pengawas CCTV yang sejak tadi fokus, menoleh sambil menjawab datar, “Dokter Mily memang sering berkonflik dengan beberapa karyawan.”

Tatapan tiga pria itu serentak mengarah padanya.

“Kenapa?” tanya salah satu asisten, nadanya penuh curiga.

“Alasan pribadi, mungkin. Sistem ini hanya merekam gambar, bukan suara. Tapi beberapa kali, saya sendiri melihat dokter Mily bersitegang dengan orang-orang berbeda.”

“Perlihatkan padaku,” perintah Alexander tajam. Suaranya menusuk udara, membuat ruangan semakin mencekam.

Ia menoleh ke samping, menyenggol lengan asistennya. “Keluarkan foto itu..”

Asisten mengangguk cepat, meraih gambar yang mereka bawa. Sementara itu, staf kembali membuka arsip rekaman, menayangkan potongan-potongan saat dokter Mily berselisih dengan beberapa orang.

Alexander mendekatkan foto itu ke layar, matanya bergerak bolak-balik, meneliti setiap detail. Pandangannya berpindah dari wajah di foto, lalu kembali ke rekaman, mencocokkan satu per satu orang yang sempat terlibat pertikaian dengan dokter Mily.

“Bagaimana, Tuan… apakah cocok?” salah seorang asisten bertanya dengan suara hati-hati.

“Cocok,” jawab Alexander singkat, tatapannya tak lepas dari layar sebelum akhirnya menoleh ke petugas. “Kita pergi.”

Langkah kakinya terdengar mantap saat keluar dari ruangan, diikuti kedua asistennya. Gerakannya lebih cepat dari biasanya, sorot matanya tajam, penuh tekad.

“Tuan Reed, apakah kita langsung mencari orang-orang itu?” tanya asisten lain dengan nada ragu.

“Ya. Siapkan catatan dan rekaman, kita lakukan interogasi segera.” perintahnya tegas.

“Baik, Tuan.”

Mereka melangkah menuju lantai tujuh, area IGD tempat lalu-lalang petugas kebersihan. Namun setibanya di sana, suasana jauh dari normal. Alarm meraung, tanda darurat kode biru baru saja diumumkan. Kekacauan memenuhi lorong.

Di tengah hiruk pikuk, Alexander berjalan santai bersama timnya. Belum sempat melewati koridor, tubuh mungil yang sudah terlalu akrab baginya kembali menabrak mereka.

Gadis itu terhuyung, hampir jatuh, namun segera menegakkan tubuh dengan wajah memerah malu. Senyum singkat terbit sebelum ia berlari lagi, menghilang ke keramaian.

Rahang Alexander mengeras, giginya bergemeletuk menahan amarah. Tiga kali dalam seminggu, gadis itu selalu saja muncul dengan cara yang sama. Namun kali ini ada kode biru, ia menahan diri.

“Tuan, apakah Anda akan memberinya hukuman?” tanya asisten dengan nada setengah menahan tawa, jelas menikmati situasi.

“Tentu. Aku akan memastikan dia menyesal sudah menabrakku berkali-kali,” balas Alexander dingin, seolah mengucapkan sebuah janji.

Namun amarahnya mereda seketika saat matanya menangkap sosok pria yang mendorong troli identik dengan yang terekam CCTV. Fokusnya bergeser, ia segera mendekati pria itu dengan langkah lebar.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” suaranya datar, tapi tatapannya menusuk, menuntut kepatuhan.

Petugas kebersihan itu menegang. Tangannya mencengkeram gagang troli lebih erat, napasnya bergetar. “A-ada perlu apa?” gumamnya gugup.

“Ayo pindah tempat.”

Alexander menggiringnya ke lorong sepi. Troli ditinggalkan begitu saja di tepi jalur. Kedua asisten mengikuti dari belakang, menjaga jarak.

Langkah mereka berakhir di sudut lorong yang hening. Alexander menyandarkan punggung pada dinding, tangan terlipat di dada, sorot matanya meneliti tiap gerak-gerik lawan bicaranya.

“Kau… mengenal dokter Mily?”

Pertanyaan itu menghantam telinga petugas. Wajahnya seketika pucat, mata membelalak, bibir gemetar ketika nama itu disebut.

“D-dokter Mily?”

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!