Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Malam puncak dan Tarikan magnet
Hari yang ditunggu-tunggu tiba: acara amal besar SMA Dirgantara, hasil kolaborasi panas antara ALVEGAR dan The Queens. Aula utama sekolah telah disulap menjadi ruang jamuan elegan, dipenuhi para donatur penting, media, dan tentu saja, siswa-siswi yang antusias.
💖 Momen Manis Danis dan Kinara
Di balik panggung, Kinara Putri Santosa terlihat gugup setengah mati. Ia ditugaskan menjadi penerima tamu penting, dan ia takut melakukan kesalahan.
"Aduh, Maura, gue takut salah sebut nama donatur. Gimana kalau gue kepeleset saat jalan?" bisik Kinara, memegang erat dress pastelnya.
Danis Putra Algifary muncul dari balik tirai. Ia terlihat sangat tampan dalam setelan jas rapi, auranya yang ramah langsung menenangkan suasana.
"Hei, Kinara, loe gak usah panik gitu," ujar Danis, suaranya lembut. "Loe udah latihan berkali-kali. Loe pasti bisa."
"Tapi... kaki gue gemetar, Kak Danis."
Danis tersenyum manis. Ia menunjuk sepatu Kinara. "Sepatu loe itu flat shoes, gak mungkin bikin loe kepeleset. Loe cuma perlu fokus sama senyum loe. Senyum loe itu manis banget, Kinara. Gak ada tamu yang bakal marah kalau yang menyambut semanis loe."
Kinara mendongak, wajahnya langsung merona merah padam. Pujian setulus itu dari Danis membuat semua kegugupannya menghilang seketika.
"Makasih, Kak Danis," bisik Kinara, menunduk malu.
"Sama-sama. Semangat ya. Gue tunggu loe di depan," kata Danis, lalu mengacak pelan rambut Kinara sebelum berjalan pergi, meninggalkan Kinara yang mematung dengan senyum lebar di wajahnya.
🔥 Pasangan Rusuh: Miko dan Fanila
Di area catering, Miko Ardiyanto sedang menyelinap untuk mencicipi makanan penutup.
"Gila, ini dessert kayaknya mahal banget. Loe harus coba, Sean!" bisik Miko pada Asean yang sedang berjaga.
Tiba-tiba, sebuah pukulan keras mendarat di bahu Miko. Fanila berdiri di belakangnya, galak seperti biasa.
"MIKO! Loe ngapain nyolong makanan?!" seru Fanila, suaranya tertahan agar tidak didengar tamu.
"Aduh, Nila! Gue cuma quality control! Takutnya ada racun! Loe mau tamu kita keracunan?!" Miko berdalih absurd.
"Gak usah ngeles! Loe itu tugasnya di lighting, bukan di sini! Cepat sana, lampu di panggung utama kurang terang!" perintah Fanila sambil mendorong Miko menjauh.
"Iya, iya! Loe ini galak banget, Anjir! Nanti cowok loe lari lho kalau loe galak terus!" balas Miko sambil berlari.
"Loe aja yang bakal gue lariin!" teriak Fanila.
Asean yang melihat adegan itu hanya menggeleng. "Loe gak capek ya, Nila, berantem mulu sama Miko?"
Fanila mendengus. "Dia yang nyari gara-gara. Tapi... dia yang bikin suasana gak sepi." Fanila lalu tersenyum tipis. "Gak tahu kenapa, gue lumayan terhibur sama keabsurdannya."
🧊 Pasangan Klasik: Rangga dan Yasmin
Yasmin berdiri anggun di sudut aula, mengenakan dress yang paling modis dan on point. Ia sesekali melirik Rangga Ananta Bumi yang berdiri tegap di samping Arazka. Rangga terlihat seperti patung hidup, sangat tampan, sangat dingin, dan sangat berkelas.
Yasmin memberanikan diri mendekat. "Rangga, tie loe... agak miring sedikit," ujar Yasmin pelan, menunjuk dasi Rangga.
Rangga menatapnya. Tatapan yang selalu dingin dan irit bicara. "Terima kasih," katanya singkat.
Yasmin ragu sejenak. "Umm... loe gak capek ya, berdiri kaku begitu? Loe kayak bodyguard Arazka."
Rangga sedikit tersenyum—senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun sukses membuat jantung Yasmin berdebar kencang.
"Ini tanggung jawab. Dan gue gak suka terlihat tidak sempurna di acara sepenting ini," jawab Rangga. "Loe terlihat bagus malam ini, Yasmin. Dress loe cocok."
Itu adalah pujian terpanjang dan terhangat yang pernah didengar Yasmin dari Rangga.
"Makasih," bisik Yasmin, merasa dirinya melayang. Gila, ternyata dia bisa muji juga!
👑 Puncak Ketegangan: Arazka dan Maura
Kini, giliran Arazka dan Maura naik ke panggung utama untuk memberikan sambutan. Mereka berjalan beriringan, dua sosok sempurna yang memancarkan aura berbeda: Arazka yang dingin dan berkuasa, Maura yang tegas dan karismatik.
Di balik senyum profesional mereka, ketegangan terlihat jelas.
"Ingat rencana kita, Maura. Jangan bikin kesalahan. Loe di sebelah gue, bukan di depan gue," bisik Arazka pelan saat mereka mencapai podium.
"Gue di sini karena gue pantas, Arazka. Bukan karena gue support system loe," balas Maura, tatapannya menantang.
Arazka memulai sambutannya dengan suara berat dan berwibawa, memukau semua hadirin. Dia membahas tentang ALVEGAR yang siap memajukan sekolah. Saat tiba giliran Maura, Maura mengambil alih mikrofon dengan tenang, dan mulai berbicara tentang pentingnya empati dan kerja sama tim, seolah sengaja membalas ucapan Arazka.
"Acara ini sukses bukan hanya karena dana besar, tapi karena kerja keras tim, dan keberanian untuk saling menantang ide, bahkan di antara musuh bebuyutan sekalipun," kata Maura, sengaja menoleh dan menatap Arazka dengan tatapan penuh makna.
Arazka tertegun. Dia tahu, kata "musuh bebuyutan" itu ditujukan padanya. Dia marah, tapi di saat yang sama, dia kagum. Maura berani melawannya di atas panggung di depan ratusan tamu penting.
Saat sesi foto bersama, Maura bergerak sedikit ke depan, menempatkan dirinya sejajar, bahkan sedikit lebih unggul dari Arazka. Arazka, yang tidak terima posisinya digeser, langsung menarik bahu Maura.
DEG!
Tangan Arazka yang dingin menyentuh bahu Maura yang terbuka. Sentuhan itu terasa mengejutkan, mengirimkan sengatan listrik ke tubuh Maura. Arazka menatap Maura tajam, matanya seolah berkata, Jangan cari masalah denganku.
Maura membalas tatapan itu, namun entah kenapa, tatapannya tidak lagi mengandung amarah murni. Di tengah kekesalan, ia menyadari betapa dekatnya wajah Arazka, betapa sempurna pahatan rahang tegas itu, dan betapa kuatnya cengkeraman tangannya.
Arazka menyadari tatapan Maura yang berubah, dan tanpa sadar, ia sedikit melunak. Tiba-tiba, ia menyeringai, ganteng dan licik.
"Lihat? Kita terlihat sangat serasi, Maura," bisik Arazka, membiarkan tangannya tetap di bahu Maura untuk sesi foto.
Maura mendengus. "Serasi karena kita sama-sama terpaksa!"
Namun, saat bidikan kamera beruntun menghantam mereka, Maura tidak lagi berusaha melepaskan diri. Ia membiarkan Arazka merangkul bahunya, menciptakan pose sempurna dari dua musuh yang ditakdirkan untuk jatuh cinta. Malam itu, di bawah sorotan lampu, dunia melihat ALVEGAR dan The Queens bersatu. Tapi hanya mereka berdua yang tahu, peperangan hati baru saja dimulai.
TO BE CONTINUED