Jayden, seorang pemuda biasa, tiba-tiba terlibat dalam dunia penuh misteri, godaan, dan permainan kekuasaan setelah bertemu dengan Eveline Bloodthorne.
Dengan sistem aneh di kepalanya yang memberinya misi dan imbalan, Jayden harus bertahan dari intrik keluarga, pengkhianatan, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut rumah megah mereka.
Sementara itu, masa lalunya kembali menghantui ketika sahabat masa kecilnya, Rose, terbaring koma di rumah sakit, dan Jayden harus menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan yang menimpanya.
Di tengah semua ini, Jayden juga harus menghadapi godaan dari wanita-wanita disekitarnya, termasuk ibu Rose, Elena, yang hidupnya penuh dengan kepedihan.
Apakah Jayden bisa bertahan tanpa terseret dalam arus nafsu dan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN MEMBUNUHKU
Pintu itu berderit terbuka, dan Eveline melenggang masuk. Geoffrey juga masuk di belakangnya.
Jayden, bersantai di kursinya dengan sikap acuh, melirik Eveline sambil menyunggingkan senyum licik.
“Wah, wah, wah! Lihat siapa yang memutuskan untuk memberi kehormatan dengan kehadirannya lebih awal,” goda Jayden, menyesuaikan posisi duduknya.
Eveline membalasnya dengan kerutan tidak puas, jelas tidak terkesan oleh candaan kurang ajarnya. Ia menoleh ke arah Geoffrey dan memberi isyarat. Mengikuti perintah tanpa kata itu, Geoffrey keluar dari ruangan dan segera kembali bersama dua pelayan lain, masing-masing mendorong sebuah troli. Isi dari troli-troli itu membuat mata Jayden membelalak.
Namun, yang menarik perhatian Jayden sebenarnya bukan para pelayan itu, melainkan isi berkilauan di atas troli—uang tunai.
Kilatan nakal menari di mata Jayden saat ia berjalan santai mendekati troli-troli tersebut. Dengan senyum penuh gairah, ia menyambar satu tumpukan uang kertas seratus dolar, lalu memeriksanya. Jayden bahkan menghirup aroma khas lembaran uang yang masih baru.
Menghirup wangi dolar yang baru dicetak, Jayden tak mampu menahan senyumnya. “Ah, aroma manis kesuksesan,” katanya sambil mengelus kertas hijau di tangannya.
Eveline, wajahnya dipenuhi ketidaksenangan, langsung ke intinya. “Ini dua puluh juta dolar. Lebih dari yang kau minta. Sisanya untuk penawarnya. Berikan padaku, lalu kau bisa pergi.”
Jayden tetap tersenyum saat ia menjatuhkan kembali tumpukan uang itu ke atas troli. “Wah, wah, bukankah seseorang hari ini merasa sangat murah hati? Putus asa demi penawar itu, ya?”
Jayden menyandarkan tubuhnya pada troli dengan santai. “Tapi kau tahu, Eveline, uang bukanlah segalanya. Kadang yang penting itu pengalaman, perjalanan, sensasi dari—”
Ekspresi tegas Eveline memotong ucapannya. “Hentikan sandiwaranya, Jayden. Uangnya sudah di tanganmu. Sekarang penuhi bagianmu dari kesepakatan.”
Tawa kecil Jayden menggantung di udara, “Tentu, tentu, tak perlu terburu-buru. Tapi, kau tahu, ada sedikit masalah.”
Mata Eveline menyipit. “Masalah apa?”
“Aku sedang berpikir,” kata Jayden sambil tetap bersandar pada troli, “urusan penawar ini—cukup rumit. Butuh waktu, sumber daya, dan jujur saja, pasar untuk obat-obatan mistis tidak sedang ramai...”
“Cukup dengan alasanmu, Jayden,” sela Eveline, “Aku tidak punya banyak waktu untuk sandiwara itu.”
Tawa Jayden kembali terdengar, “Baik, baik. Tak perlu sampai membuat celana dalammu basah.”
Jayden melirik sejenak ke troli yang penuh dengan uang, lalu memasang ekspresi berpikir. “Kau tahu, aku mulai menyukai tempat ini. Mungkin aku akan tinggal lebih lama.”
Mata Eveline menyempit, kesabarannya kian menipis. “Jangan macam-macam, Jayden.”
“Ayolah, Eveline, santai saja. Ini sudah mencakup semua uang yang kau janjikan padaku. Kita bahkan belum membahas harga obat untuk nenekmu,” Jayden tertawa, “Akui saja, sayang, kau membutuhkanku. Aku adalah Kejahatan yang Diperlukan dalam hidupmu.”
“Tapi aku akan mengambil ini, terima kasih banyak,” kata Jayden sambil mengambil satu tumpukan uang dan melemparkannya ke udara.
Kekesalan Eveline terpancar jelas saat ia menuntut penawar dari Jayden. “Hentikan permainanmu, Jayden. Serahkan saja,” bentaknya, “Atau aku mungkin harus...”
Ancaman itu menggantung di udara.
Jayden, seolah tak terpengaruh, membalas dengan seringai licik. “Dan kalau aku tidak melakukannya, hmm?” godanya, menikmati kejengkelan Eveline yang kian memuncak.
Kerutan di dahi Eveline semakin dalam.
“Ayolah, Eveline, apa yang terburuk yang bisa kau lakukan? Beritahu aku.” Ejek Jayden lagi.
[ 1. Terus menekan Eveline. Dan dia akan membencimu (Godaan -40, Cinta: -1)
Saatnya sedikit mengalah. Pohon yang terlalu tinggi sering tercabut saat badai (Godaan +15, Poin Ero: 2.000)
Ambil saja uangnya dan pergi (Godaan -20)]
Seringai licik terukir di bibir Jayden saat ia berpikir, “Yah, lihatlah itu. Sistem ituu memutuskan untuk menunjukkan sedikit kebaikan yang langka.”
Sebenarnya, ia telah menangkap arus keputusasaan dalam suara Eveline sejak detik pertama ia melangkah masuk ke ruangan. Kejadian baru-baru ini dengan neneknya jelas telah mengguncang hati Eveline.
Ia berniat berhenti mendorong Eveline ke jurang keputusasaan, bahkan jika sistem tidak memintanya. Bahkan bagi seseorang yang mencoba memerankan sosok yang tidak sepenuhnya bermoral, tetap ada batasan yang tidak ingin ia langgar. Memeras seseorang dengan nyawa kerabat yang sekarat, ia tahu, itu adalah kejahatan.
Saat keputusasaan yang begitu nyata terpampang jelas di wajah Eveline, Jayden akhirnya membiarkan dirinya menghela napas dramatis. Dengan ekspresi iba yang dibuat-buat, ia dengan santai meletakkan tangannya di bahu Eveline. “Baik, baik. Tak perlu berpura-pura tegar di hadapanku,” katanya dengan seringai. “Tapi biar aku jujur padamu, sayang—aku belum punya penawarnya. Aku perlu membuatnya.”
Alis Eveline berkerut, kebingungan bercampur dengan amarah. “Kau belum memilikinya? Jadi semua yang kau katakan itu hanya sandiwara?”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku sudah punya penawarnya,” Jayden mengangkat bahu dengan santai. “Aku hanya mengatakan bahwa aku tahu apa yang bisa menyembuhkannya. Dan aku tetap pada pernyataan itu.”
Kecurigaan Eveline tak kunjung hilang, melirik Jayden dengan tajam. “Apa kau benar-benar mengatakan yang sebenarnya, atau ini hanya kebohongan lain yang sedang kau rajut?”
Berpura-pura polos, Jayden dengan lembut menangkup wajah Eveline, “Kenapa aku harus berbohong padamu, sayang? Apalagi saat kau terlihat begitu menggemaskan dengan ekspresi ‘aku butuh suntikan’ itu?”
Terjebak di antara kejengkelan dan rasa geli yang enggan diakui, Eveline mendengus pelan. “Sebaiknya kau tidak membuat ulah lagi.”
Masih menahan dagunya, Jayden tersenyum meyakinkan. “Aku janji, kali ini tanpa trik. Tapi, sayang, aku butuh sesuatu darimu sebelum aku meracik penawar untuk nenekmu. Dan disitulah kau berperan.”
Eveline, kewaspadaan jelas tergambar di wajahnya meski rasa penasaran tak bisa disembunyikan dari sorot matanya, membalas, “Aku tidak akan memberimu rumah itu, kalau itu yang kau inginkan.”
Jayden tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Tidak, tidak, tidak. Kali ini bukan soal rumah. Urusan itu akan aku bicarakan dengan nenekmu. Tapi, kau lihat, penawar itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Aku butuh bahan-bahan, dan kau akan membantuku mendapatkannya.”
Eveline mengangkat alis, “Apa yang kau butuhkan?”
Dengan seringai nakal, Jayden mendekat dan berbisik, “Pertama, kita butuh sehelai bulu phoenix. Lalu, setetes air mata unicorn. Dan tentu saja, sisik naga untuk efek ekstra.”
Mata Eveline menyipit tak percaya. “Apa kau sudah gila?”
“Lihat wajahmu itu,” Jayden tertawa tak tertahankan, “Aku cuma bercanda. Aku butuh beberapa herbal, akar, dan tanaman lainnya. Tidak ada yang berasal dari alam terkutuk, aku janji.” Tawanya menggema di ruangan, sejenak memecah ketegangan.
Jayden berjalan santai ke meja terdekat, mengambil pena dan mulai menuliskan semua yang disampaikan kelinci misterius itu. Setelah selesai, ia menyerahkan daftar tersebut kepada Eveline, yang langsung membacanya sekilas.
“Kulit babi?” Eveline mengernyitkan dahi saat membaca daftar bahan itu.
“Jangan menghakimiku. Itu resepnya,” Jayden menjawab santai sambil mengangkat bahu, senyum main-main menghiasi wajahnya.
Masih ragu, Eveline bertanya, “Dan berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk memberikan obatnya setelah aku berhasil mengumpulkan semua ini?”
“Aku tidak bisa menjamin apa-apa. Bisa saja berhasil di percobaan pertama, atau gagal bahkan sampai percobaan keseratus,” Jayden mengakui dengan jujur. Itu setengah kebenaran; saat ini, Jayden sendiri belum sepenuhnya yakin apakah kelinci itu benar-benar bisa melakukannya. Ia hanya bertaruh pada janji yang sebelumnya diberikan kelinci itu—bahwa ia akan membuat penawar jika Jayden berhasil menggali informasi tentangnya.
“Baiklah. Semua itu akan tersedia di hadapanmu malam ini,” Eveline mengangguk, lalu memberi isyarat pada Geoffrey untuk bergerak. Geoffrey mulai melangkah keluar, tetapi Eveline menghentikannya tiba-tiba. “Tinggalkan. Kali ini aku akan mengurusnya sendiri,” tegasnya.
“Nona?” Geoffrey tampak bingung.
“Jangan bertanya. Aku yang akan mengurusnya,” jawab Eveline singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut.
“Lakukan apapun yang perlu kau lakukan, tapi pastikan semuanya sempurna sampai ke detail terkecil,” Jayden mengingatkan, “Saat aku bilang susu kambing, kambing itu tidak boleh hamil lebih dari satu bulan. Kalau tidak...” Jayden menggantungkan ucapannya sebagai peringatan.
“Kau tak perlu khawatir soal itu. Kau hanya perlu memberiku penawarnya. Kalau tidak...” Eveline memotong, kali ini giliran dia yang memberi ancaman.
“Aku akan melakukannya. Asal jangan sampai aku dibunuh saat tidur,” canda Jayden, meski pandangannya melirik sekilas ke arah Geoffrey.