🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelet di ujung keputusasaan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Rumah itu terletak di ujung gang sempit, dindingnya kusam dengan cat yang mengelupas di beberapa bagian.
Lampu kuningnya yang menggantung di teras menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang membuat suasana terasa ganjil sejak langkah pertama.
Yura berhenti tepat di depan pintu. Sedangkan Rose sudah lebih dahulu menyingkap tirai kain yang menggantikan daun pintu dan melangkah masuk tanpa ragu.
"Apa kau akan berdiri di situ sampai pagi?" tanya Rose tanpa menoleh.
Yura menghela napas. "Aku hanya... memastikan ini nyata."
Rose menoleh setengah badan. "Jika ini mimpi, seharusnya kita sudah terbangun sejak mencium bau dupa."
Yura meringis. "Candaanmu tidak pernah membuatku tenang."
"Itu karena kau datang ke sini bukan untuk mencari ketenangan," jawab Rose.
Kalimat itu membuat Yura terdiam. Ia pun menarik napas panjang sebelum akhirnya menyusul.
Pada akhirnya, ia menyetujui ide gila Rose untuk mendatangi dukun yang konon mampu membuat seseorang jatuh cinta begitu mudah.
Awalnya, Yura menolak keras. Ia tidak percaya hal semacam itu akan berpengaruh apa pun. Namun siapa sangka, makan malam semalam justru menggoyahkan keyakinannya sendiri.
Detik-detik kebersamaan itu membuat hatinya berdebar lebih kencang dari biasanya, dan Yura merasa ingin mencoba apa pun, bahkan hal yang selama ini ia anggap tidak masuk akal.
Dengan setengah percaya dan setengah nekat, ia melangkah masuk, menjadikan tempat ini sebagai jalan terakhirnya untuk mendapatkan Rendra, meski harus melalui cara yang tak pernah ia bayangkan.
Aroma dupa segera menyergap inderanya, hangat dan menyengat, membuat dadanya terasa sesak sesaat.
Di tengah ruangan, seorang wanita tua duduk bersila di atas tikar anyaman.
Rambutnya digelung sederhana, wajahnya tenang, seolah kedatangan mereka bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
"Kalian terlambat," ucapnya tanpa membuka mata.
Rose duduk bersila di hadapannya. "Kami tidak membuat janji waktu."
Wanita itu tersenyum tipis. "Orang yang datang tanpa janji biasanya membawa kegelisahan."
Yura ikut duduk, meski gerakannya ragu. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam.
"Kalian datang karena apa?" tanya wanita itu kemudian.
Rose melirik Yura. "Dia."
Wanita itu membuka mata dan menatap Yura lekat. "Kau yang paling berat."
Yura mengernyit. "Maksud Anda?"
"Napasmu gelisah. Pikiranmu tidak di sini sepenuhnya."
Rose berdeham kecil. "Aku sudah bilang."
Yura menghela napas, lalu berkata pelan, "Saya datang karena ini jalan terakhir."
"Jalan terakhir untuk apa?" tanya wanita itu.
"Untuk mendapatkan kepastian," jawab Yura jujur. "Tentang seseorang."
"Nama?" tanya sang dukun.
"Rendra Eliuxio."
"Hubungan kalian?"
"Tidak ada hubungan," kata Yura cepat. "Itulah masalahnya."
Rose mengangguk setuju. "Itu inti persoalannya."
Wanita itu menatap Yura kembali. "Jika tidak ada hubungan, mengapa hatimu begitu penuh?"
Yura terdiam sesaat sebelum menjawab, "Karena saya terlalu lama berharap tanpa keberanian untuk bertanya."
Wanita tua itu memandangi Yura lebih lama dari sebelumnya. Tatapannya tidak lagi datar, melainkan menelusup, seolah membaca sesuatu yang disembunyikan rapat-rapat.
"Kau datang bukan sekadar ingin tahu," katanya pelan. "Kau ingin diinginkan."
Yura mengangkat wajahnya. Tidak menyangkal. "Saya ingin dia memilih saya," ucapnya akhirnya. "Bukan sebagai adik. Bukan sebagai kebiasaan. Tapi sebagai wanita."
Rose menelan ludah. Ia tidak menyela.
Wanita itu tersenyum tipis. "Itu artinya kau datang untuk pelet."
Yura mengangguk. "Ya."
Tidak ada ragu kali ini.
"Dan kau tahu apa artinya?" lanjut wanita itu.
"Saya tahu ini bukan cara yang bersih," jawab Yura. "Tapi saya sudah mencoba cara yang benar. Terlalu lama. Tidak berhasil."
"Asmara yang dipaksa," kata wanita itu perlahan, "Tidak pernah datang tanpa bayaran."
"Saya siap membayar," potong Yura. Suaranya rendah, tapi tegas. "Selama dia melihat saya. Selama hatinya berpaling."
"Dia tidak datang untuk main-main. Ini benar-benar jalan terakhirnya." Rose akhirnya bersuara, nadanya tidak lagi main-main.
Wanita itu mengangguk kecil. "Aku bisa mengikat rasa. Membuatnya gelisah tanpa sebab. Membuat namamu muncul di kepalanya, bahkan saat ia tidak menginginkannya."
Yura mengepalkan tangannya di pangkuan. Jantungnya berdegup keras.
"Namun," lanjut wanita itu, "Rasa yang terikat akan menuntut balasan. Bisa berupa kelelahan, kehilangan ketenangan, atau keterikatan yang menyakitkan bagimu sendiri."
Yura tersenyum tipis. "Saya sudah kehilangan ketenangan sejak lama."
Rose memejamkan mata sesaat.
Wanita itu mencondongkan tubuhnya. "Jika pelet ini bekerja, ia akan mendekat. Tapi kau harus siap bila kedekatan itu berubah menjadi obsesi. Atau kebencian yang tertunda."
"Saya tetap mau," jawab Yura tanpa jeda.
Hening sesaat memenuhi ruangan.
Wanita itu lalu meraih sesuatu dari sampingnya.
"Kalau begitu," katanya pelan, "Kita tidak sedang bermain cinta. Kita sedang mengganggu kehendak."
Asap dupa menebal.
Yura duduk lebih tegak. Tangannya tidak lagi gemetar. "Lakukan," katanya singkat.
Rose menatap Yura lama, lalu berkata lirih, "Kalau nanti kau menyesal—"
"Aku lebih menyesal jika tidak pernah mencoba," potong Yura.
Wanita itu tersenyum samar. "Baik." ia mulai merapalkan sesuatu, suaranya rendah dan berat, membuat udara terasa menekan.
"Mulai saat ini," ucapnya di sela mantra, "Namanya akan terikat denganmu. Bukan karena cinta… tapi karena tidak bisa mengabaikan."
Yura menelan ludah.
Asap dupa menebal, berputar lambat di udara, seolah menutup ruangan dari dunia luar. Suara mantra wanita tua itu mereda, meninggalkan keheningan yang terasa berat di dada.
Ia berhenti tepat di hadapan Yura, lalu meraih sesuatu dari sisi tikar. Sebuah kantong kain kecil berwarna coklat, diikat dengan benang yang terlihat tampak manis, dan lucu.
Wanita itu meletakkannya di telapak tangan Yura. "Jangan dibuka," katanya singkat.
Yura refleks menggenggam kantong itu. Bahannya hangat, seolah baru saja disimpan dekat tubuh seseorang.
"Apa isinya?" tanya Yura pelan.
Wanita tua itu menggeleng. "Kau tidak perlu tahu."
Rose menegang. "Setidaknya beri kami petunjuk."
"Mengetahui terlalu banyak justru membuat niat goyah," jawab wanita itu tanpa menoleh. "Yang penting adalah caramu memberikannya."
Yura menelan ludah. "Bagaimana caranya?"
Wanita itu mendekat, suaranya diturunkan, hampir seperti bisikan. "Biarkan ia berada dekat dengannya. Tidak harus lama. Tidak harus terlihat mencurigakan," katanya. "Saat dia mencium baunya, pikirannya akan mulai mencari."
"Mencari apa?" tanya Yura.
"Mencarimu."
Yura mengernyit. "Baunya?"
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit. "Kadang," katanya perlahan, "Keinginan paling kuat muncul dari sesuatu yang terasa akrab."
Seolah menjawab ucapannya, udara di sekitar Yura tiba-tiba berubah.
Di sela bau dupa yang menyengat, terselip aroma lain.
Hangat, pekat, mengundang aroma kopi.
Bukan kopi pahit, melainkan kopi yang baru diseduh, lembut, membuat perut terasa kosong seketika.
Bau itu muncul hanya sesaat, begitu halus, namun cukup membuat Yura terdiam.
Rose mengerjap. "Kau mencium—"
"Iya," potong Yura pelan.
Wanita tua itu tersenyum samar. "Itu saja yang perlu kau kenali."
Yura menatap kantong di tangannya, jantungnya berdegup tidak beraturan. "Jika dia mencium bau ini…"
"Dia akan mengingatmu," sambung wanita itu. "Bukan sebagai pikiran yang utuh. Melainkan sebagai rasa lapar yang tidak ia pahami."
Rose meremas lututnya sendiri. "Dan setelah itu?"
"Setelah itu," jawab wanita itu tenang, "Rasa ingin akan tumbuh dengan sendirinya. Semakin ia mencoba mengabaikan, semakin kuat ia kembali."
Yura menarik napas dalam-dalam. "Dan balasannya?"
Wanita itu menatapnya tajam. "Setiap ikatan yang dipaksakan akan meninggalkan bekas. Pada siapa, itu tergantung seberapa keras kau menginginkannya."
Yura mengangguk. Tidak bertanya lagi.
"Pergilah," kata wanita itu. "Dan ingat. Kau tidak sedang menanam cinta. Kau sedang menanam ketergantungan."
Yura berdiri. Kantong kecil itu kini tersimpan di genggamannya, terasa lebih berat dari ukurannya.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺