Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 : Yang Hampir Hilang
Keheningan akhirnya kembali menyelimuti jantung Hutan Scotra, meski sisa-sisa badai emosional tadi masih terasa di udara yang lembap. Isakan Cloudet mulai mereda, berubah menjadi cegukan kecil yang berirama di dada Kael.
Sang Raja Ular, yang kini sudah benar-benar kehilangan sisa-sisa wibawanya, hanya bisa duduk bersandar pada pohon tua itu dengan pasrah.
Kael mencoba melepaskan jemari mungil Cloudet yang mencengkeram kulit dadanya yang telanjang.
Ia ingin sedikit ruang bernapas, namun setiap kali ia mencoba merenggangkan pelukan itu, Cloudet justru mengeratkan genggamannya, seolah-olah Kael adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kesedihan.
"Kau benar-benar anak yang posesif,"
gumam Kael dengan nada yang lebih menyerupai keluhan tak berdaya daripada sebuah ejekan.
Namun, secara tak sadar, jemarinya yang panjang mulai menyisir rambut hitam Cloudet.
"Setidaknya... rambutmu tidak sekasar kepribadianmu. Ini luar biasa lembut untuk ukuran monster kecil."
Tiba-tiba, sebuah fenomena magis terjadi. Mungkin karena Cloudet merasa sangat nyaman atau karena sisa-sisa emosinya yang masih labil, sepasang telinga anjing hitam yang lebar dan berbulu halus muncul secara spontan dari puncak kepalanya.
Tak lama kemudian, sebuah ekor hitam yang lebat mencuat dari balik gaunnya, terkulai di antara kaki Kael.
Dalam diamnya yang masih terisak, telinga lebar itu sesekali bergerak-gerak secara acak, dan ekornya yang lembut bergoyang pelan, menyapu permukaan kulit Kael dengan gerakan yang ritmis.
Melihat pemandangan yang begitu kontras—Raja Ular yang garang sedang mendekap seekor hellhound kecil yang bertelinga lucu—tawa para peri meledak kembali.
Kali ini mereka tidak lagi takut. Dengan rasa penasaran yang meluap, para peri kecil itu terbang mendekat.
Mereka berkerumun di sekitar Kael, hinggap di pundaknya dan mulai menyentuh telinga Cloudet yang bergerak-gerak itu.
"Wah, lihat! Ini sangat lembut!" cicit seekor peri sembari mengusap ujung telinga Cloudet.
"Seperti awan hitam!" tambah yang lain sembari mencoba bersembunyi di rimbunnya ekor Cloudet yang bergoyang.
Kael hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhnya menjadi tempat bermain bagi para peri dan bantal bagi Cloudet. Ia merasa separuh jiwanya telah terbang meninggalkan raga karena rasa malu yang amat sangat.
"Jika Calix melihat ini..."
Kael berbisik pada dirinya sendiri, suaranya terdengar seperti orang yang sudah siap menerima ajalnya.
“Aku tidak akan membunuhnya karena dia menghancurkan hutanku, tapi aku akan memohon padanya untuk membunuhku agar aku tidak perlu menanggung aib ini lebih lama lagi."
Namun, di balik semua gerutuannya, Kael tidak melepaskan pelukannya. Ia tetap mendekap Cloudet dengan kaku.
Suasana syahdu yang baru saja terbangun di jantung Scotra hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Tetua Peri, sang pemegang kebijaksanaan yang telah menyaksikan kelahiran dan kematian ribuan pohon purba, terbang mendekat dengan aura yang begitu agung.
Janggut putihnya menjuntai panjang, berkilau seperti benang sutra perak yang mengandung kedamaian.
Ia bermaksud memberikan wejangan terakhir bagi sang Raja Ular dan si kecil hellhound agar harmoni hutan tetap terjaga.
Cloudet, yang masih bersandar di dada telanjang Kael, perlahan membuka matanya yang kuning keemasan.
Ia menoleh, memperhatikan sosok mungil berjanggut putih yang melayang-layang dengan wajah penuh wibawa di depan hidungnya. Bagi makhluk lain, Tetua ini adalah simbol otoritas; namun di mata Cloudet yang sedang dalam mode "anak anjing" penasaran, pria tua itu tak lebih dari sebuah anomali asing yang memiliki rumbai-rumbai menarik.
Tanpa peringatan, dan dengan kecepatan refleks seorang predator yang sedang gemas, tangan mungil Cloudet melesat.
Sret!
Jari-jari Cloudet mencengkeram janggut perak sang Tetua dengan genggaman yang sangat kuat.
Seluruh peri yang ada di sana memekik horor. Kael tersentak hingga hampir menjatuhkan Cloudet dari pangkuannya.
"Eh? Tunggu, jangan—!"
Kael mencoba memperingatkan, tapi terlambat.
Cloudet mulai mengguncang-guncang janggut itu dengan semangat, membuat tubuh kecil sang Tetua Peri terombang-ambing di udara seperti layang-layang yang dihantam badai.
Wajah bijaksana sang Tetua yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ekspresi kaget yang luar biasa. Matanya melotot, dan ia berusaha mempertahankan martabatnya meski kepalanya ditarik ke sana kemari dengan brutal.
Lalu, seolah bosan dengan mainan guncangannya, Cloudet melepaskan genggamannya dengan satu sentakan kuat—melempar sang Tetua Peri hingga pria tua itu meluncur di udara dan mendarat dengan tidak estetik di atas tumpukan daun kering.
Hening sejenak. Hutan Scotra seolah berhenti berputar.
Sang Tetua Peri perlahan bangkit dari tumpukan daun. Ia merapikan topinya yang miring dan mengusap janggutnya yang kini tampak sedikit berantakan.
Luar biasanya, ia masih berusaha mempertahankan raut wajah bijkasana yang kaku, meski urat di keningnya mulai berdenyut-denyut karena menahan amarah yang meledak.
"Dasar anak kurang ajar,"
ucap sang Tetua dengan suara yang tetap berusaha terdengar tenang dan berwibawa, meski nadanya mengandung kemarahan yang tertahan.
Melihat pemandangan yang sangat tidak sopan namun luar biasa memuaskan itu, tawa Kael meledak secara spontan.
Rasa tertekan dan trauma yang ia rasakan sejak tadi seolah terbayar lunas melihat sang Tetua yang selalu menceramahinya tentang "ego" kini baru saja dipermalukan oleh seorang bocah.
"Hahahaha! Mana wejangan bijaksanamu sekarang, Pak Tua?"
ejek Kael dengan nada sarkasme yang sangat tajam.
“Tadi kau bilang aku tidak becus mengurus anak, tapi sepertinya kau sendiri baru saja dikirim terbang ke masa depan oleh 'anak anjing' ini. Bagaimana rasanya janggut agungmu dijadikan tali jemuran?"
Kael menyandarkan kepalanya ke pohon, merasa sangat terhibur. Ia bahkan tidak keberatan lagi Cloudet masih menempel di dadanya, selama ia bisa menertawakan penderitaan sang Tetua.
"Sepertinya Scotra butuh Tetua baru yang janggutnya tidak bisa dilempar-lempar,"
tambah Kael sembari menyeringai puas ke arah pria tua yang kini sedang berusaha keras tidak mengeluarkan kata-kata makian.
----------------
Langit di atas Hutan Scotra mulai berubah warna menjadi ungu pekat yang dihiasi semburat jingga temaram. Cahaya matahari yang semula hangat kini meredup, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara pepohonan.
Kael, yang masih duduk bersandar dengan dada telanjang, menyadari bahwa waktu tidak lagi berpihak padanya. Suasana hutan yang tadinya gaduh oleh tangisan kini digantikan oleh dengkur halus Cloudet yang tertidur pulas dalam dekapannya.
Masalahnya, "bom waktu" berwujud balita ini harus segera dikembalikan. Kael tahu persis, jika Calix mendapati adiknya menghilang, pria api itu dia akan datang dengan badai api yang mampu membakar seluruh hutan ini.
"Yang Mulia, Anda harus bergerak sekarang,"
bisik salah satu peri dengan wajah cemas.
“Jika aroma hellhound ini menghilang dari jangkauan kakaknya, Scotra akan menjadi hutan yang terbakar."
Kael menghela napas panjang, sebuah desahan pasrah yang sarat akan kekalahan harga diri.
"Aku tahu, aku tahu! Berhenti menceramahiku," gerutunya pelan agar tidak membangunkan Cloudet.
Dengan gerakan yang luar biasa hati-hati—seolah sedang memindahkan barang pecah belah paling mahal di dunia—Kael berdiri. Ia terpaksa membawa pulang "anak anjing" ini dengan tangannya sendiri.
Sepanjang perjalanan melintasi perbatasan hutan menuju Kediaman Grozen, Kael tampak seperti pencuri yang sedang menggendong harta karun.
Ia bergerak di antara bayang-bayang, menggunakan kemampuan kamuflasenya untuk menghindari deteksi.
Saat pagar besi hitam mansion itu terlihat, suasana di sana sudah kacau balau. Lampu-lampu sihir berpijar terang, dan para pelayan—yang semuanya adalah makhluk supranatural berkekuatan tinggi—tampak berlarian ke sana kemari dengan wajah pucat pasi.
Kael segera bersembunyi di balik pohon ek raksasa yang rimbun di tepi halaman. Dari sana, ia mengawasi gerak-gerik para pelayan.
Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang; bukan karena takut pada pelayan itu, tapi karena ngeri membayangkan amukan Calix yang mungkin sudah dalam perjalanan pulang.
Kael menurunkan Cloudet dengan sangat lembut ke atas rumput, tepat di area yang cukup terbuka namun dekat dengan jangkauan para pelayan.
Ia memberikan dorongan sihir kecil untuk membangunkan kesadaran Cloudet secara perlahan.
Begitu Cloudet mengerjap dan berdiri tegak dengan tatapan lugunya, Kael langsung melesat kembali ke kegelapan pohon.
"Ah, Cloudet! Ya Tuhan, di sana kau rupanya!"
Salah satu pelayan senior, seorang pria dengan aura wraith yang biasanya tenang, kini tampak hampir menangis lega.
Ia segera berlari mendekat dan mengangkat Cloudet ke dalam gendongannya. Cloudet, yang baru saja bangun dan merasa segar, langsung tertawa ceria, seolah tidak baru saja membuat seorang Raja Ular hampir terkena gangguan mental.
"Dari mana saja kau, Cloudet? Kakakmu benar-benar akan menerkamku hidup-hidup jika kau benar benar hilang!"
ucap pelayan itu sembari mengusap debu dari gaun kecil Cloudet.
Namun Cloudet tidak mendengarkan omelan itu. Matanya yang keemasan melirik tajam ke arah kegelapan di balik pohon ek tempat Kael bersembunyi.
Sambil digendong menjauh menuju pintu besar mansion, Cloudet mengangkat tangan mungilnya dan melambai dengan penuh semangat ke arah kegelapan tersebut.
"Dadah, sampai jumpa lagi ular!”
serunya dengan suara cempreng yang riang.
Pelayan itu tersentak dan langsung berbalik, menatap ke arah pepohonan dengan waspada.
Namun, tidak ada apa-apa di sana. Hanya dedaunan yang bergoyang ditiup angin malam.
"Ular? Ah, kau pasti kelelahan dan mulai berimajinasi, Nak. Tidak ada siapa-siapa di sana,"
gumam pelayan itu sembari melangkah masuk dan menutup pintu besar mansion dengan dentuman berat.
Di balik bayangan pohon ek, Kael menyandarkan tubuhnya dan menghela napas panjang yang sangat berat.
Ia mengusap dadanya yang tadi dicengkeram erat oleh tangan mungil Cloudet, merasakan sisa kehangatan yang aneh di sana.
"Benar-benar gadis kecil yang merepotkan,"
gumam Kael pelan.
Ada sedikit senyum miring di bibirnya yang biasanya sinis, sebuah pengakuan bahwa meski martabatnya hancur, sore ini adalah sore yang paling tidak membosankan dalam beberapa ratus tahun terakhir hidupnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Kael berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan Hutan Scotra, meninggalkan Kediaman Grozen yang kini kembali tenang sebelum badai bernama Calix mengetahui ia mendekat pada rumah yang dilindunginya.
Bersambung