Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 : Tangisan Anak Kecil
Kael merasa angin segar kepercayaan dirinya telah kembali. Di bawah pengaruh sorak-sorai para peri yang memuja-mujanya sebagai entitas purba, ego sang Raja Ular Scotra itu menggelembung seketika.
Ia tidak bisa membiarkan seorang bocah ingusan menghancurkan reputasi ribuan tahunnya hanya dalam satu sore yang memalukan.
Rasa dendam yang membara di dadanya menuntut sebuah pembalasan yang dramatis, sesuatu yang akan membuat Cloudet gemetar dan tidak berani lagi mengusik tatonya.
Dengan gerakan yang cepat dan penuh gaya teaterikal, Kael menyambar pergelangan kaki Cloudet.
Dalam sekejap, ia mengangkat tubuh mungil itu ke udara dan membaliknya, membuat Cloudet bergelantungan dalam posisi terbalik tepat di depan wajahnya.
"Sekarang, dengarkan aku baik-baik, Hellhound kecil," desis Kael, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang bergetar hebat di udara.
"Kau pikir aku adalah mainan? Kau pikir kau bisa menyentuh penguasa hutan ini sesukamu?"
Wajah Kael mulai bertransformasi; pupil matanya yang vertikal melebar hingga memenuhi seluruh irisnya yang hitam kehijauan.
Ia membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan taring yang memanjang dan tajam, serta rongga kerongkongan gelap yang seolah menuju langsung ke perut bumi.
Ia mengeluarkan suara desisan yang menyeramkan, mencoba mensimulasikan momen di mana ia akan menelan Cloudet bulat-bulat sebagai santapan sore yang lezat.
Para peri di sekelilingnya bersorak heboh, mengira sang raja akhirnya akan menunjukkan taringnya yang sesungguhnya.
Namun, reaksi yang diharapkan Kael—yakni jeritan ketakutan atau tangisan histeris—sama sekali tidak muncul.
Cloudet, yang posisinya terbalik dengan rambut hitam panjangnya menjuntai, justru melihat wajah Kael dari perspektif yang berbeda.
Baginya, wajah Kael yang sedang melotot dan menganga itu tidak terlihat seperti monster, melainkan seperti ikan mas koki yang sedang kehabisan napas.
"Hahahaha! Wajahmu lucu sekali kalau dibalik, Paman Ular!"
tawa Cloudet meledak, sama sekali tidak terintimidasi oleh taring yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepalanya.
Karena tawa yang terlalu kencang, tubuh Cloudet menggeliat hebat dalam genggaman Kael. Dan dalam sebuah gerakan refleks yang tidak terkendali, kaki kecil Cloudet yang bebas terayun ke atas dengan kecepatan tinggi.
DUAK!
Tumit kecil Cloudet mendarat dengan telak dan presisi tepat di ujung hidung Kael yang mancung.
Bunyi hantaman itu bergema di antara pepohonan Scotra, diikuti oleh keheningan yang mematikan selama beberapa detik.
Mata Kael mendelik, seluruh tubuhnya menegang, dan serangan jantung psikologis yang kedua sepertinya baru saja terjadi.
Rasa sakit yang tajam dan panas menjalar dari hidungnya langsung ke pusat saraf otaknya, membuat air mata refleks mulai menggenang di sudut matanya yang tajam.
Kael melepaskan cengkeramannya pada kaki Cloudet, membuat gadis itu jatuh terduduk dengan santai di atas rumput empuk.
Sementara itu, sang Raja Ular jatuh terduduk sembari menutupi hidungnya dengan kedua tangan, tubuhnya membungkuk gemetar saat ia berusaha menahan erangan kesakitan yang sangat tidak bermartabat.
"A-Aakh... hidungku... " rintih Kael dengan suara bindeng yang menyedihkan.
Para peri yang tadinya bersorak kini terdiam mematung, menatap pemandangan itu dengan mulut menganga.
Raja mereka, yang baru saja bangkit untuk memulihkan harga diri, kini kembali meringkuk di tanah hanya karena sebuah tendangan tanpa sengaja dari seorang balita.
Cloudet berkedip polos, menatap Kael dengan rasa bersalah yang sangat tipis.
“Maaf, Paman. Mulutmu tadi terbuka terlalu lebar, aku kira kau sedang meminta aku untuk menendang bola, tapi ternyata hidungmu yang kena."
Kael ingin berteriak, ia ingin mengusir bocah ini, namun rasa nyut-nyutan di hidungnya membuatnya hanya bisa mendengus kesal sembari meratapi nasibnya.
Kael meradang.
Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun saat ia merasakan denyut menyakitkan di hidungnya.
Ia menarik napas dalam, otot-otot di lengannya menegang, siap untuk menerkam dan memberikan pelajaran yang tak terlupakan pada bocah di hadapannya.
Namun, tepat sebelum taringnya memanjang, sebuah bayangan melintas di benaknya, wajah Calix yang dipenuhi api dan mata kuning yang haus darah.
Jika satu helai rambut Cloudet rusak, atau jika ada goresan luka di kulit bocah ini, Calix tidak akan sekadar datang untuk bertarung.
Pria itu akan datang untuk mengubah Hutan Scotra menjadi lautan abu yang mati.
Kael mendesah berat, sebuah suara yang penuh dengan kekalahan dan frustrasi. Ia menurunkan tangannya, aura predatornya menguap secara paksa.
“Terserah kau saja, Bocah sialan," geramnya dengan nada bindeng yang masih kentara.
"Lakukan apa pun yang kau mau, tapi jangan berani-berani mendekat dalam radius satu meter dariku. Anggap saja aku tidak ada."
Kael mengira perintah itu cukup untuk mengusir Cloudet. Namun, ia lupa bahwa logika seorang hellhound kecil tidak mengenal batasan sosial.
Alih-alih menjauh, Cloudet justru melihat celah di antara lengan Kael yang sedang terbuka.
Dengan kecepatan yang mengejutkan, gadis kecil itu melompat maju dan melingkarkan lengan mungilnya di perut Kael, memeluk sang Raja dengan erat seolah pria itu adalah boneka beruang raksasa yang empuk.
"Hahaha! Ayo main!, Ayo main!" seru Cloudet riang, tawa renyahnya pecah tepat di telinga Kael.
"Apa?! Lepaskan! Tidak mau!"
Kael berteriak histeris, tubuhnya menegang hebat karena kontak fisik yang mendadak itu.
“Dasar hellhound gila! Beraninya kau menyentuh kulit suci penguasa hutan ini! Menjauh dariku!"
Dalam kepanikan dan rasa jijik yang dibuat-buat, Kael berusaha melepaskan pelukan itu.
Namun, karena emosinya yang tidak stabil dan tenaganya yang terlalu besar, gerakannya menjadi terlalu kasar.
Ia menyentakkan tangannya sedemikian rupa hingga Cloudet terlepas dan terlempar ke belakang, jatuh terduduk di atas tanah yang keras dengan bunyi bug yang cukup jelas.
Hening seketika.
Kael terdiam mematung. Para peri berhenti terbang. Cloudet duduk terpaku, menatap kedua telapak tangannya yang sedikit kotor karena tanah. Matanya yang besar mulai berkaca-kaca, bibir bawahnya bergetar hebat, dan dalam hitungan detik, pertahanan "raksasa hitam" itu runtuh.
"Uwaaaaaaaa...!"
Tangisan Cloudet pecah, Itu bukan sekadar tangisan anak kecil biasa, lo itu adalah tangisan yang mengandung energi emosional seorang anak kecil.
Kael langsung dilanda kepanikan yang luar biasa. Ia terjatuh dari posisinya, merangkak mendekati Cloudet dengan tangan yang gemetar. "Hei! Jangan menangis! Kumohon, diamlah! Aku tidak bermaksud melemparmu sesadis itu!"
Ia menyuruh peri-peri menari di depan wajah Cloudet. Namun, Cloudet seolah tidak melihat itu. Ia terus menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan tangan kecilnya, menolak setiap usaha perdamaian Kael.
Frustrasi, Kael menjambak rambutnya sendiri.
"Demi roh leluhur! Kenapa mengurus satu anak kecil sangat sulit?!. Berhenti menangis, kumohon... kalau kakakmu dengar, aku benar-benar akan menjadi sate ular malam ini!"
Hutan Scotra yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh simfoni tangisan pilu Cloudet, sementara sang penguasa hutan yang agung kini bertekuk lutut di depannya, tampak benar-benar putus asa dan tidak berdaya.
Bersambung.