Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
judi, kemarahan dan panggilan untuk pergi
Setelah hari pertengkaran tentang daster dan uang yang hilang, kehidupan Dewi dan Arif kembali berjalan – tapi dengan nuansa yang lebih dingin. Setiap hari penuh dengan senyapan yang tebal dan pertengkaran kecil yang selalu muncul karena kesalahpahaman.
Satu pagi, Dewi sedang memasak bubur tanpa micin – seperti yang dia suka. Arif keluar kamar dan mencium bau makanan. "Kenapa buburnya hambar banget? Kamu lupa pake micin ya?"
"Aku tidak lupa. Cuma aku mau makan yang sehat, Arif. Kamu juga bisa cobain," jawab Dewi lembut.
"Tapi aku suka yang gurih! Kamu selalu bikin apa yang kamu suka, tidak peduli aku!" teriak Arif, mengambil roti dari lemari dan keluar rumah tanpa menyelesaikan makan.
Dewi menggeleng, air mata menyala tapi dia menahan. Seperti itu setiap hari – apa yang dia lakukan selalu salah di mata Arif. Kadang dia tanya soal uang buat beli sayuran, Arif langsung marah: "Kamu ini lagi-lagi minta uang? Beli sayuran aja butuh banyak uang?" Padahal dia hanya minta sepuluh ribuan.
Suatu sore, Arif pulang dengan wajah senang. "Hari ini gaji masuk! Besok aku akan bayar cicilan motor yang terakhir. Akhirnya motor itu milik kita penuh!"
Dewi merasa sedikit lega. Mungkin setelah melunasi cicilan, Arif akan lebih tenang dan perhatian. "Baik, Arif. Selamat ya."
Besok pagi, Arif pergi ke dealer motor untuk melunasi cicilan. Dia pulang sore dengan surat kepemilikan motor, menunjukkan ke Dewi. "Lihat ini! Motor kita sudah lunas! Malam ini aku akan keluar sama temen-temen buat merayakan!"
"Baik, tapi pulang jangan terlalu malam ya. Aku khawatir," kata Dewi.
"Tenang aja, aku pulang cepat," janji Arif sambil mengambil baju baru dan keluar.
Tapi Arif tidak pulang cepat. Malam itu, Dewi menunggu sampai jam 12 malam, tapi dia belum kembali. Jam 1 pagi, jam 2 pagi – masih tidak ada tanda-tanda. Dia tidur dengan hati cemas, bangun beberapa kali untuk memeriksa pintu.
Hari esok pagi, Arif pulang dengan wajah pucat dan mata mengantuk. "Kamu dari mana sampai pagi begini baru pulang, Arif?" tanya Dewi.
"Cuma keluar sama temen-temen aja. Jangan banyak tanya," jawab Arif sambil langsung ke kamar dan tidur.
Begitu menjadi kebiasaan baru. Arif selalu pergi pagi – kadang bilang ke sawah lah kerja harian lah, kadang bilang mau bertemu teman. Pulangnya selalu larut malam: kadang jam 2, kadang jam 3, bahkan kadang sampai subuh. Dia selalu pulang dengan wajah lelah dan suasana hati buruk.
Satu malam, Dewi sedang menunggu di teras ketika mendengar suara motor Arif. Dia melihat Arif turun motor dengan seorang pria yang tidak dia kenal. Pria itu berkata: "Besok malam lanjut ya, Arif. Kali ini aku yakin kamu bisa menang!"
Arif mengangguk dan tertawa. "Baik, besok aku siap!"
Setelah pria itu pergi, Dewi mendekat. "Siapa dia, Arif? Apa yang kamu lakukan malam-malam ini?"
"Jangan ikut campur urusanku! Cuma temen kerja aja," teriak Arif.
"Tapi dia bilang 'besok malam lanjut' – lanjut apa?" tanya Dewi dengan suara gemetar.
"Aku bilang jangan banyak tanya! Kamu tidak perlu tahu!" Arif masuk rumah dan menutup pintu keras.
Hari berikutnya, Dewi bertemu dengan tetangga, Bu Yati, di pasar. "Dewi, kamu tahu tidak sih, Arif sering main judi di warung seberang jalan? Malam-malam selalu ada sama temen-temennya disana," kata Bu Yati dengan suara pelan.
Dewi merasa dada nya terasa sesak. "Judi? Tidak mungkin, Bu. Arif tidak pernah main judi."
"Yakin deh, aku sudah lihat beberapa kali. Malam-malam keluar, langsung ke warung itu. Kadang pulang jam 3 atau 4 pagi," jawab Bu Yati.
Pulang dari pasar, Dewi menunggu Arif dengan hati yang kacau. Malam itu, Arif pergi lagi seperti biasa. Dewi memutuskan untuk mengikutinya. Dia berjalan perlahan ke arah warung yang Bu Yati sebutkan. Dari jauh, dia melihat Arif duduk di meja dengan beberapa pria lain, memegang kartu dan uang di tangan.
"Sudah cukup! Aku taruh semua uang ini!" teriak Arif, meletakkan sepuluh ribuan di atas meja.
Dewi menangis terisak-isak. Semua harapannya tentang Arif yang berubah lenyap. Dia berjalan pulang dengan langkah lemah, menangis sepanjang jalan. Saat tiba di rumah, dia menunggu Arif sampai jam 3 malam.
Arif pulang dengan wajah marah, tangan kosong. "Dasar nasib buruk! Semua uang aku hilang!" teriak dia ketika melihat Dewi.
"itu bukan nasib buruk, Arif. Kamu yang main judi!" teriak Dewi, air mata masih menetes. "Aku sudah tahu! Sudah lihat kamu di warung seberang!"
Arif terkejut, wajahnya memerah. "Kamu mengikutiku? Kamu tidak berhak ikut campur urusanku!"
"Berhak? Aku istri mu! Kamu pergi pagi pulang larut, main judi habiskan uang – apa ini yang dinamakan merawat istri dan rumah?" Dewi menangis lebih kencang. "Setelah melunasi motor, aku berpikir kamu akan lebih baik. Tapi kamu malah makin parah!"
"Jangan omong omong! Itu uang ku, aku bebas apa yang mau kulakukan!" Arif menendang meja kecil yang ada di depan nya. "Kamu cuma istri yang tidak berguna, selalu ngomongin yang tidak penting!"
Dewi berdiri tegak, meskipun badannya masih gemetar. "Aku tidak berguna? Aku yang merawat rumah, memasak, mencuci – sedangkan kamu hanya pergi main judi! Aku sudah capek, Arif. Sangat capek."
Arif tidak menjawab, hanya berdiri diam. Dewi masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia membekukan diri di atas tempat tidur, memikirkan semua kesusahan yang dia alami. Bulan-bulan penuh pertengkaran dan kesalahpahaman, dan sekarang Arif malah main judi. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi.
Di dalam kamar yang gelap, Dewi mendengar langkah Arif berjalan ke sofa di ruang tamu. Dia tidak mendengar suara apapun lagi selain napasnya yang tersendat karena menangis. Sejam kemudian, dia bangun dan membuka pintu sedikit – melihat Arif tertidur lelap di sofa, tubuhnya membungkuk seperti orang yang lelah sekali.
Hari esok pagi, Dewi bangun lebih awal. Dia memasak nasi dan lauk sayuran, lalu menyiapkan makanan untuk Arif di meja makan. Saat Arif bangun dan datang ke meja, dia hanya diam memakan makanannya tanpa berkata apa-apa.
Setelah selesai makan, Arif berdiri dan mau keluar. "Kamu mau kemana lagi, Arif? Mau main judi lagi?" tanya Dewi dengan suara lemah tapi tegas.
Arif berhenti, tubuhnya kaku. "bukan urusanmu."
"Tapi uang yang kamu gunakan buat judi itu – dari mana? Apakah itu uang gaji mu yang seharusnya buat kebutuhan rumah?" tanya Dewi, mengikuti langkah Arif ke pintu.
"Aku bilang jangan ikut campur!" Arif membuka pintu dengan keras, tapi tiba-tiba berbalik. "Ya, itu uang gaji ku! Apa salahnya aku mau nikmati sedikit hasil kerja ku?"
"Salah! Kamu lupa bahwa kita punya kebutuhan rumah – bumbu dapur, sayuran untuk lauk, obat buatku! Beberapa hari lalu, aku tidak punya uang buat beli bumbu dapur, harus minta ke Ibuku lagi!" teriak Dewi, air mata kembali menetes. "Kamu hanya peduli diri mu sendiri, Arif. Selalu begitu!"
Arif melihat wajah Dewi yang pucat dan menangis. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya, tapi dia menyembunyikannya dengan kemarahan. "Jadi kamu menyalahkan aku karena ibumu harus memberi uang untuk mu? Kamu yang tidak bisa menghasilkan uang sendiri!"
"Kalau bukan karena sakit badanku yang terus-menerus, aku sudah kerja! Aku juga mau bekerja, mau membantu kamu! Tapi kamu tidak pernah mau anter aku ke dokter buat kontrol, bahkan tidak mau beli obat yang dokter berikan!" Dewi menangis terisak-isak. "Aku hanya mau hidup yang tenang, Arif. Hanya itu."
Arif terdiam sebentar. Dia melihat daster biru muda yang tergantung di rak lemari – daster yang Dewi beli dengan uang ibunya. Dia ingat tuduhan yang dia lontarkan waktu itu, dan rasa malu yang dia rasakan ketika menemukan uangnya sendiri. Tapi kemarahan nya segera kembali menguasai.
"Baiklah, kalau kamu tidak suka, silakan pulang ke rumah ibumu! Jangan ada di sini lagi!" teriak Arif, menunjuk ke pintu.
Dewi merasa dunia nya runtuh. Kata-kata itu seperti sembilu yang menusuk hatinya. Dia berdiri tegak, menatap Arif dengan mata yang penuh kesedihan. "Kamu benar-benar mau aku pergi?"
"Ya! Pergi! Aku sudah tidak mau lihat wajah mu lagi!" Arif berteriak lagi.
Dewi tidak berkata apa-apa lagi. Dia mengambil tas kecilnya, memasukkan beberapa baju dan daster biru muda nya. Dia berjalan ke pintu, tanpa melihat ke belakang. Saat membuka pintu, dia melihat Ibunya Dewi yang lagi-lagi tiba di depan gerbang. Ibunya melihat wajah Dewi yang menangis,
"Anakku, apa yang terjadi?" tanya Ibunya dengan suara lemah.
Dewi hanya bisa menangis, memeluk ibunya dengan erat. Di balik mereka, Arif berdiri di pintu, wajahnya terlihat bingung dan sedih – tapi dia tidak mau menunjukkan itu. Dia menutup pintu, menyembunyikan dirinya dari pandangan kedua orang itu.