Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Sesampainya di hutan yang rimbun dengan pohon-pohon tinggi menjulang kendaraan mereka berhenti, lelaki bertopeng lain membantu mengeluarkan perempuan bertumbuh gempal. "Kami dibawa kemana?"kata Tanu dengan langkah terseret sampai terjerembab, lutut nya menghantam kerikil.
Tubuh ketiga perempuan itu didorong, diseret, agar mendekati ketua geng. Mereka dibuat berlutut dihadapan lelaki yang bertubuh menjulang, sampai dua meter itu. Rain mengangkat kepala Tanu dengan ujung sepatu nya berada didagu perempuan itu, yang mangap-mangap mencari oksigen.
"Atas perintah siapa kalian berkelahi dengan perempuan kemaren?" Tanyanya dengan suara bas yang dingin, membuat ketiga perempuan itu merinding.
"Siapa? Daniza?" Tanya Tanu tergagap.
"Ya" jawab Rain, seketika ketiga perempuan itu bermohon ampun.
"Maaf, maafkan kami...kami janji ngga bakal ganggu Daniza lagi"
"Temannya juga ngga"
"Bahkan kami akan minta maaf langsung padanya, tapi tolong lepaskan kami"
Helaan napas kasar terdengar dari Rain yang mendongak, merasa bosan dengan tugas dari Haneul ini. "Jawab pertanyaan ku sebelumnya!" Mereka terdiam, Tanu tidak berani mengaku sedangkan kedua temannya tidak berani menunjuk Tanu. Rain memberi kode untuk mendekatkan anjing ras Wolfdog yang langsung menggonggong, membuat ketiga orang itu menjerit lagi.
"Aku...atas perintah ku"
"Tanu"
"Atas perintah Tanu sendiri"
Rain lantas memberi perintah pada lelaki yang berwajah sangar untuk melanjutkan didikan selanjutnya untuk anak-anak remaja ini. Tanu disuruh berdiri dan dituntun untuk berjalan diatas bara api yang telah tersedia, temannya yang bertubuh gempal dilukai dengan ujung rokok yang menyala, sementara yang berambut pendek disuruh menelan susu basi. Ketiga nya menangis sambil memohon ampun, meminta dilepaskan sembari memberi janji-janji.
Sementara Rain pergi ke rumah lantai tiga untuk menghubungi Haneul Kamandaka tentang eksekusi hari ini.
"Hallo Bang, gimana?" Tanya lelaki blasteran korea, diseberang sana
"Selesai, total nya sepuluh juta" jawab Rain, lelaki blasteran eropa yang mempunyai iris mata berwarna abu-abu.
"Tulis aja dulu Bang, nanti pas aku kesana baru bayar nya. Kaki ku belum bisa dibawa berkendara sendiri" lalu sambungan itu terputus begitu saja, tanpa ada percakapan lanjutan.
Rain menyalakan rokok, menghisap lalu menghembuskan asap nya perlahan. Dari atas gedung lantai tiga itu, dia bisa mengawasi perbuatan anak buahnya yang kadang berbuat nakal dengan melecehkan anak remaja yang tengah mendapatkan pelajaran.
"Sekecil itu saja di santap" gumam nya, lalu mendengus, tangannya bergerak memberi pesan pada lelaki berwajah sangar agar mengingatkan yang lainnya untuk tidak berbuat lebih seperti memperkosa atau melebihi dari perintahnya.
Hanya lelaki itu yang dapat dipercaya untuk urusan perempuan, kalau yang lainnya pasti saja kurang ajar. Rain menonton pertunjukan itu sambil bersandar di kusen jendela, geng yang dibangun nya telah melangkah sampai sejauh ini. Bukan lagi sekedar masalah orang lain lalu mendapatkan bayaran, tapi sekarang juga membereskan masalah salah satu anggota geng nya sendiri yang tengah kasmaran.
*****
"Bang, tolong beres kan satu perempuan lagi" ucap Haneul dari seberang sana, setelah beberapa hari yang lalu mereka selesai dari tugas yang diemban.
Anak remaja itu mengirim informasi beserta data dari perempuan yang dimaksud, plus bayaran dari tugas yang kemaren dengan yang terbaru. Uang itu dia dapatkan dari kiriman Bapaknya yang pengusaha.
"Semuanya kumpul, kita dapat tugas baru" Rain memberi perintah ke pada tiga anggotanya yang uring-uringan, mereka duduk bersila dihadapan Rain yang mulai bicara tentang tugas baru.
"Ini tugas dari Kamandaka, uang nya sudah dikirim lewat Sandi. Malam ini kita bereaksi, tidak ada pelecehan" Rain mengingatkan bahwa pekerjaannya tidak ada yang seperti itu, karena jika mereka mau bersenang-senang maka mereka harus beli atau mendapatkan secara gratis. Bukan dengan memanfaatkan korban,lain cerita jika memang mereka diberikan tugas untuk itu.
"Kenapa bocah itu terus? Yang lainnya ke, ada tugas buat mengawasi anak penjabat, itu lebih keren." Alex mendorong lembaran kertas mengenai tugas dari artis yang memerlukan jasa mereka, tugas itu sudah dikirim lewat panggilan rahasia dari beberapa hari yang lalu.
"Atau ini saja, menjadi pacar rahasia dari wanita yang mau balas dendam" Bintang ikut mengangkat kertas pilihannya, dia sudah bisa membayangkan bagaimana mudahnya pekerjaan itu.
"Yang ini aja deh Ketua kata aku mah, jadi mata-mata buat keluarga ternama" Irfan ikut mengajukan usulan nya,mereka malas membantu Haneul cuma untuk cinta monyet.
"Disini siapa yang ketua nya? Berani sekali kalian menolak perintah ku, mau di keluar kan?" Rain memukul kepala Bintang dengan majalah bugil, hasil kerajinan tangan Bintang yang suka membuat kreatifitas.
"Malam ini juga siapkan peralatan! Kita hanya perlu menakuti-nakuti sekalian kasih hadiah kecil" ujar Rain.
Malam itu juga mereka pergi ke rumah Rina, berusaha masuk tanpa tertangkap kemera cctv. Tapi Alex tidak berpikir demikian, karena dia menghancurkan nya sampai remuk dan membawa bangkai nya ke dalam tas.
"Untuk apa itu, Al?" Tanya Bintang terkekeh
"Hadiah" kedua orang itu bercanda menertawakan bangkai cctv yang tidak berbentuk lagi, sedangkan Irfan malah mencuri buah mangga yang bisa dijangkau tangannya.
"Ketua, tolong ambil kan yang diatas! Dengan badan kau yang tinggi itu"
Rain yang sibuk membobol pintu rumah mendengus saat menengok tingkah anggota nya, "Jangan bermain dulu kalian, cepat kerjakan tugas kita ini" pintu itu berhasil dibuka,mereka ber empat masuk dengan santai layak nya tamu.
"Permisi orang rumah" ujar Irfan menutup pintu, rumah Rina sedang sepi sebab orang-orang nya sedang keluar kota, hanya Rina seorang dalam rumah namun belum pulang dari tempat nongkrong nya.
Rain mengeluarkan semua peralatan mereka, lalu membagi tugas untuk anggotanya yang malah menjelajah ruangan. Irfan membuka kulkas dan mengambil ondel-ondel,memakan nya dengan santai membelakangi cctv rumah.
Alex menghancurkan cctv dengan pistol kedap suara, sementara Bintang mengelus barang antik dalam rumah itu.
"Kribo coret rumah nya, tulis jangan ganggu cewek orang." Rain melempar pilox yang ditangkap cekatan oleh Irfan sambil mengunyah.
"Gantung jelangkung ini" kali ini lemparan serta tali ditendang pada Bintang, lalu boneka tanpa kepala juga diberikan.
"Casanova, kau ambil barang berharga." Perintah Rain yang terakhir untuk Alex, sementara dia naik ke atas menyiapkan hadiah kecil.
Tempat tidur diberi serbuk gatal dari racikan tanaman, sementara dibalik pintu kamar mandi diberi jebakan tikus. Ketika telah selesai semuanya, mereka keluar lalu menunggu dibelakang rumah, bersembunyi diantara semak-semak tanaman.
Tidak lama setelah nya, Rina datang. Irfan menutup mulutnya tidak sabar menunggu reaksi Rina yang belum menyadari rumahnya telah dijarah, karena mereka melakukannya tanpa menunjukkan jejak. Pintu masih terkunci dengan baik sama seperti terakhir kali dia berangkat, namun ketika menyalakan lampu dia dikejutkan oleh boneka tanpa kepala yang memakai pakaian putih. Rina berteriak, dan mendorong boneka itu dari hadapan nya.
Lampu tiba-tiba padam sendiri, dari balik kaca sosok perempuan putih berdiri dibalik cahaya. Rina berteriak lagi merasa terkejut, meskipun dia bisa bela diri tapi jika disungguhi pemandangan yang tiba-tiba, tetap saja jantung nya berdetak cepat. Lalu suara gaduh menyusul dibelakang teras, dengan perlahan Rina berjalan menuju suara. Ketika membuka pintu, jelangkung jatuh dari atas dan ribuan belatung tumpah mengenai kepalanya. Dia berteriak sembari berlari ke kamar atas dengan mengandalkan cahaya remang-remang dari teras, masuk ke dalam selimut tubuhnya mendadak gatal-gatal.
Dia lantas menggaruk, lalu dengan panik menuju kamar mandi yang tanpa sengaja membuat nya menginjak jebakan tikus. Jeritan nya kuat terdengar sampai orang-orang yang bersembunyi tergelak puas, "Ketika dia lihat ke tembok kamar mandi, dia akan menemukan alasan mengapa dia mengalami ini" bisik Irfan disela tawa nya.
Rina yang menangis, mendongak sambil memegang kakinya. Barulah dia menemukan tulisan, "Akibat mengganggu cewek punya K, dengan perekat dll" dia langsung paham saat disebutkan perekat, karena apa dia menanggung semua ini.