"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tikus Kecil
"Ada apa dengan matamu?" tanya Kanaya yang sudah tidak tahan ditatap sebegitu tajamnya oleh Kalendra. Jika saja netra protagonis itu bisa berubah menjadi belati, sudah pasti Kanaya akan terluka mendapati tatapan itu.
Mungkin Kanaya bisa saja mengalihkan pandangannya, tapi mau bagaimana lagi, gerak-gerik tubuhnya sudah berkhianat. Matanya selalu saja mencuri pandang pada Kalendra yang menampilkan raut dingin tak bersahabatnya.
"Tidak ada." Kalendra meminum kopinya dengan tenang.
"Hanya sedang memikirkan, hukuman apa yang pantas untuk seekor tikus kecil yang tidak memiliki rasa bersalah, padahal dia sudah menularkan virus kepada pemiliknya."
Uhuk! Kanaya tersedak ludahnya sendiri. Kalendra jelas sedang menyindirnya. Tertawa kering, perempuan itu menggaruk pipinya kikuk.
"Memang ada? Orang yang memelihara....tikus?"
Sang suami tersenyum miring dengan mata yang berkilat penuh arti. "Menurutmu?"
"E--entah? Tapi, sepertinya tidak ada. Mana ada orang memelihara tikus kan? Hewan itu sangat...menjijikkan."
"Ya. Tikus memang sangat menjijikkan." balas Kalendra diiringi kekehan...dingin. Seakan laki-laki itu sedang mengejeknya.
Kanaya menunduk. Mengindari tatapan Kalendra yang semakin membuatnya tidak nyaman. Sama halnya dengan hatinya yang tiba-tiba berdesir aneh. Kenapa? Padahal kalimat Kalendra ditujukan kepada Kanaya Wilson yang asli. Tapi kenapa...Kanaya merasa sedih.
"Aku sudah selesai." perempuan itu bangkit setelah mengambil tisu, lalu mengelap bibirnya.
Saat akan melangkah pergi, kalimat Kalendra berhasil menghentikannya.
"Kau tersinggung Kanaya?"
Menghela nafas berat, Kanaya melipat bibirnya. Hatinya semakin merasa tak nyaman dengan mata yang sudah memanas.
"Tersinggung atau tidak, memangnya apa pedulimu?" sang figuran tersenyum miris. "Ahh, aku tahu. Pasti kau merasa puas karena telah berhasil menyakitiku perasaanku, lagi."
Seolah habis dikendalikan, Kanaya tersentak dalam sekejap. Menutup mulutnya yang berbicara asal. Matanya membola terkejut.
"Tidak, itu...bukan aku. Apa yang baru saja aku katakan?!"
Menggeleng lirih, istri dari Kalendra itu berlari kecil menaiki tangga. Meninggalkan sang suami yang tengah mengepalkan tangan kuat dengan rahang yang mengeras.
.
.
"Aku harus merubah rencana. Berpura-pura tetap menggilai Kalendra bukanlah keputusan yang tepat."
Duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya, Kanaya meminum secangkir coklat panas. Memikirkan keamanannya di dunia antah berantah ini.
Kalendra. Protagonis itu sulit ditebak. Kadang dia bersikap seakan dia memiliki perasaan kepada Kanaya. Tapi, tak jarang juga laki-laki itu melontarkan kata-kata tajam yang bermaksud menghina istrinya.
Seketika kejadian semalam kembali membayanginya, membuat wajah Kanaya bersemu. Lalu, kejadian tadi pagi ketika Kalendra menyamakan dirinya sebagai tikus yang menjijikkan hadir. Membuat semu pada pipi Kanaya hilang, berganti ekspresi kesal yang begitu kentara.
"Oh, ayolah Kanaya. Kenapa kau harus tersinggung? Hinaan dia seharusnya tidak berarti apa-apa. Dirimu hanyalah jiwa asing yang tersesat dan bukan Kanaya yang asli."
Perempuan itu mendesah kasar. Lagi-lagi perasaan asing yang tak nyaman menghinggapi hatinya. Bersedir nyeri seperti sesuatu yang tajam telah menggoresnya.
Tapi, kenapa bisa seperti ini? Apa ini sisa perasaan Kanaya yang asli. Tadi pagi dirinya juga mengatakan sesuatu yang tidak pernah ada di pikirannya. Seolah Kanaya sedang...dikendalikan.
"Jika memang benar, ini masalah besar. Aku tidak mau jika nantinya jiwa Kanaya asli malah mengendalikanku."
Kanaya berdesis lirih. Kedua lengannya menyilang di dada. Menghalau angin malam yang berhembus dingin menerpa tubuhnya.
"Mungkin...mungkin sebaiknya aku meminta cerai saja?" setelah kalimat itu terucap, Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Tapi---Kalendra tidak akan mengiyakan begitu saja. Dia pasti...akan curiga."
"Ck, bersikap layaknya Kanaya asli juga bahaya. Bisa-bisa hal yang tidak inginkan terjadi."
Tidak kunjung menemukan jawaban, Kanaya mengerang frustasi. Mengusap wajannya kasar dengan kegelisahan yang mulai menggerogoti batinnya.
"Aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan?!"
Istri Kalendra itu menjatuhkan kepalanya pada meja di depannya. Matanya terpejam. Mencoba menenangkan diri dari keributan yang menghantam otak.
Sampai--- sesuatu yang tebal nan hangat menempel pada punggungnya. Mata Kanaya terbuka kaget. Menegakkan tubuhnya, perempuan itu menoleh ke belakang. Di sana, ia menemukan orang yang telah membuat otaknya berasap tengah berdiri menjulang dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan."
Kanaya termenung. Apakah laki-laki di belakangnya ini tengah...khawatir padanya?
"Apa yang menganggu pikiranmu, Kanaya?"
Sang istri diam. Bahkan saat Kalendra--- laki-laki itu duduk di sampingnya, Kanaya tak kunjung membuka suara. Sampai dirinya dibuat tersentak saat jemari Kalendra yang kasar membelai pipinya. Halus. Lembut. Penuh kehati-hatian. Seakan protagonis itu takut jika gerakannya dapat melukai Kanaya.
"Apa ini masih tentang tadi pagi? Kau benar-benar tersinggung, hm?"
Berbanding dengan sentuhannya yang lembut, kata-kata Kalendra tampak dingin. Menuntut jawaban. Seolah ingin mengendalikan.
"Tidak." Kanaya melengos, membuat sapuan lembut jemari Kalendra pada pipinya terlepas begitu saja.
Belum sempat Kanaya menormalkan detak jantungnya, lagi-lagi Kalendra berulah. Laki-laki itu menarik rambut sang istri. Tidak kasar, namun cukup membuat atensi Kanaya sepenuhnya ada pada Kalendra.
Kanaya dapat melihat betapa dinginnya tatapan itu. Kalender mendekatkan wajahnya, membuat sang istri sontak memejamkan matanya. Takut-takut protagonis itu akan meyakitinya. Bisa saja, Kalendra hendak mengigit pipinya hingga mengeluarkan darah.
"Aku benci diabaikan." suara Kalendra mengalun rendah. Tepat di depan wajah Kanaya yang hampir tak memiliki jarak. Hidung mereka saling bergesekan, yang kembali menimbulkan desir aneh di hati Kanaya.
"A--awas." Kanaya berusaha menjauhkan diri. Namun hal itu berujung sia-sia kala Kalendra malah menekan tengkuknya. Semakin meniadakan jarak di antara mereka.
"Kalendra, ini--- ini terlalu dekat." Kanaya berharap Kalendra tidak akan mendengar detak jantungnya yang berseru kencang.
"Kenapa memangnya?" bibir laki-laki itu tertarik ke atas.
"Kita bahkan bisa lebih dekat dari ini."
Kanaya meremang. Tangannya mencengkram baju yang Kalendra kenakan, saat--- suaminya itu menempelkan bibirnya pada leher jenjangnya. Mengendus di bagian sensitif itu. Nafas hangat Kalendra berhasil membuat Kanaya menahan nafasnya.
Selanjutnya, Kanaya merasa terkena aliran listrik saat seuatu yang basah menempel pada lehernya. Bergerak liar, memeberikan gelayar aneh yang membuat Kanaya berdesis lirih.
Kalendra tersenyum miring, selanjutnya ia hisap kulit Kanaya kuat-kuat serta memberikan sedikit gigitan. Kanaya terpekik lirih.
Menyeringai puas, Kalendra sedikit menjauhkan diri. Menatap hasil ulahnya yang membekas sempurna.
"Kanaya...."
Suara itu sarat akan ancaman bagi sang pemilik nama. Bukankah seharusnya perempuan itu menolak? Tapi kenapa dia hanya diam saja menerima segala perlakuan Kalendra. Bahkan saat telunjuk kasar protagonis itu menelusuri lehernya, Kanaya tak bisa berkutik. Seakan tubuhnya telah dikunci dan dilarang untuk melawan.
"Kau belum mendapatkan maafku. Bukannya semakin berusaha, kau malah menghindar."
Kening Kanaya mengerut bingung. Tak mengerti maksud dari ucapan Kalendra.
"Hanya segini usaha dari tikus kecilku, hm? Kau sudah akan menyerah?"
"Ck, payah sekali."
Usaha....apa yang protagonis itu maksud?