---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Perjalanan dari kota kecil menuju ibu kota memakan waktu hampir empat jam. Sepanjang perjalanan, Daren lebih banyak diam. Ia memikirkan banyak hal — terutama bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada orang tuanya yang sudah beberapa hari kebingungan karena ia tidak bisa dihubungi.
Begitu mobil memasuki kawasan rumah keluarganya yang megah, pintu gerbang otomatis terbuka. Rumah itu masih sama: besar, mewah, dan dipenuhi penjaga. Lingkungan yang sangat berbeda dari kebun teh yang tenang dan jauh dari keramaian.
Begitu mobil berhenti, seorang wanita setengah baya berlari keluar dari pintu utama.
Ibunya.
“Akuyaaaaang!” teriak Ibunda sebelum Daren sempat membuka pintu.
Daren menelan ludah. “Ini dia yang aku takutkan".. gumamnya kecil sebelum turun dari mobil.
Begitu kaki menyentuh tanah, ibunya langsung menariknya ke pelukan super erat.
“Kamu ke mana saja, Nak!? Tiga hari Mama nggak bisa hubungi kamu! Kamu pikir Mama nggak panik?!”
“Ma… Ma, napas… Mama kuat banget meluk nya,” keluh Daren setengah bercanda.
Ibunya memukul pelan bahunya. “Dasar anak nggak bener! Kamu hilang kayak diculik orang! Kenapa HP mati!? Kenapa nggak ngabarin!? Mama pikir kamu kenapa-kenapa!”
Daren mengangkat kedua tangan. “Maaf, Ma. Sinyal di sana jelek. Terus HP aku rusak, kebanting. Makanya mati total.”
Ibunya mendengus panjang, tapi wajahnya menunjukkan kelegaan besar. “Mama hampir mau laporan polisi, tau!”
“Mama lebay…”
“Kamu anak Mama satu-satunya. Ya Mama panik lah!” balas ibunya ketus.
Mereka berjalan masuk ke ruang tamu, dan Daren sudah bisa menebak: percakapan mereka belum selesai.
Benar saja.
Begitu mereka duduk, ibunya langsung bicara tanpa jeda, “Daren, Mama udah bilang kan?
Mama lagi cari calon istri yang cocok buat kamu. Kamu itu bentar lagi umur kepala tiga! Teman-teman Mama udah pada momong cucu. Kamu? Masih begini-begini aja!”
Daren meremas pelipisnya. “Baru pulang udah dijodohin, Ma? Kasih napas dulu lah…”
“Tidak!” seru ibunya. “Kamu tuh susah banget diajak kompromi! Setiap Mama kenalin perempuan baik-baik, kamu tolak! Alasannya selalu tidak jelas! Ada yang cantik kamu bilang terlalu centil! Ada yang pendiam kamu bilang membosankan! Ada yang mandiri kamu bilang terlalu tegas! Jadi kamu mau perempuan model apa sih!?”
“Yang tulus, Ma,” jawab Daren singkat.
Ibunya terdiam sesaat. “Mama juga mau yang tulus… tapi kalau kamu terus-terusan begini, kapan ketemunya?”
Daren hanya menghela napas. Ia tidak bisa bilang soal Nirmala. Tidak sekarang.
Ibunya memelototkannya. “Tapi Mama serius ya, Daren. Ada anak temannya Mama, baru pulang dari London, kerjaannya bagus, cantik, sopan—”
“Ma…” Daren memotong. “Aku nggak mau dijodohin.”
Ibunya menatapnya tajam. “Kenapa? Kamu ada seseorang?”
Pertanyaan itu membuat jantung Daren mencelos.
“Eng… nggak.”
Ibunya mendengus. “Sudah jelas bohong. Kamu hilang tiga hari, balik-balik malah ketus sama Mama. Ada apa sebenarnya?”
“Ma, aku cuma sibuk kerjaan,” balas Daren. “Aku pergi buat urusan perusahaan.”
“Kalau urusan perusahaan, kamu pasti masih bisa balas pesan Mama,” bantah ibunya cepat. “Ini kamu benar-benar hilang. Mama sadar, kamu pasti pergi sama perempuan.”
Daren hampir tersedak napas sendiri. “Hah!? Kok kesimpulannya ke situ!?”
“Kamu pikir Mama nggak paham kelakuan kamu? Kamu pergi, HP mati, nggak pulang tiga malam… jelas ada perempuan!”
Daren memalingkan wajah. Kalau ibunya tau kenyataannya… mungkin pingsan di tempat.
Ibunya tiba-tiba bertanya dengan nada yang sangat serius.
“Daren. Satu hal. Hubungan kamu sama Deliza gimana?”
Daren langsung menegang.
Deliza.
Pramugari yang ia pacari beberapa bulan. Wanita yang akhirnya mengkhianatinya dengan pilot satu maskapai. Skandal kecil itu sempat masuk gosip bisnis dan media sosial. Daren benci mengingatnya.
“Udah putus,” jawabnya singkat.
Ibunya menghela napas panjang, seolah perkara itu masih menyisakan luka. “Mama tahu. Mama cuma… kecewa. Mama pikir dia tulus sama kamu, tapi ternyata cuma cari status. Mama nggak mau kamu disakiti lagi makanya Mama pilihkan perempuan lain.”
“Mama… aku bisa pilih sendiri,” balas Daren pelan.
Ibunya mengerutkan kening. “Buktinya apa? Dari dulu kamu bilang begitu, tapi nggak ada hasilnya. Kamu jalan sama perempuan A, perempuan B, perempuan C… ujung-ujungnya putus semua.
Kamu terlalu baik, Nak. Itu masalahnya.”
Daren terkekeh pahit. “Ma, kebaikan aku bukan masalah.”
“Iya masalah, kalau perempuan cuma mengincar harta keluarga ini!” sanggah ibunya.
Daren terdiam. Kata-kata ibunya masuk. Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum kecil.
Karena ia sadar…
Nirmala berbeda.
Dia tahu siapa Daren sebenarnya. tahu Daren pewaris keluarga besar. tahu Daren punya perusahaan dan kekayaan besar. Bahkan semua nya tentang daren Nirmala tahu,tapi sedikit pun—itu tidak membuatnya berubah.
Ia tidak meminta uang, tidak minta fasilitas. Yang ia minta hanya satu: bantuan dan perlindungan.
“Hm…” gumam ibunya sambil memperhatikan wajah Daren. “Kelihatannya kamu berbeda hari ini.”
“Beda gimana, Ma?”
“Ya… entah. Wajah kamu kayak menyembunyikan sesuatu.”
Daren langsung kaku. “Nggak ada yang aku sembunyiin.”
Ibunya menyipitkan mata. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Serius?”
“Serius banget.”
Ibunya akhirnya menyerah. Ia berdiri sambil berkacak pinggang. “Pokoknya, Mama mau kamu pikir ulang soal calon yang Mama pilihkan. Minggu depan Mama atur pertemuan—”
“Ma.” Daren menatap ibunya dengan tegas. “Aku bilang nggak mau.”
Ibunya mematung. “Kamu keras kepala banget ya? Ada apa sih? Kamu menolak semua perempuan yang Mama pilih… kamu hilang tiga hari… kamu jawab singkat-singkat… kamu pulang dengan aura aneh…”
Daren meneguk ludah.
Ia ragu… tapi ia tahu, cepat atau lambat, ia harus bicara.
“Ma…”
Ibunya menunggu, mata membulat penuh rasa ingin tahu.
“Aku… lagi urus sesuatu di kota kecil itu,” kata Daren. “Sesuatu yang penting.”
Ibunya menyilangkan tangan di dada. “Sesuatu… atau seseorang?”
Daren hanya diam.
Ibunya langsung menjerit pelan, “ASTAGA! Benar kan! Kamu memang sama perempuan!”
“Ma, bukan—”
“Siapa dia!? Mama harus kenal!”
“Belum saatnya, Ma,” jawab Daren cepat. “Aku bakal jelasin nanti. Tapi tolong, jangan paksa aku ketemu perempuan lain dulu.”
Ibunya memandangnya lama… sangat lama.
Lalu akhirnya menghela napas berat. “Baik. Mama kasih waktu. Tapi Mama mau satu hal.”
“Apa?”
“Kamu harus bawa perempuan itu ke sini. Mama mau lihat siapa yang kamu pilih sampai kamu berubah begini.”
Daren terdiam.
Membawa Nirmala ke sini…
Itu berarti mengakui semuanya.
Selamat pagi jangan lupa like komen nya ya...
Selamat membaca..