NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Mantan

Terjebak Cinta Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan Bertemu

*****

Ariana, seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun, dikenal memiliki kepribadian yang tenang dan terkendali. Namun, malam itu, ada sesuatu yang berbeda.

Gerakannya tampak tergesa-gesa dan penuh tekanan, terlihat dari cara dia menutup dan mengunci pintu dengan keras yang tidak biasa. Rambutnya yang biasanya rapi kini terlihat sedikit berantakan, dan ekspresi wajahnya menyiratkan kegelisahan yang mendalam.

Amelia terkejut melihat perubahan mendadak pada kakaknya. Dengan langkah hati-hati, ia mengikuti Ariana ke dapur.

Amelia menemukan kakaknya yang biasanya lembut dan sabar itu, kini sedang meneguk air dari gelas dengan cepat dan gelisah.

"Kak, ada apa dengan kakak? Kakak terlihat sangat gelisah," Tanya Amelia dengan nada suara penuh kekhawatiran.

Amelia tidak pernah melihat kakaknya dalam keadaan seperti ini sebelumnya, dan hal itu membuatnya merasa bingung dan cemas.

Ariana hanya menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sebelum menjawab.

" Kakak sedang bingung sekarang, Mel." Jawab Ariana.

" Bingung kenapa?" Tanya Amelia lagi.

Ariana berjalan ke depan dan duduk di sana.

" Rocky ngajak kakak balikan." Jawab Ariana lembut.

" Bagus dong."

Ekspresi Amelia jelas terlihat sangat bahagia. Karena sejak awal dia melihat Rocky muncul di kos mereka Amelia sudah bisa merasakan jika sesuatu yang baik akan terjadi dengan sang kakak.

" Bagus apa nya sih? Kan dia udah punya tunangan Amel." Protes Ariana mendumel.

" Bagus karena artinya kak Rocky masih sayang sama kakak. Dan soal tunangan nya kak Rocky... nggak bagus sih." Jawab Amelia lalu terdiam.

Ariana tertunduk mengusal wajah nya.

" Kakak benar - benar bingung sekarang. Kami susah berpisah selama tiga tahun, dan kakak sudah mulai bisa melupakan dia dan kenangan kami. Tapi sekarang..." Ariana tersenyum sinis.

" Tuhan rasa nya sedang mempermainkan kakak. Dia kembali dan mengacau segala nya dengan drama kebahagiaan yang baru dia mulai dengan orang lain. Dan sekarang dia malah ngajak kakak balikan lagi. Kembali membangunkan kenangan kami yang sudah lama terkubur."

" Rencana apa sebenar nya yang ada dalam hidup kakak ini Amel?"

Ariana terlihat kusut dan kebingungan meluap-luap. Wajahnya memancarkan kerisauan yang mendalam, dan matanya seperti kehilangan kilau yang biasanya terpancar, kini hanya tersisa gumpalan emosi yang sulit untuk diuraikan.

" Mau dengar pendapat Amel?" Tanya Amelia dengam serius.

" Apa?" Ariana balik bertanya tak kalah serius dengan Amelia.

" Terima saja ajakan kak Rocky buat balikan lagi. Soal tunangan nya, biar itu menjadi urusan kak Rocky dan keluarga nya. Beres kan." Jawab Amelia antusias.

" Ya nggak bisa gitu lah, Mel. Tunangan nya kak Rocky itu juga perempuan. Perempuan mana yang nggak sakit hati kalau dia tahu tunangan nya kembali berhubungan dengan mantan kekasih nya?"

" Bodoh amat sama perasaan orang. Yang penting sekarang bagaimana perasaan kakak dan kak Rocky saja. Itu saja sudah cukup."

Ariana menggeleng mendengar saran Amelia kali ini.

" Itu egois nama nya. Kakak menyakiti hati perempuan dengan memanfaat kan hati Rocky yang masih tertaut pada kakak. Padahal kakak memiliki peluang yang sama besar dengan pria lain tanpa harus menyakiti perasan perempuan mana pun." Jelas Ariana.

" Siapa?" Tanya Amelia mulai dengan tingkat ke kepoan nya.

" Pak Marvin." Jawab Ariana singkat.

" Hum.. kenapa nasib kakak selalu baik ya? Di rebut kan oleh dua pria yang ganteng - ganteng. Giliran Amel aja, jomblo berkepanjangan." Keluh Amelia berbaring di lantai yang beralaskan karpet tebal.

Ariana tersenyum lalu ikut turun dan duduk di lantai.

" Itu karena kamu mesti lulus kuliah dulu baru bisa didekatin sama dokter ganteng." Ucap Ariana.

" Aamiin..."  Sahut Amelia mengaminkan ucapan sang kakak.

*

*

*

*

*

Rocky berdiri mematung di tepi kolam dengan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap. Angin pagi yang lembut meniup rambutnya, sambil pikirannya melayang kembali ke momen singkat yang ia habiskan saat mengantar Ariana tadi malam.

Rona senja yang memantul di permukaan air kolam seolah menggambarkan warna hatinya saat ini—campuran antara rasa hangat namun diiringi kegelisahan.

Tiba-tiba, langkah berat terdengar mendekat. Sang papa, dengan raut wajah yang serius, menghampiri Rocky.

" Belum berangkat ke kantor kamu?" Tanya Rizal mengagetkan lamunan Rocky.

" Belum pa. Sebentar lagi." Jawab Rocky.

" Bagaimana di kantor? Apa ada kendala?"

Rocky menggeleng.

" Tidak ada pa."

" Lalu kenapa pagi gini kami sudah melamun jika tidak ada yang kamu pikirkan?"

Rocky mendesah pelan. Dia meneguk sedikit teh nya sebelum menjawab pertanyaa sang papa.

Rocky menarik nafas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.

" Bantu aku pa. Aku ingin bilang sama mama agar membatalkan pertunangan ku dengan Nelly. Aku tidak mencintai nya pa. Aku hanya mencintai Ariana." Ucap Rocky meminta bantuan sang papa.

Papa menatapnya dengan mata yang melebar sejenak, lalu meletakkan tangan di bahu Rocky.

" Kamu tahu sejak awal papa juga keberatan kamu bertunangan dengan Nelly. Tapi bagaimana lagi? Yusnita sudah berjanji pada orang tua Nelly untuk menikahkan kalian sebagai balas budi atas ginjal yang sudah dia donor kan untuk papa." Kata Rizal.

" Tapi aku tidak mencintai Nelly pa. Bagaimana bisa aku hidup dengan orang yang tidak aku cintai?"

Rizal tersenyum lalu dia berjalan duduk di kursi dekat kolam renang.

" Rocky, apa yang kamu alami sekarang persis seperti posisi papa dulu. Orang tua papa memaksa papa menikah dengan mama kamu untuk mengangkat kembali perusahaan kami yang berada di ujung kebangkrutan. Dan saat itu, papa mempunya kekasih yang sangat papa cintai."

" Lalu papa meninggalkan nya?" Tebak Rocky.

" Tidak. Papa tidak meninggalkan nya saat itu juga. Papa menolak perjodohan itu dan tetap memilih kekasih papa. Tapi kakek kamu mengancam papa akan mengeluarkan papa dari daftar ahli waris perusahaan." Jawab Rizal.

" Akhir nya papa mengikuti keinginan kakek?" Tebak Rocky lagi seraya ikut duduk di sebelah Rizal.

Rizal mengangguk.

" Papa tidak punya pilihan lain lagi. Meninggalkan keluarga tanpa membawa apa pun juga tidak akan bisa membuat papa mampu membahagiakan orang yang papa cintai. Dan akhir nya papa menyerah. Papa meninggalkan dia dan menyetujui menikah dengan mama kamu." Jawab Rizal.

" Tapi papa merasakan penyesalan itu setelah menikah. Tidak ada satu hari pun papa lewati dengan bahagia bersama dengan mama kamu. Semua yang papa lakukan ini hanya sandiwara."

" Iti arti nya papa tidak bisa mencintai mama sampai sekarang?" Tebak Rocky lagi.

" Maaf jika jawaban papa akan melukai hati kamu. Papa sudah mencoba nya berulang kali bahkan papa terus memaksa hati papa. Tapi semakin papa paksa, papa semakin merasa sakit sendiri. Ternyata cinta itu tidak bisa di paksa Rocky. Bagaimana kita bisa membahagiakan orang lain kalau hati kita sendiri saja tidak bisa bahagia?" Jawab Rizal mengungkan apa yang dia rasakan.

" Dan itu yang akan Rocky rasakan jika papa tidak mau membantu Rocky pa."

" Apa papa mau, apa yang papa alami dulu Rocky alami sekarang? Menyiksa diri sendiri dengan menikah dengan orang yang tidak kita cintai?" Tanya Rocky menatap Rizal.

Jujur Rizal tidak punya kekuatan untuk itu. Membantah keinginan Yusnita sama saja membawa Yusnita pada kematian. Yusnita yang memiliki riwayat sakit jantung, tidak mungkin bisa di beri kabar buruk secara mendadak.

Rizal membalas tatapan Rocky dengan raut wajah pasrah. Pasrah pada keadaan tang akan di jalani putra semata wayang nya nanti.

*

*

*

Rocky duduk di meja makan menikmati sarapan nya bersama dengan Rizal dan Yusnita.

" Rocky, jangan terlalu sibuk di kantor. Luangkan waktu mu untuk Nelly. Dia itu kan tunangan kamu, dia juga butuh perhatian kamu." Kata Yusnita di sela sarapan nya.

Rizal memandang Rocky yang hanya diam sambil terus makan.

" Jangan mengganggu nya. Sekarang ini dia sedang belajar menjadi seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Biarkan menyelesaikan pekerjaan nya. Agar semua karyawan bisa mencontoh nya." Bela Rizal.

" Tapi kan sebagai bos dia tidak harus datang setiap hari ke kantor. Bahkan weekend dia juga bekerja. Padahal dia punya Jhoni, tapi kenapa harus turun tangan juga." Bantah Yusnita lagi.

" Jhoni itu kan hanya assisten nya Rocky. Tidak semua pekerjaan Rocky bisa di ambil alih oleh Jhoni."

" Hum... itu sih alasan nya Rocky. Pokok nya mama nggak mau tahu ya, kamu harus sering - sering meluangkan waktu berdua. Agar kalian bisa semakin mengenal satu sama lain." Paksa Yusnita.

" Ma, Nelly itu kan masih tunangan aku saja. Belum juga jadi istri. Jadi aku nggak mesti lah terlalu memperhatikan sia sampai segitu nya." Protes Rocky.

" Kenapa tidak? Justru karena masih jadi tunangan kalian harus sering bersama. Agar setelah menikah nanti kalian saling membutuhkan satu sama lain. Tidak bisa jauh - jauh gitu loh."

Rocky menghela nafas berat, setiap pembicaraan mengenai Nelly selalu membangkitkan api pertentangan dari Yusnita.

Tidak ada kata damai kala namanya terlontar, seolah-olah setiap kata yang meluncur dari bibir Rocky menjadi bahan bakar bagi kemarahan Yusnita yang tak pernah padam.

" Nelly selalu mengeluh dengan mama, kata nya kamu selalu menolak panggilan nya saat dia menghubungi kamu. Padahal dia itu kangen mendengar suara kamu. Masak gitu saja kamu nggak peka sih?"

" Lagi pula mama rasa sudah saat nya kalian mulai merencanakan soal pernikahan kalian. Mau nunggu sampai kapan lagi. Mama dan papa sudah pengen gendong cucu." Pinta Yusnita lagi.

Selera makan Rocky mendadak hilang kala Yusnita meminta nya untuk mempercepat pernikahan dia dan Nelly.

" Aku belum siap menikah sekarang ma. Rocky masih punya planning untuk memajukan anak perusahaan di banding mementingkan urusan pribadi ku sendiri, ma." Tolak Rocky lembut.

" Mau kamu mama sakit jantung lagi karena kamu belum mau menikah?" Ancam Yusnita.

Rocky meletakkan sendok dan garpu sampai terdengar suara dentingan di atas piring.

" Jangan mengancam ku, ma." Kata Rocky.

" Aku sudah kenyang. Kita bicarakan lain waktu saja. Aku harus segera ke kantor." Ucap Rocky bangkit dan meninggalkan meja makan.

" Jangan terlalu memaksa dia. Kasihan." Ujar Rizal menatap punggung Rocky yang semakin menjauh.

" Dia itu harus di paksa baru mau." Jawab Yusnita.

*

*

*

*

*

TING

Ariana mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas saat dia mendengar suara notifikasi setelah dia abaikan beberapa saat.

Ariaan menyipitkan mata nya saat dia melihat pesan itu dari Rocky.

( Aku di depan kantor. Keluar sekarang.)

( Keluar sekarang atau aku seret keluar?)

( Aku sedang tidak bercanda, Ari. Atau perlu aku suruh security memanggil mu keluar?)

Ariana terkejut ketika Rocky mengabari nya bahwa dia sudah berada di depan kantor Ariana saat ini. Tanpa pikir panjang, Ariana langsung berlari menyusul Rocky agar tidak ada teman kantor yang melihatnya.

Dengan langkah cepat, Ariana berlari keluar kantor, mengecek sekeliling sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.

Dia merasa jantungnya berdebar kencang, bingung dan cemas akan situasi yang tak terduga ini. Ariana menemui Rocky yang tengah menunggunya di sudut jalan, tersembunyi dari pandangan orang - orang lewat.

" Apa yang kamu lakukan disini, Rocky? Kalau ada yang mau kamu katakan, kenapa tidak di ruangan kamu saja?" Tanya Ariana dengan nada khawatir.

Rocky hanya tersenyum simpul.

" Aku hanya ingin melihatmu, Ari. Aku merindukanmu." Jawab nya lembut.

Ariana menatap Rocky dengan perasaan campur aduk, bingung harus merasa senang atau marah.

" Kamu tahu, ini bisa membuatku dalam masalah. Aku sudah bilang, lupakan masa lalu kita. Sekarang lebih baik kamu masuk ke dalam." Ungkap Ariana dengan suara bergetar.

" Kantor ini aku yang punya. Terserah aku lah mau masuk atau tidak." Jawab Rocky.

Rocky menghela nafas panjang nya.

" Aku tahu, Ari. I'm sorry. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu. After that l will go. "

Ariana menunduk. Menahan emosi yang bercampur menjadi satu. Dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini agar tak ada yang tahu tentang masa lalunya dengan Rocky. Namun, disisi lain hatinya penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Rocky padanya.

" Mau bilang apa? Cepat katakan sebelum ada yang melihat kita." Paksa Ariana.

" But not here. Ikutlah dengan ku." Ajak Rocky.

" Nggak. Katakan sekarang, atau aku akan kembali ke dalam."

" Baiklah. Kalau begitu, I'll wait here until you come home from office hours."

" Rocky..."

" Ari..."

Ariana merasa tak mampu menemukan alasan untuk menolak tawaran Rocky yang ingin mengajak nya pergi dari sana. Dari pada sampai orang kantor keluar dan melihat mereka.

Hatinya bergemuruh, keingintahuan nya dan gairah bercampur aduk di benaknya. Seakan mewajibkan dirinya untuk ikut dengan Rocky dan menemukan jawaban di balik kegelisahan itu.

" Baiklah. Tapi jangan lama."

" Oke. Silahkan masuk." Kata Rocky membuka kan pintu mobil untuk Ariana.

*****

Ternyata Rocky mengajak nya duduk di sebuah coffe shop di pusat kota. Sebenarnya Ariana kesal saat mobil itu memasuki halaman parkiran coffee shop. Namun dia tetap melangkah di belakang Rocky masuk ke dalam coffe shop

" Pelayan." Panggil Rocky saat mereka sudah duduk disana.

" Mau pesan apa, Mas? Tanya si pelayan.

" Americano dua." Jawab Rocky.

" Baik, Mas. Tunggu sebentar."

Pelayan itu pun pergi. Sekarang tinggal Rocky dan Ariana yang duduk diam disana.

" Kamu mau bilang apa?" Tanya Ariana tanpa basa basi.

" Banyak. Tapi releks lah. Keep calm. Kita punya banyak waktu bukan. Aku juga tidak punya banyak pekerjaan di kantor."

" Tapi pekerjaan ku di kantor sedang menumpuk."

" Kalau soal itu gampang. Berhenti bekerja. Dan menikahlah dengan ku."

" Rocky, please..."

Belum sempat Ariana melanjutkan ucapan nya, ponsel nya berdering dan menampakkan nama Marvin di layar ponsel itu.

" Lihatkan, aku sudah di cari." Ucap Ariana menunjukkan layar ponsel nya ke depan wajah Rocky.

" Sok sibuk." Celetuk Rocky.

" Halo, Pak."

" Kamu dimana, Ariana? Saya cari di kantor, kamu tidak ada." Tanya Marvin di seberang telpon.

" Iya, Pak. Maaf. Saya nggak sempat beri tahu bapak tadi. Kalau tadi saya menghubungi Pak Rocky, menanyakan soal iklan kita, Pak. Dan Pak Rocky meminta saya ke kantor pusat karena ada yang mau dia bicarakan. "

" Jadi kamu di kantornya pusat sekarang?" Tanya Marvin antusias.

" Iya, Pak. Maaf, tidak memberi tahu bapak sebelumnya."

" Nggak papa. Kamu jelaskan semua yang ingin dia ketahui. Jangan sampai gagal, Ariana. Saya yakin, kamu pasti bisa."

" Iya. Baik, Pak." Jawab Ariana mematikan sambungan telpon itu.

" Sepertinya bos kamu itu sangat antusias setiap kali kamu mendapatkan iklan baru?" Tebak Rocky.

" Itu karena dia sudah mempercayai aku."

" Itu hanya alasan nya saja."

" Kamu ya..."

Ariana menggantung ucapan nya saat pelayan datang membawakan minuman mereka.

" Sudahlah, Ariana. Nikmati saja apa yang ada di hadapan kamu sekarang ini. Karena inilah kenyataan nya. Aku ini adalah jodohmu. Mau sampai kapan kamu memungkirinya. Kita di takdirkan untuk bersama. Bukan untuk berpisah." Ujar Rocky menekan kan.

" Dunia kita berbeda, Rocky. Sampai kapan pun, kita tidak akan bisa bersama."

" Jadi ini alasan kamu meninggalkan aku?" Tanya Rocky dengan mata yang tajam menemui mata Ariana.

Ariana benar - benar merasa terpojok sekarang. Dia tidak berani menatap mata itu. Mata yang selama ini bisa menenangkan nya, sekarang terasa begitu tajam. Seakan menyayat hingga ke dalam hati.

" Sudah, habiskan minum mu. Aku harus segera ke kantor." Elak Ariana membuang pandangan nya dari Rocky.

" Kamu tidak pernah berubah. Selalu saja berbohong menutupi perasaan kamu yang sebenarnya. Mau sampai kapan kamu seperti ini, Ari?"

" Aku tidak pernah menutupi perasaan ku, Rocky. Dulu memang aku sangat mencintaimu. Tapi  sekarang..."

" Kamu semakin mencintaiku?" Tebak Rocky.

" Tidak sama sekali. Perasaan itu sudah hilang..."

" Di telan kebohongan mu selama tiga tahun ini?" Potong Rocky.

" Jangan membalikkan fakta."

" Jangan menjauhi, Ari. Jangan menyakiti hatimu sendiri.

" Aku tidak menjauhi mu, tapi keadaanlah yang memaksa kita harus menjauh."

* kasihan Rizal. Ternyata nasib nya lebih mengenaskan dari Rocky. Time time sad story nih kayak nya.

1
azzura faradiva
di FN judulnya sejuta cinta dari sang mantan karya Fitri Wardani sampai part 89
Fitri Wardani: author yang sama kak Zura.
Salam kenal dari Fitri Wardani 😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
azzura faradiva
kok ceritanya mirip di FN sebelah yaaa🤔nantinya si Rocky ini tergoda sama tubuhnya si Neli dan mereka akhirnya HS
Fitri Wardani: kalai Rafa mirip.
silahkan lihat nama penulis nya mbak 🤭🤭
total 1 replies
azzura faradiva
parah....,walau dipaksa dan terpaksa tetap aja itu sangat menjijikkan,masa seorang pria tenaganya kalah sama perempuan gatel🥶🤮
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Fitri Wardani: siap kakak ku.
saling support pastinya.
total 1 replies
kalea rizuky
laki g tegas keluar dr pekerjaan aja lah dripada ketemu. mantan goblok
kalea rizuky
trs arina pergi knp ini bapak nya Rocky kayak dukung lo apa emak nya Rocky yg buat ariana pergi
kalea rizuky
masih menyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!