"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun Jembatan di Atas Jurang Ketakutan
Dengan berbekal pengetahuan dan niat tulus, mereka berusaha mengubah pandangan desa. Bisakah kebaikan hati menembus tembok ketakutan dan ketidakpercayaan?"
Setelah mendapatkan informasi berharga dari bapak tua, Dina dan Puri menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya berdiam diri dan menunggu keajaiban terjadi. Mereka harus bertindak, menggunakan pengetahuan yang mereka miliki untuk membantu masyarakat desa dan memperbaiki citra KKN mereka.
Mereka berdua berdiskusi panjang lebar, memikirkan program-program KKN yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat desa. Mereka ingat keluhan bapak tua tentang sulitnya mendapatkan air bersih, tentang kurangnya fasilitas kesehatan, dan tentang rendahnya tingkat pendidikan anak-anak desa.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk fokus pada tiga program utama:
1. Penyediaan Air Bersih: Mereka akan bekerja sama dengan warga desa untuk membangun sumur atau memperbaiki sumber air yang ada. Mereka juga akan memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan air dan sanitasi.
2. Peningkatan Kesehatan: Mereka akan mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis, memberikan penyuluhan tentang penyakit menular, dan membantu meningkatkan fasilitas kesehatan di desa.
3. Peningkatan Pendidikan: Mereka akan mengadakan kegiatan belajar tambahan untuk anak-anak desa, memberikan pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu, dan membantu meningkatkan fasilitas pendidikan di desa.
Namun, mereka sadar bahwa menjalankan program-program ini tidak akan mudah. Mereka harus berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Pak Kepala Desa dan orang-orangnya. Mereka juga harus mendapatkan dukungan dari warga desa yang masih takut untuk berpartisipasi.
Dina, dengan sifatnya yang ceria dan mudah bergaul, mengambil peran sebagai komunikator dan negosiator. Ia mendekati tokoh-tokoh masyarakat, seperti ketua RT, tokoh agama, dan tokoh pemuda, untuk menjelaskan program-program KKN mereka dan meminta dukungan. Ia menggunakan bahasa yang sopan dan santun, serta menunjukkan rasa hormat yang tulus kepada para tokoh masyarakat.
"Pak RT, kami ingin meminta izin dan dukungan Bapak untuk menjalankan program-program KKN kami di desa ini," kata Dina kepada ketua RT setempat. "Kami tahu bahwa Bapak sangat peduli dengan kesejahteraan masyarakat, dan kami berharap program-program kami bisa memberikan manfaat bagi warga desa."
Ketua RT itu tampak terkejut dengan kedatangan Dina. Ia sudah mendengar tentang kegiatan KKN Dina dan teman-temannya, tetapi ia tidak yakin apakah mereka benar-benar tulus ingin membantu masyarakat desa atau hanya mencari masalah.
"Saya sudah mendengar tentang kalian," kata ketua RT itu dengan nada hati-hati. "Saya harap kalian tidak melakukan kegiatan yang bisa membahayakan desa ini."
"Kami tidak akan melakukan itu, Pak," jawab Dina dengan sungguh-sungguh. "Kami hanya ingin membantu masyarakat desa. Kami tidak punya niat buruk apa pun."
Setelah mendengar penjelasan Dina, ketua RT itu mulai melunak. Ia setuju untuk memberikan dukungan kepada Dina dan Puri, tetapi ia memperingatkan mereka untuk berhati-hati.
"Pak Kepala Desa tidak suka ada orang yang menentang kekuasaannya," kata ketua RT itu. "Jika kalian melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia akan marah."
Puri, yang lebih tenang dan analitis, mengambil peran sebagai perencana dan pelaksana. Ia menyusun rencana kerja yang detail, mengatur jadwal kegiatan, dan memastikan semua berjalan lancar. Ia bekerja sama dengan warga desa untuk membangun sumur, memperbaiki fasilitas kesehatan, dan mengadakan kegiatan belajar tambahan.
Namun, di tengah kesibukan mereka, Dina dan Puri tetap waspada terhadap kemungkinan ancaman dari Pak Kepala Desa dan orang-orangnya. Mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati dan tidak melakukan apa pun yang bisa membahayakan diri mereka sendiri dan warga desa.
Suatu hari, saat Dina dan Puri sedang mempersiapkan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis, mereka melihat seorang pria mencurigakan mengawasi mereka dari kejauhan. Pria itu adalah salah satu orang kepercayaan Pak Kepala Desa.
"Sepertinya kita sedang diawasi," bisik Dina kepada Puri. "Kita harus berhati-hati."
Puri mengangguk. "Kita tidak bisa membiarkan mereka menghentikan kita," katanya. "Kita harus terus berjuang untuk
membantu masyarakat desa, meskipun itu berarti kita harus menghadapi risiko yang lebih besar."
Dengan tekad yang membara, Dina dan Puri melanjutkan kegiatan mereka. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mereka memiliki dukungan dari bapak tua, dari ketua RT, dan dari warga desa yang mulai mempercayai mereka.
Mereka juga tahu bahwa mereka harus berhati-hati. Pak Kepala Desa dan orang-orangnya pasti akan melakukan segala cara untuk menghentikan mereka. Tapi mereka tidak akan menyerah. Mereka akan terus berjuang untuk kebaikan desa Sidomukti, sampai kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan.
Di tengah kegiatan KKN yang semakin padat, Dina dan Puri tidak pernah melupakan tugas utama mereka: mengungkap kebenaran tentang kutukan Srikanti dan kejahatan keluarga Handoko. Mereka terus mencari informasi dari warga desa, sambil tetap berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Mereka tahu bahwa kebenaran ada di suatu tempat, menunggu untuk ditemukan. Dan mereka bertekad untuk menemukannya, meskipun itu berarti mereka harus menghadapi bahaya yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan. Akankah upaya mereka untuk memperbaiki citra KKN berhasil, dan bagaimana mereka akan menyeimbangkan tugas mereka dengan penyelidikan rahasia yang mereka lakukan?"
Saat senyum merekah di wajah warga, bayangan masa lalu dan ancaman kini masih mengintai. Bisakah kebaikan yang tulus menyingkirkan kegelapan yang tersembunyi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*