Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGGA BERBISA
Seperti biasanya, kapal Fery siang tidak pernah sepi penumpang. Moda transportasi laut itu, satu- satunya yang bisa mengantarkan Abhi pulang ke Kota Gurindam. Abhi ingin ada sesuatu yang bisa ditinggalkan di kota Batam agar dia punya alasan untuk kembali.
Tapi apa? Jaket yang semalam dipinjamkan juga sudah dikembalikan. Abhi mengangkat sudut kiri bibirnya, menatap laut dari jendela tempat dia duduk.
Bayangan tentang kain-kain bergantungan itu masih kontras di kepala. Tapi setidaknya, hal itu membuat Abhi sedikit melupakan keresahan hati tentang adiknya.
Wanita itu berhak atas maaf darinya, untuk itulah hatinya luluh walau belum sepenuhnya bisa menerima perbuatan itu. Abhi tau, dia tidak cukup suci, tapi seharusnya adiknya sudah cukup dewasa untuk mengetahui fungsi dari alat kontrasepsi.
Abhi tidak berani menghakimi dosa, karena dia sendiri juga merasa amat nista. Ini masalah nama baik keluarga dan kehormatan sebagai wanita. kecewa, itu sudah pasti. Ternyata harga diri adiknya tidak lebih mahal dari sebungkus kuaci.
Syukur lelaki itu akhirnya mau menikahi adiknya, karena yang Abhi tau laki-laki itu sempat mau melarikan diri sangking tidak mau menikah dengan si adik yang merupakan seorang beauty vlogger yang punya kecantikan di atas rata-rata.
Kini kebisingan di kepalanya bertambah setelah pertemuannya dengan wanita itu pagi tadi. Kontur diri yang identik dengan segaris warna merah solid, kini bagai semut rangrang yang sedang berbaris menggoda Abhi.
Abhi memilih untuk keluar dari kabin penumpang menuju teras belakang kapal. Rambut tebalnya yang disisir menyamping gaya quiff natural sedikit berantakan diterpa angin yang cukup kencang.
Tangannya menjangkau besi pembatas kapal dan bertumpu disana. Dihirupnya kesegaran angin laut dan memanjakan matanya memandang bentangan Samudra dan warna langit yang biru muda. Sekali lagi Abhi menggeleng frustasi, ternyata si semut rangrang belum juga pergi. Biru langit yang indah telah berpadu dengan senyuman yang merah. Abhi pasrah, otaknya kini berwarna ungu cerah.
“Damn!” Abi memukul besi pembatas dengan telapak tangannya, “bukan cuma jemurannya yang nyangkut, ternyata senyumnya juga. Kamu siapa sih hey?”
Abhi heran, usianya sudah tiga puluh empat tahun. Pengalaman dan lingkar lingkungannya sebagai seorang instruktur sekaligus pemilik club renang, selalu dipenuhi wanita cantik, matang, dan tidak sedikit yang berusaha mendekatinya, bahkan ada yang pernah rela menyerahkan diri, untuk yang satu itu sampai hari ini Abhi mengaku itu tidak lebih dari sekedar … khilaf.
Belum ada satu nama yang menguasai dan mempengaruhi pikiran Abhi.
“Ya masa suka sama seseorang Cuma karena jemuran sih? Cinta kan gak sesederhana nurunin celana dalam dari kepala."
“Gue aja gak tau, siapa dia? masih gadiskah? Atau istri orang? ataukah malah seorang … janda?”
Abhi menjeda pertanyaanya.
“Eith tunggu deh, kemungkinan yang terakhir oke juga tuh!”
“Eh gue masih inget gak ya jalan ke rumahnya, dia tinggal sama siapa sih disana? Kalau diliat dari kain yang dijemur sih emang cuma pakaian dia semua. Duh kan ke situ lagi otak gue!”
Dialog antara hati dan logikanya kian bising, mengalahkan suara mesin kapal yang laju berdesing.
***
Abhi mengencangkan tas pundaknya, kapal sudah berlabuh sempurna, satu persatu penumpang turun dari tubuh kapal menuju dermaga, Lelaki bertubuh jangkung itu mengeluarkan kunci motornya, sudah tiga hari motor yang mirip dengan belalang besi itu menginap di area parkir pelabuhan.
Suasana pintu ruang kedatangan juga cukup ramai, tak hanya keluarga penumpang, supir taksi juga para porter ramai menawarkan jasa.
Diantara ramainya manusia di sana, pandangan Abhi tertuju pada seorang balita yang sedang berdiri bersama lelaki yang mungkin kakak atau Omnya.
“Coach!” seru balita itu menghampiri Abhi.
Abhi berusaha mengenali bocah laki-laki tampan di hadapannya.
“Hey! Kamu …?”
“Hay Coach, ini Razqa.” Lelaki di belakang Razqa mengingatkan Abhi tentang murid renangnya yang baru sempat bertemu satu kali.
“Oh Iya, Sorry, Sorry. Hay Boy!”
Abhi mengacungkan telapak tangan, Razqa menyambut dengan tepukan keras karena sangat bersemangat saat bertemu kembali dengan pelatih renangnya itu.
“Razqa gak mau ikut latihan renang lagi, karena kemarin dapat kabar coachnya diganti. Razqa gak mau sama coach perempuan, hehe. Padahal baru pertemuan pertama sama beliau,” ungkap lelaki itu.
“Oh ya? Maaf ya, saya lagi ada kegiatan di luar kota makannya diganti sama Coach Mely ya? Ini baru aja pulang. Sayang banget kalau berhenti latihan, akhir pekan besok kamu harus latihan lagi, okay? Coach Abhi udah balik!” seru Abhi tulus.
“Sungguh coach?” Razqa tak kalah antusias.
“Hu hum!” Abhi mengernyitkan sebelah matanya.
“Yeay! Oke, Om Reza denger kan? Akhir pekan nanti aku les renang lagi, kita harus bilang sama kakek dan mimi nih!”
“Thankyou, Coach!” Reza mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Abhi.
“Okay, kalian kesini mau jemput siapa?”
“Kita mau jemput Mimi, sebentar lagi mungkin sampai,” jawab Razqa.
“Iya Coach, mau jemput kakak saya. Ibunya Razqa,” jelas laki-laki yang berusia 19 tahun itu.
“Oke deh kalau gitu saya duluan ya, sampai ketemu di kolam renang, Razqa!”
“Oke, Coach!” seru Razqa lagi.
Berselang dua puluh menit kemudian, sirine kapal terdengar kembali, Reza masih fokus dengan game ponselnya, sejak tadi dia mengacuhkan keponakannya yang terus mengajaknya bicara.
Sesekali wajah Reza kesal dan memukul pahanya ketika gagal dengan misi sebagai impostor yang harus menghabisi crewmates dengan segala cara.
“Aduh ya sabar, Raz. Itu mimi kamu juga kalau udah naik pasti lewat sini kan? Gak mungkin ilang, aelah!”
Keluhnya pada Razqa yang sejak tadi menarik ujung lengannya untuk berdiri menghampiri sang mimi.
“Ayo Om, Razqa pengennya jemput mimi kesana,” tunjuk Razqa pada salah satu pintu tempat kapal menepi.
“Aduh Razqa ribet ih, sana kamu aja pergi sendiri!”
“Yaudah Razqa pergi sendiri! Dasar Impostor!”
“Eh Razqa diem! Nanti temen Om denger. Dasar bocah! Yaudah ayo ayo, haduh. Anak ma Ibu sama aja keras kepala kalian tuh!”
Razqa tidak peduli omelan Omnya, wajah Reza dan Razqa sangat mirip, mungkin karena itu Om dan keponakan itu tidak pernah akur, namun Reza sangat meyayangi Razqa dan tidak rela ada yang membuat hati Razqa terluka, sedikit saja.
“Siapa yang keras kepala?”
Seorang perempuan dari belakang Reza menepuk pundaknya, dia terlanjur mendengar Reza mengumpat Razqa dan Ibunya tadi.
“Mimi!”
Razqa berteriak girang dan berhamburan ke pelukan Red. Pelukan itu bersambut, perempuan yang lebih terlihat seperti kakak Razqa itu segera menggendong putera semata wayangnya, mengusap rambut Razqa yang lebat dan menicum pipi kanan dan kirinya dengan gemas.
“Daddy beneran sibuk ya, mi?”
Wajah Red berubah cemas, sebelumnya dia sudah memberi tahu Razqa bahwa Daddy belum bisa menemuinya hari ini.
“Ehe, Mba Runa sejak kapan sih?” cengir Reza, memotong pertanyaan Razqa.
“Sejak kamu ngomelin Razqa terus ngatain aku keras kepala,” ketus Red yang tampak anggun mengenakan longdress ungu muda dengan pashmina warna senada. Tertutup, jauh dari kesan memikat.
“Ehe, ehe, ehehehe. Sorry Mba, sorry!”
“Nih bawa!”
Red menyerahkan dengan keras ke tangan Reza, sebuah ransel abu-abu dan beberapa bungkusan jajanan yang dia beli tadi di Batam. Kemudian dia berlalu lebih dulu dengan tetap memeluk Razqa di gendongannya. Antara rindu dan sedih tidak bisa memenuhi keinginan Razqa untuk bertemu ayahnya.
“Turun sih Raz, kesian mimi tambah kecil ntar badannya. Udah gede juga masih aja di gendong.”
Reza menggoda keponakannya yang memang sudah cukup tinggi untuk anak usia empat tahun, belum lagi melihat tubuh kecil kakaknya kerepotan menggendong Razqa sepanjang menuju parkiran.
Dimata Reza, walau usia kakaknya terbilang masih muda, masih berstatus mahasiswa, tak jarang masih berebut remote TV dengannya, bersikap manja dan selalu dibela Abah, tapi jika menyangkut Razqa, dia adalah orang yang lembut namun tetap tegas, dewasa dan sangat keibuan.
Kata Abah, Runa persis sekali dengan Ibunya. Bedanya, sikap Ibu yang lembut dan sabar berhasil membuat Abah jadi pria setia. Bahkan saat Ibu tak lagi bersama mereka, Abah tetap menjadi pujangga yang memuja Ibu dalam kenangan dan kata. Karena kata Abah, Ibu adalah rima, sebuah unsur yang paling Abah butuhkan dalam sajaknya. Runa dan Reza saja kadang iri dengan cara Abah mencintai Ibu mereka.
Sedangkan Aruna, meski dia sudah berusaha keras mempertahankan rumah tangganya, harus menelan pil pahit perpisahan. Walau sampai detik ini dia masih memegang teguh bahwa Rangga sama sekali tidak mengkhianati cinta sucinya.
Mobil sedan tua warna abu-abu milik Abah, laju membelah jalan kota yang cukup padat. Kendaraan keluaran tahun 90-an itu walau tua namun masih sangat terawat, dengan varian mesin 1300 cc, lenggaknya di jalan raya tak kalah dengan mobil-mobil kekinian.
Red duduk memangku Razqa, disebelah Reza yang mengemudi sambil mengikuti musik klasik yang diputar. Dua kakak beradik itu saling beradu pandang disaat Razqa mengomentari tulisan nama di papan bunga yang berjejer sepanjang gedung yang biasa dipakai untuk acara pernikahan.
“Ra-ngga-Fa-di-lah,” ejanya terbata-bata.
Kakek sendiri yang menjadi guru calistung untuk Razqa, sekarang dia baru bisa membaca beberapa suku kata dan selalu tertantang untuk langsung membaca ketika melihat rangkaian huruf yang menarik perhatiannya.
“Seperti nama Daddy ya, mi?”
“Yee, emang nama Rangga Cuma Daddy kamu doang, Raz? Banyak Raz, banyak. Itu semut, kecoa, belalang juga Rangga namanya kan?”
“Itu serangga, Om.”
Ya, Daddy kamu tu emang udah mirip serangga kok, Raz.
Reza mencoba mengalihkan perhatian Razqa. Walau sebenarnya dia juga menaruh curiga yang sama terhadap mantan kakak iparnya itu. Ditatapnya wajah Runa yang mendadak keruh. Benar sudah, tidak ada dua Rangga. Yang tertera pada papan bunga itu adalah Rangga yang sama dengan serangga berbisa yang menyakiti kakaknya. Rangga Fadhilah, ayahnya Razqa.
***
Hello Everyone, welcome to my third contribute on noveltoon. Ciyee nungguin ciye. Aahaha. Aku baru sanggup meneruskan cerita ini karena baru move on dari kisah sebelah (Drama mode:On). Doain ya, biar bisa update rutin ya seenggaknya gak mandek lah. Tapi seperti dua karya aku sebelumnya, aku juga akan berusaha menulis cerita ini sampai akhir kisahnya kok.
eNKa : Red Is You, genrenya adult romance. Jangan kecewa ya, kalau alur, ritme dan gaya penulisannya berbeda dengan OTW Soleha yang kental nilai dan norma. Tapi sungguh, bagaimanapun bebasnya, disetiap karya ku, selalu ada urgensi yang ingin aku sampaikan ke diriku di masa depan, juga kepada pembaca yang kebetulan bertemu dengan tulisan ini.
Selamat menikmati jedag jedug alur kisah si merah ya ^_^
Reader : Plis lah udah kek nama burung nuri si upin ipin.
Red : Hey, jaga mulut mu sahabat!