Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Menembus Gerbang Ibu Kota
Gerbang Ibu Kota Aethelgard tidaklah semegah yang dibayangkan Raditya. Alih-alih marmer putih, yang menyambut mereka adalah tembok batu hitam yang kokoh setinggi sepuluh meter dan kerumunan pengungsi serta pedagang kecil yang tertahan di pos pemeriksaan. Antrean di depan gerbang mencapai ratusan meter. Bau keringat, debu, dan keputusasaan bercampur menjadi satu.
"Kita akan menunggu berapa lama di sini?" gumam Vivienne, menatap kereta kuda mereka yang tampak kontras dengan gerobak-gerobak kayu usang di sekitar.
"Sabar," jawab Raditya tenang. "Di kota besar, waktu adalah uang. Dan antrean adalah tempat terbaik untuk melakukan riset pasar."
Raditya tidak membuang waktu. Sambil menunggu, dia mengeluarkan [Pabrik Sachet Mini] miliknya. Dengan aroma kopi yang tiba-tiba menguar dari kereta, antrean yang tadinya tenang berubah menjadi keributan kecil. Orang-orang di depan dan belakang mereka mulai menoleh, hidung mereka kembang-kempis menghirup aroma kopi yang belum pernah mereka cium sebelumnya.
"Satu koin tembaga untuk satu cup energi instan!" seru Raditya kepada para penjaga gerbang.
Para penjaga, yang sudah berdiri selama dua belas jam, tergoda. Dengan satu cup kopi, mereka menjadi lebih sigap, lebih ramah, dan secara ajaib, pemeriksaan barang bawaan Raditya menjadi sangat... "longgar".
"Barang dagangan apa ini?" tanya seorang penjaga dengan curiga.
"Hanya bahan makanan untuk keperluan pribadi, Pak. Kopi untuk menjaga stamina kami di jalan," jawab Raditya sambil menyelipkan satu sachet ke saku penjaga.
Dalam hitungan menit, gerbang dibuka lebar untuk mereka. Mereka masuk ke Ibu Kota tanpa harus membayar pajak barang masuk yang selangit.
Masuk ke Ibu Kota adalah satu hal, bertahan hidup di sana adalah hal lain. Raditya, Lira, dan Vivienne mulai menjelajahi jalanan pusat yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Sayangnya, setiap penginapan di pusat kota memiliki papan bertuliskan: 'Penuh'. Dan penginapan yang tersisa? Harganya membuat Lira jatuh pingsan.
"Sepuluh koin emas semalam?! Itu harga untuk menyewa istana kecil!" teriak Lira saat mereka mencoba masuk ke The Royal Golden Inn.
Resepsionis penginapan itu meludah, memandang penampilan mereka yang sedikit berdebu dari perjalanan. "Kalau tidak mampu, sana tidur di selokan Distrik Kumuh. Ibu Kota tidak menerima pedagang kere."
Raditya menahan Vivienne yang hendak menghunus pedangnya. Dia tersenyum ramah pada resepsionis itu. "Terima kasih infonya. Tapi saya dengar, gedung tua di Distrik Kumuh itu memang tempat terbaik untuk memulai bisnis besar."
Mereka akhirnya menemukan sebuah gudang tua yang nyaris runtuh di pinggiran Distrik Kumuh. Pemiliknya adalah seorang kakek tua bernama Pak Broto yang sangat skeptis.
"Kalian mau sewa? Harga sewa 20 koin per bulan. Bayar di muka," kata Pak Broto dengan nada meremehkan.
Raditya menatap gudang itu. Berdebu, berbau tikus, dan atapnya bocor. Tapi bagi Raditya, ini adalah markas strategis. Dia membayar sewanya, lalu mulai bekerja.
"Lira, bersihkan lantai ini dengan air panas dan sachet pembersih. Vivienne, tata ulang rak-rak tua itu. Besok pagi, kita bukan lagi pendatang, kita adalah pemilik warung paling laris di Distrik Kumuh."
Malam itu, mereka tidur di tumpukan karpet bekas. Vivienne mengeluh, tapi Raditya justru menatap langit-langit gudang dengan penuh semangat.
"Besok adalah hari di mana kita akan mendapatkan izin dagang," kata Raditya.
Keesokan harinya, Raditya menuju kantor perizinan dengan stelan jas hasil modifikasi sistem. Dia harus berhadapan dengan petugas loket yang paling menyebalkan di Aethelgard: Bapak Kumis Tebal yang menganggap dirinya adalah raja birokrasi.
"Izin dagang? Anda bercanda?" petugas itu menatap Raditya dengan sinis. "Setiap pedagang baru wajib menyetor uang jaminan 5.000 koin emas, surat rekomendasi dari tiga bangsawan, dan tes kelayakan rasa untuk teh herbal istana."
Raditya, yang sudah menyiapkan 'senjata' rahasianya, perlahan mengeluarkan satu sachet kopi rembulan dari balik jasnya. Tanpa suara, dia menyelipkannya ke tumpukan berkas.
"Pak, Bapak terlihat lelah. Mungkin secangkir minuman ini bisa membantu kinerja Bapak yang sangat berdedikasi bagi negara?"
Petugas itu mendengus, namun aromanya langsung menghentikan gerakannya. Setelah mencicipinya, matanya melebar seolah baru saja mendapatkan pencerahan hidup. Dia menatap Raditya dengan pandangan kosong penuh kekaguman.
"Izin dagang... untuk Warung Sachet Lintas Dimensi... segera saya proses," katanya dengan nada yang berubah 180 derajat menjadi sangat sopan.
Stempel pun berbunyi Duk! Duk! dengan sangat cepat.
Saat keluar dari kantor, Lira bersorak. "Tuan, Anda jenius! Bagaimana bisa Bapak Kumis itu berubah begitu cepat?"
"Di kota ini," jawab Raditya sambil merapikan jasnya, "Kopi adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas. Sekarang, ayo kita buka warung!"