Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang Tak Banyak Lagi
Di dalam kesunyian kamarnya, Fatimah merasa bumi yang dipijaknya seolah runtuh.
Kalimat-kalimat yang baru saja keluar dari bibir ibunya terus berdengung di telinganya bagai hantaman ombak yang memecahkan karang.
*Ayah sakit parah... Umurnya sudah tidak lama lagi...*
Fatimah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, meredam jeritan pilu yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Air mata mengalir deras tanpa bendungan, membasahi kain di wajahnya hingga terasa begitu sesak.
Dadanya naik turun dengan tidak teratur, dihantam badai penyesalan yang teramat besar.
Betapa egoisnya dirinya kemarin malam. Ia telah berteriak, menuduh orang tuanya tidak adil, bahkan mengira dirinya "dijual" demi menguliahkan adiknya.
Padahal, di balik ketegasan ayahnya yang sempat memukul meja, ada tubuh yang rapuh dan sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Ada seorang pria paruh baya yang sedang menghitung sisa hari di dunia, yang satu-satunya keinginan terakhirnya adalah memastikan putri kesayangannya berada di tangan lelaki yang tepat sebelum ia menutup mata selamanya.
Di ruang tamu, suara isak tangis Ibu perlahan mulai mereda, menyisakan desah napas berat yang sarat akan beban kehidupan.
Ustazah Zahra mengangguk-angguk takzim. Sepasang matanya pun tampak berkaca-kaca mendengar penuturan jujur dari wanita di hadapannya.
Segala teka-teki dan ganjalan yang dibawa Fatimah ke pesantren pagi tadi kini telah terjawab dengan utuh.
Tidak ada kelaliman orang tua, yang ada hanyalah keterbatasan waktu dan kepasrahan sebuah keluarga dalam menghadapi takdir fana.
"Astagfirullahaladzim....."
Ucap Ustazah Zahra lirih, mengusap punggung tangan Ibu dengan penuh takzim.
"Mohon maaf jika kedatangan saya justru membuka kembali luka di hati Ibu."
"Saya tidak tahu jika ujian yang sedang dipikul keluarga ini begitu berat. Benar-benar rahasia Allah yang luar biasa."
Ustazah Zahra menarik napas dalam, lalu menoleh ke arah koridor menuju kamar Fatimah.
Beliau tahu, dengan dinding rumah sesederhana ini, Fatimah pasti telah mendengar segalanya.
Dan itulah memang tujuan tersiratnya—membiarkan Fatimah mendengar kebenaran langsung dari sumbernya, tanpa ada dinding pembatas ego antara anak dan orang tua.
"Ibu yang sabar, nya."
Lanjut Ustazah Zahra, suaranya kembali meneduhkan.
"Fatimah itu anak yang cerdas dan berhati lembut. Dia hanya butuh waktu untuk mencerna semuanya."
" Insya Allah, ilmu agama yang telah ia pelajari tidak akan membuatnya buta akan bakti kepada orang tuanya."
"InsyaAllah, Ustazah."
"Terima kasih banyak atas pengertiannya. Saya hanya tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Fatimah jika dia terus mengurung diri seperti tadi."
Bisik Ibu sembari menyeka sisa air mata di sudut matanya.
"Kalau begitu, tugas saya di sini sudah selesai, Bu."
"Saya izin pamit kembali ke pesantren agar Ibu dan keluarga bisa berbicara lebih leluasa dengan Fatimah."
"Selebihnya, doa saya tidak akan putus untuk kesembuhan Bapak dan kebaikan untuk Fatimah."
pamit Ustazah Zahra sembari bangkit berdiri.
Ibu ikut berdiri dan mengantarkan Ustazah Zahra hingga ke teras depan rumah.
Setelah mengucapkan salam dan berpamitan, langkah kaki Ustazah Zahra perlahan menjauh, meninggalkan rumah itu dalam keheningan baru yang tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan haru yang menggantung di udara.
Sementara itu, di dalam kamar, Fatimah perlahan bangkit dengan tubuh yang masih bergetar gulai.
Tangannya yang dingin meraih selot pintu, memutarnya dengan pelan.
Begitu pintu terbuka, ia melihat ibunya baru saja kembali dari teras depan dengan wajah yang teramat layu.
Dua pasang mata itu bertemu. Tidak ada lagi kemarahan di mata Fatimah, yang tersisa hanyalah tatapan penuh penyesalan dan rasa bersalah yang teramat dalam.
Waktu ayahnya tidak banyak lagi, dan Fatimah tahu, ego mudanya harus runtuh saat ini juga demi kebahagiaan lelaki yang telah bertaruh nyawa membesarkannya.