Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 – Latihan Keras
Embun pagi masih menggantung halus di ujung daun rumput dan permukaan danau, memantulkan cahaya abu-abu keperakan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Kabut tipis melayang di atas air, membuat tepian hutan terlihat samar seperti mimpi yang belum selesai menghilang. Udara pagi yang menusuk tulang menusuk kulit, namun Haruto sudah berdiri tegak di tepi pasir putih sejak lama, kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh. Napasnya membentuk kepulan uap putih setiap kali ia menghembuskannya, matanya tak berkedip menatap sosok yang berdiri tenang beberapa langkah di depannya.
Burung-burung hutan mulai berkicau menyambut pagi, suaranya bergaung di antara keheningan, sementara sesekali terdengar cipratan air halus saat ikan melompat sebentar lalu kembali menyelam. Di hadapan Haruto, Mizuna berdiri diam seolah menyatu dengan pemandangan di sekelilingnya. Jubahnya yang berwarna putih kebiruan bergerak pelan tertiup angin, dan tongkat kristal di tangannya memancarkan cahaya samar yang selaras dengan warna air danau.
"Mulai hari ini," ucapnya perlahan namun tegas, suaranya terdengar jelas meski tidak ditinggikan sedikit pun, "kau akan melupakan semua bayangan tentang sihir yang instan. Lupakan kilatan cahaya yang megah, lupakan ledakan kekuatan yang memukau mata. Semua itu tidak ada artinya tanpa fondasi yang kokoh."
Haruto mengangguk mantap, matanya berbinar penuh semangat. "Siap, Guru Mizuna! Saya akan mendengarkan semua yang kau ajarkan!"
Mizuna menghela napas pelan, lalu menatapnya datar. "Jangan memanggilku guru."
"Eh... Kak Mizuna?" coba Haruto lagi ragu-ragu.
"Tidak."
"Bu Mizuna?"
Mizuna menutup matanya sebentar, lalu tersenyum pasrah. "Panggil saja Mizuna. Itu sudah cukup."
"Baik, Mizuna!" seru Haruto riang, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
Dari beranda rumah kayu di belakang mereka, Daichi bersandar pada tiang kayu sambil memeluk lututnya. Ia tertawa kecil melihat pemandangan itu, gelak tawanya terdengar hangat di udara pagi yang dingin. "Semoga kau punya kesabaran yang tak terbatas menghadapinya, Mizuna. Bocah ini kadang bisa lebih rewel daripada kawanan tupai yang kehilangan sarangnya."
Latihan Pertama: Satu Tetes Air
Tanpa banyak bicara, Mizuna mengangkat telapak tangannya perlahan. Ia tidak melafalkan mantra apa pun, tidak menggerakkan tongkatnya sedikit pun. Namun seketika itu juga, permukaan danau bergetar halus.
Ting!
Setetes air bening melayang naik dari permukaan danau, berhenti diam tepat di atas telapak tangannya. Lalu muncul tetes kedua, ketiga, hingga puluhan, ratusan tetes air yang berkilau seperti permata tersebar di sekelilingnya, melayang berputar mengikuti irama napasnya sendiri. Tidak ada cipratan, tidak ada suara gemuruh—hanya air yang patuh bergerak sesuai keinginan.
Haruto melongo lebar-lebar, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. "Keren sekali... sungguh luar biasa!"
Mizuna menurunkan tangannya, dan semua tetes air itu jatuh serempak kembali ke danau tanpa menimbulkan riak besar. Ia menatap Haruto dengan tatapan serius. "Itu bukan sihir yang hebat, Haruto."
"Hah? Tapi itu kan..."
"Itu hanyalah bukti kendali mana," potongnya lembut namun tegas. "Sihir hanyalah hasil akhir. Yang paling mendasar adalah kemampuanmu memandu energi di dalam dan di luar tubuhmu. Kalau kendali manamu buruk, sebesar apa pun cadangan kekuatan yang kau miliki, ia hanya akan menjadi bahaya yang menunggu waktu meledak."
Ia menunjuk permukaan danau yang tenang di hadapan mereka. "Sekarang giliranmu. Cobalah angkat satu tetes air saja. Hanya satu."
Haruto menarik napas panjang hingga dadanya membusung, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah air, telapak tangannya terbuka lebar.
"Ayo... mana di dalam tubuhku... tolong bekerja... kumohon..." bisiknya pelan berulang-ulang dalam hati.
Sepuluh detik berlalu. Permukaan air tetap diam seperti cermin.
Dua puluh detik. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya, tangannya gemetar menahan keinginan untuk berusaha lebih keras lagi.
"Ayo, naik sedikit saja..." gerutunya pelan.
Tiba-tiba—Byur!
Sesosok tubuh perak melompat tinggi dari air tepat di hadapannya!
Plak!
Ikan besar itu menabrak tepat di wajah Haruto sebelum jatuh kembali ke danau dengan cipratan air yang membasahi seluruh bajunya. Haruto terhuyung mundur beberapa langkah hingga terjatuh duduk di pasir, matanya terpejam kaget.
"Bleugh! Airnya asin sekali!" ia meludah berkali-kali sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup.
Daichi tertawa terbahak-bahak dari kejauhan, menepuk-nepuk lantai beranda keras-keras. "Hahaha! Luar biasa, Haruto! Yang terangkat bukan airnya, tapi ikannya! Prestasi langka!"
Bahkan Mizuna pun tidak bisa menahan senyum tipis, menutup mulutnya dengan ujung jari sambil berusaha tetap terlihat serius. Di samping kaki Haruto, Pochi memantul-pantul riang sambil memancarkan suara gelak tawa khasnya.
"Pyoo! Pyoo!"
Latihan Kedua: Emosi dan Energi
Setelah membersihkan wajah dan mengeringkan sedikit bajunya, Haruto kembali duduk bersila di tepi danau. Ia menutup matanya rapat-rapat, mengingat kembali setiap kata yang diucapkan Mizuna kemarin.
"Jangan memaksa mana... rasakan alirannya... biarkan ia mengalir seperti air sungai, bukan menahannya seperti bendungan..." bisiknya pelan berulang-ulang.
Perlahan, rasa tegang di tubuhnya perlahan hilang. Ia mulai merasakan sesuatu: denyutan hangat yang samar bergerak di dalam dadanya, mengalir pelan ke lengan kanannya, mendekati telapak tangannya. Ia tidak berusaha menangkapnya, hanya mengikutinya dengan kesadaran.
Tiba-tiba, cahaya biru lembut mulai muncul di atas telapak tangannya, berputar pelan seperti kabut tipis.
Mizuna mengangguk pelan, matanya menyiratkan kekaguman halus. "Bagus sekali. Itu dia—mana milikmu sendiri yang selama ini kau cari."
Haruto membuka matanya lebar-lebar, wajahnya langsung berseri-seri penuh kegembiraan. "Aku berhasil! Mizuna, lihat! Aku benar-benar bisa memanggilnya!"
Belum sempat ia selesai berbicara—Bum!
Cahaya di tangannya meledak tiba-tiba seperti balon yang dipenuhi udara berlebihan! Kepulan asap putih mengepul menutupi wajahnya, dan ia terpental mundur hingga punggungnya membentur batang pohon muda di belakangnya.
"Aduh... kenapa tiba-tiba meledak begitu..." rintihnya sambil terbatuk-batuk membersihkan tenggorokan.
Mizuna berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapannya. "Karena kau terlalu senang," jawabnya lembut. "Ingatlah: mana adalah energi yang hidup. Ia sangat peka terhadap apa yang kau rasakan. Saat kau bersorak kegirangan, aliran manamu tiba-tiba melonjak liar, melampaui batas yang bisa kau kendalikan saat ini."
Haruto menggaruk tengkuk lehernya yang terasa panas. "Berarti... kalau aku ingin menguasainya, aku harus tetap tenang seperti patung meski hati senang sekali?"
"Tepat sekali," Mizuna tersenyum. "Tenang bukan berarti tanpa perasaan. Ia berarti keseimbangan. Seperti danau ini: meski dasar hatinya dalam dan penuh kehidupan, permukaannya tetap tenang menampakkan pantulan langit dengan jelas."
Pameran Bakat Si Slime Biru
Sementara Haruto beristirahat sejenak untuk menenangkan napasnya, Pochi melompat pelan ke tepi air. Tubuh bulatnya memantul dua kali sebelum berhenti diam tepat di garis batas air dan daratan. Ia menatap permukaan danau sebentar, lalu mengeluarkan suara pendek.
"Pyoo."
Tanpa mantra. Tanpa melambaikan tangan. Tanpa berusaha keras sama sekali.
Air di hadapannya tiba-tiba bergerak! Sebuah bola air besar sebesar kepala orang dewasa melayang naik dengan tenang, berhenti diam di udara setinggi bahu.
Haruto yang sedang minum air dari tempurung kelapa hampir tersedak, matanya melotot tak percaya. "Eh?!"
Belum selesai ia terkejut, bola air itu perlahan berubah bentuk. Menjadi naga kecil yang mengepakkan sayap, lalu burung pipit yang terbang berputar, pedang panjang yang tajam, hingga akhirnya membentuk wajah Haruto dengan ekspresi terkejut yang konyol—semuanya terbuat dari air yang bening sempurna.
Mizuna terdiam sejenak, menatap pemandangan itu dengan pandangan yang makin dalam. "Benar-benar seperti yang kuduga... kendali mana slime ini nyaris sempurna. Ia tidak memaksakan, tidak berusaha, hanya menyatu dengan aliran energi di sekitarnya."
Haruto menatap Pochi dengan pipi yang menggembung kesal. "Hei... kau sengaja memamerkan kemampuanmu supaya aku terlihat payah, ya?"
Pochi dengan cepat menggeleng-gelengkan tubuhnya. "Pyoo!"
Namun seketika itu juga, wajah air di udara berubah lagi—kali ini meniru wajah Haruto yang sedang menangis tersedu-sedu dengan mulut melengkung ke bawah.
Daichi kembali tertawa sampai memegang perutnya. "Hahaha! Dia tidak menyangkal kok! Dia memang sedang mengejekmu, Haruto!"
"Pochiiii! Kau nakal sekali!" Haruto bangkit berdiri dan mulai mengejar slime kecil itu mengelilingi tepi danau.
Pochi memantul cepat menjauh, sambil terus mengubah bentuk bola air menjadi berbagai ekspresi lucu, hingga berubah menjadi bentuk Daichi yang sedang tertawa keras. Suara "Pyoo! Pyoo!" riangnya bersahutan dengan teriakan Haruto yang pura-pura marah.
Mizuna hanya berdiri diam menatap mereka, menggeleng pelan sambil tersenyum hangat. "Latihan mereka sungguh... tidak pernah membosankan. Sepertinya aku tidak akan pernah bosan melihat tingkah mereka berdua."
Kemajuan Pertama
Waktu berlalu tanpa terasa hingga matahari mulai merunduk ke arah barat, mewarnai langit dan permukaan danau dengan rona jingga, merah muda, dan ungu yang lembut. Burung-burung mulai kembali ke sarang, dan keheningan pelan menyelimuti hutan kembali.
Haruto kembali duduk di posisi yang sama sejak pagi. Tubuhnya terasa pegal dan lelah, bajunya basah oleh keringat dan air, namun matanya tidak menyiratkan sedikit pun keinginan untuk berhenti. Ia memejamkan matanya lebih lama dari sebelumnya, perlahan menyingkirkan semua gangguan: suara angin, suara daun bergerak, bahkan rasa lelah di ototnya. Ia hanya berdiam diri, menyatu dengan napasnya sendiri.
Perlahan, jari-jarinya terasa hangat. Ia merasakan aliran halus dari mana di dalam tubuhnya menyentuh energi di permukaan air di hadapannya. Ia tidak memaksa, hanya memandu pelan-pelan.
Permukaan danau bergetar halus. Satu tetes air terangkat naik—satu sentimeter, dua sentimeter, lima sentimeter—berhenti diam tepat di depan telapak tangannya.
Haruto membuka mata perlahan. Ia menatap tetes air kecil sebesar kelereng itu yang melayang tenang di udara, berkilau memantulkan cahaya senja. Wajahnya perlahan melebar menjadi senyum yang begitu tulus dan bahagia hingga matanya berkaca-kaca.
"Aku... benar-benar berhasil..." suaranya bergetar pelan.
Mizuna melangkah mendekat, menatap tetes air itu dengan senyum puas yang tulus. "Bagus sekali, Haruto. Inilah langkah pertamamu yang paling berharga. Jangan pernah meremehkan satu tetes air. Lautan yang luas pun bermula dari setetes demi setetes air, dan semua sihir air yang paling dahsyat pun berakar dari kemampuan mengendalikan hal sekecil ini."
Haruto mengepalkan tangannya erat, semangatnya menyala kembali lebih kuat dari sebelumnya. "Kalau begitu... aku tidak akan berhenti di sini! Aku akan terus berlatih sampai bisa mengangkat seluruh air danau ini, sampai bisa menguasai setiap bentuk sihir air yang ada!"
Daichi berdiri di ambang pintu sambil tersenyum bangga. "Ambisimu memang setinggi langit, bocah. Tapi aku suka semangatmu itu."
Pochi melompat tinggi dan mendarat tepat di bahu Haruto, menggesekkan tubuhnya ke pipi tuannya dengan lembut. "Pyoo!"
Haruto menatap jauh ke seberang danau yang terbakar cahaya senja. Untuk pertama kalinya sejak terlempar ke dunia asing ini, ia tidak lagi merasa cemas atau ragu. Ia tahu jalannya masih sangat panjang, masih banyak rintangan yang menanti. Namun hari ini ia membuktikan satu hal: selama ia tidak menyerah, selama ia terus berusaha perlahan namun pasti, ia pasti akan sampai ke tujuannya.
Matahari pun akhirnya tenggelam sepenuhnya, menyisakan sisa cahaya ungu di cakrawala. Dan di tepi danau yang damai itu, perjalanan seorang calon pengendali sihir air baru saja dimulai