Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. ( Uang Adalah Raja)
Di sebuah mansion tengah kota, seorang pria mengenakan celana panjang berdiri di depan jendela yang terbuka. Membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan meniup rambutnya, sudut bibirnya tampak menyunggingkan senyum tipis. Di belakangnya berdiri seorang pria yang masih mengenakan stelan jas lengkap.
"Unik."
Sebuah kata singkat lolos dari bibir Lucien setelah terdiam beberapa menit.
"Anda ingin saya melakukan apa terhadap gadis itu, Tuan?" tanya Veroz membuka pembicaraan.
"Culik lalu tenggelamkan ke tengah laut," jawab Lucien. " Musuh yang sangat mematikan. Baru kali ini ada seseorang yang berani menyerangku di tempat terbuka."
Veroz diam tak menyahut. Perintah untuk menculik dan membuang gadis yang telah menyerang bosnya tak serta merta dia laksanakan. Terlalu ambigu karena reaksi bosnya saat memberikan perintah tersebut berbeda dari biasanya.
"Sudah kau bereskan berita di media?"
"Sudah, Tuan. Informasi tentang gadis itu juga sudah saya terima. Apakah Anda ingin memeriksanya?"
"Kau pikir aku sesantai itu sampai harus membuang waktu hanya untuk memeriksa informasi yang tidak penting?"
Lucien berbalik kemudian duduk di sofa. Kakinya bersilang.
"Namanya Andrea Goh. Belum ada banyak informasi mengenai gadis itu di kota ini. Sepertinya dia baru datang dari desa," ucap Veroz sembari menyodorkan tablet. Dia tersenyum samar saat tangan bosnya menyambut dengan cepat benda pipih berisi informasi gadis bernama Andrea tersebut.
(Lain dimulut lain pula di hati. Sejarah baru benar-benar akan terjadi di era ini)
"Sudah ku katakan aku tidak peduli. Kenapa kau masih memaksaku untuk melihat informasi tentang gadis itu?" protes Lucien sembari fokus membaca data diri tentang gadis asing yang siang tadi membuatnya menjadi bahan tontonan orang-orang. "Owh, usianya baru 22. Pantas tenaganya begitu kuat. Darah muda ternyata."
Tanpa Lucien sadari, dia kini terhanyut oleh perasaannya sendiri. Terlebih setelah mengetahui kalau Andrea bukan berasal dari keluarga pembisnis, semakin membuatnya lupa diri.
"Tuan Lucien, luka di tubuh Anda harus segera diobati. Saya akan menghubungi dokter,"
"Aku terluka sangat parah, Veroz. Segera layangkan gugatan pada Andrea!" perintah Lucien sambil tersenyum licik.
"Baiklah. Ada perintah lain?"
"Gadis itu penuh tipu muslihat. Jika langsung menjebloskannya ke dalam penjara, takutnya dia akan melubangi dinding lalu kabur dari sana. Buat agar dia mengemis maaf padaku."
"Baiklah. Selanjutnya apalagi?"
"Sekujur tubuhku sangat berharga. Nilainya hampir setara dengan seluruh harta kekayaan milik keluarga Scott. Aku akan membuat perhitungan keras sebagai ganti rugi."
"Apakah Anda akan langsung membunuh Nona Andrea?"
"Tidak, kematian terlalu mudah baginya. Aku akan menyiksanya perlahan," ucap Lucien penuh percaya diri.
Veroz mengangguk, pura-pura tak tahu akan apa yang sedang terjadi pada diri bosnya. Padahal, dalam hati dia sedang tertawa. Merasa tergelitik akan tumbuhnya sesuatu yang biasa disebut cinta pada pandangan pertama, tapi tak disadari oleh yang bersangkutan.
"Haihhh, hari ini aku benar-benar sial. Dituduh sebagai pria mesum, ingin dijebloskan ke penjara, lalu berakhir dengan tubuh penuh luka cambuk. Entah harus semahal apa Andrea membayar ganti rugi padaku nanti," ucap Lucien kemudian bangun dan berjalan menuju kamar. Di tangannya tergenggam erat tablet berisi informasi tentang Andrea.
Sementara itu di tempat lain, Andrea tengah menerima siraman rohani dari sang nenek sambil menahan sakit ketika luka di tubuhnya diobati. Akibat berkelahi dengan pria cabul, hari ini dia gagal mendapat pekerjaan. Naasnya malah pulang dengan kondisi tubuh penuh luka.
"Baru satu minggu berada di kota dan kau sudah mendapatkan musuh. Ini kota besar, Andrea. Bukan pedalaman yang aman seperti tempat tinggalmu dulu. Tahu?!" omel Erwita, neneknya Andrea.
"Iya-iya, Nek. Aku tahu,"
"Kalau memang tahu harusnya tidak sampai terluka begini. Andrea, kau harus hati-hati. Di kota memang banyak tempat yang menakjubkan, tapi kejahatannya pun tak kalah mengerikan. Jadi kau tidak boleh sembrono. Coba bayangkan jika seandainya orang itu melapor pada polisi karena kau telah menyerangnya. Pada siapa kita akan meminta bantuan? Nenekmu ini orang miskin. Tidak ada dukungan dari keluarga terpandang yang bisa dijadikan sandaran. Jadi tolong berhati-hatilah. Ya?"
"Nek, aku itu cuma membela diri. Kenapa juga harus takut dilaporkan? Banyak orang yang jadi saksi kalau pria itu memang berbuat cabul padaku. Dan sebagai pihak berwenang, polisi sudah seharusnya berpihak pada korban," ucap Andrea dengan yakin.
"Dirimu terlalu naif. Ini kota, tempat di mana uang menjadi raja."
"Uang menjadi raja? Maksudnya?"
"Andrea." Erwita menatap sang cucu lekat. "Tak peduli apakah benar atau salah, jika yang menjadi lawanmu merupakan orang yang berkuasa dan punya banyak uang, polisi tidak akan berpihak pada kita. Karena apa? Karena kita miskin. Mereka lebih takut pada uang daripada menerima cap dosa karena membela yang salah. Pahami nasehat Nenek dengan baik. Selagi kau bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, jauhi yang namanya masalah. Segera menghindar jika bertemu dengan mereka yang punya status dan kekayaan. Itu hanya akan mendatangkan kesialan."
Andrea termenung diam. Semengerikan itukah kehidupan di kota besar? Bahkan orang kepolisian pun takluk pada mereka yang ber-uang.
"Ternyata orang-orang di sini darurat moral ya, Nek. Kalau di tempat tinggalku dulu yang salah akan langsung diadili dengan hukum adat. Jika kesalahannya terlalu besar, akan langsung mendapat hukum rimba. Itulah kenapa aku tumbuh menjadi gadis yang sopan dan berani. Semua tindakan ada porsi hukum dan tanggung jawabnya. Jadi tak bisa asal."
"Lalu kenapa kau menyakiti orang lain?"
"Itu karena para polisi abai. Aku sudah berusaha melaporkan secara baik-baik, tapi malah diminta agar melepaskan tersangka. Ya sudah kuberi hukum rimba saja. Begitu aturan di tempat tinggalku dulu."
Nenek Erwita terkekeh. Sikap cucunya begitu terus terang. Lucu, tapi agak mengerikan juga mengingat di kota tidak ada yang namanya hukum rimba.
"Oya, Nek. Tadi saat pulang aku menemukan selebaran. Isinya ada lowongan pekerjaan yang tidak menuntut latar belakang pendidikan. Rencananya besok pagi aku ingin melamar ke sana," ucap Andrea menyampaikan niatnya pada sang nenek.
"Kau yakin masih ingin pergi ke luar? Tidak takut bertemu pria mesum lagi?" ledek Nenek Erwita gemas sendiri.
(Sudah babak belur begini nyalinya masih begitu besar. Cucuku sungguh pemberani. Untung saja masih ada kesempatan untuk bertemu. Lega rasanya)
"Untuk apa takut? Selagi bukan berada di pihak yang salah tak ada yang perlu ditakuti. Lagipula tidak mungkin semua orang kota berhati jahatkan, Nek? Aku yakin pasti masih ada sosok baik yang bisa ku jadikan sebagai teman."
"Boleh-boleh saja, Nenek juga tahu kau ingin melihat dunia luar. Akan tetapi berusahalah agar tidak mengulang kejadian seperti hari ini. Selain bisa membuatmu berurusan dengan polisi, Nenek khawatir kau akan menjadi incaran orang jahat. Nenek sudah tua, siapa yang akan menjaga Nenek kalau kau sampai kenapa-napa,"
"Nenek," rengek Andrea. Dipeluknya penuh sayang perempuan tua yang kini menjadi keluarga satu-satunya di dunia ini. "Walaupun kita lama berpisah, aku tetap menyayangimu. Baiklah, aku berjanji kejadian hari ini tidak akan terulang lagi. Kecuali jika terdesak. Aku perlu melakukan pembelaan untuk melindungi diri sendiri. Bolehkan?"
"Ya ya ya, kau aturlah sebaik mungkin. Sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Besok masih harus mencari pekerjaan bukan?"
"Baiklah, Nek. Ayo,"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂