NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:41.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara dari KM 26

Gema jeritan penyesalan Reza dan ratapan pilu Ningsih perlahan-lahan lenyap di balik daun pintu ganda ballroom yang kembali tertutup rapat. Namun, atmosfer di dalam ruangan megah itu tidak lantas kembali seperti semula. Keheningan yang tertinggal terasa begitu berat, menggantung di antara langit-langit kristal bagai kabut tebal yang sarat akan tanda tanya. Ratusan tamu undangan—para elite Jakarta yang biasanya pandai menyembunyikan emosi di balik senyum ramah—kini saling berbisik dengan mata yang terus melirik ke arah podium.

Para jurnalis tidak menurunkan kamera mereka. Lensa-lensa besar itu kini terkunci sepenuhnya pada sosok Anindya Naya Atmadja yang masih berdiri tegak di tengah panggung.

Naya tidak tampak goyah oleh pertunjukan drama penyembahan di bawah kakinya tadi. Wajahnya yang sehalus porselen tetap tenang, memancarkan wibawa yang sedingin es utara. Namun, bagi mereka yang mengenal Naya lebih dalam, ketenangan itu adalah keheningan sebelum badai terbesar meluluhlantakkan sisa-sisa pertahanan musuhnya.

Naya melangkah perlahan menuju podium utama. Setiap ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai kayu ek terdengar begitu nyaring di dalam ballroom yang sunyi. Ia memegang tepian podium dengan jemarinya yang lentik, menatap lurus ke arah barisan jurnalis yang bersiap merekam setiap kata yang akan keluar dari bibirnya.

"Para hadirin yang terhormat, dan rekan-rekan media," suara Naya mengalun rendah melalui pengeras suara, jernih, tanpa getaran emosi sedikit pun. "Tontonan yang baru saja kita saksikan bersama bukanlah sebuah pertunjukan seni tentang penyesalan yang tulus. Itu adalah keputusasaan dari orang-orang yang kehilangan berhala kemewahan mereka, mencoba menukar harga diri yang telah lama mereka jual demi mendapatkan kembali belas kasihan."

Naya menjeda kalimatnya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mengunci perhatian setiap pasang mata di sana.

"Tiga tahun lalu, saya memilih untuk hidup dalam kesederhanaan, mendampingi seorang pria yang saya kira memiliki ketulusan hati yang sepadan dengan janji pernikahan kami. Namun, semesta memiliki cara yang kejam untuk menyingkap topeng-topeng manusia. Hari ini, mereka datang membawa narasi bahwa saya adalah seorang pencuri yang tidak tahu berterima kasih. Mereka mencoba mengaburkan fakta tentang apa yang sesungguhnya terjadi malam itu..."

Naya melirik Baskara yang berdiri di sisi panggung. Dengan takzim, pria tua itu mengangguk kecil, lalu menekan sebuah tombol pada panel kendali di tangannya.

"Saya ingin dunia mendengar," bisik Naya dingin, "bagaimana sebuah pernikahan yang sakral... resmi dibunuh tanpa belas kasihan."

Seketika itu juga, lampu-lampu gantung kristal di dalam ballroom meredup secara dramatis. Layar proyektor raksasa berukuran sepuluh kali enam meter di belakang Naya menyala, menampilkan visual sebuah grafik gelombang suara berwarna biru dingin yang bergerak lambat.

Zzzt... krrrkkk...

Suara desis statis dari pengeras suara ballroom yang canggih memenuhi ruangan, sebelum akhirnya berubah menjadi suara deru angin malam yang kencang dan raungan mesin mobil yang melaju sangat cepat.

Seluruh tamu undangan menahan napas. Suara desau angin itu begitu nyata, membawa atmosfer malam yang dingin dan mencekam langsung ke dalam kehangatan ballroom Hotel Mulia.

Lalu, sebuah suara bariton yang parau dan sarat akan kebencian memotong sunyi.

"Mengapa kamu diam saja, Naya?! Di mana kamu simpan uang itu? Hah? Katakan padaku! Apakah kamu sudah mengirimkannya pada ibumu yang penyakitan itu di kampung?!"

Itu suara Reza. Meskipun suaranya terdengar agak pecah oleh guncangan mobil dan pengaruh alkohol, semua orang yang ada di dalam ruangan segera mengenalinya sebagai suara pria yang beberapa menit lalu bersujud di lantai. Nada bicaranya begitu kasar, begitu merendahkan, sangat jauh dari sosok manajer santun yang selama ini Reza tunjukkan di lingkungan sosialnya.

Kemudian, terdengar suara Naya yang sangat tenang, begitu kontras dengan raungan Reza.

"Aku tidak mengambilnya, Reza. Berapa kali harus kukatakan? Kebenaran tidak akan berubah hanya karena kamu berteriak."

"Bohong! Ibuku tidak pernah berbohong! Kamu tahu apa yang paling aku sesali? Menyelamatkanmu dari lumpur kemiskinan! Aku mengangkatmu, memberi makan dirimu dan keluargamu, mendudukkanmu di rumah mewah. Dan ini balasanmu? Kamu mencuri dari ibuku?!"

Gemetar kemarahan di dalam rekaman suara itu bergaung di setiap sudut ballroom. Beberapa wanita sosialita di barisan depan mulai menutupi mulut mereka dengan tangan, mata mereka membelalak ngeri mendengar bagaimana seorang suami mencaci istrinya dengan sebutan "benalu" dan "perempuan udik yang tidak tahu diuntung."

Denting ngeri dan cemoohan halus mulai menjalar di antara para pengusaha. Mereka adalah orang-orang kelas atas yang sangat menjunjung tinggi etika dan martabat keluarga. Mendengar seorang pria memperlakukan istrinya seperti seonggok sampah tak berguna di dalam mobil adalah sebuah penghinaan moral yang tak termaafkan di mata mereka.

Namun, rekaman itu belum mencapai puncaknya.

Di dalam audio yang dingin itu, terdengar bunyi decitan ban yang luar biasa keras bergesekan dengan aspal tol. Suara rem mendadak itu begitu memekakkan telinga hingga membuat beberapa tamu refleks memejamkan mata mereka, seolah-olah mereka sedang berada di dalam mobil maut tersebut.

"Turun!" bentak suara Reza di dalam rekaman, disusul oleh bunyi pintu mobil yang dibuka paksa.

"Jangan pernah berani menginjakkan kakimu lagi di rumahku! Cari makan sendiri dengan tangan pencurimu itu!"

Brak!

Suara bantingan pintu mobil yang sangat keras bergaung di dalam ballroom, disusul oleh deru mesin mobil yang melesat pergi meninggalkan kesunyian malam di jalan tol. Di dalam rekaman itu, hanya tersisa suara deru angin kencang yang memukul mikrofon ponsel kecil milik Naya, dan suara helaan napas panjang yang sunyi dari seorang wanita yang ditinggalkan sendirian di tengah kegelapan KM 26.

Audio mati. Layar proyektor raksasa kembali menampilkan logo emas Atmadja Group yang dingin.

Keheningan yang mencekam kembali menguasai ballroom. Selama beberapa detik yang berharga, tidak ada satu pun orang yang bersuara. Bahkan para fotografer menahan jari mereka di atas tombol rana, terpaku oleh kekejaman verbal yang baru saja mereka saksikan secara audio visual.

Lalu, bagaikan bendungan yang jebol, gemuruh cemoohan langsung meledak di seluruh ruangan.

"Biadab... benar-benar biadab!" seru seorang menteri senior di barisan depan dengan wajah merah padam oleh kemarahan. "Bagaimana bisa seorang laki-laki yang berpendidikan melakukan tindakan sekeji itu kepada istrinya sendiri di jalan tol malam-malam?!"

"Dia menuduhnya mencuri tanpa bukti, menamparnya, lalu membuangnya seperti anjing kurap," sahut seorang pengusaha properti terkenal dengan nada jijik yang tak ditutupi. "Dan hari ini dia berani bersujud di sini meminta belas kasihan? Sungguh manusia tak tahu malu!"

"Ternyata kesuksesan yang dia pamerkan selama ini dibayar oleh dana yayasan wanita yang dia buang," timpal seorang wanita ber-subang zamrud dengan senyum ejekan yang sangat pekat. "Keluarga Adijaya benar-benar sampah masyarakat. Mereka hidup dari kemurahan hati Atmadja, tapi membalasnya dengan belati pengkhianatan."

Pena-pena digital para jurnalis kini menari dengan kecepatan penuh. Berita utama untuk esok hari telah tertulis dengan tinta emas takdir: "Ego Kerdil di Balik Topeng Manajer Sukses: Rekaman Kebenaran KM 26 Bongkar Kebiadaban Mantan Suami CEO Atmadja Group."

Naya berdiri di balik podium, membiarkan badai cemoohan publik itu membakar sisa-sisa reputasi keluarga Adijaya hingga menjadi abu. Matanya yang sedingin es utara menatap lurus ke arah pintu keluar, seolah-olah pandangannya mampu menembus dinding tebal hotel dan melihat raga Reza yang kini sedang meratapi kehancurannya di atas aspal jalanan luar.

Bagi Naya, rekaman ini bukan sekadar bukti hukum untuk pengadilan cerai mereka yang akan datang. Rekaman ini adalah eksekusi sosial yang mutlak. Mulai malam ini, nama Reza Adijaya dan Ningsih telah resmi mati di dunia profesional, dunia sosial, dan dunia kemanusiaan seluruh negeri. Tidak akan ada satu pun perusahaan yang mau mempekerjakan seorang pria dengan reputasi sekotor Reza, dan tidak akan ada satu pun lingkaran arisan yang mau menerima kehadiran seorang wanita selicik Ningsih.

Naya mengetuk mikrofonnya sekali lagi, memanggil kembali keheningan berkelas ke dalam ballroom.

"Malam itu, di KM 26, saya telah meninggalkan masa lalu saya di atas aspal yang dingin," ujar Naya, suaranya mengalun tenang namun memiliki daya tekan yang luar biasa kuat. "Dan hari ini, di bawah kilatan cahaya ini, saya berdiri di sini bukan sebagai korban yang meminta belas kasihan. Saya berdiri sebagai Anindya Naya Atmadja, untuk menegaskan bahwa setiap tindakan... selalu memiliki harga yang harus dibayar lunas."

Naya mengangkat gelas sampanyenya tinggi-trii, memberikan penghormatan terakhir pada kebenaran yang telah menang.

"Selamat menikmati malam Anda, para hadirin sekalian."

Seluruh ruangan berdiri serempak, memberikan tepuk tangan yang bergemuruh panjang mengiringi langkah anggun Naya yang turun dari podium. Di bawah naungan takhta Atmadja yang megah, sang permaisuri telah resmi mengunci gerbang masa lalunya, membiarkan para pengkhianat membusuk di luar istana tanpa sisa ruang untuk pengampunan.

1
Punkpunk 234
baru mulai ikutan baca.. udah ikut esmosi ..🤭
Iis Istiyani
suka.. tdk bertele-tele ceritanya
Pardjan Yono
mantab cerita ini , author keren tanpa basa basi, sayang nya selama penyamaran tanpa ada komunikasi ke perusahaan secara visual
Hartini Donk
makin runyam dan membagongkan.diulang ulang teross....rasanya mau kbor ini...
A.R
ceritanx keren,lngsung sat set,,biasanx ada pelakornx klau ini ngk ada cuma berurusan sama mantan suami dan mantan mertua 👍
A.R
seharusnya panggil KK atau Abang jgn paman kn keponakan emaknx
falea sezi
suka novel sat set gini g menye🤭
Margaretha Yenny
kalau panggil ningsih bibi, panggil reza ya abang atau kakak dong bukan paman, kan reza anak nya ningsih bukan suami nya nibgsih
Punkpunk 234: naa kaann.. jadi amburadul 😆..
total 1 replies
Thewie
novel tercepat dan terseru yg aku baca🙏
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!