Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Getaran hati
Selepas berlama-lama di taman bunga, Leon mengajak Ivanka untuk melihat fasilitas lain yang ada di dalam vilanya yang dia beli dengan harga empat belas milyar tersebut.
"Mau kemana lagi ini, Kak?" tanya Ivanka.
"Ikutlah saja denganku, Vanka! Kamu pasti suka," jawab Leon kemudian menggandeng tangan Ivanka agar gadis itu berjalan di sampingnya.
Entah kemana Leon akan membawanya, Ivanka hanya menurut saja. Gadis itu berjalan tanpa beban seraya menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang dia lewati. Tak ada rasa takut di hatinya meski baru beberapa hari dia mengenal Leon. Bahkan kini dia menggantungkan seluruh hidupnya pada lelaki dewasa nan tampan itu seolah napasnya pun akan terhenti bila tak ada Leon di sisinya.
"Dia malaikatku. Malaikat penyelamatku. Meski seluruh hidup kuhabiskan waktuku untuk mengabdi dengannya, tetap saja itu tidak akan bisa membayar semua hutang budi dan hutang nyawaku padanya," pikir Ivanka.
Ivanka menatap wajah Leon dari arah samping. Lagi-lagi Ketampanan Leon tertangkap sangat sempurna di kornea mata Ivanka. Mata yang tajam, hidung yang panjang bak orang-orang Arab dengan bibir sensual yang sangat menambah aura kedewasaan saat lelaki itu menyunggingkan senyumnya, serta tulang rahang yang tegas membuat siapa pun wanita pasti akan tergila-gila.
"Kenapa melihatku seperti itu, Vanka?" tanya Leon saat dia menyadari wanita cantik di sampingnya itu diam-diam memperhatikan dirinya.
Ivanka mengulas senyum tipis lalu menundukkan kepala, menghalau sorot mata Leon yang menusuk sukmanya, "Aku baru sadar kalau kakak itu sangat tampan," kata Ivanka dengan malu-malu. Sebenarnya bukan baru sadar, tapi lebih tepatnya baru berani untuk mengungkapkannya setelah sekian lama dia pendam.
Leon mengernyitkan dahi, "Wow..., aku rasa aku harus membawamu untuk periksa ke dokter mata, Vanka."
"Why? Kakak memang tampan. Aku berkata jujur bukan karena mataku yang rusak, Kak. Aku tidak butuh dokter," bantah Vanka.
"Jelas saja mata kamu bermasalah," sangkal Leon. Mereka berbincang-bincang sambil terus berjalan santai.
"Kenapa?" tanya Ivanka dengan nada tinggi. Dia menghentikan langkahnya dan memaksa Leon untuk menghentikan tapak kakinya juga, kini mereka berdiri berhadap-hadapan, "Lihat, Kak! Lihat!" Ivanka berjinjit agar tinggi badannya bisa sepadan dengan tinggi badan Leon. Dia juga mendekatkan wajahnya ke wajah Leon. Ivanka membuka lebar kedua bola matanya dengan bantuan jari telunjuk dan ibu jarinya agar bisa membelalak semaksimal mungkin. Dia bermaksud untuk memamerkan kedua manik matanya yang berwarna hitam jernih dan masih sempurna tidak rusak seperti yang Leon tuduhkan.
Ya Tuhan, kuatkan imanku. Terlebih juniorku yang tidak punya akhlak ini. Doa Leon dalam batin, karena kini kecantikan wajah Ivanka yang natural dan tanpa pemanis buatan, terpampang jelas di matanya. Membuat jantung Leon berkerja tidak sesuai dengan yang seharusnya. Dag, dig, dug dengan tempo yang cepat seolah hendak lepas dari tempatnya.
"Mataku masih normal kan? Aku masih bisa melihat dengan jelas hidung kakak yang mancung ke dalam, lalu kening kakak yang jenong, bibir kakak yang monyong." Ivanka memajukkan bibirnya mempraktekkan kata 'monyong' yang dia ucapkan.
Ulala..., kenapa dimaju-majuin pula bibirnya. Please yang di bawah sana jangan berulah ya! Leon memberi peringatan pada adik kecilnya yang mudah bergejolak saat melihat yang bening-bening seperti ini.
"Dan itulah yang membuat Kakak terlihat sangat tampan sekali. Bibir yang monyong." Ivanka kembali mengerucutkan bibirnya, "Ha-ha-ha...." Ivanka terkekeh. Dia merasa senang karena bisa mencela Leon habis-habisan.
Leon geleng-geleng kepala seraya mengontrol degup jantungnya yang masih terus berdemo.
Lalu seulas senyum tipis terkembang dari kedua sudut bibir Leon, "Anak nakal," kata Leon, "Setelah ini kita pergi ke dokter mata," lanjutnya.
"Oh, tidak bisa," bantah Ivanka.
"Biasanya wanita yang normal akan langsung memujiku tampan sejak pertama kali bertemu denganku. Lihatlah! Ketampanan kakakmu ini limited edition. Dan kamu? Kenapa baru sekarang kamu sadar kalau kakakmu ini tampan? Hah?"
"Uwu..., sepertinya aku memang tidak normal. Aku ini bukan wanita biasa, Kakak. Aku Alexa Ivanka yang tidak mudah jatuh cinta hanya karena tampang yang mempesona. Wajah tampan kalau tua akhirnya keriput juga, kalau hati yang tampan tidak akan pernah lekang dimakan usia. Nah, aku butuh lelaki yang seperti itu." Ivanka berkata dengan penuh percaya diri layaknya wanita dewasa yang mendeskripsikan tentang cinta. Dia mengakhiri ucapannya dengan menjentikkan jarinya di depan wajah Leon.
Leon menangkap dengan cepat pergelangan tangan Ivanka yang masih ada di depan wajahnya, kemudian dia melingkarkan satu tanganya di pinggang Ivanka. Dia menatap mata Ivanka dengan tajam seraya merapatkan jarak di antara mereka hingga kini menempel tanpa celah, "Apa kamu sedang mencoba menggoda kakak?" tanya Leon.
"Ti~tidak. Ba~bagian ma~mana yang a~aku goda?" Ivanka balik bertanya dengan gagap karena dia panik dengan aksi Leon yang di luar dugaannya. Meski begitu kedua manik matanya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplor setiap detail bagian wajah Leon dengan lebih intim lagi.
"Lihat saja nanti! Kakak bisa membuatmu merengek-rengek dan memohon untuk Kakak jadikan istri," kata Leon, lalu dengan cepat lelaki itu melepas tubuh Ivanka.
Oh My God. Atur napasmu Ivanka! Batin Alexa Ivanka memerintah dirinya sendiri. Dia mengelus-elus dadanya yang bergejolak.
Shiit! Aku sudah melewati batasanku. Jangan sampai lepas kontrol, Please! Dia itu adikmu, kampret! Umpat Leon dalam hati.
Kini mereka seolah berperang dengan hati kecil mereka sendiri untuk meredam rasa yang ada agar tidak melewati yang seharusnya. Mereka adalah adik dan kakak, begitu kesepatakan sejak awal. Maka mereka pun seharusnya bersikap selayaknya saudara. Tapi tidak bisa dipungkiri, batasan itu kerap kali ingin mereka langgar. Toh, darah dalam tubuh mereka bukan bersumber pada gen yang sama. Bukan dosa jika cinta itu perlahan hadir dan mengikat keduanya.
"Jangan bicara seperti itu, Kak! Kakak membuatku takut," kata Ivanka.
"Kenapa mesti takut?" tanya Leon.
"Kata Mama, setiap ucapan adalah doa. Bagaimana bila akhirnya aku benar-benar memintamu untuk menikahiku?" jawab Ivanka kemudian berbalik melempar pertanyaan pada Leon.
"Biarkan Tuhan yang bekerja, Vanka. Apa yang terjadi sudah digariskan sejak sebelum kita lahir termasuk jodoh," ujar Leon dengan bijaksana.
Leon kembali menggandeng tangan Ivanka dan mengajaknya meneruskan perjalanan.
"Lupakan yang barusan terjadi! Sekarang kita jalan-jalan lagi mengelilingi vila ini."
"Iya baiklah, Kak."
Seketika mulut mereka sama-sama terkunci. Ada rasa sungkan yang tiba-tiba datang di antara mereka berdua. Namun, Ivanka rasa ini tidak akan baik bila dilanjutkan. Dia pun memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dulu agar kebekuan di antara mereka mencair.
"Kakak, Apa di sini ada kolam renang?" tanya Ivanka memecah keheningan.
"Tentu saja. Ini vila mahal, Vanka," jawab Leon.
"Benarkah? Ajak aku ke kolam renang! Aku mau berenang, Kak," pinta Ivanka dengan sumringah. Matanya berbinar. Gadis itu memang suka sekali berenang.
"Kamu mau berenang? Baiklah. Kita segera meluncur ke tempat yang kamu inginkan." Dengan senang hati Leon menuruti apa mau Ivanka.
Leon mengambil benda pipih yang bernama ponsel dari saku celananya. Tetapi kemudian Ivanka kembali menghentikan langkahnya.
"Kenapa lagi, Vanka?" tanya Leon tanpa mengalihkan pandangan matanya dari gadget yang ada di tangannya.
"Kakak, aku tidak jadi berenang," jawab Ivanka.
"Kenapa?"
"Aku tidak bawa baju. Apa iya aku harus basah-basahan sampai kita pulang ke rumah? Aku bisa masuk angin nanti, Kak."
Leon tidak menanggapi omongan Vanka. Dia merapatkan handphone di telinganya dan memulai pembicaraan dengan seseorang.
"Aku tunggu jangan lebih dari dua puluh menit!" perintah Leon pada lawan bicaranya lalu memutus panggilan suara.
"Masalahmu sudah selesai. Ayo kita ke kolam renang sekarang!" ajak Leon. Dia menggandeng tangan Ivanka kembali dan menuntun gadis itu agar mengikutinya.
Sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah kolam dengan lebar sepuluh meter dan panjang lima belas meter serta taman-taman kecil di sudut-sudutnya begitu memanjakan mata Ivanka. Hamparan air berwarna biru menunjukkan bahwa airnya sangatlah bersih dan jernih. Ingin rasanya Ivanka segera melompat ke dalamnya dan merasakan suhu dingin air menyentuh seluruh tubuhnya. Pasti akan sangat menyenangkan dan juga menyegarkan.
"Kakak, aku suka sekali. Tapi bagaimana caranya aku bisa berenang? Aku kan sudah bilang aku tidak bawa baju ganti. Kakak tidak bilang sich kalau di sini ada kolam renang. Tapi aku mau berenang, Kak. Ini gara-gara Kakak pokoknya." Ivanka merengek seperti anak kecil lantas mengomeli Leon habis-habisan. Dia mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Kakak kan sudah bilang masalahmu akan segera selesai, Vanka," kata Leon.
Dia semakin cantik saat cemberut. Ingin sekali aku mencicipi bibirnya itu. Astaga! Aku benci otak kotorku. kata Leon dalam hati.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa buat komen, like, vote setelah membaca ... happy reading.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭